Senin, 31 Desember 2012

5 Teknik Bercermin 'Diri' (Muhasabah Akhir Tahun 2012)

Oleh : Aa Gym

Ini adalah sebuah rangkuman atas apa yang tidak bisa diterima secara langsung, ini adalah suatu nasihat bagi diri yang senantiasa berupaya memaksimalkan segenap potensi menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. jazakallah akhi 'Bubenk' yang sudah memberikan rangkuman materi 'Muhasabah Akhir Tahun 2012' bertempat di PUSDAI Jawa Barat-Bandung. Semoga banyak memberikan manfaat bagi yang membaca, sekaligus refreshing materi untuk yang hadir pada tempat tersebut.

TENTANG 5 TEKNIK BERCERMIN

Kita adalah tentang apa yang ada dalam hati, tentang suatu hal dalam pikiran, ucapan dan juga tindakan. dari situlah kita berawal tentang bagaimana orang lain memandang kita, pun juga koreksi diri atas segala hal yang pernah terjadi di masa lampau. Hendaknya setiap orang memperhatikan dirinya serta apa yang akan dilakukan pada esok hari, kiranya penggalan hadist tersebut sering disampaikan oleh para mubaligh yang berupaya menyegarkan kembali pikiran dan hati kita agar senantiasa memikirkan tentang diri serta rencana-rencana kedepan yang sudah pasti Allah catat dan dimintai pertanggung-jawaban.

1. Tafakuri diri - Bagaimana menyediakan waktu untuk diri kita sendiri
Tentang ucapan, apakah sudah benar dan baik ia terangkai? Tentang sikap, sudahkah ia membawa pada kebaikan serta perbaikan? Tentang niat, apakah benar hanya karena Allah semata? Tentang amal, sudahkah kita mengikuti jejak dan sabda Nabi SAW? Tentang waktu, sudahkah ia membawa pada kebermanfaatan serta kemajuan bersama? Ya, saya kurang cukup baik dalam memaparkan hal lain, karena sahabat sekalian tentunya sudah memahami hakikat penciptaan diri, kita sebagai manusia... kita sebagai hamba Allah... kita sebagai khalifah di muka bumi... kita sebagai seorang muslim lagi mukmin... dan kita sebagai peran-peran yang lainnya... semata-mata karena Allah menciptakan segenap potensi yang ada dalam tubuh. Terutama akal... Ah... saya bukan tipe yang jauh lebih baik juga dari kalian, tapi marilah kita berada dalam barisan yang senantiasa melakukan perbaikan bagi diri untuk semuanya.

2. Miliki cermin pribadi - Apa pandangan orang lain terhadap kita
Lagi-lagi tentang nasihat, sahabat sekalian yang saya cintai karena Allah. Ini adalah tentang bagaimana indahnya ukhuwah, tentang bagaimana sikap dan ucap kita kepada sesama, tentang bagaimana indahnya berbagi, tentang kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia sebagai makhluk sosial. Kiranya sahabat sekalian punya keunikan dan ciri khas masing-masing dalam berkawan serta teknik-tekniknya. Ya... terkadang kita lupa melakukan hal ini... bertanya tentang apa yang orang lain katakan tentang kita... ini tentang cerminan sikap dan ucap kita terhadap lingkungan sekitar. menjadi diri sendiri memang perlu... tapi... apakah sikap dan ucap kita senantiasa ada dalam koridor kebaikan menurut Qur'an dan Sunnah Nabi SAW? Ini adalah tentang indahnya ukhuwah... jazakallah khairan katsiran untuk sahabat-sahabat yang pernah memberikan pandangannya tentang saya, ah... rasanya diri ini harus lebih giat berupaya menjadi lebih baik lagi. Dan jangan sampai kita menjadi landak berduri... yang bsia saja melukai orang-orang di sekitar kita.

3. Berguru pada yang ahli - yang yakin akan meyakinkan
Ini tentang bagaimana anugerah berupa akal itu kita upayakan. Akal yang senantiasa berpikir tentang apa yang Allah ciptakan, pergantian waktu dan lain sebagainya. Tentang bagaimana ilmu dunia dan akhirat itu kita genggam untuk meyakinkan diri, bahwa sehebat-sehebat orang yang pintar pun masih ada mereka yang jauh lebih pintar nan cerdas. Secerdas-cerdasnya manusia adalah mereka yang mengingat mati dan mempersiapkan kematiannya... ini adalah tentang cara kita bersyukur atas anugerah kemampuan menyerap banyak ilmu yang diterima. Dengan berguru pada yang ahli, baik dalam urusan dunia maupun akhirat, kita berupaya meraih kesempurnaan hidup yang pernah tersirat dalam Sirah Nabi SAW dan juga para sahabat. Kita belajar bagaimana mereka saling mengisi dalam hal kecerdasan dan keilmuan, ada yang jago perang seperti Khalid, hafal qur'an layaknya Salim, ketegasan yang membuat syaithan takut seperti Umar, gudang segala ilmu akhirat layaknya Ali, dan lain sebagainya. Kita belajar tentang kebersamaan membangun sebuah peradaban melalui ilmu, dimana mereka yang ahli menempati posisi sebagaimana mestinya, dan yang tak ahli semakin terlecut untuk mengembangkan diri dan meneruskan jejak-jejak kebaikan. Bukankah ilmu yang bermanfaat adalah satu diantara 3 amalan yang tak pernah putus pahalanya meskipun kita kembali pada-Nya.

4. Manfaatkan yang benci - Dia yang paling perhatian
Sahabat... pernahkah kita bertemu dengan seseorang yang membenci kita, tentang bagaimana ucapan dan sikap kita... dan bahkan kebaikan yang kita lakukan sekalipun. Ya, benar... mereka adalah orang yang paling perhatian dengan kita... sebaik-baik cermin yang membuat diri senantiasa bermuhasabah. Yang kita lakukan mungkin baik, tapi... terkadang kebaikan membuat orang lain iri, dengki, hasad, dll... Nikmatilah hal itu, karena saya pun sering merasakannya. Ah, begitu indahnya ada yang memperhatikan. Ketika diberi nikmat ataupun menyampaikan kebaikan ada yang memperhatikan, ketika duka melanda ataupun bencana menerpa ada juga yang berkata ini dan itu. Ya... terkadang kita terlalu menyombongkan diri, kita tidak pernah memahami bagaimana cara Allah menguji hamba-Nya yang beriman. Sudah cukupkah pelajaran yang kita petik dari Abdullah bin Ubay, yang namanya diabadikan Qur'an sebagai golongan 'munafik'. Ya... sekarang sangat banyak karakter yang mencerminkan sosoknya... barangkali hidayah Allah jauh lebih kita harapkan daripada ikut-ikutan mendengki seperti yang orang lain lakukan kepada kita. Berdo'alah untuk kebaikannya, semoga Allah memberikan pintu hidayah yang barangkali... melalui baiknya ucapan serta sikap kita padanya.

5. Tafakuri apa yang terjadi
Sahabat... banyak hal yang terjadi dalam kehidupan kita, sudahkah kita bermuhasabah setiap harinya? Ya, terkadang diri ini terlalu mengagung-agungkan rencana kedepan yang briliant tanpa mau berkaca atas segala kejadian masa lalu serta pelajaran yang bisa dipetik darinya. Tentang waktu... tentang segala hal yang pernah terjadi... sudahkah amalan yaumi kita lebih baik dan terus mengalami perbaikan dari hari ke hari meskipun hanya sedikit, ataukah kita istiqomah menjaga amalan yang membuat kita senantiasa dekat dengan-Nya. Ya... ini adalah bagaimana membangkitkan segenap energi positif yang sudah Allah berikan kedalam tubuh kita, terkadang kta lupa untuk mensyukurinya. Merenungi segala hal yang pernah terjadi... tentang keburukan, adalah bagaimana kita menghindar dan memperbaikinya... tentang kebaikan, bagaimana kita istiqomah didalamnya. Ah, diri ini masih belum cukup baik dan saya yakin... di luar sana banyak sahabat yang jauh lebih baik sehingga membuat saya lebih banyak belajar darinya. Tentang waktu... ya lagi-lagi tentang waktu. Semoga... Allah senantiasa memberikan barakah atas segenap aktivitas yang dikerjakan oleh kita selama hidup.

Kiranya ini yang biasa saya sampaikan, sepenggal kalimat yang terangkum dalam otak, sebait catatan dari sahabat yang saya cintai karena Allah. Meskipun tidak bisa hadir secara langsung, semoga banyak hal yang bisa kita petik dan pergantian waktu, bergantinya siang dan malam, serta semakin berkurangnya usia kita. Diri ini masih belum cukup baik, namun... senantiasa menjadi hamba-Nya yang terus berikhtiar. Ya Rabb, hamba hanya mengharapkan kebaikan dari tulisan ini.

2 komentar: