Rabu, 05 Juni 2013

TAMAN CINTA


Aku duduk termenung di depan taman kelas, masih memangku dagu dengan kedua telapak tanganku yang tak pernah lelah untuk terus menahan gempuran lamunan. Dan pagi ini adalah hari dimana seperti biasanya, aku pun juga para pengurus OSIS SMP membenahi taman untuk kegiatan jumsih. Masih belum nampak di kelopak mataku, Lucky, Tegar, Eby, Hilman dan yang lainnya berkumpul hanya untuk sekedar mencabuti rumput ataupun memotong dahan tanaman hias yang rimbun untuk menjaga keindahan. Dan seperti biasa pula, tanganku meraih sapu lidi berikut tempat sampah untuk membantu kebiasaan pekerjaanku di pagi Jum’at.
 “Oi Srul…,”
Suara yang tak asing terjamah di telingaku, sapaan khas Eby dengan tangan kanan yang terangkat ke udara. Aku pun lantas berdiri, perlahan menghampiri mereka yang sudah siap. Beberapa siswi putri, Sa’adah, Tiwi, Anis, pun juga Nia tampak asyik bercengkrama sambil merapihkan tanaman bunga yang semakin rimbun daunnya.
 “Srul gimana jawabannya?”
Pertanyaan Tegar sontak menghentikan ayunan gunting rumput yang kulayangkan pada tanaman. Aku hanya tersenyum tipis sambil melanjutkan pekerjaan pagi ini, rasanya tidak ada jawaban terbaik selain ‘belum dapat jawaban’ yang aku lontarkan setiap kali ada yang bertanya mengenai pertemuanku siang itu dengan salah seorang siswi kelas satu. Ah, terlalu pendek rasanya jalan pikiranku saat itu. Namun informasi yang Nia berikan cukup membuatku bertahan untuk tidur jauh lebih larut selama tiga hari berturut-turut. Aku memang tidak terlalu familiar untuk dunia ‘cinta remaja’, yang seakan terus menemani perjalanan masa SMP. Masa yang lebih banyak aku lalui dengan merawat tanaman di depan kelas. Aku menyukai kumpulan bunga-bunga indah yang menghiasi taman kelas, dank arena itu pula, aku bersama beberapa teman dipercaya untuk membantu ‘merawat tanaman’ saat hari libur tiba oleh pak Deden yang menjadi guru Bahasa Indonesia. Beliau guru favorit di kalangan siswa, dengan gaya mengajarnya yang khas.
 “Srul…,”
 “Hmm… iya Ni…,”
 “Maaf ganggu, bisa… ngobrol sebentar?”
Aku mengajak temanku yang satu ini berjalan perlahan menuju bagian depan ruang perpustakaan. Lucky dan yang lainnya masih asyik memungut sampah organik yang siap untuk dijadikan kompos. Aku menatap wajah temanku yang rapih berbalut jilbab,
 “Mmm… udah ngomong apa aja sama Ulfah?”
Aku menahan sejenak air liur, mulai menghela nafas perlahan untuk memberikan kata-kata terbaik untuk teman terbaikku yang satu ini.
 “Nggak banyak kok… aku cuma ngomong masalah yang dulu pernah kamu sampein,”
 “Oh gitu ya? Aku sebenarnya masih bingung kalo ngeliat keadaan dia…,”
 “Maksudnya…?!”
Aku mulai memandangi langit biru, pun juga para siswa yang asyik membenahi taman kelas masing-masing.
 “Hmm… dia itu sebenarnya masih ragu, ragu… karena orang dia suka itu kamu,”
‘Gluk…!’
Aku menggaruk kepala cepat sambil cengengesan, dan lagi-lagi masalah adik kelas itu yang diungkit. Aku sendiri sebenarnya sudah terlalu malas untuk membahas masalah remaja yang kini kualami. Meskipun memang dalam teman sekumpulanku, hanya aku, Reza dan juga Ogi serta Rahman yang memang belum pernah pacaran. Boro-boro mengakrabkan diri, waktu kami lebih banyak digunakan bersantai ria tanpa melibatkan teman perempuan untuk mengisi waktu bermain kami yang memang lebih banyak berpetualang dengan sepeda. Mengelilingi sawah, pergi memancing, menikmati terik matahari sambil mengamati sungai-sungai yang tercemar dan bau.
 “Ni… aku nggak terlalu peduli ama jawaban dia, buatku… udah ngomong suka aja artinya nunjukkin kalo aku bisa ngomong suka ama dia… itu aja,”
Aku berjalan perlahan untuk meninggalkan Nia yang mematung setelah mendengarkan pernyataanku, pernyataan antara rasa kecewa dan juga kejujuran. Aku sama sekali tidak memperdulikan apa yang pernah terjadi di waktu itu, aku hanya berjalan sebagaimana adanya, tidak ada hal yang terlalu istimewa dalam pikiranku. Setelah menyabet title sebagai yang terbaik di kelas satu, aku terlalu banyak merasakan perbedaan dari cara pandang teman-teman perempuan yang tidak terlalu dekat dengaku. Termasuk adik kelasku yang satu ini, dan ah… lagi-lagi cinta masa remaja itu perlahan larut dalam merahnya hatiku. Terlebih keaktifanku yang cukup lumayan dalam kegiatan ekstrakulikuler cukup banyak membuatku dikenal banyak teman. Aku menikmati hal ini, namun terkadang membuatku lebih banyak menyendiri ataupun berkumpul bersama teman-teman ‘KS Club’. Aku bersama lima orang yang memang diminta bantuan oleh Pak Deden dan ibu Haji Eni yang menjadi wakil kepala sekolah untuk merawat taman sekolah. Ini menjadi pekerjaan tambahan kami untuk bersenang-senang di hari libur.
******
Masa kelas dua pun akhirnya lewat, ini menjadi tahun terakhirku untuk menuntut ilmu di almamater ini. Aku pun tidak ‘berpacaran’ dengan adik kelasku yang satu itu, meskipun terkadang kami berdua merasa canggung apabila bertemu. Pekerjaanku tiap Jum’at pagi pun akhirnya digantikan olehnya yang kini menjadi pengurus OSIS, maka tak ayal kita lebih banyak berjumpa untuk merapihkan taman pada waktu itu. Kebetulan kelasku dekat dengan ruangan perpustakaan yang menjadi wilayah beres-beres pengurus OSIS, ditambah dengan taman dekat tempat parker yang kini sudah direnovasi. Satu tahun yang berlalu, dan aku masih bersama lima orang yang lainnya menjadi ‘petugas’ tambahan merapihkan taman-taman di setiap kelas yang belum dirapihkan seluruhnya setiap Jum’at pagi.
 “Srul… nanti Minggu kita libur alias bebas tugas lho,” kata Tegar yang terus menikmati mie rebus.
 “Oh ya? Baguslah kalo gitu, aku… ada kerjaan di rumah soalnya.”
Tampak Reza, Eby, Rahman dan Ogi berjalan perlahan menghampiri kami berdua yang asyik menikmati makan siang di kantin.
 “Cuy… kita jalan-jalan lagi yuk?!” ajak Reza.
 “Iya nih… kan kita nggak ada job pas Minggu,” timpal Ogi kemudian.
Aku tertarik dengan agenda jalan-jalan, meskipun sebenarnya ada pekerjaan bersama ayah dan adik-adik di rumah. Tapi bisa sedikit diatur sebenarnya, seperti biasanya aku selalu beralasan untuk berkeliling dua kecamatan dengan bersepeda. Ayahku memang jarang melarangku bepergian pada hari libur, karena beliau memang sudah tahu akan bermain dengan siapa putra pertamanya ini bersama sepeda kesayangannya.
*****
 Hari Minggu pun tiba, aku pun diizinkan untuk pergi bersama sepeda kesayangan oleh ayah. Ditemani terik matahari yang indah, kami berenam mengayuh sepeda perlahan sambil bercanda ria. Motor demi motor menyalip konvoy ceria kami, pun juga mobil pengangkut gabah yang membawa karung demi karung untuk dimasukkan kedalam gudang penyimpanan sebelum diolah.
 “Srul kabar Ulfah gimana?”
Pertanyaan Eby cukup menyentakku, ‘Kluk…!’ tidak dapat pula aku membalas atau menjawab pertanyaan yang dilontarkan.
 “Aku bukan pacar atau siapa-siapanya kok…,”
Aku memimpin perjalanan, dan mungkin agak cukup malas rasanya kalau harus menjawab pertanyaan mengenai adik kelas yang bukan siapa-siapa bagiku. Ogi  tampak sudah mempersiapkan perlengkapan memancing, dan hari ini memang kami sengaja mengisi waktu libur untuk menyusuri sungai sambil memancing ikan. Dari mulai ikan keting yang mirip lele, betik atau yang dikenal dengan mujair sungai, hingga ikan gabus sudah biasa memenuhi kantong plastik yang biasa kami bawa untuk tempat menyimpan ikan hasil pancingan.
Seperti biasa, sungai yang kami susuri airnya keruh dan beberapa sampah menghiasinya. Seperti inilah kondisi sungai di wilayah dekat pesisir atau muara, yang dibeberapa tempat menimbulkan bau tak sedap akibat sampah yang semakin menumpuk menghiasi aliran air sungai dan menyumbat alirannya pula. Kami pun berhenti di sebuah pohon rimbun, dan mulai menyiapkan perlengkapan memancing. Mereka masih menyindirku mengenai adik kelas itu, dan aku hanya mengelak dengan kata demi kata. Karena memang bagiku, hal tersebut adalah tidak penting.
Kail-kail kami telah siap untuk menipu para ikan yang berenang, dan keruhnya air pun tak menyurutkan ayunan tangan kami melayangkan senar pancing untuk memberikan umpan manis kepada menu makan siang alam kami.
 “Hap!!!”
Kailku tampak semangat menarik-narik tangan kananku, semakin kuat dan semakin sigap pula tarikan tangan kananku. Sebuah ikan gabus ‘alhamdulillah’ menyangkut, ini menjadi tangkapan pertamaku di pagi menjelang siang ini. Pun juga dengan kelima temanku yang lainnya, mereka begitu bersemangat menarik ikan demi ikan. Kami bergembira, pun juga agak sedikit risau dengan kondisi sungai yang semakin penuh dengan sampah. Perlahan kuambil beberapa dahan, pun juga dengan kelima temanku. Satu demi satu sampah plastik kami tarik dari aliran sungai dan dipindahkan ke bagian pinggir hingga tumpukan sampah yang sengaja disimpan dekat sungai oleh warga sekitar.
 “Ini daripada ngalir di sungai, mending kita simpan di tempat yang lain.” Papar Tegar.
Kami mengangguk, menyetujui kalimat yang temanku yang satu ini lontarkan. Sekitar dua jam kami memancing, semakin penuh pula kantong plastik kami dengan ikan hasil pancingan. Minggu ini menjadi lebih berkesan, penuh makna dan juga pelajaran berharga.
 ‘Ya Rabb… semoga di masa depan kami tetap menjadi orang yang mencintai lingkungan,’ Do’aku dalam hati.
*****
Tiba di hari perpisahan, masa dimana aku harus segera beranjak menuju bangku SMA. Acara perpisahan menjadi momen bahagia buatku, karena didandani layaknya seorang ‘pengantin’. Aku berjalan beriringan dengan Utami, teman sekelasku saat kelas dua. Aku pun berhasil menjadi yang terbaik selama tiga tahun, sungguh pencapaian yang luar biasa dan patut aku syukuri. Aku bersama kelima temanku pun masih tetap dengan kegiatan cinta lingkungan sekolah. Namun kami masih belum menemukan pengganti siapa yang akan meneruskan perjuangan untuk menjaga kebersihan lingkungan tanpa diketahui oleh pak Deden dan ibu Haji Eni yang selalu membimbing dan mendidik karakter kecintaan kami terhadap lingkungan sekitar.
Mataku mulai menatap wajah adik kelas itu, orang yang dulu pernah membuatku kebingungan pun juga dirinya. Ada hal yang berbeda sebenarnya dari persahabatan kami, meskipun intensitas pertemuan dan perbincangan diantara kami berdua tidaklah banyak. Selama hari Jum’at pagilah kami lebih banyak bertemu, ataupun saat latihan upacara, karena aku ditunjuk sebagai pelatih bersama beberapa anggota Paskriba yang lainnya.
‘Di sekolah ini… seribu delapan puluh hari kami menanti…’
Bait demi bait puisi kubacakan bersama Tegar, kami berenam menjadi sosok yang disorot kamera dan juga ratusan pasang mata yang menyaksikan penghargaan sebagai ‘Siswa yang Cinta Sekolah’. Ini adalah penghargaan atas kerja bahagia kami untuk merawat lingkungan sekolah, dan mengisi waktu libur untuk merawat taman-taman yang ada di sekolah. Pak Kirom, berjalan perlahan membawa piagam yang akan diberikan kepada kami. Dan hari ini pula aku menjadi lebih banyak diperhatikan, dari mulai acara pembuka yang aku menjadi perwakilan siswa laki-laki serta Utami yang menjadi perwakilan siswi. Hingga kini momen pembacaan puisi tentang kecintaan kami kepada almamater ini, akhir masa bakti kami yang harus menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Ayah tampak gagah dengan seragam tentaranya, pun juga ibu yang begitu cantik. Keduanya menemaniku dalam acara perpisahan kali ini, dua orang yang tak pernah lelah mendidik ‘kenakalanku’ agar terarah pada tempat yang lainnya. Dan inilah ‘kenakalanku’ bersama kelima teman terbaik, kami banyak keluar rumah pada hari libur dan pulang jauh lebih lebih lama saat jam sekolah. Hanya untuk ngobrol bareng ataupun membantu pekerjaan tukang kebun merapihkan taman sekolah pada hari-hari tertentu. Dan aku masih jadi orang yang ‘malas’ untuk membahas masalah adik kelas itu. Jauh lebih baik berlelah-lelah memindahkan sampah yang hanyut di sungai ataupun merapihkan taman sekolah daripada membahas hal tersebut.

Jatinangor, 11 Februari 2012
‘Taman Cinta’
Kisah nyata penulis yang penuh imajinasi, nama dan tempat adalah kondisi sesuai yang ada, namun kondisi psikologis atau sikap atau percakapan adalah fiktif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar