Sabtu, 24 November 2012

Istiqamah Berdakwah

*Oleh: Ustaz M Arifin Ilham *


Kami mengenalnya sebagai seorang juru dakwah. Sering dia diminta untuk
memberi wejangan agama.

Namun, beberapa tahun terakhir ia meninggalkan gelanggang dakwah dan
bergabung dengan partai politik lalu masuk di parlemen.

Kesehariannya kini lebih sering menenteng *gadget*, seperti iPad dan HP di
tas mininya. Mungkin sebagai pengganti tasbih yang dulu biasa diputar
sambil berzikir.

Biasanya, sebelum azan, wajahnya selalu tampak basah oleh air wudhu dan
sudah bersiap di belakang mihrab. Kini, walau azan sudah berkumandang,
beliau terlihat masih sibuk menyalami relasi dan kolega politik.
Majelis-majelis ilmu dan mimbar-mimbar dakwah yang dulu membesarkan
namanya, kini terlihat hanya seperti hiasan.

Kita pasti mengelus dada. Sangat disayangkan jika akhirnya beliau
benar-benar meninggalkan harakah dakwah. Semoga saja, sahabat kita ini
kembali berjuang menegakkan kebenaran dan Islam.

Tulisan ini tentu bukan ajakan untuk meninggalkan gedung parlemen atau
melepas kursi kementerian. Tidak sama sekali. Ini hanya sekadar seruan
moral untuk istiqamah dalam dakwah.

Masih terekam dalam ingatan kami, ketika beliau berpamitan. “Semoga posisi
ini memudahkan langkah dakwah kita, narju bidu'aikum (mohon doa) ya ustaz,”
ucapnya.

Sejujurnya ingatan ini hanya menambah gerusan hati saja karena kenyataan
justru lebih tampak bukan sebagai batu loncatan dakwah yang memudahkan tapi
menjatuhkan.

Peran juru dakwah yang “berubah” ini pastinya bukan hanya pada diri beliau,
tapi telah membiak di negeri ini. Dulu kita mengenalnya sebagai ustaz, guru
agama, penceramah, dai, punya pondok pesantren, dan sebagainya. Akan tapi,
setelah masuk wilayah kekuasaan, peran itu berubah.

Kita sudah sering mendengar banyaknya pejabat yang masuk 'hotel prodeo'.
Tak hanya politisi, tapi juga sosok yang selama ini dikenal alim. Sering
juga kita dengar, ada banyak sekali pesantren tutup, karena para santrinya
tidak lagi terurus. Karena pengasuhnya jarang pulang dan tak sempat
mengajar. Majelis-majelis taklim berhenti, karena ustaz atau ustazahnya
sedang ke luar kota.

Atas keadaan inilah, rasanya penting melihat lagi risalah istiqamah dalam
dakwah. Tidak mengapa berganti “baju”. Dengan lebih “bergaya”, seharusnya
daya jelajah dakwah lebih kuat dan menghunjam.

Rasanya menjadi luar biasa jika manusia-manusia Muslim parlemen atau para
petinggi kekuasaan, sesaat sebelum terdengar suara azan, pimpinan sidang
meminta penghentian sidang untuk bersama melaksanakan shalat berjamaah.
Indahnya pemandangan itu.

Jika sudah demikian, benarlah keadaan mereka. Silakan rebut dunia, raih
kedudukan, tapi jangan tinggalkan umat dan akhirat. Jadikan kursi dan meja
sidang sebagai mushala. Jadikan persidangan dan lobi-lobi sebagai mimbar
dakwah.

Saudaraku, tetaplah bersahaja, apa adanya. Amalan kebaikan yang sebelumnya
hidup, hidupkan kembali. Sungguh, buah istiqamah itu akan menanti kita.
Orang yang istiqamah dalam dakwah sebenarnya sedang meniti jalan surga.

Mereka akan selalu dikawal dan dihibur para malaikat. Dan Allah beserta
para makhluk-Nya, akan turut membantu setiap urusan mereka, baik dunia
maupun akhirat. (QS Fushilat [41]: 30). *Wallahu a'lam.*
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/11/15/mdj9sc-istiqamah-berdakwah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar