Rabu, 24 Juli 2013

Berhati-hatilah Terhadap Penyakit Ini Saudaraku

Assalamu'alaykum Wr. Wb.

16 Ramadhan 1434 H, bagaimana kabar saudara muslim sekalian? Semoga Allah tetap menjaga nikmat iman dan islam dalam hati kita serta istiqomah untuk terus berada dalam jalan taqwa yang diridhai-Nya, aamiin. Sesungguhnya Allah memberikan atau menciptakan hati untuk manusia agar mereka mampu merasakan nafas kebaikan dimana pun berada. Hati adalah cermin, tempat pahala dan dosa beradu. Entah bagian mana yang kuat, kecenderungan untuk maksiatkah atau amal ibadahkah? Wallahu'alam, semoga Allah melindungi potensi hati yang melekat dalam diri kita.

Pagi ini saya memposting, kebetulan cukup panjang, dan semoga kita terhindar dari penyakit ini. Saya mengambil dari buku 'Tazkiyatun Nafs - Kajian Lengkap Penyucian Jiwa, Intisari Ihya Ulumuddin (Al-Ghazali)' karya Syakih Sa'id Hawwa, tentang 'Sebab-sebab dengki dan persaingan (munafasah)'.

Pertama, permusuhan dan pertengkaran. Ini merupakan sebab utama lahirnya penyakit dengki. Apabila seorang merasa disakiti oleh orang lain dengan berbagai cara dan sebab, maka akan timbul di hatinya kebencian. Kemudian kebencian akan melahirkan rasa dendam dan pembalasan agar dapat mengobati sakit hatinya. Seandainya ia tidak mampu untuk memberikan pembalasan, maka ia mengharap waktu yang akan membalasnya. Ketika orang itu mendapat musibah dari Allah, maka ia akan berbahagia. Akan tetapi, seandainya orang itu mendapatkan kenikmatan, maka ia akan tersiksa dan bersedih, mungkin terbetik di hatinya bahwa Allah tidak menyayanginya karena telah memberikan kenikmatan kepada orang yang melakukan kezaliman atas dirinya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebab utama munculnya penyakit dengki adalah permusuhan dan pertengkaran. Allah berfirman;

"Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata "Kami beriman", dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): "Matilah kamu karena kemarahanmu itu." Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan." (Ali Imran [3] : 119-120)

Begitu pula dengan ayat sebelumnya;

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya." (Ali Imran : 118)

Penyakit dengki yang disebabkan atas permusuhan akan melahirkan pertengkaran dan selama-lamanya mengharapkan orang tersebut tidak mendapatkan kenikmatan.

Kedua, kehormatan diri.  Yaitu seorang yang tidak mau orang lain lebih tinggi daripadanya. Apabila orang lain mendapatkan harta, jabatan, atau ilmu yang lebih banyak, maka ia takut orang itu akan sombong di hadapannya dan ia tidak mampu menghadapi kesombongannya dan tidak sudi apabila dirinya merasa lebih rendah dari orang itu. Orang seperti ini tidak ingin menyombongkan dirinya akan tetapi hanya mencegah orang lain menampakkan kesombongannya. Dengan kata lain, ia menerima apabila mendapatkan sesuatu yang sama dengan orang itu, akan tetapi ia tidak senang apabila orang itu mendapatkan sesuatu yang lebih daripadanya.

Ketiga, sombong. Yaitu seseorang yang suka menampakkan kesmobongan terhadap orang lain dan ia tidak mau orang lain menyombongkan diri kepadanya. Atau ia ingin mendapatkan sesuatu dengan tujuan untuk membalas kesombongannya. Adapun sebab kehormatan diri dan sombong merupakan sebab utama kedengkian orang-orang kafir terhadap Rasulullah SAW. Seperti perkataan mereka, "Bagaimana mungkin anak kecil yang yatim ini dapat melebihi kami dan bagaimana mungkin kami dapat menundukkan kepala di hadapannya?" dan perkataan mereka direkam dalam Al-Qur'an,

"Dan mereka berkata: "Mengapa Al Quran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini?" (Az-Zukhruf [43] : 31)

Artinya adalah apabila orang yang mengaku nabi adalah orang yang mulia, maka mereka akan menerimanya. Allah menyifati perkataan orang-orang Quraisy, "Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: "Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?" (Allah berfirman): "Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?" (Al An'aam [6] : 53), seperti menghina mereka dan menghadapi mereka.

Keempat, terkejut (taa'jjub). Sebagaimana yang difirmankan Allah tentang perkataan umat-umat terdahulu ketika berkata, "Mereka menjawab: "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka." (Yaasiin [36] : 15)

"Dan mereka berkata: "Apakah (patut) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita (juga), padahal kaum mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?" (Al Mu'minuun [23] : 47)

"Dan sesungguhnya jika kamu sekalian mentaati manusia yang seperti kamu, niscaya bila demikian, kamu benar-benar (menjadi) orang-orang yang merugi." (Al Mu'minuun [23] : 34)

Orang-orang kafir terkejut ketika mengetahui bahwa kenabian, wahyu dan predikat hamba yang paling dekat dengan Allah jatuh kepada mereka yang diangkat oleh Allah sebagai Nabi dan Rasul. Maka muncul kedengkian orang-orang kafir dan ingin menghilangkan segala kenikmatan itu agar kenikmatan (kenabian) itu berpindah kepada mereka. Apa yang orang-orang kafir lakukan bukan untuk menyombongkan diri, keinginan atas kedudukan, permusuhan, atau sebab-sebab lainnya, akan tetapi merupakan keterkejutannya dan tidak menyangka bahwa Allah memberikan predikat nabi dan rasul bukan kepada dirinya. Perkataan yang mengandung keterkejutan, "Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka: "Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasuI?" (Al Israa [17] : 94)

"Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami: "Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?" Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kezaliman." (Al Furqan [25] : 21)

"Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan." (Al A'raaf [7] : 69)

Kelima, takut kehilangan satu tujuan. Hal ini berkenaan dengan banyaknya orang, akan tetapi hanya ada satu tujuan. Seperti keinginan beberapa orang untuk menikahi satu wanita, keinginan saudara-saudara kandung untuk menjadi kesayangan kedua orang tuanya, keinginan murid-murid untuk menjadi kesayangan gurunya, keinginan para menteri untuk menjadi orang dekat dengan presiden, keinginan para ulama untuk menjadi panutan utama bagi masyarakat, dan lain-lain.

Keenam, cinta jabatan dan kedudukan. Misalnya seorang laki-laki yang ingin menjadi salah satu rujukan dalam satu bidang keilmuan karena ia sangat haus pujian dan ketenaran. Ketika ia mendengar seseorang memiliki keahlian melebihi dirinya, maka ia mengharapkan orang itu cepat meninggal dunia atau mengalami suatu kecelakaan, sehingga dirinya tetap dinomorsatukan dan tidak ada bandingannya dalam bidang itu. Begitu pula berkenaan dengan jabatan, harta, ilmu, keberanian, kecantikan, dll. Penyebab kedengkian ini bukan karena permusuhan, kehormatan diri, sombong dan yang lainnya. Akan tetapi semata-mata ingin orang-orang menganggap hanya dialah satu-satunya orang yang memiliki kenikmatan itu. Para pendeta Yahudi mengingkari Rasulullah SAW dan tidak mengimaninya, semata-mata ketakutan mereka akan hilangnya kedudukan di mata umat.

Ketujuh, perangai yang buruk dan benci melihat orang lain mendapat kebahagiaan. Orang seperti ini sangat pelit membagi kebahagiaan kepada orang lain walaupun antara mereka tidak ada permusuhan atau persaingan. Penyebab kedengkian ini merupakan sebab yang paling sulit dihilangkan karena hal itu bersifat tetap atau merupakan tabiat yang jelek. Sedangkan sebab-sebab yang lain muncul karena suatu sebab yang bersifat tidak tetap, seperti dengki terhadap seseorang karena keinginan atas jabatan dan ketika jabatan itu ia peroleh, maka hilanglah kedengkian terhadap orang tadi.

Terkadang ada seseorang yang memiliki penyakit dengki karena seluruh sebab-sebab di atas atau sebagian besar dari sebab-sebab di atas. Bagi orang seperti ini akan sulit menyembunyikan sifat dengkinya dan sepanjang hidupnya akan terlihat permusuhan dalam dirinya terhadap orang lain. Dan pelajaran dari generasi masa lampau, bahkan sebelum masa Nabi Muhammad SAW, hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Semoga Allah menjauhkan kita dari sikap ini. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar