Minggu, 09 Juni 2013

THE RED FACE

'Gubrak…!!!’
‘Aum…!!! Guk… guk… guk!!!’
Beberapa papan kayu berjatuhan, beberapa ekor anjing saling bersahutan. Dan purnama tetap tersenyum untuk mengiringi malam, ditemani bintang yang cantik bersinar. Seorang tua perlahan melangkahkan kaki demi kaki bertopang tongkat coklat gelap yang sudah hampir sepuluh tahun menemaninya. Tubuhnya semakin membungkuk, tanda bahwa dirinya memang dimakan usia. Tidak ada sehelai rambut hitam pun yang menghiasi kepalanya, kecuali gigi-giginya yang masih utuh meskipun sudah menguning karena ‘mengenyot’ daun sirih. Ia hidup sebatang kara sejak sepuluh tahun yang lalu, sejak ia pertama kali menggunakan tongkat untuk menyangga tubuhnya.
Rumah orang tua ini begitu sangat sederhana, begitulah yang selalu dikatakannya pada setiap orang yang bertanya mengenai rumah ataupun orang-orang yang ada di rumahnya. Entah mengapa sejak sepuluh tahun yang lalu, sejak ia memakai tongkat coklat tua itu menjadi seperti dirinya yang kini semakin membungkuk. Entah kejadian seperti apa yang membuatnya menjadi sedemikian adanya, tidak ada satu pun anggota keluarga yang memperhatikan sosok tua yang sebenarnya menjadi tempat anak-anak dari warga sekitar berbagi cerita.
Orang tua ini sejatinya adalah seorang dalang wayang golek, dan hampir setiap acara, hajatan, upacara adat maka orang tua ini yang dipanggil. Dan entah mengapa sejak sepuluh tahun yang lalu, suasana menjadi semakin berubah dan ia semakin meninggalkan profesi dalangnya. Ia hanya ditemani ‘tokoh pandawa’ sebagai lima buah wayang ditambah gatot kaca dan si cepot yang menemaninya untuk berbagi cerita bersama anak-anak. Ya… hanya anak-anak yang kini menemani setiap hari pagi hingga sorenya, selama sepuluh tahun ini. Meskipun terkadang beberapa warga kerap memberinya makanan dan minuman untuk melepas lapar serta dahaga.
Orang tua ini biasa dipanggil Pak Sarip, hampir seluruh warga mengenal sosoknya. Pribadi yang tenang dan bersahaja, dan masih sama sejak sepuluh tahun yang lalu ia hidup sebatang kara. Perjalanan hidup mantan dalang yang tersohor ini memang cukup unik, pun juga menyisakan banyak misteri. Terlebih saat rembulan bersinar terang, malam Jum’at Kliwon, terlebih dengan suara lolongan anjing yang bersahutan terkadang mengiringi kesendirian sang orang tua ini. Tapi tetap saja warga sekitar menghormati sosok tua sebatang kara ini karena kedekatannya dengan anak-anak.
“Pak Sarip…!”
Lima orang anak yang biasa menantikan dongengan sang orang tua ini, ya… waktu sore menjelang maghrib memang waktu favorit untuk berbagi cerita. Karena kebanyakan anak-anak masih bersekolah di pagi hari. Dan waktu sore memang menjadi kebiasaan bagi pak Sarip untuk berkeliling kampung meskipun hanya sekedar menyapa maupun singgah di beberapa rumah warga. Hal yang selalu dilakukannya, bahkan sejak kejadian sepuluh tahun yang lalu. Tidak ada yang berubah dari sosoknya, tenang dan bersahaja serta tidak banyak berkomentar yang tidak perlu mengenai banyak hal. Sosok yang tidak pernah berubah, bahkan sejak sepuluh tahun yang lalu.
Wayang Arjuna mulai bergerak kesana-kemari, waktunya bagi pak Sarip untuk memainkan peran sebagai dalang yang menghibur anak-anak melalui cerita demi cerita yang terkadang mengundang gelak tawa maupun keseriusan dari setiap tatapan mata.
“Arjuna tiba di Amarta sambil membawa panah kesayangannya… tapi… tiba-tiba… Bima yang asyik memakan buah pisang… melempar… kulitnya tepat di depan Arjuna yang sedang berjalan… dan…”
‘Gedebug!’
Wayang Arjuna yang ada di tangan pak Sarip terpelanting, membentur tanah dan dibiarkan begitu saja. Beberapa anak mulai tertawa gembira, meskipun cerita yang disajikan hanya cerita fiktif yang bukan dari aslinya. Tapi bagi anak-anak, tidaklah masalah karena berbagi waktu bersama pak sarip adalah kebahagiaan tersendiri.
Satu per satu, wayang-wayang yang dibawa oleh pak Sarip mulai beradu, bersama nada gurau serta gelak tawa, bercampur semilir angin yang menghembuskan nada riang. Bima tegap sambil membawa gadanya, tak pelak Arjuna pun bergaya dengan panahnya. Tak lupa, cepot, si pembawa humor berbagi sentilan-sentilan yang mengocok perut anak-anak yang mendengarkan.
Ai bahasa inggrisna kekeset naon pot?
Welcome atuh… bima,”
Eh… ceuk saha eta? Ai maneh…,
Pan aya eta… dina kekesetna tulisan… welcome… meuni badag,
Ah sia…,
‘Ahahaha…,’
Wayang Cepot terus menari, beradu dengan suara-suara khas pak dalang Sarip, mengayun indah di mata anak-anak yang tak henti-hentinya tertawa pun juga bertepuk tangan dari setiap adegan tangan pak dalang Sarip yang memainkan wayang-wayangnya yang tersisa sejak sepuluh tahun yang lalu.
‘Plok... plok... plok...,’
‘Ahahaha... Hehehehe...,’
 
***** 
           Malam mengayun indah, diiringi lolongan anjing hutan yang berpadu dengan anjing-anjing milik warga. Seindah purnama yang kini bersinar menerangi kampung ‘sang dalang’ yang kembali dalam kesendiriannya ketika malam tiba. Sepi… mencekam… tak ada teman maupun lawan bicara. Rumahnya yang semakin rapuh dan tampak tak terurus, semakin menambah suasana yang sepi. Pak Sarip tetaplah seperti itu, apa adanya, bahkan sejak sepuluh tahun yang lalu dalam kesendiriaannya. Tawaran warga sama sekali tidak mengubah pendiriannya untuk pindah rumah, dan baginya, rumah tua ini bagaikan villa indah karena memiliki banyak kenangan yang tak mungkin dirinya tinggalkan.
Pak Sarip berjalan perlahan, hal yang biasa dilakukannya adalah menyusuri setiap sudut rumah di malam hari. Hal yang selalu dilakukannya sejak sepuluh tahun yang lalu. Tidak banyak berubah dan masih tetap sama, sama dengan kondisi sepuluh tahun yang lalu. Seluruh foto, perabotan rumah tangga, kursi, meja, lemari dan lain sebagainya. Masih tetap sama, kecuali debu-debu dan juga sarang laba-laba yang mulai menemani setiap perlengkapan rumah yang ada. Berbeda dengan kamarnya yang begitu rapih tertata, bersih dan tampak indah dengan beberapa benda hasil koleksi selama menjalani profesi sebagai dalang. Sungguh, ruangan yang berkesan bagi orang tua yang pensiun dari profesi menjadi dalangnya sejak sepuluh tahun yang lalu.
‘Syuuut…,’
Beberapa bayangan hitam mulai berirama, melesat perlahan menyusuri setiap bagian rumah mantan dalang ini. Beradu dengan semilir angin yang berpadu dalam irama lolongan anjing. Purnama malam ini begitu indah, dan seindah perasaan yang ada dalam hati mantan dalang yang masih menyusuri setiap bagian rumahnya.
‘Wrak... wrak... ngak... ngak...!!!’
‘Kleparrr... wus... syung... klepar...,’
Si hitam itu kembali beraksi menyusuri sudut malam dengan kekuatan paruhnya. Ini adalah malam yang tak boleh terlewat begitu saja. Sama seperti pak Sarip yang kini dalam intaiannya. Sudut mata tajam itu sesekali mengarah pada para pandawa yang menari indah.
‘Krek... krek... krek...,’
‘Hahahahaha... Hihihihi...,’
Si hitam tetap mengepakkan sayapnya, sudut matanya kini kepada pak Sarip yang sudah duduk tenang sambil membawa sebuah kotak hitam. Ya, kotak hitam yang membawa bencana sepuluh tahun yang lalu. Tragedi berdarah yang merenggut enam orang yang selama ini menjadi teman hidup masa tuanya. Tragedi yang tak pernah mampu terungkap, dan hanya menyisakan tanda tanya besar. Tidak ada jejak, tidak ada alat bukti. Yang ada hanya para pandawa dan juga si gatot kaca yang berlumur darah. Dan sangat tidak mungkin wayang-wayang itu bergerak indah, tapi mungkin untuk malam ini.
Kilatan cahaya pisau itu beradu dengan cermin dan kaca yang ada di setiap sudut ruangan. Para pandawa masih menari indah, mereka tak menyadari kehadiran si hitam.
‘Da... rah... da... rah...,’
‘Hahahaha...,’
Semua terasa sunyi bagi pak Sarip dan kotak hitamnya. Ia masih duduk terdiam berteman benda hitam itu. Tidak ada gerakan tambahan dan sama sekali tidak menyadari tarian indah para pandawa dan gatot kaca yang bermain pisau cantik berkilat. Ya, malam ini ia hanya mampu terdiam.
‘Gak... wrak... wrak...!!!’
‘Klepar... wung... wusss...,’




*****

            "Tidak...!!!”
            “Wuss... jleb... jleb... syat...!”
            ‘Hea... Huahahahaha... da... rah.... da... rah...,’
            ‘Kyaaa...!!!’
            Mereka menari indah, mereka tertawa gembira. Dua jiwa telah berpulang. Dan tarian indah itu tak mampu dirasakan apalagi di dengar oleh pak Sarip. Ia hanya duduk tenang dengan tongkat yang bersandar di sisi kiri kursi goyangnya. Sayatan-sayatan itu tak mampu dirasakannya. Dan dua jiwa telah diantar kembali ke hadirat-Nya.
            “Ayah...!!!”
            “Hahahaha... da... rah... da... rah...,’
            ‘Cling... wus...,’
            ‘Jleb...!’
            Satu jiwa lagi. Menemani tubuh berbaju hitam dan hijau yang kini terbaring di atas lantai berwarna putih. Darah-darah mengalir segar. Dan pak Sarip masih duduk memandang kotak hitam yang digenggamnya. Ya, sudah tiga jiwa sejak perjanjian itu. Perjanjian setan yang dipuja oleh sebagian para penikmat dunia. Perjanjian setan yang menjadi awal mula dan akhir kisah cerita yang dibangun di atas gedebog pisang dan juga tenda serta kursi-kursi yang berjejer. Kisah indah berdarah yang diawali serta diakhiri oleh para pandawa dan gatot kaca. Pak Sarip bukanlah buta ataupun tuli. Ia memang dimakan usia, tapi tenaga dan kemampuan indranya masih senormal saat ini.
            Perjanjian setan itu membutakan serta membuatnya tak mampu merasakan energi kehidupan sebanyak dua kali. Yang pertama adalah saat rumah ini berdiri megah untuk pertama kali, dan kedua adalah saat matanya kini menatap kotak hitam. Tak ada rasa tak ada jiwa. Semua berlalu apa adanya. Yang pertama tak mampu terungkap dan yang kedua kini entah bagaimana lagi. Yang pasti sudah tiga jiwa sejak perjanjian itu. Tepat sudah selang waktu sepuluh tahun dari yang pertama. Kini tinggal enam jiwa lagi untuk setan-setan itu.
            Bayangan-bayangan hitam menari indah di setiap sudut ruangan. Bergerak cepat menelusuri setiap sudut ruangan. Dan pak Sarip masih duduk terpaku pada pandangan kotak hitam yang masih belum berani dibukanya. Ia kembali buta dan tuli. Buta bukan karena tak mampu melihat, melainkan tak mampu merasakan kehadiran jiwa yang lainnya.
            Sudut bulan purnama diirngi tangisan malam. Rintihan tarian si baju putih itu kini menatap indah si dalang yang masih terdiam. Jari-jari manis berkukunya memegang pundak sang dalang dari belakang. Ia bahagia. Setidaknya untuk malam ini dan sepuluh tahun yang lalu dan yang akan datang.
            ‘Hihihihi...,’
            ‘Klepar... wus... syung...,’
            Langkah si putih menghentikan tarian iblis para pandawa dan gatot kaca. Pisau-pisau itu kini menjadi indah dengan lumuran darah. Masih tiga jiwa yang tersisa. Para perawan itu tertidur indah dalam satu kamar. Selimut-selimut putih seakan mengabari mereka tentang kehadiran jiwa yang lain. Berkali-kali gerakan ke kanan dan ke kiri mengabari ketiganya. Dan si putih kini menatap indah ketiga perawan yang kelak akan menemaninya.
            Para pandawa dan gatot kaca kembali pada tempatnya. Tanpa tarian dan secepat kilat. Enam pisau berlumur darah itu pun kembali. Ya, kembali ke tempat asalnya dan wujud aslinya. Kotak hitam itu kini bertambah, dan pak Sarip masih tak mampu merasakan bobot tambahannya. Bobot tambahan dari enam jarum berwarna merah delima yang ia terima dari perjanjian setan itu.
            Ketiga bidadari masih berbalut selimut putih. Si putih menyorotkan mata merah dengan wajah sayu yang kini menatap ketiga bidadari. Perawan sesuai yang diinginkannya, dan sama sekali tak disadari oleh pak Sarip. Enam biduan yang menemani perjalanan seninya berpulang sepuluh tahun yang lalu di rumah ini. Tiga di ruangan yang kini menjadi tempat tidur ketiga bidadari, dan yang lainnya di kamar yang terletak di sudut ruangan yang lain.
         Masih sama dengan cahaya purnama yang seakan menangisi penduduk bumi. Si putih tak menapakkan kaki-kaki hitamnya. Ia semakin dekat, semakin dekat dengan kebahagiaan.
            ‘Hihihihi...,’
            ‘Nggg... Putri... Putri...,’
            Si putih terdiam sejenak. Tangan kanannya sudah dekat dengan leher salah satu dari mereka. Dua bidadari yang lain berpelukan, mereka sudah siap untuk berpulang.
            ‘Gak... gak... wrak... wrak...!!!’
            ‘Hihihihi...,’
            ‘Set... syut...,’
            ‘Uoook... ttt... tttt... tttoo... tooo...,’
            Tangan si putih tepat menggenggam leher satu dari tiga kesukaanya. Sang bidadari hanya mampu memegang tangan kotor bernanah penuh luka milik si putih. Ini adalah saat dimana si putih mampu diraba oleh para manusia. Kaki sang bidadari bergerak tak tentu arah, kedua bola matanya masih mampu menatap muka jijik si putih dan juga kedua adiknya. Dialah yang tertua dan yang pertma direnggut kebahagiaan hidupnya. Tempat tidurnya memang terpisah.
            ‘Aaakkk... tttt... tttooo... long...,’
            ‘Hihihihihi...,’
            Tangan kanan sang bidadari tak mampu meraih kedua adiknya. Ia masih mampu menggeliat namun tak mampu bergerak bebas. Energi gravitasi begitu menekan habis tenaga manusianya. Si putih tinggal selakangkah lagi merenggut kebahagiaan korban kesukaannya.
            ‘Ha...,’
            ‘Argh... ah...,’
            Taring-taring si putih sudah tepat di leher sang bidadari. Telapak tangan kanannya membenamkan segenap muka korban pertamanya. Ya, ia bahagia. Kedua tangannya kini berubah menjadi kuning langsat. Ia memandang indah, tatapan mata merahnya berbinar sambil membolak-balikkan kedua tangannya.
            ‘Ha... hehe.. hehehe... hihihihihihi...,’
            Masih ada dua lagi. Satu jiwa sudah berlumur darah, kedua bola menatap langit-langit kamar. Dua bidadari yang lainnya masih berpelukan. Kedua tangan si putih sudah siap meraih leher mereka.
            ‘Hihihihi...,’
            ‘Hap... sret...,’
            ‘Okk.. ohok... ohok... ssssiii... ok..,’
            ‘Tttt... ttttoooo... tototooolooooongg...,’
            Sorot mata tajam keduanya menatap ngeri si putih. Ini adalah bagian akhir dari perjalanan purnama keduanya. Malam ini ia mungkin hanya mendapatkan tiga jiwa perawan, namun itu cukup baginya. Setidaknya sepuluh tahun yang lalu enam jiwa sudah berhasil diraihnya.
            Kaki-kaki kedua bidadari tersisa masih meronta dan menggeliat. Lagi-lagi energi gravitasi itu membatasi gerak tubuh keduanya. Sorot mata tajam nan indah semakin menekan jiwa dan jantung keduanya, si putih perlahan menjulurkan lidah berliurnya. Tatapan mata indah itu membuyarkan kekuatan kedua bidadari yang kini berusaha untuk tidak memasrahkan akhir hidupnya. Energi gravitasi itu semakin kuat, cengkraman leher si putih semakin menjadi dan tak mampu terlepas bebas. Tangan-tangan keduanya tak mampu menghempaskan energi apapun yang menekan tubuh keduanya. Cermin pun tak mampu melontarkan bayangan si putih yang kini berkulit kuning langsat, kecuali muka dan kedua kakinya.
            ‘Ooook... argh...,’
            ‘Wrak... wrak... gak... gak...,’
            ‘Klepar... klepar...,’
            Ya, ini adalah akhir perjalanan hidup ketiga perawan. Leher-leher itu ini bermandikan warna merah. Selimut-selimut putih itu kini dihiasi warna keberanian. Si putih berhasil menjalankan tugasnya, setidaknya untuk kali kedua setelah sepuluh tahun yang lalu. Perjanjian itu mengembalikan energi kehidupannya. Si putih kembali pada wujud aslinya. Sorot mata tajamnya berterima kasih pada ketiga perawan yang kini berpulang. Malam bulan purnama mengembalikan energi kehidupannya untuk kali kedua. Kini ia memiliki sedikit waktu, setidaknya menemui pak Sarip yang masih memandang diam kotak hitam itu.
            Rambut panjangnya terurai indah, hitam, sesekali memantulkan cahaya lampu ruangan yang kini menyala bebas setelah sebelumnya padam. Darah-darah mengalir segar dari tiga tubuh yang terbaring diam di atas lantai putih. Bibir merah delimanya tersenyum indah dan manja. Ia adalah gadis tercantik malam ini, setidaknya untuk beberapa waktu sebelum kembali ke wujud aslinya. Tubuhnya berbalut kain khas sinden atau biduan. Warna hijau dan kuning menyelimuti bagain tubuh atasnya. Ukiran batik menutup bagian tubuh bawahnya. Kombinasi standar para sinden yang biasa menemani para dalang saat pementasan wayang golek.
            ‘Hah...,’
            Pak Sarip mengusap kedua mukanya, ia segera bangkit dari kursi goyang. Rambutnya sudah mulai memutih, namun energinya masih cukup kuat. Ia tak membutuhkan tongkat berwarna coklat itu untuk berjalan. Tangan kanannya masih memegang kotak hitam itu. Dan sorot matanya kini tertuju pada sosok gadis yang tersenyum manja padanya.
            “Ratih...?”
            Langkah pak Sarip gontai ke arah gadis itu. Ya, gadis yang dulu mengisi masa muda dan perjalanan hidupnya. Gadis yang dulu pernah membahagiakan hati dan jantungnya. Gadis yang akhirnya mati di tangannya, mekipun sebenarnya tidak mati saat itu. Tubuhnya hanya berpindah tempat akibat perjanjian setan itu, dan pak Sarip sama sekali tak menyadarinya.
            “Ratih...? apa benar kau ini Ratih...?”
            Gadis itu tersenyum, “Ya... kau semakin tua saja Sarip...,” langkah kakinya tegas, ia memeluk tubuh pak Sarip. Air matanya berderai indah.
            “Ratih... maafkan aku... oh... Ratih... hiks... hiks...,”
            Gadis itu kembali tersenyum, sorot matanya tajam ke arah si hitam yang kini menari-nari dengan kepakan sayapnya. “Tidak apa-apa Sarip... setidaknya aku kembali... aku kembali...,”
            ‘Puk... puk... puk...,’
            Pak Sarip memandang wajah gadis yang bernama Ratih itu. Air matanya masih meleleh dan mengalir. Ini adalah pertemuan untuk kali kedua sejak sepuluh tahun yang lalu, setidaknya setelah delapan belas tahun kepergian sang pujaan hati.
            “Aku harus pergi Sarip...,”
            “Tidak... tidak... jangan pergi lagi Ratih, aku ingin kau tetap disini. Aku ingin kau menemani masa tuaku,”
            Ratih kembali tersenyum, bibir merah delimanya memantulkan cahaya lampu ruangan. “Aku berjanji akan kembali lagi... aku... hanya ingin kau merawat para pandawa dan Gatot Kaca. Aku ingin kau selalu merawat mereka sebagai bukti cintamu padaku...,”
            Ratih melepaskan kedua tangannya yang memegang bahu pak Sarip. Ya, kelima pandawa dan Gatot Kaca itulah yang mengembalikan energi kehidupannya. Setidaknya untuk kembali merenggut jiwa-jiwa para hidung belang yang selama sepuluh tahun ini menjadi wadah hidup perjanjian setannya.
            Perjanjian setan itu pula yang membawa Sarip pada kotak hitam yang kini dipegangnya. Perjanjian setan itu pula yang kembali mempertemukan keduanya. Setidaknya sepuluh tahun cukup baginya untuk melampiaskan rindu dan juga kebencian. Kebencian yang membuat Sarip merenggut energi kehidupannya dan menyerahkan dirinya pada nenek tua yang kini sudah berpulang. Ratih kini hanyalah jiwa bebas yang tak mampu kembali, ia masih terikat perjanjian setan meskipun sang pemanggil sudah tertimbun tanah dua belas tahun yang lalu. Setidaknya ia mampu mengambil nyawa para bejat yang salah satunya telah merenggut mahkota kesuciannya. Ya, kejadian yang membuatnya ditemukan Sarip kekasihnya dalam kondisi pakaian koyak di sudut gubuk pematang sawah.
            ‘Sarip... aku ingin mati saja...,’
            ‘Tidak... jangan... aku mencintaimu Ratih,’ Sarip memeluk indah tubuh kekasihnya yang terkoyak. Hatinya telah hancur semalam, terlebih jiwa gadisnya.
            ‘Kau harus hidup...,” seorang nenek tiba-tiba berada di belakang keduanya yang berurai air mata. “Ini... aku berikan kotak hitam. Simpanlah olehmu anak muda... aku hanya ingin meminjam kekasihmu agar ia tetap hidup... Ehehehehe...,’
            Si hitam kini menemani perjalanan malam Ratih dengan pakaian sindennya. Ia sudah siap dengan kebenciannya. Pak Sarip hanya mampu menatap tubuh bagian belakang pujaan hatinya dari sudut pintu depan rumah. Sang pujaan kembali pergi, ia tak mampu menggerakkan kedua kaki apalagi bibirnya. Hanya air mata yang terus meleleh dan berpendar bersama purnama yang juga menangisi kehidupan manusia bumi.

*****
           Para pandawa dan Gatot Kaca sudah tepat berada di belakang pak Sarip. Masih dengan pisau-pisau yang memantulakn cahaya lampu ruangan dan kilatannya yang mampu mengantarkan jiwa-jiwa hidup berpulang.
            ‘Krek... tek...,’
            Kotak hitam itu terbuka. Ada enam buah jarum berwarna merah delima sebesar paku kecil.
            ‘Ssshhh...,’
            Pisau-pisau itu menghilang. Para wayang kembali pada tempatnya, melapuk dan berdebu, mengelam dan rapuh. Tatapan bola mata pak Sarip berbinar, sesekali menghela air matanya. Rasa bahagia itu tiba sesaat setelah kotak hitam itu terbuka. Keberanian yang mampu dilakukan setelah lebih dari tiga puluh tahun berlalu. Ratih masih belum menemuinya, kecuali si hitam yang kini terus mengintainya.
            Si muka merah mulai menari. Tangannya mengepal karena tak mampu membuka kedua telapak tangannya yang terbuat dari kayu. Baju hitam dan kain sarung menghiasi tubuhnya, ditambah blangkon lecek yang tertata indah di kepalanya. Ia terbang indah dan mendapati pak Sarip masih terpaku dengan enam buah jarum merah delima itu.
            ‘Gak... gak... wrak...!’
            ‘Klepar... klepar... zyut... syut... zung...,’
            ‘St... ssttt... sssshhhh... hosh.... hosh...,’
            ‘Jarum... jarum apa ini...?’
            Mata pak Sarip masih berbinar, sementara si muka merah dengan gigi seri nongolnya terus menatap tajam mantan dalang. Si hitam sudah tepat berada di depan pintu, berusaha menyelinap masuk ke dalam ruangan melalui paruh-paruh tajamnya. Ia tak sendirian. Si putih perlahan menyalipnya dengan menembus pintu yang terbuat dari kayu jati.
            ‘Klepar...,’
            Kepakan sayap si hitam mencoba menyusul laju si putih yang tak mampu disadarinya. Pak sarip masih ditemani si muka merah yang menyadari kehadiran jiwa yang lain. Tatapan matanya kini tepat pada wajah si putih yang rusak dengan mata merahnya yang khas.
            “Sudah saatnya kau kembali...,” si muka merah mendekati si putih yang berdiri kaku tanpa menyentuh lantai.
            ‘Ah... sssssiii... siiia.... siapa... oo... rrra.... orang ini...?’ mata pak Sarip tak mampu berkedip. Si putih dan si muka merah sudah saling bertatap muka. Pak Sarip tak mampu terkejut lebih jauh, tangan kanannya masih membuka kotak hitam yang terbuka.
            Perlahan namun pasti, si putih berubah dalam hitungan detik. Baju warna hijau, selendang kuning, kain batik, dan rambut panjang hitam terurai. Tak lupa bibir merah delima memantulkan cahaya lampu ruangan. Senyuman indah itu semakin memompa jantung pak Sarip.
            ‘Trak...!!!’
            ‘Ting... cling... cling... tang...!’
            Kotak hitam itu tak mampu menahan gravitasi. Si hitam perlahan memunguti jarum merah delima dengan paruhnya. Kotak hitam itu kini terlepas dari kayu penutupnya. Si hitam masih memunguti jarum sambil mengepakkan sayap-sayapnya.
            “Ratih...?” pak Sarip melangkah tenang, senyuman itu terpancar indah. Si muka merah mulai menatap wajah tua mantan dalang yang selama ini memainkannya untuk menghibur anak-anak.
            “Harusnya kau membuka kotak itu sejak pertama kali... kau terlambat Sarip,” si muka merah terbang perlahan menghampiri si hitam yang berhasil memungut kembali jarum merah delima dan menyimpannya pada kotak hitam yang berdiri bebas di atas lantai.
            “Kau tak mampu membaca pikiran nenek yang kau temui dulu... bersama kekasihmu Ratih.” Si muka merah melirik Ratih yang menunduk. “Harusnya kau membuka kotak hitam itu. Kau menerima kutukan atas perjanjian setan selama tiga puluh tahun ini. Apa kau tidak sadar...?”
            “Maksudmu...?”
            “Apa kau tahu siapa yang membunuh keenam sinden kesayanganmu...? keenam anggota keluargamu...? kau tahu... hah?!” si muka merah tepat berada di wajah pak Sarip yang terpaku. “Kaulah yang membunuh mereka!!! Kau yang menyebabkan mereka mati...! kau semua yang melakukannya...!”
            ‘Gak... wrak... wrak...!’
            ‘Klepar... klepar...,’
            Kepakan sayap si hitam menyetujui kalimat-kalimat yang terlontak dari si merah. Ratih masih tertunduk, sesekali menggigit bibir merah delimanya yang manis. Hanya mampu terpaku pada lantai putih kusam yang diinjaknya.
            “Aku...?”
            “Ya... kau Sarip! Harusnya kau membuka kotak hitam itu dan mengakhiri kutukan ini di awal. Kau tak perlu mengikuti perjanjian setan,” si muka merah menepuk bahu pak Sarip yang terpaku, degup jantungnya pun terpompa kuat dan bebas. “Yang seharusnya kau lakukan adalah membuka kotak hitam itu. Dan semuanya akan berakhir... namun kau tidak. Kau membawa kekasihmu pada perjanjian setan yang tak kau sadari. Sekarang... aku harus membawanya pulang!”
            ‘Hiks... hiks...,’
            Ratih berderai. Entah antara bahagia dan kecewa. Selama ini kebencian menyelimuti hatinya. Kebencian yang berawal dari cinta dan terenggutnya mahkota kesucian itu. Ia membawa Sarip pada kegelapan yang selama ini dialaminya. Ia melibatkan kekasihnya jauh lebih dalam. Entah siapa yang harus dipersalahkan atas semua ini.
            “Aku... yang... selama ini...?”
            “Sudahlah... aku akan menjemputnya pulang. Dia sudah tenang di alam sana... lupakanlah dia!” genggaman tangan kayu si muka merah begitu tajam. “Sekarang... kami harus pergi,”
            “Tunggu...!” Ratih berhasil menyeka aliran air matanya.
            “Aku... aku mencintaimu Sarip... maafkan... maafkan... aku... maafkan aku Sarip... hiks... hiks...,”
            ‘Tap... tap... tap...,’
            ‘Kep...!’
            ‘Hiks... hiks... hiks...,’
            “Aku mencintaimu Ratih... maafkan aku,”
            “Hiks... hiks... aku yang seharusnya meminta maaf... hiks,”
            Sang purnama masih berpendar, kini ia tersenyum pada manusia-manusia bumi. Tiga puluh tahun itu berlalu dengan tangisan kesedihannya.
            “Ayo kita pergi...,”
            ‘Syut... set...!’
            ‘Wush!!!’
            Si muka merah dan si hitam berlalu dalam kilatan cahaya. Ratih masih dalam pelukan pak Sarip. Kulit kuning langsatnya masih indah seperti dulu.
            “Aku harus pergi...,”
            Lambaian tangan mengawali hilangnya kaki, badan, tangan, kepala dan seluruh tubuh Ratih berselimut koloid-koloid hangat. Asap tangisan itu berlalu perlahan menyapa tubuh pak Sarip yang hanya mampu terpaku.
            “Tidak... tidak...!!! Ratih...!!! Jangan pergi!!!”

4 komentar:

  1. Perjanjian setan :( merenggut nyawa orang-orang terkasih. tragis yaa

    BalasHapus
  2. Untuk di beberapa tempat, terutama masih terjaga kemistisannya praktek semacam ini menjadi hal yang dianggap biasa. Hanya saja tidak banyak yang tahu seperti apa kegiatan yang dialami serta bagaimana proses terjadinya perjanjian yang melibatkan mahar sedemikian rupa. Entah dengan sejumlah uang, darah binatang/manusia ataupun nyawa milik peminta. Nah... hingga sampai saat ini saja praktek perdukunan serta pemujaan masih marak. Barangkali kalau kita berjelajah ke pedalaman wilayah Jawa-Sumatera-Kalimantan akan menemukan hal ini.

    BalasHapus
  3. Saya termasuk orang yang tidak percaya dengan hal semacam itu. entah kenapa, rasanya sangat lucu saja.
    Walau kadang memang penasaran ingin tau, hehe

    BalasHapus
  4. Yang namanya sihir memang ada sejak zaman dulu sampai sekarang, tapi metode dan caranya berkembang. Dukun atau peramal berganti nama jadi 'orang pintar' padahal mental yg dibangun adalah 'penyihir' dengan tipu daya sedemikian rupa. Ya begitulah jika manusia hanya menginginkan kenikmatan dunia.

    BalasHapus