Kamis, 11 Juli 2013

The Dusty Trophy

Sebelas tahun berlalu kawan. Ya, kau adalah yang pertama kali pernah terukir jelas lewat guratan pena. Dan catatan itu pun pernah menghilang delapan tahun yang lalu. Kau adalah hal pertama dan utama waktu itu, saat itu. Tidak ada yang pernah menyangka aku pernah menorehkan tinta emas dalam perebutan gelar. Tiada kawan. Aku bukanlah mereka yang memang terkenal berkat dukungan orang tua serta rekan. Aku berbeda kawan. Aku hanya seorang anak sulung yang dilahirkan dari rahim seorang ibu rumah tangga. Mereka berbeda kawan. Dari ibu pula aku belajar tentang keyakinan dalam berjuang. Aku masih SMP waktu itu, dan keberadaanku hanya sebongkah batu diantara kumpulan bebatuan di pinggiran sungai. Aku hanya seorang, sendirian.
 
Hari Senin itu, Allah memberikan hal lain padaku. Saat sebelumnya ayah pernah menyampaikan hal terkait dirimu. Aku tetap tidak memiliki keyakinan, meskipun tiga kali menjadi nomor satu di ruangan kelas. Tiga kali kawan. Dan aku masih dianggap biasa, dan sangat kunikmati rasa ‘biasa’ ini. Sensasi yang membuatku terus menorehkan kemampuan dan keyakinan. Tak perlu sibuk aku berbicara, apalagi berkoar. Tak perlu. Cukup menerima sekian materi yang ‘bejibun’ itu untuk memenuhi otakku hingga bertemu denganmu. Ya, hari Senin itu. Saat mentari mulai memanggang raga generasi muda dan sang merah-putih siap berkibar di angkasa.

Bulir-bulir keringat membasahi wajah kami kawan. Ya, kau pun telah terpajang bersama nampan. Dua buah benda yang ada di depan mata kami, dan kau telah berpindah sebanyak dua kali dalam tiga gelaran itu. Kawan di sampingmu sudah pasti milik senior itu. Dia yang terbaik. Dan tak ada yang pernah mampu menyainginya, bahkan sejak SD kami pernah satu almamater. Para merpati waktu itu tengah menukik tajam, membelah angkasa SMPN 1 Karangampel. Dan Kepala Sekolah mulai menyampaikan pengumuman di sesi terakhir.

Seperti dugaanku, dan mungkin kebanyakan yang lainnya. Sang senior memperoleh teman sebelahmu kawan. Tapi sebelum itu, saat mentari mulai tertutup awan dan kicau burung pipit begitu riang di atas genting kelas 2 A dan 2 B. Allah telah menyiapkan rencana unik dalam perjalanan hidupku sebagai siswa.

“Arif Fatkhurrohman...,”

Jantungku berdegup kencang, namun hati tetap tenang. Temanku yang satu ini memang spesial. Berhasil menyingkirkan dua kandidat juara kelas yang pernah merengkuhmu kawan di dua catur wulan sebelumnya. Selamat.

“Mursaliena Nur Laela...,”

Ah... nama kedua yang dipanggil semakin membuatku tertunduk. Teman sebelah kanan, depan dan belakangku terus menatap sosok siswi yang juga dikenal jago di kelasnya. Semua mata tertuju padanya. Siswi yang bukan dari kelas reguler ternyata mampu menempati posisi kedua. Dan perlu kau ketahui kawan, nilai kami berjumlah sama waktu itu. Seratus enam dari dua belas mata pelajaran yang harus ‘digenjot’ dalam empat bulan.

Dan. Cukuplak kau tahu kawan. Mentari kembali menampakkan cahaya penuhnya. Dan aku pun mampu menegakkan kepala. Semua mata teman sekelasku yang baru mulai tertuju padaku. Semakin bergemuruh pula dada, seakan sekujur tubuhku mati rasa. Seluruh ototku tersumpal persendiannya, membeku. Dan terik sang mentari menggugah lamunanku.

“Rifki Asrul Sani...,”

‘Prok... prok... prok... prok...,’

Aku tertunduk kawan, dan kau sudah ada di depan mataku. Saat Kepala Sekolah menyerahkanmu padaku, aku hanya terus tertunduk. Tak terasa buliran hangat terus mengalir, terjun bebas. Aku bisa!!!

Kau tahu kawan, pasca penyerahanmu padaku. Sepasang bola mata mengintip mesra, aku mungkin hanya mendengarnya dari kawan lama. Ya, sahabat terbaikku yang pernah ada. Cerita masa SMP yang pernah kuukir bersamamu. Aku tak hendak buru-buru menyimpulkan, tapi itu memang benar adanya. Aku jatuh cinta. Biarlah, cukup episode itu pernah terjalin bersamamu yang kini berdebu.

Aku tak pernah mengatakan kau kini usang kawan, tak terbesit dalam pikiranku. Dan kau menjadi kawan terbaikku pula semasa SMA, ya, saat kau kuboyong ke rumah Paman agar semakin semangat bagiku merengkuh prestasi. Kau memang spesial kawan, sangat penting dalam jelajah tapak hidup semasa muda. Aku tak pernah bosan memandangmu meskipun telah merantau ke perbatasan antara Kota Tahu dengan Paris Van Java. Jatinangor. Aku tetap mengingatmu yang berdiri tegak di atas lemari. Dan kau pun semakin kusam, sangat berdebu. Seakan menjadi saksi sejarah pergulatan diriku di kamar itu. Tentang kesendirian, canda-tawa, cinta, kebencian, kecewa dan juga haru-bahagia. Ya, kau adalah saksi kehidupanku selama enam tahun. Putih-biru. Putih-abu. Kau adalah sahabat sejatiku kawan!

Kau semakin usang saja kawan. Setidaknya saat pulang akan kusempatkan untuk memelukmu. Kau memang sempurna, menyimpan ratusan keunikan setiap kali menatap dan mengenang perjalanan masa remaja yang penuh makna. Kau terlalu unik dalam bayangan otakku. Kau yang sangat spesial. Memandangmu seakan mengembalikan kilas-balik yang menjadi bahan pembelajaran bagiku. Merengkuh ujungmu membawa khayalku terbang bagai ke atas awan, sangat tinggi dan tak ingin kembali. Memelukmu membuat hatiku meringis.

Kawan... aku takkan pernah melupakanmu, tak kubiarkan pula orang lain mengambil wujudmu. Dan kau terlampau spesial untuk dibiarkan terus berdebu. Biarlah. Aku akan tetap mengunjungimu dan kelak akan kubawa dirimu di istana baruku. Ya, istana baru bersama sejuta kenangan dengan ratu hatiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar