Minggu, 25 Desember 2011

Cinta_Dua_Bidadari_Bab_4


BAB IV
MASA PERSIAPAN UNTUK MENIKMATI KENYATAAN

Yang telah terjadi takkan pernah bisa terulang kembali. Raden masih duduk tenang di depan teras Pesma pagi ini, setelah semalama khirnya ia mengetahui segala hal terkait orang yang ia cintai. Pembicaraan semalam bersama ustadz Mukhlis membuatnya semakin tertekan dan hampir saja membuat mentalnya melemah. Ia kembali berjuang untuk menikmati segala kenyataan yang Allah berikan untuknya.
            Allah pasti akan memberi antum sebuah hal yang lebih baik... perjuangan masih belum berakhir, Akhi Raden... antum juga pasti mengerti.. seorang ikhwan seperti antum pasti sudah Allah siapkan bidadari terbaik yang akan menemani hari-hari yang dijalani. Pun juga jangan lupa dengan hadiah spesial di surga-Nya kelak, Allah punya rencana terbaik bagi hamba-Nya meskipun hanya sedikit saja yang mau mengerti.
            Semua perkataan ustadz Mukhlis yang semalam masih membekas dalam pikirannya, perkataan yang kembali membuatnya kembali mengalami kesedihan.
Kalau memang begitu... apa boleh buat...,
            Ia terus meneguhkan hatinya dan kembali bersabar menghadapi semuanya, sepertinya ia perlu melakukan persiapan. Bahkan kali ini perencanaan harus dibuat semaksimal mungkin, dengan kata lain ia harus menerima segala macam resiko yang nantinya akan dihadapi dan mungkin lebih berat dari yang sekarang. Tapi ia mulai berpikir mengenai ajakan ustadz Mukhlis mengenai kegiatan Tabligh Akbar yang akan disiarkan secara langsung oleh salah satu stasiun televisi swasta nasional.
            tok...tok...tok...
            Bayu sepertinya menangkap sang senior sedang duduk termenung di teras. Ia sengaja mengetuk pintu dari dalam untuk menggugah lamunan Raden. Sebuah senyuman mulai terpancar dari bibir Raden yang sejak tadi melamun.
             “Kang, bentar lagi kan mau bulan Ramadhan... nanti kita perlu apa aja yang mesti dipersiapin?” tanya Bayu padanya dengan semangat. Ia memegang sebuah buku kecil dan juga pulpen.
             “...Hmm, paling tidak kita harus belanja yang cukup banyak terutama bahan makanan. Lho... kan bagusnya kita bicarakan dengan yang lain...?”
             “Bener juga ya kang...?! Selain itu, kita mau ngadain kegiatan rutin apa aja nih selain dengan agenda ‘nyantri’ kita disini... Apa sama saja seperti tahun kemarin?”
            Raden bersungut dengan memegang janggutnya, ia berpikir sejenak sambil mengingat kegiatan Ramadhan tahun lalu yang merupakan awal atau kali pertama Raden bersama kelima teman terbaiknya menjadi santri Pesma. Pun juga awal masa kuliah untuk Iyan, Febry, Herman dan Rizal. Keempatnya memperoleh informasi Pesma lewat selebaran atau pamflet yang ditempel di mading Fakultas, pun juga informasi tambahan dari beberapa senior yang biasa ikut kajian Tasqif di Masjid As-Saakir. Dan masa awal menjadi santri pun membuat enam sahabat sejati ini semakin akrab untuk berbagi berbagai macam hal. Tidak ada julukan yang diberikan kepada mereka, namun satu hal yang pasti adalah keenam mahasiswa ini adalah bagian dari ‘Pejuang Peradaban dan Agen Perubahan’.
Selama Ramadhan mereka belanja bahan makanan cukup banyak yang bisa dipakai dalam waktu seminggu, selain itu juga ada kegiatan keagamaan terutama ta’lim rutin selain menimba ilmu dari ustadz-ustadz yang mengajar di Pesma. Setiap ba’da ashar mereka mengadakan kajian sore, dan bergantian diantara keenam santri Pesma ini untuk menyampaikan ilmu agama. Dan terkadang kegiatan tersebut diganti dengan kunjungan sekaligus sharing ke rumah ustadz Mukhlis atas saran Raden yang memang sudah mengenal beliau sejak duduk di tingkat dua. Sosok ustadz yang pertama kali menyambut calon santri angkatan pertama Pesma Ash-Shofwah.
 Selamat datang di lingkungan terbaik yang Insya Allah akan semakin menguatkan keimana dan ketaqwaan kita kepada Allah... selamat bergabung dengan komunitas ‘Pejuang Peradaban’ yang Insya Allah akan menorehkan tinta sejarah perjuangan menyampaikan Risalah Illahi, ajaran Rasulullah serta golongan yang senantiasa menyampaikan kebenaran.
Kata-kata yang pastinya akan terus teringat di dalam benak santri Pesma, ‘Pejuang Perdaban’ pun bukanlah slogan belaka. Dan memang para santri bukanlah termasuk mereka yang mangkir dari organisasi. Semuanya terlibat dengan berbagai macam aktivitas kampus yang pastinya akan meningkatkan kapasitas Amal Jama’i diantara mereka. Dan tentunya mereka pun menggunakan semaksimal mungkin ladang amal yang Allah ciptakan untuk menyampaikan Risalah-Nya. Sehingga bukanlah suatu hal asing apabila ketika awal rapat, lantunan ayat suci Al-Qur’an dibacakan oleh salah seorang diantara mereka yang hadir. Pun juga ada beberapa pertemuan yang ditambahkan dengan tausiyah maupun kata-kata motivasi yang menginspirasi. Ranah BEM dan BPM baik Universitas maupun Fakultas serta beberapa Himpunan Mahasiswa, beberapa UKM adalah ladang amal terbaik untuk menyampaikan Risalah Illahi. Dan memang para santri Pesma ada di dalamnya, menggeluti organisasi yang apakah itu ranah eksekutif, legislatif, syi’ar hingga pengembangan minat dan bakat.
             “Ehem...,”
            ‘Ups...’ sepertinya Raden terbuai dalam lamunannya, Bayu sudah mengamati seniornya cukup lama.
             “Hmm... mungkin kita bisa bicarakan hal ini ama yang lain. Tapi yang pasti kita harus belanja bahan makanan dulu, bukannya beberapa bahan makanan yang di dapur umum sudah mulai habis...?”
            Bayu hanya mengangguk, ia pun masuk ke dalam untuk menyimpan buku dan pulpennya.
             Assalamu’alaykum...,”
             Wa’alaykum salam... eh... ada Dian toh, mau ketemu Bayu?!”
             “Iya kang Raden,”
            Dian tersenyum kecil dan memang sedang menyembunyikan sesuatu, sementara Raden sendiri langsung masuk ke dalam untuk memanggil Bayu.
             “Kak Bayu... maaf nggak ngabarin kalo pagi ini ade datang ke Pesma sendirian...,”
             “Iya nggak apa-apa kok, tumben...?!”
             “Mmm, sebenarnya... mmm... ada sesuatu... buat... kang Raden...,” kata Dian yang semakin ragu untuk menyampaikan hal penting. Kedatangannya ke Pesma sebenarnya bukan untuk bertemu dengan Bayu, melainkan untuk menyampaikan sebuah pesan untuk Raden dari seseorang yang pasti sangat dikenal baik olehnya. Bayu sendiri mulai terdiam, ia mulai memandang wajah Raden sambil tersenyum sambil memberikan isyarat.
             “Nggak ada jadwal kuliah Dian…?” Raden mulai bertanya kepada Dian.
             Insya Allah nggak ada kang,”
            Dian agaknya ragu untuk menyampaikan pesan yang diamanahkan padanya, sesuatu yang mungkin begitu menyakitkan bagi orang yang kini ada di depannya. Kendati demikian Raden sudah tahu masalahnya ketika malam itu, malam yang membuatnya harus kembali menangis dan menerima segala yang ditentukan Allah untuknya. Baginya yang selalu hidup dalam kesedihan maupun kesulitan, agaknya kali ini yang berat ia terima. Ia menghela nafas sesaat dan beristighfar beberapa kali, ia beberapa kali harus menutup mulutnya karena masih merasakan kantuk.
             “Jadi... mungkin akang sudah tahu masalah semalam, ada sesuatu yang harus Dian sampaikan. Sebuah pesan dari teh Sekar...,”
            Dian kembali membuka pembicaraan kali ini, meski akhirnya ia pun kembali ragu untuk mengatakannya. Dengan cepat Raden mulai mengambil alih perbincangan pagi ini, suasana mendadak menjadi cukup gamang dan tak tentu arah, kendati demikian Raden mencoba untuk melawan segala kekhawatiran yang mulai menguasai dirinya. Selain itu, ia sepertinya tidak ingin mendengar hal apapun tentang orang itu. Orang yang sudah memupuskan harapannya, ‘Astagfirullah...’
             “Jadi... sebuah pesan ya...?!” Raden bertanya kepada Dian sambil tersenyum. Dian mulai mengeluarkan sebuah amplop yang masih terbungkus rapih, tertulis nama Raden di bagian luarnya dengan tinta berwarna biru tua. Di dalamnya sebuah tulisan yang penuh makna harus ia baca dengan seksama, sebuah tulisan dari seseorang yang harus menerima kenyataan yang tak sesuai dengan harapan.
             “Kak Bayu... kang Raden... Dian pamit dulu, Assalamu’alaykum...!”
             Wa’alaykumsalam...,”
             “Oh iya... de... biar kakak antar kamu sampai kontrakan,” kata Bayu kepada adiknya.
            Dian tersenyum kecil, ia sepertinya tidak berani untuk melihat wajah Raden yang berdiri mematung sambil memegang amplop titipan yang ia berikan.
             Kang Raden... semoga Allah memberikan yang terbaik,’ kata Dian dalam hati yang kini sudah duduk tenang di belakang Bayu yang mengemudikan sepeda motornya perlahan.
*****
            Malam ini sungguh amat memilukan bagi Sekar, sudah terlalu banyak air mata yang ia teteskan dan sudah lama pula Sarah menemani seluruh kesedihannya. Ia terus larut dalam pelukan hangat teman sekontrakannya, dan sudah cukup lama sejak kepergian orang itu yang telah mengantarkannya sampai ke kontrakannya. Seseorang yang ia relakan untuk tidak kembali hadir untuk menemani kedamaian hatinya.
Assalamu’alaykum...,”
tok...tok...tok...
            Sebuah ucapan salam menghentikan tangisan Sekar, sepertinya ketiga teman sekontrakan yang lain sudah selesai dengan agenda kegiatan mereka malam ini. Sekar dan Sarah menjawab salam ketiga teman mereka perlahan, kemudian Sarah melangkah menuju pintu depan dan membukanya.
             “Sudah selesai...?” tanya Sarah sambil membukakan pintu.
            Astaghfirullah...!!!’
Ketiganya tersentak begitu mendengar pertanyaan yang diajukan Sarah karena mereka sedang membahas sesuatu selama perjalanan.
             “Teh Sarah bikin kami kaget saja...,” ujar Dian sambil menepuk sedikit dadanya.
             Serius amat nih kayaknya...?! ngomong-ngomong sedang asyik ngobrolin apa sih ?”
             “Mmm... kasih tau nggak ya?! Ntar aja deh di dalam, pokoknya lumayan seru...!” papar Fani, sementara Oppie tersenyum kecil dan Dian mulai berlagak angkuh sambil pura-pura tersenyum.
            Ketiganya masuk kedalam, dan langsung tercengang melihat Sekar yang mencoba mengusap air matanya beberapa kali. Semuanya pun berkumpul di ruang tamu, Sekar masih belum bisa menghentikan aliran air mata yang begitu derasnya bahkan semua teman sekontrakannya pun mulai merasa gelisah dengan keadaannya kali ini. Malam ini rasanya sulit untuk menghentikan luapan emosi Sekar yang tak tertahankan, semuanya terlarut dalam kesedihannya. Ketiga temannya yang baru datang tak mampu berbuat banyak karena mereka sama sekali tidak mengetahui permasalahan yang menimpa Sekar, bahkan sebenarnya ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan secara santai malam ini setelah dari warnet.
             “Sekar... kami semua ngerti apa yang kamu alami, tapi... nggak semuanya harus dibalas dengan air mata dan juga rasa kecewa. Kami memang nggak mengalami yang sekarang kamu rasakan, tapi setidaknya... kami sebagai sahabat terdekatmu Sekar... dan kami sudah cukup lama mengenalmu. Bukankah segala kesedihan maupun kesenangan terasa hambar tanpa adanya teman? Itu kan yang selalu kamu katakan ketika kami mengalami masalah... Sekar tetaplah Sekar yang kami kenal sejak dulu, jangan sampai perasaanmu mengubur segala keceriaan Sekar yang dulu, ketegaran seorang Sekar, kecerdasan seorang Sekar, orang yang kami anggap kakak sendiri yang selalu membimbing kami dalam segala hal... sahabat terbaik kami yang senantiasa membimbing dalam keimanan, mengingatkan ketika berbuat salah, selalu membuat kami lebih paham dalam memahami berbagai persoalan agama yang belum kami ketahui... itulah Sekar yang kami kenal... bukan Sekar yang sekarang...,”
            Oppie mulai berkata panjang lebar, namun masih belum cukup menghentikan tangisan teman sekontrakannya. Sekar terus menutup kedua mukanya yang kembali dipenuhi air mata, ia semakin sulit untuk menghentikan alirannya.
             Hiks... aku ngerti... aku tahu... tapi ini terasa sulit, lagi pula...,”
             “Cukup Sekar...!!! Kenapa sekarang kamu jadi kaya gini sih ?! Aku dan yang lainnya memang nggak ngalamin, tapi setidaknya kamilah yang selalu ada bersamamu untuk berbagi segala hal. Berusahalah untuk menghilangkan rasa sedihmu dan jangan sampai hal itu malah semakin membuatmu semakin terlarut dalam sebuah nuansa tanpa solusi…, bukankah Allah SWT tidak memberikan cobaan kepada seseorang melainkan untuk menguji sejauh mana iman orang tersebut...? Sekar.... tatap mataku!!! Lihat kami!! Kami yang selalu ada disampingmu!!!”
            Perkataan Sarah mulai menjurus ke arah emosi, kendati demikian ia hanya ingin Sekar untuk tidak terlalu larut dalam kesedihannya dan bangkit untuk tetap menjadi Sekar yang seperti biasanya. Ia kecewa dengan sikap yang ditunjukkan oleh Sekar, ia seperti tidak melihat sosok Sekar yang seperti dulu. Sekar yang sekarang seperti telur di ujung tanduk, Sekar yang berada dihadapannya seperti orang yang menyerah pada keadaan tanpa berusaha untuk melakukan yang terbaik. Sekar yang sekarang tampak dihadapannya hanyalah orang yang mudah menyerah pada keadaan, bukan merubah keadaan menjadi lebih baik.
            Beberapa saat kemudian, Sekar bangkit dari duduknya.
 “Mungkin... sebaiknya sekarang aku istirahat...,”
            Ucapan Sekar semakin membuat teman-temannya bingung, mereka sulit untuk berkata bahkan berbuat sesuatu yang berarti. Keadaan menjadi hening, bertemankan suara cicak dan juga jangkrik yang bernyanyi di luar.
             “Sekar... jangan pernah lari dari masalah!!!” kata Sarah.
             Aku ngerti Sarah... hiks... Assalamu’alaykum...,”
             Wa’alaykum salam...,” jawab mereka berempat serempak. Sekar berjalan perlahan menuju kamarnya, sementara yang lain memperhatikan dari belakang dan mulai memperbincangkan sesuatu. Mereka tidak bisa membiarkan sahabat terbaik mereka terus larut dalam kesedihan,
             “Masalah ini terlalu berat...,” gumam Sarah.
             “.........,” Dian mulai memikirkan sesuatu, pemecah masalah dengan kata lain solusi terbaik.
             “Teh..., Dian coba untuk bicara dengan teh Sekar...” pinta Dian sambil memegang tangan kanan Sarah yang duduk disampingnya.
             “Tapi..., teteh masih belum yakin apakah Sekar mau ngobrol atau nggaknya...”
             Aku percaya ama Dian...,” potong Oppie sesaat kemudian ia melanjutkan perkataannya, “Dian sering ngobrol ama Sekar... aku yakin, Insya Allah Sekar akan jauh lebih baik,”
            Semuanya menatap Dian dengan penuh harapan, membuat Dian semakin mantap dengan langkah yang akan ia coba. Sambil mengucapkan basmallah perlahan ia bangkit dan menuju kamar Sekar yang berada tepat disamping kamarnya.
            tok...tok...tok...
             Assalamu’alaykum...! Teh, ini Dian... boleh masuk nggak...?”
            Dari luar terdengar cukup jelas di telinga Dian suara tangisan, yang tidak lain adalah suara tangisan Sekar seniornya. Dian masih terus mengetuk pintu kamarnya seraya mengucapkan salam,
             “Masuk aja... nggak dikunci...,”
            Dian terhenti sejenak, membuka pintu kamar itu. Pandangannya terarah menuju tempat tidur, Sekar tampak meringis sambil memegang bantal, sebuah kesedihan yang amat dalam untuknya.
             “Teh... maaf ya kalo Dian ganggu, terlebih...”
             Hiks... nggak apa-apa... ya mungkin ini ujian terberat dalam hidup teteh,”
             “Teh Sekar nggak boleh gitu... bukannya teteh selalu bilang kalau segala sesuatu yang ada di bumi adalah milik Allah… segala sesuatu yang kita rasakan juga pemberian dari-Nya, suka maupun duka kita harus tetap menerima dengan ikhlas...,” potong Dian.
             Dian masih ingat perkataan teteh kemarin sore ya...?” sesaat kemudian senyuman kecil mulai Sekar berikan untuk Dian.
            Dian cukup gembira melihat senyuman kecil dari Sekar, sepertinya raut wajah seniornya mulai berubah dari yang sebelumnya. Kemarin sore Sekar berbincang-bincang bersama Dian diruang tengah sambil membaca Tafsir Al-Maraghi juz 14 Surat An-Nahl ayat 31-35. Biasanya Sekar membaca tafsir sendiri sambil mengisi waktu sore hari, kebetulan kemarin Dian baru pulang dari kampus setelah ada kegiatan ‘mubes’[1]. Dan ada 2 tafsir yang biasa ia baca, yang Tafsir Al-Maraghi adalah pemberian pamannya. Kemudian Tafsir Ibnu Katsir yang dibawa dari rumah secara berkala, dan terkadang ia meminjam Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an karya Sayyid Quthub milik Sarah sebagai perbandingan serta untuk semakin memperdalam pemahamannya.
             Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu : Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Firman Allah dalam surat Luqman ayat 12... Teh Sekar sering menyampaikannya ketika kita sedang berdiskusi atau membahas sesuatu, bahkan... kemarin lusa baru saja teteh sampaikan,” kata Dian pelan sambil melihat wajah seniornya dengan seksama.
            Sekar teringat semua yang ia kerjakan beberapa hari yang lalu, hari yang ia lalui seperti biasanya bersama teman sekontrakan. Ia bahkan teringat tiga hari yang lalu bertemu dengan Raden di Alfamart Bungamas ketika berbelanja, saat itu Raden tampak gagah dengan jaket hitamnya. Ia pun teringat sesuatu yang pernah Raden sampaikan,
            “Sesungguhnya Dia mengetahui perkataan (yang kamu ucapkan) dengan terang-terangan dan Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan. Dan Aku tiada mengetahui boleh jadi hal itu cobaan bagi kamu dan kesenangan sampai kepada suatu waktu.”[2]
            Perkataan tersebut membuatnya cemas manakala semua rahasia tentangnya, dan sekarang semuanya sudah terjadi menjadi sebuah beban bagi orang yang ia cintai. Sekar terus melamun, sementara Dian memperhatikannya dengan seksama. Air matanya mulai mengering, isak tangisnya pun perlahan mereda. Dian masih menunggu seniornya tergugah dari lamunan. Ingatan masa lalu mulai membuatnya cemas dan seakan ia kembali sulit untuk berfikir secara bijak.
             “Teh...,”
            Dian menepuk lengan atas Sekar, membuat seniornya bangkit dari lamunan. Sekar langsung mengusap air matanya yang sudah mulai menghilang, mengering seiring dengan lamunannya. Ia mulai memberikan senyuman manis untuk Dian yang berada dihadapannya,
             “Teteh sudah terlalu banyak mengeluarkan air mata, hari ini... sudah terlalu banyak waktu terbuang percuma untuk kesedihan ini…,”
            Dian terkejut dengan perkataan Sekar, ia melihat sosok tegar seniornya mulai bangkit mengalahkan seluruh luapan emosi kesedihan.
             “Dian... teteh punya suatu permintaan,”
             “Apa itu...?” Dian mulai keheranan, ia memperhatikan Sekar yang mulai mengeluarkan alat tulis, ada sesuatu yang ditulisnya. ‘Untuk Kang Raden...?’ Dalam hatinya ia mulai menebak isinya, sesuatu yang amat penting dan ditujukan untuk seseorang seperti dalam pikirannya.
             “Sepertinya teteh akan lama untuk menulis... besok pagi nanti teteh kasih surat ini ke Dian,”
            Sekar terhenti sejenak, air matanya kembali menetes perlahan. Dian langsung mengusap pipi seniornya yang mulai basah dengan sapu tangannya, ia memberikan senyuman hangat dan menatap wajah seniornya dengan seksama.
             “Dian...,”
             “Iya... teh...,”
             “Terima kasih untuk semuanya, kamu...,
             “Sudah sewajarnya Dian membantu teteh, orang yang Kak Bayu percaya untuk jagain Dian...,
             “Sebenarnya... kang Raden yang melakukan semuanya atas persetujuan Bayu kakakmu. Sudah terlalu banyak kebaikan yang beliau lakukan untuk teteh, tapi...,”
            Sekar semakin larut kembali dalam kesedihannya,
             “Teh... seandainya keadaan yang sekarang tidak teteh alami, apa yang hendak teteh lakukan...? Afwan...,”
             “Teteh... akan menunggu lamaran kang Raden… Insya Allah, teteh mengetahui sesuatu dari kakakmu kalau beliau mempunyai perasaan yang terpendam untuk diungkapkan. Dialah ‘Imam’ yang sebenarnya teteh inginkan sebagai pendamping hidup sampai ajal menjelang, sungguh beruntung jikalau keadaan seperti itu yang sekarang teteh rasakan... Sungguh beruntung perempuan yang kelak menjadi istrinya, orang sebaik kang Raden sulit ditemukan. Dia... membuat teteh kagum bahkan... ketika pertama kali bertemu dengannya,”
            Sekar kembali teringat ketika pertama kali bertemu Raden, ‘Islamic Day’ saat itu berlangsung meriah di Dipati Ukur tepatnya di Graha Sanusi. Raden mengenakan pakaian muslim berwarna putih dan celana bahan warna hitam serta berpeci putih, sedangkan dirinya memakai gamis berwarna biru langit. Saat itu sosok Raden begitu bercahaya baginya, bahkan seperti menyiratkan sesuatu yang membuat orang lain kagum terhadap dirinya.
            Saat itu Sekar terjatuh tepat didepannya yang sedang membawa sebuah kardus, kemudian Raden membantunya untuk berdiri. Perkenalan antara keduanya berlangsung tidak sengaja, dan selanjutnya perbincangan menghiasi hari-hari ikatan ukhuwah diantara keduanya.
            Maaf... boleh aku tahu namamu ukhti?’
             ‘... Boleh, aku... Sekar,’
             ‘Raden... Raden Saleh lengkapnya, aku mahasiswa Teknik Geologi... ukhti sendiri?’
             Anindya Sekar Arum... ana kuliah di Psikologi,’
            Sekar melamun cukup lama kali ini, jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat sepuluh malam.
             “Ehem...,”
             “... Astagfirullah...!!!”
            Sekar menutup muka dengan kedua telapak tangannya, ia kembali menulis sesuatu sementara Dian masih terus memperhatikan gerakan tangan seniornya yang menuliskan sesuatu pada sebuah kertas.
             “Teh... Dian keluar dulu saja supaya teteh bisa melanjutkan dengan tenang...,”
             “Ya udah kalau begitu, makasih ya udah nemenin teteh malam ini...,”
            Sekar mulai kembali tersenyum, mereka berdua saling berpelukan. Setelah mengucapkan salam, Dian keluar dari kamar seniornya dan menuju ruang tengah untuk mengambil handphone yang tertinggal di atas meja.
             “Dian...,”
             Astagfirullahaladzim...!!! Teh Sarah...? Bikin aku kaget saja. Kok masih belum tidur?”
             “Mmm, teteh masih belum ngantuk. Ngomong-ngomong... gimana keadaan Sekar?”
            Dian langsung duduk di sofa, “Tenang saja teh... teh Sekar sudah mendingan kok,” jawab Dian sambil tersenyum.
             Alhamdulillah kalau begitu...,”
            Sarah menemaninya duduk sambil membaca sebuah buku. Malam ini sepertinya keduanya masih terjaga dari gelapnya malam. Sementara di dalam kamar, Sekar masih belum selesai menuliskansurat untuk Raden. Dengan segala upaya ia mencoba untuk merangkai kata dengan sebaik-baiknya, kalimat yang merupakan curahan hati bagi orang yang ia cintai karena Allah SWT.
             “Teh Sarah... Dian mau nanya sesuatu...,”
             “Boleh, mau nanya apa?”
             “Seandainya teteh ada di posisi teh Sekar yang sekarang... apa yang hendak teteh lakukan?!
            Sarah tersenyum kecil, “Mungkin... akan bernasib sama seperti Sekar yang sekarang. Kalau Sekar saja seperti itu, apa lagi teteh yang jelas-jelas belajar banyak darinya...,
             “Yah... memang sulit menemukan orang yang tegar ketika menghadapi cobaan seperti Rasulullah dan para sahabatnya,” kata Dian sambil menatap ke arah langit-langit.
             “Ada kok, mungkin hampir sama dengan cara Rasul dan para sahabat dalam menghadapi ujian yang Allah berikan... bukankah kita juga bisa tegar dalam menghadapi segala ujian yang Allah berikan...?!”
            Dian mulai terdiam, ia pun memandang wajah Sarah.
             “Kang Raden mungkin salah satu contohnya?!
            Dian setuju dengan pernyataan Sarah sambil sedikit mengangguk dan memberikan sebuah senyuman. Raden adalah seorang yatim, kuliah ia biayai sendiri dengan beasiswa yang ia raih dan juga hasil mengirim cerpen di beberapa majalah dan surat kabar hingga akhirnya pamannya yang memaksa untuk membantu membiayai seluruh biaya kuliah sampai selesai. Padahal ia menolak permintaan pamannya karena yakin mampu membiayai kuliah dan juga hidup selama di Jatinangor sendirian.
Hanya saja sesuatu yang buruk kembali menimpa anggota keluarganya, membuatnya harus kembali menghadapi sesuatu yang cukup berat. Penyakit serius yang dialami oleh ibunya membuatnya menunda satu tahun sidang sarjananya, serta memilih proyek sebagai cara untuk memperoleh uang untuk membiayai pengobatan beliau. Info mengenai Raden banyak diketahui dari Bayu yang merupakan kakak Dian yang sama-sama nyantri di Pesma. Orang yang lebi senior daripada santri-santri yang lainnya, pun juga sebagai seorang kakak pembimbing terbaik bagi santri yang lain.
Raden banyak bercerita kepada Sekar sambil berdiskusi melalui dunia maya maupun via sms, dan beberapa kali hasil diskusi tersebut disampaikan oleh Sekar kepada teman yang lain terutama teman sekontrakannya. Banyak hal yang Sekar dan teman sekontrakan terima dari penjelasan seorang Raden, bagi mereka Raden adalah seorang murabbi dan ustadz terbaik yang pernah mereka kenal. Begitu perlahan, tenang, teliti dan lugas dalam menyampaikan sesuatu sehingga orang lain yang mendengarkan begitu tertarik dengan materi yang ia sampaikan. Maka tidak salah apabila ia pernah menjabat sebagai wakil ketua Lembaga Dakwah Kampus, meskipun ia sempat menolak permintaan Dewan Syuro Lembaga[3] karena merasa tidak layak dan pastinya kampus Unpad punya banyak kader terbaik yang bisa menjalankan organisasi dakwah kampus.
             “Sudah larut malam, sebaiknya Dian tidur duluan...,
             “Nggak teh... Dian belum ngantuk, ya mungkin beberapa menit lagi deh,”
             “Ya udah kalo gitu... teteh duluan ya, Assalamu’alaykum...!!!”
             Wa’alaykum salam...,”
            Sarah bangkit dari duduknya, kemudian pergi menuju kamar mandi untuk mengambil air wudlu dan akhirnya menuju kamar tidurnya. Dian masih duduk di sofa, ia mulai membaca majalah yang disimpan di bawah meja sambil mengisi waktu sebelum tidur. Entah kenapa rasanya sulit untuk memejamkan matanya, malam ini berlalu tenang setelah terjadi beberapa masalah yang menimpa seniornya. Bagi Dian mungkin ini menjadi sebuah pelajaran berharga bagaimana menjaga hati dari segala perasaan, kesedihan, permasalahan hidup yang dialami serta dinamika kehidupan yang merupakan kehendak dari Allah SWT.
             Ya Allah semoga Engkau senantiasa menjadikan hamba-Mu sebagai orang yang mampu menjaga hati, semakin menguatkan iman kepada-Mu… berilah petunjuk agar hamba-Mu tetap istiqomah dalam jalan dakwah ini. Dan juga… semoga Engkau memberikan petunjuk bagi teh Sekar yang kali ini mengalami permasalahan yang cukup rumit dan mungkin apabila hamba-Mu yang mengalami akan begitu sulit untuk menerimanya…,’ Dian terdiam sejenak, ia merenung sambil menundukkan kepalanya.
Jauh disana, dua orang perempuan, seorang ibu dan putrinya masih terjaga. Sepertinya terjadi suatu perbincangan diantara mereka berdua, sebuah perbincangan pengantar tidur yang mengakrabkan suasana. Mereka berdua saling tersenyum sambil menikmati kehangatan malam yang Allah berikan bagi hamba-Nya. Dua orang perempuan yang menjadi bagian dari keluarga Raden.
*****
             “Ibu...,”
             “Runi...? masih durung turu…?![4] tanya ibu sambil keheranan.
             “Sudah tidur kok Bu, cuma pas mau ke kamar mandi... Runi liat ibu masih belum tidur,”
            Beliau hanya tersenyum kecil untuk putrinya, dan kali ini sepertinya sebuah lamunan mulai menghiasi wajahnya yang mengerut termakan usia.
 Kakakmu Raden... kapan pulang ya?!” gumam beliau.
             “Sebentar lagi kok Bu, kita doakan saja semoga kak Raden sukses...,
             “Amin... moga kakange sira diparingi waras ya,”[5]
            Potong beliau dengan penuh keyakinan bahwa anak pertamanya pasti datang dan kembali bertemu dengannya setelah kejadian yang beliau alami setahun yang lalu, sesuatu yang cukup berat. Kejadian yang membuat Raden, anak pertamanya harus menunda sidang sarjana untuk membiayai pengobatan sang ibu tercinta di rumah sakit.
            Kedua orang ini tak lain adalah ibu dan adik perempuan Raden, sebenarnya Raden masih mempunyai seorang adik perempuan lagi. Namanya Zahara, dia masih kelas 1 SMP, sedangkan Runi sendiri kelas 3 SMA. Di rumah ini suasana begitu tenang, sederhana saja namun penuh kenangan dan kedamaian dengan nuansa Islam yang begitu kental. Sang almarhum Ayah adalah seorang anggota TNI, dan beliau juga cukup baik dalam pemahaman agama. Sang almarhum ayah menanamkan nilai-nilai islam ketika Raden masih kecil, yang kemudian Raden sampaikan ilmu yang ia peroleh dari beliau kepada kedua adik perempuannya.
            Keluarga ini dikenal sebagai keluarga yang sangat baik dan ramah, sehingga membuat warga disekitarnya begitu peduli ketika mereka memerlukan bantuan. Bahkan ketika musibah itu datang beberapa tahun yang lalu, tepatnya ketika sang Ayah harus pergi meninggalkan mereka selama-lamanya. Sang almarhum ayah merupakan sosok terbaik yang selalu dinanti kehadirannya setiap saat, tidak banyak bicara namun sekali beliau menyampaikan sesuatu langsung mudah dipahami. Dan dari cara tersebut kini Raden pun mampu menyampaikan sesuatu atau materi yang dapat menarik perhatian siapapun yang mendengarkannya, sifat seorang anak akan tidak berbeda jauh dengan kedua orang tuanya, begitulah kata pepatah.
             “Kalau Ayah masih hidup... gimana ya perasaan beliau ketika melihat kakakmu yang sudah hampir lulus beberapa saat lagi?” pertanyaan ibu mulai membuat Runi terkejut, kendati demikian ia menjawabnya sambil tersenyum. Ada secercah kebahagiaan dari raut wajah ibunya,
             “Pasti... Ayah akan mengunjungi kontrakan kakak sambil menunggu wisuda, Bu!!!”
             “Kira-kira... bagaimana ya, perasaan Ayah di alam sana...?”
             “Ibu ini... nanya yang aneh-aneh aja, mungkin... Insya Allah Ayah sedang tersenyum...,
            “Ibu kangen sekali sama kakakmu... bahkan Ibu sangat khawatir ketika dia lebih memilih untuk pergi proyek dan menunda wisuda demi membiayai pengobatan ibu,”
            Runi kembali tersenyum, ia memegang pundak ibunya perlahan,
             “Sebentar lagi, Bu... Insya Allah,
            Sang ibu dan anak saling berpandangan sambil menaruh harapan besar kepada Raden, seorang kakak yang saat ini dirundung kesedihan yang belum mereka ketahui. Sosok yang dinanti setelah kepergian ayah, sosok yang mampu membuat hati mereka tenang dengan perkataannya yang bijak.
             “Bu, tidur dulu... sudah malam,”
            Sang Ibu akhirnya menuruti kemauan putrinya, beliau bangkit dari duduknya menuju kamar mandi kemudian mengambil air wudlu. Runi sendiri mulai melangkahkan kaki menuju ke kamarnya dan mulai terlelap dalam buaian malam,
             “Ya Allah... lindungilah putra hamba-Mu, jagalah ia dari segala marabahaya, mudahkanlah jalan agar ia segera lulus, berkahilah ia dengan seorang istri yang solehah serta anak-anak yang berbakti sebagaimana engkau mengkaruniai hamba-Mu dengan ketiga anak yang sangat berbakti... Ya Allah, berikanlah hamba-Mu kesempatan untuk bertemu kembali dan melihatnya bahagia sebelum Engkau mencabut nyawa hamba-Mu. Dan juga... ampunilah segala dosa yang pernah suami hamba lakukan selama hidup didunia, terimalah arwahnya disisi-Mu...,”
            Air mata mulai membasahi pipi beliau, di keheningan malam beliau terus memanjatkan doa untuk putra dan almarhum suami tercinta. Hal yang selalu beliau lakukan setiap harinya dalam kondisi apapun, kerinduanlah yang membuat beliau semakin khusyudi tiap-tiap malam. Beliau memilki keyakinan pasti akan bertemu kembali dengan putranya serta melihat keberhasilan yang telah putranya raih sebelum ajal menjemput. Kerinduan inilah yang mungkin membuat seorang Raden begitu tegar menghadapi permasalahan yang ia hadapi, sesuatu yang sama sekali tidak diketahui oleh ibunya. Dan beberapa saat yang lalu beliau merasakan sesuatu yang kurang enak, agaknya hal ini yang belum beliau ketahui terutama terkait dengan Raden yang mulai mengalami permasalahan yang baru dalam hidupnya.
             Andaikata penyakit ini tidak menimpa hamba-Mu...,’ gumam beliau dalam hati. Kendati demikian beliau masih merasa bersyukur karena Allah SWT masih memberi kesempatan untuk menghirup nafas dan menemani hari-hari kedua putrinya yang masih remaja, dan yang terpenting adalah masih diberi kesempatan untuk beribadah kepada-Nya, Tuhan Yang Maha Esa.

[1] Musyawarah besar (rapat akbar anggota organisasi atau perkumpulan)
[2] Al-Anbiya 110-111
[3]Sama dengan Majelis Syuro
[4] Masih belum tidur…?!
[5] Semoga kakakmu selalu diberi kesehatan (oleh Allah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar