Sabtu, 04 April 2020

Reyhan 1

Aku masih belum mampu menjaga apa yang ada. Suasana keramaian tak ubahnya kegamangan dalam hatiku. Terlalu riak, sementara tak jua aku memantapkan pilihan dan tujuan. Mbak Lastri terus berupaya membujukku menetapi janji. Agar oerasaan tak menyayat hati. Ya, kami sudah berjumpa pada akhirnya.

"Hana... Makan dulu! Nanti keburu habis sama Hani...,"

Uh, ibu selalu begitu. Membawa Hani untuk urusan perut. Beliau tak ingin setiap masakan yang dibuat bersisa karena si Panda, kucing pungut kami, sudah ada jatah makan sendiri.

"Buat Panda aja bu... Hahahaha!!!"

'Kreeekkk...,'

Aku menutup kembali pintu kamar, dan pastinya, memasang wajah cemberut untuk dua wanita hebat yang kadang centil dan kanak-kanak. Ah, Hani memang masih bocah!

"Iya ibu cantik... Putri Hana makan ya...," aku mengambil nasi dan juga lauk ikan goreng yang dimasak ibu, "Tenang... Pasti habis!"

'Ahahahaha!'

Beginilah suasana rumah, yang kadang tanpa ayah, kadang lengkap dengan banyak kisah. Ayah? Seperti biasa masih sibuk di Ibukota dan hanya pulang saat akhir pekan. Tak apa, beliau masih terlampau baik.

'Reyhan...?'

Aku tak tahu seandainya kami dipersatukan. Aku hanya mengenalnya, tahu namanya, tak lebih banyak. Tapi kisahnya terlalu ramai di kampus. Entahlah, aku hanya berpikir bahwasanya Tuhan tak akan memilihkan jodoh yang salah.

Minggu, 29 Maret 2020

Hana 6

Dia mungkin Hana ku. Begitu celetuk bahasa hati saat kulihat ia menikmati senja bersama beberapa muda-mudi. Termasuk ayah dan ibunya. Duh! Entah mengapa ia memutuskan dan menentukan pertemuan ini. Dua keluarga, aku dan dia, meski hanya Mas Hadi yang menemaniku. Ya, tak mungkin aku mengajak kedua ortuku yang jauh. Kecuali lamaran!

"Reyhan...!"

Aku membalas panggilan Pak Rahmat dengan bangkit dari duduk santaiku. Kuperhatikan ada rona senyum yang terpancar dari wajahnya.

"Iya, Pak...," aku masih setengah kikuk di depan orang yang mungkin Tuhan takdirkan sebagai  mertuaku.

"Apapun itu... Rencanakan dengan matang," memandang Hana yang tertunduk menyembunyikan perasaan, "Bapak hanya punya Hana dan Rana... Keduanya perempuan."

'Eh...?'

Aku membiarkan lintasan pikiran. Hembusan angin laut semakin kencang senja ini, menari seirama dengan pasukan burung camar yang menikmati jingganya langit di ufuk barat. Aku melirik ke arah Hana yang juga membalas tatapanku perlahan. Warna jingga langit kali ini selaras dengan jilbabnya. Ada suasana yang mungkin berbeda kedepannya.

"Mas Reyhan... Aku harap mas bisa memahami pesanku sebelum pertemuan ini."

Aku membalasnya dengan senyuman dan anggukan. Ya, benar kata Pak Rahmat. Matang!

Jumat, 27 Maret 2020

Hana 5

'Ajib!'

Aku kembali membaca datanya. Kali ketiga. Jauh lebih mantap, menyeringai soal keyakinan setelah perjumpaan itu. Sesekali kami beradu pandang, berbalas soal rencana masa depan. Meski pada akhirnya kuakui soal 'kikuk' dan rasa tak jelas masakan yang ada dalam pikiranku. Namun semuanya semakin jelas. Hana menuliskan sesuatu yang sesuai dengan isi hati dan keyakinannya. Namun kata 'ragu' menjadi penghalang setiap keyakinan yang sudah kutemukan dari tulisannya. Ya, ia seorang peragu. Mungkin bagi alam pikirannya.

'Beep...!'

Handphoneku bergetar, sengaja tak kubunyikan selama jatah waktu membaca, dan kembali pesan whatsappnya. Aku sengaja memberi jeda 10 detik, ya, setelah kembali kata 'ragu' itu muncul.

'Mas... Aku ragu untuk menyampaikan soal rencana kedatanganmu ke rumah. Bapak ternyata mengambil keputusan lain. Entahlah kenapa beliau mengubah pendiriannya setelah aku mulai bekerja 3 hari yang lalu.'

'Klik!'

Aku membiarkan pesan itu menyala, tanpa perlu segera membalasnya. Mataku mengintip cahaya lampu kamar dan membisik soal keinginanku bertemu dengan keluarganya. Ah, lagi-lagi memang belum waktunya. Hana tetap jujur, setidaknya ia selalu memberikan kepastian dan memberikanku kesempatan mengambil keputusan. Kami memang tak ingin buru-buru, meski kadang dikejar waktu. Semua ada waktunya itu bukan candaan.

Senin, 23 Maret 2020

Hana 4

Aku belum terlalu mengenalnya, terlebih yang membersamainya kali ini. Kami sepakat untuk berjumpa di sebuah kafe. Meski awalnya tak kusetujui. Karena jarak masjid tak terlalu jauh. Baiklah. Barangkali Tuhan berkehendak agar aku lebih terlihat dan merasa nyaman. Mas Parman membersamaiku meski belum sempat membersihkan diri sepulang dari kantor.

"Baik... Biar dibuat santai saja," Parman melihat-lihat buku menu untuk memesan makanan. Petang ini dia yang traktir.

"Jadi, biar rileks... Mbak akan biarkan kalian berdua saling bertanya... Diskusi... Ya... Buat kalian saling mengenal dengan nyaman."

Lastri menatap dengan senyuman tipis perempuan berkerudung coklat di sampingnya. Hana. Akhirnya kita berdua bertemu secara langsung dan berbicara. Alunan musik jazz yang mengisi ruangan masih belum mampu mengusir lantunan syahdu ayat suci dari pengeras masjid. Membuatku semakin tenang, menormalkan degup jantung.

"Hana...?"

"Ya...?"

Ah, tidak! Jantungku mulai terasa copot. Cepat sekali respon dan tatapan matanya.

Sabtu, 21 Maret 2020

Hana 3

'Kau harus bisa... Bisa... Berlapang dada... Kau harus bisa... Bisa... Ambil hikmahnya...'

Berdetak. Beradu dengan kecepatan arteri pulmonalis. Ada kata dan kalimat yang beradu tapi bisa dipadukan. Aku hanya mampu membisik lewat tatapan pada si putih berjarum. Pukul dua malam. Nafasku masih normal, syukurlah. Namun siang tadi adalah momen pembuka yang bisa jadi awal ataupun akhir. Hana. Sepuluh tahun sudah aku mengenalnya sebagai perempuan baik hati. Ada rasa yang membisik untuknya. Tapi siang tadi nuansa langit tak ubahnya rasa dalam hati. Kesabaran dalam menanti atau menjemput jodoh. Ah, sudahlah. Perempuan baik sepertinya pasti akan menemukan laki-laki yang baik.

Ah, aku lupa mematikan lagu-lagu yang menemaniku menguyah lembaran demi lembaran catatan kuliah. Magister. Rona dan aromanya tak sengeri kata mereka, namun geliat dan cara dosen yang membimbingku membuat diri seolah kuda pacuan yang berlatih untuk lomba pekan depan. Sudahlah, ini pilihanku. Hana? Pilihanku juga!

'Bismillah...,'

Rabb, biarkanku bersujud sembari berdoa. Mudah-mudahan hal yang membuatku lalai dari-Mu semakin berkurang.

Jumat, 20 Maret 2020

Hana 2

Aku hanya membalas tatapan matanya dari kejauhan. Siluet keanggunan dirinya berpadu dengan corak langit yang jingga. Ia sepadan dalam perpaduan alam, selaras mengunggah cita rasa dalam diri. Biarlah. Hari ini dia bahagia.

'Beep... Beep...!'

Pesan whatsapp, aku membacanya sekilas dan kembali memandah keindahannya. Cukup dari kejauhan. Kopi hitam hangat menemaniku dalam perjalanannya. Mas Idham, penjaga warung kopi, masih sibuk melayani pembeli yang singgah dari perjalanan.

"Mas...!"

Dia melambai ke arahku yang masih asyik menyeruput kopi. Semakin hangat dan manid lukisan senyumnya dari minggu kemarin. Perlahan kakiku menjemput bidadari yang baru sebulan membersamaiku. Ah, yang mau berjuang bersamaku.

"Aku setuju mas...," tersenyum,"Semua ada saatnya!"

"Oke...," cangkir berisi kopi hangatku terasa semakin manis, "Aku selalu percaya kamu bisa... Honey,"

Ia sumringah, bersandar di tubuhku yang memandang jauh senja.

Kamis, 19 Maret 2020

Hana 1

"Cukup... Hana saja, ya...?"

Aku membiarkannya menerawang alam sadar dan bawah sadar. Membisik hati. Melawan segala keraguan yang selalu menghantuinya. Kudapati ia mengangguk ragu, namun sorot matanya memandang teguh keputusan. Ia sudah memilih. Biarkanlah.

"Cukup kamu saja, Na...", mendekati dan menatapnya sembari memegang kedua bahunya, "Aku yakin kamu bisa... Kamu kuat!"

Bulir jernih mengalir perlahan. Kedua bola matanya basah. Hana memandangku dengan hati, dan lebih dari itu. Aku melepaskan kedua tanganku dari bahu lembutnya. Ia semakin terisak, jilbab coklatnya basah diujung.

Minggu, 25 November 2018

Naluri Diri

Lambat laun terasa kuat
Dalam batin mengeja masa
Waktu jadi setiap buaian keinginan
Namun hati selalu merasa jadi raga
Menghembus setiap keinginan
Rasa kemauan hendaklah jadi pikiran
Tak berarti semua kenangan
Hingga kebenaran menemuinya
Jadilah apa
Jadilah kata
Jadilah bahasa
Tubuh bergeming
Nada menggerincing
Semak-semak menggelinding
Kata hati.menjadikan diri sinting

Jangan merasa diri menang
Padahal hati merasakan bimbang
Hendak apa di hari nanti
Sementara raga sedikit budi
Pada yang bernyawa ada hati
Pada merasa ada pekerti
Pekerjaan hati adalah soal rasa
Pekerjaan raga bukan pula soal harta

Jangan
Cukupkan
Hentikan
Sadar dirikan
Berbaik hati menjaga harga diri
Tanpa ambisi apalagi mencari sekedar simpati

Surabaya, 25 November 2018.

Rabu, 21 November 2018

Melambat

Anda hanya perlu berdamai dengan hati
Bersenandung meski lirih
Berpijak tanpa khawatir terjerembab
Bangkit dan terus menyeruak
Menguatkan jejak
Menahan segala bulir keringat
Memperindah suasana hati
Tak gugup menghadapi kenyataan perasaan

Sampang, 21 November 2018.

Sabtu, 03 November 2018

Istana

Merengkuh batas hati
Obat segala kenyataan perasaan
Memilih dalam rantai jiwa
Tetap
Masih sama
Semilir rasa yang hinggap
Perlahan membelai sukma dalam bejana kekosongan
Dawai pun bergetar

Lambat seiring waktu
Rasa hilang berjalan semu
Sendi terkilir menampar hati
Mengiris senja dalam dayung pesona
Bernyanyi
Tertawa
Mengorek rasa baru yang telah lama hilang
Senja pun berkeping

Lihat
Tentang bagaimana kuasa hati
Terbang mengelilingi batas hari
Senja menggosok pilu dalam rasa
Teriris luka karena cinta
Dan bertaburlah bunga bintang melangit
Haru
Suka
Namun apa daya

Bertepuk dalam diri
Menghibur
Rasa dulu
Kembali mendung
Terpandang dalam sudut lantai
Istana
Dalam bayang fatamorgana
Menggema rasa dulu
Tentang cinta dan istana

Bertahan
Mengisi hari
Menjawab rasa
Memendam keinginan
Dan
Terlelap bersama waktu

Bandung, 3 November 2018

Lambai

Mendung
Dalam sajak kerinduan hati
Merekah bagai mencinta
Menyatu bersama debu
Harap tentang rasa
Merona oleh cinta

Gemerlap rasa masa lalu
Membuncah dalam keinginan
Rasa saling memiliki
Melipir dalam nyanyian pujaan hati
Dia
Tentang rasa masa lalu
Dan harap membersamai hingga ujung waktu

Dia
Yang membawa rasa keraguan
Dan memilih untuk pergi
Dia
Tentang cinta yang terpendam
Rasa itu
Masih ada

Bandung, 3 November 2018.

Kamis, 15 September 2016

Warna Kehidupan

Melengganglah
Seumpama gumpalan awan yang tak terusik laju angin
Setenang aliran sungai yang mendekati muara
Dalam keteduhan wangi bunga perjalanan menuju takdir kehidupan
Berlarilah
Seirama arah mata angin
Mengantarkan jiwa-jiwa kedalam titik pusat pertemuan
Penghentian laju
Terpatri dalam pahatan tak terhapus lagi lapuk

Semua tertata dalam bayang
Mengiringi ribuan bahkan jutaan langkah ke belakang
Teruskanlah
Mengiringi setiap masa tanpa perasaan senja
Pagi terus menyingsing
Tak henti meski selalu ada jeda
Perjuangkanlah
Seumpama hari esok bukanlah milikmu kembali

Lalu
Sekilat lintasan pikiran
Melaju bagai badai pasir
Kembalilah
Meniti setiap goresan tinta bernama waktu
Mempelajari aliran darah dalam irama seragam desah nafas
Memastikan kekuatan hati
Menjaga kekuatan hati
Membersihkan kekuatan hati
Memantapkan kekuatan hati

Cinta yang tumbuh itu
Kemaslah dengan baik
Menjaganya dengan ruang lingkup kebaikan
Cinta yang bermekaran itu biarlah abadi dalam rasa keindahan
Merengkuh dengan jiwa yang tak terlalaikan
Melapisinya dengan jalinan iman agar tak berkarat lagi merapuh

**********

"Ketika ada orang bicara mengenai Anda di belakang, itu adalah tanda bahwa Anda sudah ada di depan mereka.

Saat orang bicara merendahkan diri Anda, itu adalah tanda bahwa Anda sudah berada di tempat yang lebih tinggi dari mereka.

Saat orang bicara dengan nada iri mengenai Anda, itu adalah tanda bahwa Anda sudah jauh lebih baik dari mereka.

Saat orang bicara buruk mengenai Anda, padahal Anda tidak pernah mengusik kehidupan mereka, itu adalah tanda bahwa kehidupan Anda sebenarnya lebih indah dari mereka.

"Payung tidak dapat menghentikan hujan tapi membuat Anda bisa berjalan menembus hujan untuk mencapai Tujuan".

Orang pintar bisa gagal, orang hebat bisa jatuh, tapi orang yang rendah hati dalam segala hal akan selalu mendapat jalann untuk menempatkan diri dengan seimbang karena kokohnya pijakannya.

Semoga bermanfaat & selamat beraktivitas yg berguna bagi orang banyak!!!"

Senin, 05 September 2016

Titik Persimpangan

"Waktu yang kau taklukkan, atau kau yang dikalahkan oleh waktu?!"

Kalimat yang selalu relevan, terus terjaga sepanjang zaman, tak lekang oleh waktu. Selalu beri ruang untuk tekad terus membuncah, harapan terjaga dan mimpi terus diperjuangkan. Jangan biarkan sedikitpun celah bernama keraguan itu membisikkan kelemahan diri serta ketidak-mampuan hati dan raga dalam bait keselarasan. Teruslah berjuang!

Ya, setiap apapun yang kita kerjakan akan selalu ada lidah tak terjaga. Abaikan... abaikan... abaikan...!!! Selama tidak ada aturan yang dilanggar, selama kebaikan dan kebajikan adalah tujuan... selama akhlak yang baik adalah sarana untuk digunakan... teruskanlah. Boleh jadi, itu menjadi sebab hadirnya cahaya hidayah dari-Nya, semangat menjaga kebaikan serta mengikuti kebaikan. Karena dakwah adalah juga keteladanan.

Seruan kebaikan adalah juga yang mengutamakan akhlak, tak melulu soal dalil yang menjadi pijakan (dalil yang bisa dipertanggung-jawabkan keshahihan serta kebenaran tafsir tentunya). Ya, semua itu bisa tetap memunculkan celah untuk lisan tak terjaga. Bersabarlah... iringi dengan do'a, mudah-mudahan Dia Yang Maha Membolak-balikkan Hati memberi jalan dan menjaga keistiqomahan kita dalam jalan kebaikan.

Lalu, soal mimpi, harapan... biarkan mereka berceloteh tentang apapun. Baik kau tahu ataupun sengaja Dia hijab agar hatimu terjaga. Teruslah memperjuangkan, karena kita tidak pernah tahu akhir dari perjuangan akan seperti apa. Optimislah... terjaga kedekatan hati dengan-Nya... berdo'alah di waktu-waktu mustajab... yakinlah akan takdir terbaik dari-Nya.

"Qad aflahaa manzakkaaha waqad khaabaman dastsaaha..." (As-Syams : 6-7)

"Wa 'ashr... innal insaanalafii khusr..." (Al-'Ashr : 1-2)

Jumat, 02 September 2016

Jangan Sakiti Hatimu

Ustadz Isham Athar dalam kitab 'Azmah Ruhiyah (Krisis Ruhani) menasihatkan, "Apabila hati seorang muslim kosong dari iman akan sirna pula pengaruhnya. Islam lenyap dari kehidupannya. Pada akhirnya tiada lagi amal yang dipersembahkan untuk-Nya. Laksana sebatang pohon yang kering akarnya, habis sumber kehidupan dan pertumbuhannya, serta rapuh dasar pijaknya. Akhirnya ia layu dan mati. Berubahlah menjadi kayu bakar yang kering dan tidak bisa dimanfaatkan kecuali untuk kayu bakar.

Apabila cahaya iman telah redup di hati, hubungan dengan Rabbnya mulai lemah, dan tali ikatannya mulai kendur, mulailah jiwanya cenderung pada harta dunia dengan wujud cinta dan kesungguhan untuk meraihnya. Ketika itu, layulah pohon Islam pada kehidupannya dan jadilah sebuah patung tak bergerak. Tiada kehangatan didalamnya, dan tiada pula ruh dan semangat. Ia kembali dengan derajat terendah yang tidak mampu bangkit kembali serta tidak lagi punya barometer nilai yang layak untuk mengukurnya...,"

Jangan kau sakiti hatimu dengan keburukan. Jangan pula kau sakiti hatimu dengan pesona duniawi yang menipumu. Bila tak hati-hati menahan kuatnya tarikan dunia, akan membawa wanita kita menjerumuskan diri.

Jangan sakiti hatimu. Kita mesti mendidik diri agar hati harmoni karena selalu dilandasi cinta dan tsiqah, rasa saling percaya, bukan rasa saling curiga. Cinta yang memunculkan ketaatan asli. Ketaatan murni mengharap ridha Allah. Jika cinta dan ketaatan menyatu lahirlah percaya (tsiqah). Tenang dalam keimanan. Senang dalam kepercayaan.

Berjamaah di jalan dakwah seperti berkeluarga. Kita tidak saling mengharap kesempurnaan dari pasangan kita, namun saling melengkapi dan menyempurnakan meski masing-masing dalam keterbatasan.

Alhamdulillah. Sesungguhnya ketaatan itu bisa mendatangkan kekuatan badan, ketampanan di wajah dan kecintaan pada diri makhluk.

Belajar menginspirasi tanpa menggurui. Memberi keteladanan bukan memaksakan. Mengajak bukan mengejek. Mendidik diri, menata potensi, meniti hari agar selalu happy full prestasi. Orang lain bisa mencaci kita, memaki kita, memfitnah kita, membenci kita, mendengki kita, namun mereka tidak akan mampu melawan do'a-do'a kita.

Sumber : Back To Tarbiyah, Solikhin Abu Izzudin.

Kelalaian adalah petaka
Seumpama jarum yang menusuk seluruh telapak kaki saat menapaki perjalanan
Dunia bisa menjadi kesenangan yang melenakan
Namun juga sarana pengabdian agar kekal bahagia di alam kehidupan sana
Hati adalah kunci
Hati adalah penjagaan
Hati adalah kekuatan
Maka dengan melalaikan kekuatannya ia akan melemahkan seluruh badan
Maka dengan menyakitinya, pupus sudah kesempatan semakin melejitkan daya juang

Lalu...
Mau sampai kapan...?
Jika dunia mampu mengarahkanmu pada akhirat, maka jagalah hatimu.
Namun, ia bisa menghancurkan.

Bandung, 2 September 2016.

Kamis, 01 September 2016

Jalan Lurus

"Ringkasan Hasil Pembacaan Tafsir Badiuzzaman Said Nursi Tentang ash-Shiraath al-Mustaqiim"

Di antara karakteristik agama Islam adalah sikap pertengahan. Pertengahan dalam aspek manapun. Ia tidak condong ke kanan atau ke kiri. Tetapi tengah-tengah. Ia tengah-tengah antara asketik Nasrani dan pragmatisme Yahudi. Tengah-tengah antara ifrâth (sikap berlebihan/excess) dan tafrîth (sikap melalaikan/deficiency). Sikap tengah-tengah yang tidak ke kiri dan ke kanan ini juga selalu lurus seperti jalan yang lurus. Oleh karenanya Islam juga identik dengan ungkapan "Jalan Lurus".

Mengenai "Jalan Lurus" atau ash-Shirâth al-Mustaqîm, Syaikh Said Nursi pernah menerangkannya dalam Isyârâtul-I'jâz karyanya.

Beliau berkata:

Perlu Anda ketahui, jalan lurus adalah keadian yang merupakan rangkuman hikmah (kebijaksanaan), 'iffah (menjaga harga diri), dan syajâ'ah (keberanian). Tiga hal ini adalah sikap tengah-tengah pada masing-masing dari tiga daya dalam diri manusia.

Jelasnya, Allah swt. ketika meniupkan ruh ke dalam tubuh manusia yang selalu berubah, membutuhkan dan berpotensi binasa, Dia meletakkan tiga daya ke dalamnya demi kelanggengannya.

1. Daya nafsu kebinatangan, untuk memperoleh manfaat;

2. Daya emosional kebuasan, untuk menolak bahaya;

3. Daya intelektual kemalaikatan, untuk membedakan baik dan buruk.

Tetapi Allah dengan kebijaksanaan-Nya yang memberi kesempurnaan manusia melalui rahasia kompetisi (dalam beramal), tidak memberikan batasan bagi daya-daya tersebut saat pertama kali menciptakan manusia, seperti pembatasan daya pada makhluk hidup lain. Batasan-batasan tersebut disebutkan dalam Syariat untuk mencegah ifrâth dan tafrîth, dan memerintahkan bersikap pertengahan.

Prinsip ini besumber pada firman-Nya, 'Maka bersikap luruslah seperti yang diperintahkan kepadamu' (QS. Hûd: 112)

Ketiadaan pembatasan daya-daya tersebut saat penciptaan manusia, menghasilkan tiga level. Yaitu level pengurangan atau tafrîth, level penambahan atau ifrâth, dan level pertengahan atau keadilan.

Pengurangan pada daya intelektual akan melahirkan kebodohan dan kedunguan. Sedangkan penambahannya melahirkan kelicikan yang menipu dan bertele-tele dalam hal-hal remeh. Adapun pertengahannya adalah kebijaksanaan. Allah berfirman, 'Siapa yang diberikan kebijaksanaan, dia telah diberikan kebaikan yang banyak....'"

Beliau lalu menjelaskan daya nafsu kebinatangan:

"Pengurangan daya nafsu kebinatangan melahirkan hilangnya semangat dan hilangnya hasrat mendapatkan sesuatu. Penambahannya menyebabkan kejahatan, yakni rakus terhadap apapun yang ditemui, entah halal atau haram. Pertengahannya menumbuhkan sikap menjaga diri ('iffah), yakni mengambil yang halal dan menghindari yang haram. Selanjutnya silahkan dengan kaidah pokok ini takar setiap cabangnya, seperti dalam hal makan, minum, berpakaian dan lain-lain."

Tentang daya emosional, beliau berkata:

"Pengurangan daya emosional melahirkan sifat pengecut, yakni ketakutan terhadap hal yang tidak patut ditakuti, dan prasangka. Penambahannya memunculkan sikap nekat yang menyebabkan kecerobohan, kesewenang-wenangan, dan kelaliman. Sedangkan pertengahannya menumbuhkan keberanian, yakni mencurahkan jiwa dengan penuh cinta dan rindu (kepada Allah) untuk melindungi harga diri Islam dan meninggikan kalimat tauhid. Selanjutnya dengan kaidah pokok ini silahkan Anda mengukur cabang-cabangnya."

Kemudian beliau menutup pembahasan tiga daya ini dengan menjelaskan bahwa enam sisi yang disebutkan tadi (3 tafrîth: kebodohan, hilangnya semangat dan sifat pengecut; 3 ifrâth: kelicikan, kerakusan dan kenekatan) adalah kezaliman. Sedangkan 3 sikap tengah (kebijaksanaan, 'iffah dan keberanian) adalah keadilan yang merupakan jalan lurus dan merupakan pengamalan firman Allah, "Maka bersikap luruslah seperti yang diperintahkan kepadamu" (QS. Hûd: 112).

Syaikh Said berkata, "Siapa yang meniti jalan ini, dia berjalan di atas jalan yang terbentang di atas jurang neraka."

Bisa jadi maksudnya, berjalan di atas jalan tersebut akan membutuhkan perjuangan dan kehati-hatian. Jika melenceng ke kanan atau ke kiri, bisa-bisa akan terjatuh ke jurang tersebut.

Wallâhu a'lam.

Note : catatan dari seorang ikhwan dengan sedikit perubahan dan penyesuaian.

Senin, 11 Juli 2016

GRIYA CANTIK WEDDING ORGANIZER

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin niscaya Allah akan memampukan mereka (menjadikan mereka kaya) dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur : 32)

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (QS. An-Nisaa' : 1)

“Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya” (HR. Bukhari-Muslim)

"Jika seorang hamba menikah, maka sesungguhnya separuh agamanya telah sempurna. Oleh karena itu, hendaknya dia bertakwa kepada Allah pada separuh agama sisanya." (HR. Baihaqi)

     Menikah melaksanakan perintah-Nya, mengikuti sunnah Nabi saw dengan banyak keutamaan serta kemuliaannya. Menikah tak hanya menggabungkan dua hati, tapi juga dua keluarga besar yang sebelumnya belum saling mengenal dengan baik. Pernikahan menghimpun dua kebaikan, dua sisi yang saling menguatkan dari kelebihan serta kekurangan. Dan juga, menikah membuka banyak pintu rezeki atas izin-Nya apabila diawali niat yang benar, Insya Allah.

       Kami, GRIYA CANTIK SALON, menawarkan kepada sahabat sekalian yang hendak menjalankan salah satu ibadah yang dianjurkan (pernikahan) yakni "Paket Walimathul 'Ursy", Pesta Pernikahan yang meliputi :
1. Tata Rias dan Tata Busana Pengantin (Dengan/Tanpa Hijab)
2. Wedding Organizer
3. Catering
4. Dekorasi
5. Konsultan Pra Wedding


         Kami Insya Allah siap melayani konsep Pesta Pernikahan, Tradisional atau Modern, dengan adat Jawa, Sunda, Melayu, dll. Termasuk Pesta dengan gaya Asia, Barat, Eropa dan Timur Tengah. Selain itu, kami juga melayani untuk acara Khitanan, Rosulan, 7 Bulanan dan Berbagai Pesta Adat Lainnya. Sesuai dengan tagline kami;
"Kami ada untuk Sahabat. Kepuasan Sahabat adalah Kebahagiaan Kami. Jadikan momen di hari spesial Sahabat menjadi hal yang tak pernah terlupakan."  

Berikut ini adalah beberapa "Paket" yang kami tawarkan :
1. Paket Hemat A
Fasilitas yang akan diterima Sahabat berupa Dekorasi Bunga Plastik, Perlengkapan Prasmanan, Tenda 2 set + 100 Kursi, Lampu + Diesel dan Foto + Video Shooting (1 kaset). Untuk paket ini Sahabat cukup merogoh kocek Rp 6.000.000,-

2. Paket Hemat B
Fasilitas yang akan diterima Sahabat berupa Dekorasi Bunga Hidup, Perlengkapan Prasmanan, Tenda 2 set + 100 kursi lapis kain, Lampu + Diesel dan Foto + Video Shooting (1 kaset). Dengan biaya sebesar Rp 7.000.000,-

3. Paket Eksklusif 1
Fasilitas sama dengan Paket Hemat dengan tambahan Tenda 3 set + karpet lantai. Biaya untuk paket ini sebesar Rp 10.000.000,-

4. Paket Eksklusif 2
Dengan biaya sebesar Rp 15.000.000,-, Sahabat akan memperoleh fasilitas tambahan berupa Karpet Lantai + Foto Pra-Wedding

5. Paket Eksklusif 3
Fasilitas Tambahan berupa Karpet Lantai + Foto Pra- Wedding 2, dengan total biaya Rp 20.000.000,-

6. Paket Eksklusif 4
Fasilitas Tambahan berupa Bonus Foto Box, dengan total biaya Rp 25.000.000,-

7. Paket Eksklusif 5
Fasilitas Tambahan berupa Bonus 2 setel Kebaya, dengan total biaya Rp 30.000.000,-

8. Paket Eksklusif 6
Fasilitas Tambahan berupa Hiburan Musik, dengan total biaya Rp 35.000.000,-

Catatan : Harga diatas sewaktu-waktu bisa berubah.

      Tunggu apa lagi, Kepuasan Sahabat adalah Kebahagiaan Kami, Insya Allah kami akan melayani Sahabat dengan pelayanan yang memuaskan.

Griya Cantik Salon
Alamat : Jalan Raya Widasari No. 16 Indramayu

Cabang kami di wilayah Karangampel (Indramayu)
Alamat : Jalan Raya Selatan Karangampel Gang Hj. Sarinten (Pinggir Kali) RT 23/ RW 05, Desa Karangampel Kidul Kabupaten Indramayu. HP : 087710434372 (Mbak Eva)



 Contoh Foto Pelaminan



Contoh Foto Kostum (Busana Pengantin) dan Acara Walimathul 'Ursy

Jumat, 13 Mei 2016

Menuju Cahaya

Maka bersemayamlah dalam hati
Dimana jiwa tertambat bersama keteguhan
Ada banyak kata terangkum indah. Menambah kekuatan. Merenyuhkan keangkuhan. Mematikan kekakuan. Membuka sekian banyak pintu keputusan. Ya. Dimana cahaya itu menggerakkan seluruh tubuh menuju sumbernya.

Maka tersadarkanlah mata hati
Menyaksikan tanda-tanda dari kalimat suci
Membuka seluruh cakrawala senja
Menyibak tabir kegelapan malam
Semakin mencerahkan cahaya mentari yang benderang
Sejelas-jelasnya risalah
Sekokoh-kokohnya batu karang
Menembus seluruh batas waktu sejak zaman Nabi Adam as.
Akhirnya, jiwa menundukkan dalam keteduhan. Dan hati terpaut pada kalimat-kalimat-Nya. Tiada lagi berkelindan. Terbaurkan. Tidak lagi. Terjauhkan. Bukan waktunya lagi. Ah, banyak sekali kisah keteladanan yang memancarkan cahaya serta menggerakkan.

Maka biarlah bibir ini basah dalam lantunan Dzikrullah...
Dzikrullah... Dzikrullah... Dzikrullah...
Ah, mungkin waktu akan terus mengajarkan
Karena dzikir ternyata tak semua mampu memberikan cahaya pada hati
Hijab...? Mungkin saja.

Selasa, 10 Mei 2016

Dibawah Naungan Cinta - 3

Kali ini, salah satu bait puisi yang hendak kusampaikan. Bukan puisi cinta biasa, karena ia adalah bisikan yang menggugah jiwa. Dan bahwasanya cinta pada-Nya, menunjukkan diri ke arah kebaikan. Dan cinta-Nya, menjaga hamba dari banyak keburukan.

Kepada diriku aku berkata
Antara terang dan gelap tidaklah sama
Camkan! Semua manusia niscaya binasa
Jaga dirimu dari hawa nafsu dan segala cela
Camkan! Itu adalah pintu menuju binasa
Di permulaan ia tawarkan kenikmatan
Sesungguhnya hina dan sesal yang kau dapatkan
Segala kesenangan pastilah berujung kematian
Walau dua kali lipat usia Nuh bin Lamik diberikan

Hidup di negeri fana janganlah terlena
Maut terus ingatkan kita niscaya binasa
Yang tunduk perintah 'Azza Wa Jalla
Ikuti akal, singkirkan hawa nafsu pula
Kan ia raih kemenangan di sisi-Nya, niscaya
Ia kan dapatkan segala nikmat swargaloka
Yang paham hakikat perintah 'Azza Wa Jalla
Kan lihat keelokan yang tak dimiliki siapa saja

Yang mengenal-Nya niscaya tak menentang-Nya
Walau segala kuasa dan tahta menggodanya
Jalan takwa dan ibadah adalah jalan termulia
Hanya pejalan terbaik yang menempuhnya
Selain di jalan kebenaran tak ada yang lebih mulia

Yang tak sanggup kendalikan dirinya
Tak kan raih nikmat akhirat dan hidup mulia
Mulia nian mereka yang jadi panutan
Karena punya kelakukan mulia dan segala kesucian
Yang sukses meredam gejolak nafsu
Kemuliaan dan ketentraman menyertainya selalu
Hidup dan mati yang dicita-citakan mereka dapatkan
Kemenangan hakiki teraih di negeri keabadian

Nafsu yang tawarkan kenikmatan mereka tentang
Melihat cahaya menyapu segala kegelapan
Kalau saja jasad mereka tak punya
Niscaya kau sangka ia malaikat belaka
Tuhan, dahulukan dan limpahi keshalehan mereka
Anugerahi dan berkati mereka semua
Duhai jiwa, siap dan berjuanglah sepenuh nyawa
Janganlah kau bosan raih kenikmatan sesungguhnya

Bila jerihmu kau luluh-lantahkan dengan nafsu
Kebenaran telah kau langgar, sungguh kau tahu itu
Ajaran-Nya telah Ia jelaskan pada manusia
Penjelasan-Nya lebih terang dari bintang di angkasa
Duhai jiwa, berusahalah sekuat tenaga
Tekadmu, tajamkanlah setajam pedang tertajam di dunia

Bila manusia renungkan wujud sejatinya
Ia kan tahu hidup bukan untuk bahan tertawa

(Ibnu Hazm El Andalusy)

Sabtu, 07 Mei 2016

Dibawah Naungan Cinta - 2

Dalam kesempatan berbeda, aku kembali bersajak:

Air mata cinta mengalir sudah
Dan tabir kasih tersingkap indah
Hatimu seumpama kucing saja
Gesit menerkam kala melihat mangsa

Duhai sahabatku, luapkan saja perasaan cintamu
Sungguh, pendapatku tentang cinta tak berbeda denganmu
Sampai kapan kan kau sembunyikan
Tak kan kutinggalkan kau sendirian

Peristiwa seperti itu, hanya terjadi pada orang berusaha mati-matian dalam menyembunyikan perasaan cinta yang menderanya. Ya, hanya terjadi pada orang yang berusaha menyingkirkan cinta dari dalam jiwanya. Sungguh, sekeras apapun dia berusaha. Ia takkan bisa melepaskan jaring cinta yang telah menjeratnya. Sia-sia saja. Ia hanya akan terkurung diantara dua kobaran api : api cinta dan api derita.

Mungkin seseorang menyembunyikan cinta dengan tujuan untuk menjaga keutuhan cintanya kepada sang kekasih. Jika karena alasan ini, berarti ia merupakan seorang pencinta yang setia dan memiliki sifat yang terpuji. Beberapa bait puisiku berujar tentang hal ini:

Mereka tahu aku ini pemuda yang dilanda cinta
Tapi kusembunyikan segala rahasia cinta
Kecuali pada mereka yang tahu keadaanku sepenuhnya

Bagi mereka yang tak tahu diriku sebenarnya
Cukuplah mereka tahu aku sedang mencinta
Seumpama garis yang terlihat nyata
Namun mereka tak perlu tahu hakikat guratannya
Atau seumpama suara perkutut yang indah suaranya
Tapi tak bisa dipahami hakikat maknanya

Mereka berkata,
Demi Allah, cintamu bukanlah racun binasa
Ia adalah hajat mulia
Amboi, cinta itu bukan perangai orang gila
Melainkan mutiara yang bikin orang tergila-gila
Selamanya, mereka tergetar dalam syakwa
Syakwa yang terputus atau terputusnya syakwa

Mengenai cinta yang dirahasiakan, akupun memiliki puisi yang lain:

Untuk rahasia cinta, telah kusiapkan tempatnya
Kala ada orang yang mengetahuinya, aduhai betapa sedihnya
Tersingkapnya rahasia cinta seumpama diserang kematian
Kala rahasianya utuh terjaga, kebahagiaan
Sungguh tak terlukiskan

Namun, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya tetaplah yang utama. Cinta kita kepada kedua orang tua adalah perbuatan mulia. Cinta yang terjaga dalam koridor adalah kebahagiaan sejati. Ia tak meledak, namun melembutkan hati. Karena cinta yang besar kepada-Nya melahirkan kebaikan. Sebagaimana cinta-Nya kepada segenap makhluk membawa keteduhan.

Referensi : Dibawah Naungan Cinta (Ibnu Hazm El Andalusy)

Jumat, 06 Mei 2016

Dibawah Naungan Cinta - 1

Namun, jikalau kautemukan ada orang yang tak membalas cinta seseorang yang mencintainya, sesungguhnya hal itu terjadi lantaran jiwa orang itu tertutupi tabiat-tabiat dan sifat-sifat keduniaan. Jiwanya tak dapat merasakan ketersambungan getaran cinta yang disampaikan oleh jiwa orang yang mencintainya. Kalau saja, segala tabir penutup itu sirna, niscaya jiwa keduanya akan tersambung. Cinta mereka akan terjalin dalam kadar derajat dan kekuatan yang sama.

Tatkala hal itu terjadi, segenap perhatian, cinta dan kasih sayangnya akan tercurah pada sang kekasih tercinta. Ia curahkan segalanya dengan kesadaran penuh akan adanya "sesuatu" yang mempersatukan jiwanya dengan jiwa sang kekasih tercinta. Kala terpisah, ia akan mencarinya, mendatanginya dan merindukan pertemuan dengannya. Kalau bisa, tak perlulah ada perpisahan. Ia ingin selalu menempel di samping sang kekasih tercinta, seumpama magnet yang terus menempel pada besi.

Atau seumpama api yang terkurung. Kekuatan api untuk bertemu dan bersatu dengan api-api lainnya tak kan terjadi, kecuali ia dilepaskan dari kurungannya. Dua kobaran api, meskipun berdekatan, ia takkan bersatu manakal ada tabir penghalang yang tidak dapat ditembus oleh keduanya.

Banyak dalil yang bisa kukemukakan untuk mendukung pernyataan diatas. Diantaranya, bukankah engkau tak akan menemukan dua orang yang saling mencintai kecuali diantara keduanya terdapat kesamaan tabiat dan kecocokan sifat-sifat alamiah. Pasti ada kesamaan diantara keduanya meskipun sedikit. Semakin banyak kesamaan, semakin besar pula daya tarik diantara keduanya. Semakin banyak kecocokan, semakin kuat pula cinta yang terjalin diantara keduanya.

Diambil dari buku "Dibawah Naungan Cinta" karya Ibnu Hazm El Andalusy.

"Akan ada sesuatu yang sama meski sebelumnya tak banyak mengenal, karena dua jiwa akan bersatu setelah menemukan bait-bait kemiripan atau kesamaan yang semakin menguatkan ikatan. Terlebih, jalinan atas dasar iman itu menjadi awalnya." (Anonim, 2016)