Rabu, 05 Juni 2013

LAYANG-LAYANG


          Seorang anak bernada suka. Menarik-ulur senar di bawah terik sang surya. Membakar. Di sekelilingnya adalah hamparan sawah yang tandus. Kering kerontang akibat musim pancaroba. Cuaca tak menentu, pun juga hujan yang tiada pernah menampakkan tanda-tandanya. Tubuhnya kurus, tinggi menjulang. Dan dia menjadi yang tertinggi diantara teman sebayanya. Usianya baru sepuluh tahun. Anak tunggal plus yatim piatu. Hanya mengenal sosok kakek sejak otaknya mampu bekerja untuk mengingat.

Tiga anak yang lain tak kalah semangatnya. Kulit mereka coklat dan mulai menghitam. Ciri khas manusia khatulistiwa. Layang-layang mereka menari bersama hembusa angin. Kumpulan pohon mangga masih tegar di sisi Barat. Kebun semangka berhamburan di sisi Timur. Utara dan Selatan adalah saluran irigasi yang mengering. Benar-benar keadaan yang kurang menguntungkan. Tapi penduduk desa ini tetaplah merasa nyaman. Termasuk si kurus tinggi ini. Layang-layangnya dibuat berekor warna merah dan putih. Warna bendera negaranya yang telah merenggut masa pendidikan. Saat dana-dana gratis itu hanya tinta diatas kertas belaka. Sementara para pengajar hanya mampu gigit jari. Tiada kenampakan akan diangkat dan terus menjadi honorer selama sekian tahun. Hanya mereka yang berduit saja yang berhasil menyuap dan mengajir ini dan itu. Tetap saja. Anak-anak ini tiada bisa memahami materi dan menambah kepintaran.

“Salim...!”

Si kurus-tinggi ini menoleh ke belakang. Dilihatnya sang kakek melambai hangat dan memintanya mendekat. Ia menimpa kaleng pengikat senar layang-layangnya dengan gumpalan tanah yang mengering. Cepat ia berlari, mengusap dahi serta lehernya dengan tangan kanan.

“Iya kek...,”

Laki-laki paruh baya ini memakai baju koko warna abu-abu dan celana pantalon hitam. Senyum hangatnya masih memunculkan gigi-giginya yang masih agak utuh.

“Mau kau sekolah lagi nak...?” sang kakek memegang kedua bahu cucunya, tersenyum hangat.

       Salim hanya menunduk, menggeleng. Masih teringat hinaan yang pernah keluar dari guru matematikanya. Tentang cerita terburuk dalam sejarah kehidupannya saat masih bayi. Saat kedua orang tuanya harus meregang nyawa akibat semburan timah panas. Teroris. Setidaknya masalah itu yang menjadi titik terlemahnya dalam bergaul. Sementara sang kakek selalu memberikan semangat dan kepercayaan pada putra dan menantunya. Mereka hanya korban, dan Salim jauh lebih mempercayai ucapan sang kakek. Biarlah cibiran itu membuatnya keluar terpaksa dari sekolah. Setidaknya ia masih punya teman-teman yang masih bersekolah. Mereka sangat menyayanginya.

“Salim... masih belum mau sekolah kek,” Salim memandang tenang wajah kakeknya, menelan ludah.

Sang kakek melepaskan pegangan tangan pada kedua bahu cucunya. Duduk jongkok, menarik nafas agak panjang. “Nanti... kalau Salim mau sekolah lagi...,” memegang kedua tangan sang cucu, “Salim ngomong saja sama kakek...,”

Kali ini Salim tersenyum lebar. Dan ia pun kembali pada layang-layangnya. Teman setia yang selalu menemani. Sahabat terbaik yang bisa membuatnya berbagi dengan teman-temannya. Ya, mereka yang tidak pernah bersikap kurang ajar padanya. Tubuh kurusnya masih menjadikan Salim sebagai yang terkuat sekaligus pelindung. Dia bukan tipe pencari rusuh. Lebih memilih menjadi penengah atau pembela mereka yang membutuhkan bantuan kekuatannya.

Sang surya terus membakar kulit empat anak laki-laki yang menikmati kekeringan di sawah. Dan Salim memandang dua kumpulan awan yang membentuk wajah. Sapa hangat sang bunda, senyum tulus sang ayah. Ingatan akan wajah yang terpajang di dinding rumah. Pancaran sinar wajah keduanya. Ya, mereka adalah energi sekaligus pelita yang mendamaikan hatinya bersama sang kakek.
“Ayah... Ibu...,”

*****

            Hari ini, pukul empat sore. Sudah setengah jam lewat dari waktu shalat ashar. Salim menggenggam sebuah Al-Qur’an kecil dengan sampul warna hijau. Tangan kirinya beberapa kali mengusap bulir keringat yang mengalir di leher. Ya, sang surya masih memberikan teriknya yang tersisa.

            Pandangannya tertuju pada kumpulan layang-layang. Ingatannya menerawang pada masa lalu. Saat hamparan sawah kering itu menjadi medan permainannya. Saat lapangan sepakbola yang jarang rumput itu membuatnya berkeringat suka. Dan juga, saat cibiran ini dan itu mulai memekakkan telinga. Dan beruntung ia memiliki seorang kakek yang sangat cerdas lagi bijak.

            Sudah dua puluh satu tahun umurnya kini. Salim tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah. Tubuhnya jauh lebih kekar sejak masa SMA. Hasil latihan fisik setelah sang kakek mengajaknya pindah rumah setelah lulus SD. Suasana sejuk di kaki gunung memang sangat melatihnya fisiknya. Termasuk agamanya. Ia ingin seperti ayah dan ibunya. Mereka yang dalam memori otaknya terukir kata syahid.

               ‘Hmm...,’

      Sebuah layang-layang terjun pelan dengan tariannya. Tiga orang anak laki-laki terus mengarahkan pandangan ke langit, memastikan jalur jatuhnya layang-layang itu. Salim terus melangkahkan kakinya, menyusuri selokan yang semakin kotor dengan limbah rumah tangga. Ya, seperti inilah kehidupan masyarakat kota.

            ‘Hup!’

            Lompatan yang cukup tinggi. Layang-layang dengan gambar bendera negara itu tepat diraih tangan kanannya. Dan ketiga anak laki-laki yang terengah di depannya hanya terdiam. Ngos-ngosan. Salim melayangkan senyuman untuk ketiganya.

            “Yah... malah kak Salim yang dapet...,” salah satu dari ketiganya mengangkat kepala, mengusap keringat yang mengalir di lehernya.

            “Iya nih... berarti layang-layangnya buat kakak ya?”

            Ketiga anak laki-laki itu memandang manyun pemuda yang ada di depannya. Suara lantunan Al-Qur’an dari pengeras suara masjid yang lain memecah suasana. Saatnya berangkat ke majelis ta’lim. Salim duduk jongkok di depan ketiga anak laki-laki itu.

            “Gilang... Yanto... Tedi...,” tersenyum kecil, “Layang-layang ini bisa jadi milik salah satu dari kalian. Tapi...,”

            Ketiga anak laki-laki itu berpandangan. Yanto mengangkat kedua bahunya. Tedi dan Gilang hanya garuk-garuk kepala.

            “Hahaha... hom-pim-pa aja deh...,” usul Salim, layang-layang itu ada di tangan kanannya.

            “Setuju!”

            Dan Gilang pun menjadi pemenangnya. Ia melompat kegirangan. Ini menjadi layang-layang pertama yang berhasil didapatnya sejak pulang dari sekolah.

            “Jangan lupa pada ngaji ya nanti ba’da maghrib...,”

            “Insya Allah kak Salim,” Yanto mengacungkan jempol.

            Tedi memberikan hormat, “Siap kak!”

            ‘Hehehehe...,’

            Anak-anak yang lebih nyaman dengan permainan ala kadarnya. Ya, dengan latar keluarga sederhana di pinggiran kota. Salim menikmati suasana itu sejak pertama kali menjadi mahasiswa. Tentang bagaimana kehidupan penuh perjuangan itu menjadi cerita luar biasa. Mengisi kekosongan sekian waktu dari agenda kuliah yang juga tak mau kalah. Dan dari sekian cerita itu, selalu saja ada keterkaitan antara peristiwa berdarah itu. Jejak tak bersalah yang harus berkalang tanah.

*****

            “Ayah dan ibumu itu hanya korban. Insya Allah mereka gugur sebagai syuhada,”

            Kakek meraih gelas berisi teh manis hangatnya. Akhir-akhir ini beliau sering sakit-sakitan. Faktor usia. Salim memahami akan hal itu. Minggu depan adalah hari pertamanya masuk kuliah. Minggu pertama yang akan dilalui dengan ospek.

            “Kek...?”

            Kakek kembali meletakkan gelasnya diatas meja, “Ya... Burhan... Hanif... dan juga Hanifah memang mengalami periode tersulit dalam memahami agamanya.”

            Suasana hening sejenak. Bunyi detak jam dinding semakin keras, mengalahkan kicau kutilang di sangkar burung. Salim harus mengetahui segalanya. Saat pintu taubat itu sudah terbuka. Ketika ayah dan ibunya berkunjung ke sebuah rumah pendatang baru. Sosok taat beragama yang mengalami kerancuan berpikir dalam memahami jalan dakwah saat ini.

            “Tidak ada yang mengetahui kapan Allah akan memanggil kita... dan... silaturahmi itu menjadi awal dan akhir segalanya,” kakek mengetuk meja dengan telunjuknya beberapa kali, “Ayah dan ibumu adalah seorang yang shaleh lagi shalehah... dan ketiga warga baru itu pun telah menemukan secercah harapan baru sebelum peristiwa naas delapan belas tahun yang lalu.”

            Ya, ini adalah cerita paling lengkap yang akhirnya diterima. Allah selalu membuka jalan pikiran bagi hamba-Nya dalam memahami agama. Ketiga warga baru itu memang pernah mengikuti agenda kegiatan yang luar biasa. Teroris hanyalah cap dari orang yang sama sekali tidak pernah memahami agamanya. Mereka hanya melakukan perjuangan, dan ternyata kesalahan demi kesalahan dalam pemikiran itu menjadi periode sulit dalam jalan hidup. Ya, mereka hanya perlu memahami kondisi kekinian dan kedisinian dalam konteks Qur’an dan Sunnah. Tanpa sekalipun mengubah nash yang telah tetap, tinggal bagaimana cara itu berjalan tanpa pertumpahan darah.

            Burhan, Hanif dan Hanifah hanyalah salah satu dari mereka yang tidak mau terlibat. Pun juga tak mau berurusan dengan polisi. Mereka pun masih baru. Tiga bulan lamanya ditempa dalam majelis perjuangan agar agama Allah itu tegak dengan pengorbanan. Dan Allah seakan terlalu sayang pada ketiganya, hingga pertemuan dengan Azzam dan Asma. Keduanya adalah orang tua Salim. Dan baru tiga bulan usianya saat itu.

            “Salim... keshalihan Azzam serta kelembutan Asma mengalir dalam darahmu,” mengarahkan jari telunjuk ke dada cucunya, “Kakek beruntung masih bisa menjagamu sampai saat ini.”

            Tak terasa air mata itu menitik. Saat kembali harus mengingat suara tembakan delapan belas tahun silam. Dan kakek bersama putra dan menantu putrinya baru saja kembali dari luar kota. Tanpa pemberitaan atau informasi apapun, terlebih seluruh handphone berada dalam kondisi low-battery. Beliau sengaja membawa Salim yang masih terlelap ke rumah, sementara putra dan menantunya berkunjung ke sebuah rumah sambil membawa oleh-oleh. Bangunan yang akhirnya dinyatakan sebagai sarang teroris. Ah, mengapa semuanya berlalu begitu cepat?

*****

            Senja yang mulai memerah. Para burung sudah banyak yang kembali ke sarangnya. Seekor kucing berjalan tenang menyusuri sekumpulan rumah masa depan. Areal pemakaman. Sunyi, sepi. Tiada seorang pun manusia yang menampakkan batang hidungnya.

            “Ayah... Ibu...,”

            Salim mengelus mesra nisan ayahnya. Ini adalah kunjungan untuk kesekian kalinya. Dan sang kakek pun terbaring di sisi ayahnya. Ia sama sekali tak pernah mengenal nenek. Bahkan kakek tak pernah sekalipun menceritakan sosok itu padanya.

            “Semoga Allah memberikan gelar syuhada untuk kalian. Kakek...,” pandangan mata Salim beralih pada rumah masa depan kakeknya, “Terima kasih sudah menemani Salim. Sekarang... Salim tidak punya siapa-siapa lagi kek,”

            Air mata itu menitik tenang. Memberikan kedamaian. Salim pun bangkit, menelan ludah. Ia menarik nafas panjang dan memejamkan matanya. Kepalanya mendongak, memandang gelap birunya langit yang dipenuhi layang-layang.

            Layang-layang, terbanglah tinggi. Bawalah segala cita, pancarkan nada suka. Terbangkan segenap mimpi dan harapan. Junjunglah tinggi setiap niat kebaikan. Dan akhir kehidupan manusia memang misteri. Mereka hanya diberikan pilihan. Melalui hidup dengan kebaikan atau malah mengisinya dengan jutaan keburukan. Niat itu adanya di dalam hati dan perbuatan adalah apa yang nampak. Tapi Allah Maha Mengetahui segala isi hati.

Jatinangor, 2 Juni 2013
07:10 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar