Selasa, 02 Juni 2015

Ali bin Abi Thalib dan Utusan Najran, serta ayat Mubahalah

Rasulullah menulis surat kepada penduduk Kristen Najran (sebuah Negara berjarak sekitar 7 marhalah dari Mekkah ke arah Yaman) dengan isi sebagai berikut :
"Amma ba'du. Sesungguhnya saya mengajak kepada kalian menuju kepada penyembahan kepada Allah dari penyembahan kepada hamba. Dan saya juga mengajak kalian kepada kekuasaan Allah dari kekuasaan hamba. Jika kalian menolak ajakan tersebut, atas kalian wajib membayar jizyah. Dan jika kalian menolak membayar jizyah, maka saya nyatakan perang terhadap kalian. Wassalam."

Ketika surat tersebut diterima Uskup, ia kemudian segera mengumpulkan umat kristiani dan membacakan isi surat tersebut kepada mereka. Setelah dibacakan, ia pun meminta pendapat dari mereka. Setelah mereka bermusyawarah, mereka memutuskan untuk mengirim utusan kepada Nabi Muhammad saw yang terdiri dari 14 tokoh diantara mereka. Ada yang mengatakan 60 tokoh diantara mereka. Diantara mereka ada 3 orang yang ditunjuk menjadi kepercayaan mereka dan mereka menyerahkan urusan mereka kepada ketiganya. Pertama, Al-Qalib; ia adalah pemimpin dan penasehat mereka. Orang yang menjadi kepercayaan untuk mewakili pendapat-pendapat mereka. Kedua, Sayid; pemimpin perjalanan mereka. Ketiga, Abu Al-Harits; Uskup dan pemimpin lembaga pendidikan mereka. Ketika datang utusan Kristen Najran menghadap Rasulullah saw di Madinah, mereka kemudian melepaskan baju musafir yang mereka kenakan dan berganti dengan pakaian kebesaran yang megah serta memakai cincin-cincin emas, setelah itu baru mereka menghadap Rasulullah.

Dihadapan Rasulullah mereka mengucapkan salam kepada beliau, tetapi tidak dijawab salamnya oleh Rasulullah saw. Mereka mengulang-ulang ucapan salam tersebut hingga lama tetapi tetap saja Rasulullah tidak mengucapkan apa-apa kepada mereka. Kemudian mereka pergi menemui Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf yang telah mereka kenal sebelumnya. Di zaman Jahiliyah Utsman dan Abdurrahman sering datang ke Najran bersama kafilah untuk membeli gandum dan buah-buahan mereka, Ternyata mereka berdua sedang berada dikumpulan orang-orang Anshar dan Muhajirin. Mereka berkata, "Hai Utsman dan Abdurrahman, nabi kalian telah mengirim surat kepada kami sehingga kami datang kemari. Kami telah mengucapkan salam tetapi tidak dijawab, bahkan kami telah lama menunggu jawaban hingga lelah. Apa sebaiknya kami pulang saja?"

Mereka berdua berkata kepada Ali yang berada diperkumpulan itu juga, "Hai ayah Hasan, sebaiknya bagaimana mereka ini? Ali bin Abi Thalib menjawab, "Sebaiknya mereka melepas baju mewah mereka lalu berganti dengan busana yang mereka kenakan di dalam perjalanan, baru kemudian datang kepada baginda Rasulullah."

Para tamu itu melaksanakan anjuran Ali, lalu datang menghadap Nabi. Ternyata Nabi menjawab salam dan menerima kehadiran mereka. Nabi dan mereka pun berdiskusi dalam waktu yang cukup lama, masing-masing pihak saling bertanya mengenai beberapa masalah. Mereka berkata kepada Nabi, "Kami terlebih dahulu muslim sebelum kalian." Nabi menimpali, "Kalian tidak mau mengikuti kebenaran Islam disebabkan 3 hal. Pertama, karena kalian menyembah Salib. Kedua, karena kalian memakan daging babi. Dan ketiga, karena anggapan kalian bahwa Allah memiliki anak." Setelah itu terjadilah perdebatan dan saling adu argumen antara Nabi dengan mereka. Nabi membacakan kepada mereka ayat-ayat Al-Qur'an dan menepis kesesatan-kesesatan mereka dengan hujah. Diantara ucapan yang mereka katakan kepada Nabi adalah, "Kenapa engkau mencela Tuhan kami (Isa) dan engkau mengatakannya sebagai hamba Allah?!" Nabi pun menjawab ucapan mereka itu dengan mengatakan, "Betul. Dia adalah hamba Allah, Rasul-Nya dan kalimat-Nya yang ditiupkan kepada Maryam." Mendengar jawaban dari nabi itu mereka makin marah dan murka. Mereka berkata kepada Nabi, "Apakah engkau pernah melihat ada manusia tanpa ada bapak? Jika engkau benar-benar seorang nabi maka tunjukkan kepada kami contohnya!" Maka kemudian Allah menurunkan kepada Nabi Muhammad saw ayat Al-Qur'an untuk menjawab pertanyaan mereka itu. Allah berfirman :

"Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: 'Jadilah!' (seorang manusia), maka jadila dia. (Apa yang telah kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Rabbmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu." (Ali Imran : 59-60)

Ayat ini menjadi hujjah yang telak bagi mereka. Seolah membuat keragu-raguan dan ketidak-jelasan keyakinan mereka menjadi semakin meragukan dan tidak meyakinkan diri mereka. Ketika mereka tidak mampu menghadapi hujjah dan perdebatan yang ada dengan cara bijaksana dan nasehat yang baik, maka mereka menantang nabi dengan Bermuhabalah (sumpah saling melaknat). Hal ini sebagaimana firman Allah Ta'ala : "Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa setelah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya) : 'Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta." (Ali Imran : 61)

Selanjutnya Nabi keluar dengan mengajak Hasan, Husain dan Fathimah. Beliau berkata, "Jikalau saya membacakan do'a, maka katakanlah amin!" Melihat sikap nabi itu, mereka mengadakan musyawarah untuk menentukan sikap. Mereka takut dengan kehancuran yang kelak menimpa mereka, karena sebenarnya mereka meyakini kebenaran Nubuwwah Muhammad saw. Dan mereka tahu bahwa setiap kaum yang pernah bermubahalah dengan nabinya pasti mereka hancur. Akhirnya mereka menolak bermubahalah. Mereka lebih memilih jalan damai dengan syarat mereka membayar denda kepada kaum muslimin 2000 Hullah. Seribu dibayarkan di bulan Rajab dan seribu laginya dibayar di bulan Shafar.

# Diambil dari buku "Biografi Ali bin Abi Thalib", Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi.

Senin, 27 April 2015

Kembali Pada Awalnya

"Innamal 'amaalu binniaat...,"

Semangat pagi, Insya Allah, awal yang baik senantiasa kita buka dengan lafadz 'basmallah'. Kalimat terbaik yang juga Rasulullah saw ajarkan, dengan menganjurkan agar setiap awal dari amal dimulai dengan 'basmallah'. Ini yang disebut amalan yang nampak meski lisan sedikit berucap. Aktivitas yang mungkin sering kita lupa, atau bahkan sengaja bukan jadi bagian terbaik dalam episode kehidupan. Awal yang baiklah, sebenarnya membawa pada kebaikan serta kebaikan sebenarnya Insya Allah.

Apapun itu, niat di awal, kembali menjadi suatu jalan atau pembuka banyak ladang serta amal kebaikan dan terhimpun dalam diri hingga membuat pelakunya 'istiqomah'. Dari niat yang baik terbuka banyak peluang melakukan kebaikan dan perbaikan, dari lafadz 'basmallah' sesudahnya pula, maka Insya Allah jalan istiqomah itu terbentang sangat luas dan nampak jelas.

Apa yang salah pada diri kita, sederhanya terletak pada niat serta permulaan langkahnya. Tidak ada sesuatu yang Allah takdirkan atau tetapkan tanpa sebab yang jelas bagi segenap hamba-Nya yang taat. Bahkan mereka yang lalai pun akan terpancar sedikit padanya suatu peluang kebaikan apabila ia mampu untuk membuka pintu yang bernama 'niat'. Untuk apa kita berbuat sesuatu...? Kembali kepada niat, dan banyak sekali cara Allah untuk membentuk serta menguji ketaatan hamba-Nya dengan berbagai aktivitas yang ditekuni atau rutinitas harian. Termasuk didalamnya adalah ibadah wajib. Dalam shalat pun ada ujian bagi hamba-Nya, dimana tak semua mampu khusyu' (semoga penulis bisa memperolehnya), tak semua bisa berjamaah tepat waktu bagi kaum laki-laki. Semua kembali berawal dari... 'niat', dan kita melakukan rutinitas untuk apa..? Termasuk ibadah demi ibadah wajib serta sunah yang dikerjakan. Apa landasan selanjutnya selain daripada diajarkan serta dianjurkan oleh Rasul saw (berdalil)...? Tentu adalah 'NIAT'.

Semua akan kembali pada awalnya. Kita hendak berubah menjadi baik pun diawali dengan 'niat', memohon bantuan Allah sehingga lafadz 'basmallah' itu terucap lugas dari lisan. Insya Allah kita bisa istiqomah dalam kebaikan serta perbaikan... semuanya kembali diawalnya. Untuk apa...?

Rabu, 22 April 2015

KATA TAQWA

Jika Allah hendak menguatkan hamba-Nya
Maka Dia memberikan ujian
Kala Sang Khaliq hendak menguatkan pundak si shaleh
Maka Dia Yang Maha Pemurah mempersulit langkah kakinya
Sementara Dia Yang Maha Agung terus menguji hamba-hamba-Nya
Maka sebagian yang lain melupakannya
Namun kata taqwa tetap menjadi perbuatan hati yang kuat
Ia yang meski nampak bisa menjadi laknat
Ia yang tersembunyi bahkan jauh lebih durjana daripada heyna pemakan bangkai
      Yang berlalu memang tak kan kembali
      Namun ia tetap menjadi pelajaran berharga
      Kadang pula sampah bernama pola pikir itu mengotori hati
      Namun taqwa selalu menjadi penyejuk dikala sendiri ataupun bersama
      Dari apa yang kita punya terkadang membawa bencana
      Namun taqwa selalu berupaya membersihkannya dari noda
      Kelamnya hati yang meski melupakan kehidupan setelah dunia
      Menjadi semakin kuat juga dengan taqwa
Ia yang selalu menyinari hati hamba-hamba-Nya yang taat
Ia yang terus berupaya membisikkan daripada segenap amal baik yang diperbuat
Ia yang mengistiqomahkan segenap manusia agar selalu ada di jalan kebenaran
Ia yang tertanam dengan kuat dalam lembara Kitab Suci
Ia yang terus-menerus diulang agar manusia semakin memahami
     Meski ia adalah perbuatan hati
     Ia juga membutuhkan segenap amal nyata dalam kehidupan
     Meski ia tak bisa ditakar dalam ukuran dunia
     Ia juga yang menyelamatkan seseorang dalam kehidupan setelah dunia
     Dan ia yang terus beredar hingga akhir zaman nanti
     Apakah selamanya akan tertambat dalam hati...?

Rabu, 07 Januari 2015

PESAN DARI HUJAN

“Ayah... hujan yah... berhenti dulu!!!”
Setengah berlari aku terus melihat sosok tegar dan kuat. Berhenti dan kembali berlari kecil. Ayah. Beliau terus mengayunkan kedua lengannya, mengadukan ujung cangkul dengan tanah subur sembari menerima tetesan air langit yang semakin lama semakin cepat terjun ke bumi. Ayah memang seperti itu, tak banyak berubah sejak pensiun dari Angkatan Darat. Dan juga sejak kedua kakakku berkelana dengan ilmu serta titipan do’a darinya. Ibu memang telah berpulang sejak kami kecil, dan ayah setia menemani kami bertiga sampai saat ini.
“Ayah...!”
Ayah menyapu dahinya yang semakin mengerut, “Iya nak... sebentar...,” seuntai senyum terarah lembut padaku. Ah, sungguh, ini menjadi hal paling kami bertiga suka.
Air yang kumasak mulai menunjukkan tanda mendidih, kepulan asap dari kayu bakar yang kunyalakan setengah jam sebelumnya semakin banyak dan terhempas hembusan angin. Hujan semakin deras, perlahan dan terus menghujam ke seantero bumi sejauh mata memandang. Ayah berjalan tenang ke arahku sambil memanggul cangkul di bahu kanan dan juga memegang capingnya yang lusuh.
“Ayah jangan sering kehujanan... nanti sakit,” aku mengambil sebuah gelas dan mengambil bubuk kopi serta gula, “Ayah sudah semakin tua... biar Ade yang mengerjakan ladang ini.”
Ayah tersenyum manis dan menaruh cangkulnya dekat pilar bambu saung, “Nggak apa-apa nak... ayah memang sudah tua,”
Aku memberikan segelas kopi panas untuk ayah. Beliau mengusap pelan wajahnya yang basah dengan handuk. Aroma kopi yang masih mengepul membangkitkan keinginanku untuk juga menikmatinya bersama ayah, seperti hari-hari libur biasanya. Sabtu dan Minggu. Dua hari ini aku memanfaatkan waktu untuk selalu bersama ayah, termasuk sepulang sekolah karena Ayah baru akan pulang dari ladang menjelang waktu Ashar.
“Nak...,” Ayah meletakkan gelas berisi kopinya dan memandangku tenang.
“Iya Ayah...,”
“Kamu tahu...? Hujan itu adalah anugerah bagi semesta... hujan adalah tanda cinta dari langit kepada makhluk di bumi.”
Aku mengernyitkan dahi, menghirup aroma nikmatnya kopi panas sembari memperhatikan wajah Ayah. Beliau tersenyum manis atas kepolosanku. Dan anugerah dari langit itu semakin deras menghujam ke bumi tanpa ampun, diiringi gemuruh genderang langit yang berpadu cahaya di ufuk Barat.
Ayah memandangku tenang, lebih teduh dari biasanya. “Kau tahu nak... hujan adalah tanda cinta dari semesta untuk kita. Seperti hujan... cinta adalah ketulusan untuk memberi. Cinta adalah energi luar biasa untuk memberikan seluruh yang ada bersama ketulusan.”
Ayah memegang kedua bahuku pelan, meremasnya sembari melayangkan senyuman. “Sebagaimana cinta... maka ia adalah kekuatan untuk memberi. Ibumu pernah mengatakan hal ini kepada Ayah,” Ayah menyapu pelan bulir air mata hangat yang mengalir, “Ibarat hujan yang memberikan keteduhan, hujan yang membawa kesuburan bagi tanaman kita dan semuanya. Darinya... tumbuh berbagai macam tanaman yang bisa dimanfaatkan. Darinya... kita belajar tentang cinta yang tak terbatas. Cinta adalah energi untuk berbagi kepada semuanya. Hujan tidak pandang bulu... tanah... batu... hewan... tumbuhan.... dan bahkan manusia beroleh manfaatnya.”
“Tapi Ayah...,” aku sedikit menunduk hingga beradu pandang dengan Ayah kembali, “Bukankah hujan yang banyak pun membawa bencana... banjir...?!”
Ayah menarik nafas agak panjang, “Ya... nak... sebagaimana cinta. Jika ia terlalu besar dan tidak diarahkan kepada yang benar maka ia hanya membawa petaka dalam kehidupan. Cinta bisa menghancurkan keharmonisan hubungan antar manusia dengan manusia... serta manusia dengan alam. Jika cinta itu bermakna memberi... maka ia tidak akan mengambil terlalu banyak dari bukti cinta yang alam berikan.”
Ayah mengalihkan pandangan ke ufuk Barat yang mulai berhenti bergemuruh, “Jika kita memiliki cinta yang besar... maka bagilah ia kepada semesta... berikan pada setiap manusia... sempurnakan dengan kebaikan yang ada pada cinta. Karena cinta yang besar pun bisa menghancurkan. Nak...,” Ayah kembali memandangku, “Pastikan... hanya cinta kepada Sang Maha Menciptakan cinta yang lebih besar dari segalanya. Karena cinta kepada dunia hanya akan menghancurkan hidup kita... cinta dunia yang akan menghancurkan hubungan sesama manusia.”
Aku mengangguk. Ayah selalu begitu, tenang dan meneduhkan. Untaian kalimat hikmahnya ibarat Luqman yang tengah menasehati anaknya. Seakan menemukan sosok ayah sejati yang selalu menjaga anak-anaknya untuk terus dalam kebaikan. Ayah memang seperti itu. Tidak ada yang berubah sejak Ibu kembali kehadirat-Nya. Kami mencintaimu Ayah dan akan mengikuti semua nasihat-nasihat kebaikanmu. Segalanya terpatri dalam hati.
*****
Sudah lebih dua tahun lamanya aku tak bertemu Ayah. Terpisah jarak dan waktu, meski sesekali suara beliau begitu hangat menyapa telinga. Dan hujan masih membasahi bumi, seiring bergulirnya waktu. Hari-hari terus berganti dan hujan terus membasahi bumi. Segala waktu yang terlewati selalu menjadi pelajaran yang berarti.
Pesan Ayah tentang hujan terus terjaga. Ya, cinta memang energi untuk memberi. Aku paham, ketika memberi bukanlah yang ada pada kita habis. Namun itu terus bertambah dan membuatku bersemangat untuk terus memberi dan berbagi. Ilmu dan cinta. Dua pesan yang Ayah berikan saat aku hendak melanjutkan kuliah ke luar kota.
‘Hujan adalah rahmat-Nya bagi semesta...,’
Aku memandang jendela yang mengembun, tangan kananku memegang foto berbingkai. Aku dan Ayah bersama kedua kakakku. Ya, dua tahun sudah aku berpisah karena tugas luar pulau. Jauh dari Ayah menjadi hal yang tersulit. Tidak banyak lagi kalimat hikmah yang beliau sampaikan untukku dan juga kami bertiga. Tapi pesan Ayah tak pernah kulupa dan kehadiran si kecil Wahyu serta bidadari hati, Rena, adalah tanda cinta Sang Maha Menciptakan cinta untukku.
Dua jam sudah langit kelabu. Mengisi seluruh pandanganku, lamunanku serta waktu istirahatku. Aku selalu menunggu saat-saat seperti ini. Menikmati hujan dari balik jendela.
“Mas...?”
Aku berpaling ke arah suara lembut yang menyapaku, “Iya sayang...,”
Rena memerah. Ya, kata ‘sayang’ menjadi kata yang selalu membuatnya menunduk. Aku bertemu dengannya setelah lulus dan kami memutuskan untuk berumah tangga. Dan Ayah, orang yang sudah mendukungku pertama kali untuk berumah tangga. Berbagi cinta.
“Ada telepon dari Mas Arya. Tadi nelpon kamu nggak diangkat...,”
Aku bergegas mendekati sang bidadari, melayangkan senyuman termanis yang barangkali sudah cukup bosan ia terima. Memandang cinta sang bidadari menjadi kebahagiaan tersendiri bagiku. Bidadari yang menjaga diri dan terus menjalankan ajaran agama.
“Handphoneku mati...,” aku meraih ponsel di tangan kanan istriku, “Nanti malam kita makan di luar ya...?”
Rena mengernyitkan dahinya, “Sama Wahyu...?”
Aku mengangguk. Rena duduk tenang di atas tempat tidur dan mulai membuka beberapa halaman buku.
“Assalamu’alaykum... iya mas Arya...,”
“Wa’alaykum salam... Ade... Ayah...?”
Aku berdiri tegang setelah kata ‘Ayah’ terucap. Mas Arya memang sedang libur dari kantor dan tinggal bersama Ayah. Sekaligus menjaga beliau yang sedang sakit beberapa hari ini.
“Ada apa mas...? kenapa Ayah...?”
Arya meremas-remas rambutnya, air matanya mulai meleleh. “A... aaa.... aaa... yah... meninggal!”
            ‘Innalillaahi wainna ilaihi raaji’uun...,’
“Mas... Arya...?”
‘Prak...!’
*****
Sunyi berpadu dengan sedu-sedan. Kumpulan tanah yang beberapa diantaranya dihiasi ilalang menjadi pemandangan beraroma kelabu. Ayah. Sosok tenang dan penuh hikmah itu kini sudah tenang. Tidur berdampingan bersama ibu. Makam Ayah dan Ibu berdampingan, dan kami hanya mampu menahan isak tangis. Si kecil Wahyu mengusap makam Ayah pelan, mengisyaratkan salam kehilangan.
“Ayah sudah pergi mas...,” aku menutup seluruh wajahku dengan telapak tangan.
Arya memegang bahu kananku dan Rama meremas bahu kiriku. Kelabu masih menghiasi langit semesta, tak hanya hati kami bertiga. Wajah Arya dan Rama sangat mirip Ayah dan aku mewarisi wajah Ibu. Bagi bertiga kehilangan dua sosok penuh hikmah dan juga cinta, seakan langit pun hendak menangis dari tanda-tanda gemuruhnya yang mulai tertabuh.
Arya terduduk, memandang wajah sayuku. “De... ingat-ingat pesan Ayah untuk kita semua,”
“Bersyukur kita dilahirkan oleh kedua orang tua yang mengajari kita tentang cinta,” Rama memandang teduh dua batu nisan di depannya, “Seperti hujan yang akan turun... cinta adalah energi atau kekuatan untuk memberi secara tulus,”
Aku mengangguk, tak terasa air mata pu mengalir. Cepat kuusap agar tak jatuh ke bumi. Biarlah hujan yang kelak menjadi peneduh serta pembawa kebaikan bagi semesta. Tanda cinta-Nya yang tak bertepi, tanda rahmat-Nya yang seharusnya membuat manusia semakin bersyukur. Ayah telah pergi menyusul Ibu, namun hujan akan terus turun dan membasahi bumi.
               ‘Hujan akan terus memberikan tanda cinta bagi semesta.’

PULANGLAH KALIAN!!!

           Ah, rasanya ingin bertukar peran dengan mereka. Dengung kebisingan bantaran kali Ciliwung hanya mampu mencekik gila kami berdua.
‘Tak-tok... tak-tok... tak-tok...,’
‘Fuih... hmm...,’
Kau tahu, kami sebenarnya membenci pekerjaan berkuman ini. Bukan karena terpaksa, bukan pula karena tidak ada lagi pekerjaan. Kami dipecat. Hingga akhirnya kumpulan botol bekas air mineral mampu menghidupi kami yang mampu tinggal di bangunan super sederhana. Ruangan 3 x 4 meter. Huh, kami tak bisa pulang ke rumah. Bukan karena malu, karena tak berani menjadi maling agar bisa sampai ke Sijunjung yang jauh di mata.
Orang-orang di sekitar kami selalu tertawa. Entah sedang menertawakan nasib kami, ataukah tawa mereka hanya sekedar melepas penat kehidupan gila ‘para penjilat’ di gedung mewah sana. Jakarta semakin bobrok saja dari tahun ke tahun. Tak ada peubahan yang dijanjikan. Hanya omong kosong. Rasanya kami puas apabila melihat mereka terjun bebas ke neraka meskipun kami sendiri tak tahu apakah bergabung dengan mereka atau tidaknya nanti.
‘Ngung... ngung... nguuuuung...’
‘Ceplak... teplok... ceplak... teplak!!!’
Bisa-bisa darah kami yang kurus-kering ini habis disedot oleh mereka. Sementara lingkaran hijau tipis itu semakin membuat dada kami sesak. Fuh... tampaknya kami perlu berganti ke lotion anti nyamuk saja agar baunya ikut nimbrung menemani kegelapan dingin ini.
Tapi kami berdua beruntung. Setidaknya mampu bertahan selama lima tahun sebagai pengumpul botol bekas, kardus bekas, dan bekas-bekas lainnya, kecuali bekas manusia. Hiiyyy... pekerjaan ini meskipun tidak menguntungkan namun masih membuat kami sebagai penabung. Dan pada akhirnya celoteh-celoteh bandar yang selalu menakar hasil sehari-hari kami selalu menggiring telinga tipis kami ke alam kenestapaan hidup.
Orang tua yang menjadi bandar sekaligus pemimpin kami punya nasib yang sama. Meskipun lebih beruntung. Berteman para preman dan juga kedua putra jeniusnya berhasil menggiring ratusan PHK pabrik yang selalu mengepulkan asap hitam dan terkadang putih di posisi matahari terbit sana.
‘Huh... kalau saja aku menjadi petani. Pasti kulamar Ratih dan punya dua anak hari ini.’
‘Aku ingin pulang... aku ingin pulang,’
Ya, kalimat-kalimat penyesalan, ini dan itu terus menggerogoti malam bagi Akbar dan Fauzan. Bagaimana tidak...? tawaran kerja tujuh tahun yang lalu setelah lulus SMA membuat keduanya buta akan kemampuan sesungguhnya. Gelar sarjana pertanian yang bisa saja diembat sirna begitu saja. Si ‘banci’ itu berhasil mengotori masa depan keduanya. Perawakan tegap Akbar tetap saja menyimpan kedunguan. Kecerdasan Fauzan apalagi. Pundi-pundi uang dari pabrik di belahan matahari terbit sana memakan habis kejernihan otaknya. Nasib.
“Ah... makin lama kupikir tentang banci itu, kurapan juga aku nantinya.”
“Zan... mau kau sebut si Padlun itu banci... tetap saja tak mampu membuat kita pulang ke Sijunjung. Aku rindu amak dan adik-adik... apalagi pusaran ayah,”
Akbar tertunduk, “Hmm... tidurlah cepat-cepat, besok kita akan bertemu kembali pak tua Sitompul itu.”
“Ya... berdo’a dulu kita,”
“Tuhan... tak perlu kau buat aku kaya, tapi buatlah kami berdua bisa pulang ke gadang...,”
“Ah kau... masih sempat pula bercanda sama Tuhan,”
Hahaha...,
Sarung dengan motif garis-garis warna putih berhasil membuat Akbar terlelap. Kedua telapak tangan Fauzan masih belum mampu mengusir nyamuk-nyamuk genit dari kulit sawo matangnya. Malam ini indah. Ya, seindah aliran Sungai Ciliwung dengan sampah-sampahnya.
*****
“Akbar... Fauzan... nih!”
Tangan kanan orang tua bernama Sitompul itu memberikan segepok lembaran ribuan serta puluhan ribu untuk dibagikan kepada barisan prajurit setia di depannya. Ya, setiap pukul empat sore sudah menjadi kebiasaannya menagih hasil alam prajuritnya dari tumpukan barang usang ataupun gunungan sampah agar diolah menjadi barang jadi oleh kedua anaknya yang cerdas. Bergelar sarjanakah keduanya....? ya, setidaknya mampu untuk menciptakan kreasi dengan memakai nama palsu sesuai dengan KTP setelah mampu melunakkan sang pembuat dengan amplop warna coklat.
“Kau sepertinya bosan Zan, benar...?”
“Adalah pak... aku sudah lima tahun sejak kau bawa kesini. Dan tak mungkin jadi orang kaya. Aku ingin pulang...,”
‘Puk... puk... puk...,’
“Ah kau ini Zan... masih pula memikirkan yang semalam,” geleng-geleng kepala pula akhirnya si Akbar, sambil memperhatikan kedua tangan Fauzan yang menggeser-geser uang bergambar pattimura.
Pak Sitompul hanya mampu tersenyum sampai akhirnya berhasil membagikan ‘sedekah’ hasil keringat kepada para prajuritnya yang sudah bekerja keras dengan ikhlas.
“Sudah puluhan orang aku usir atau pulangkan dari tempat yang aku sebut benteng ini,” tangan kanan pak Sitompul meraih secangkir kopi, “Hmm... apa keputusan kau sudah bulat?”
Fauzan hanya mampu mengangguk, Akbar tak mau kalah dengan teman satu kontrakan kumuhnya.
“Pabrik di letak matahari terbit sana adalah surga sekaligus neraka dunia buatku,” kembali meraih secangkir kopi panas dan meneguknya tiga kali. Fauzan dan Akbar duduk tenang di atas kursi plastik berwarna hijau.
“Setidaknya selama sepuluh tahun setelah perceraian aku pasti jatuh miskin. Tapi... begitulah Tuhan membuatku miskin tetapi senang dengan tinggal bersama kalian disini.”
Secangkir kopi itu pun habis, pak Sitompul menatap dalam-dalam kedua prajuritnya.
“Tiga pantangan lelaki semua kulanggar... harta... tahta... wanita...,” memandang ke arah tumpukan kardus bekas yang dicatat oleh kedua anaknya, “segala jerih payah untuk membangun pabrik itu musnah begitu saja karena ketiganya. Tiga puluh tahun itu membuatku tersadar. Ya, aku pun membawa kedua anakku yang berhasil kuhindarkan dari tabi’at nista inu mereka.”
“Kelainan seksual,” setengah berbisik, memandang tumpukan kardus di sudut Timur, “Aku tertipu kawanku sendiri sehingga mereka mengudetaku dari pabrik... pabrik itu hanya mampu kutatap dari kejauhan. Aku pun tertipu oleh jabatan walikota yang berhasil kuraih dari segepok uang melalui partai. Dan terakhir... aku mendapati istriku tengah bermain mesra di atas ranjang dengan perempuan berambut panjang. Ah... kalau kuingat apa yang terjadi waktu itu rasanya aku mau muntah. Tak puas rasanya dia dengan servisku yang telah membuatnya dua kali bunting.
‘Bug...!!!’
Telapak tangan pak Sitompul tak mampu menahan emosi jiwa. Akbar dan Fauzan hanya mampu menatap dalam-dalam sang atasan. Dia pulalah yang akhirnya berhasil membawa keduanya berada disini untuk bertahan hidup. Dan ajaib, seluruh orang yang boleh dikatakan pemulung disini adalah para PHK dari pabrik di belahan matahari terbit sana. Pabrik yang seenaknya membuang limbah dan dibiarkan oleh pemerintah setempat karena segepok uang. Sungai Ciliwung tak ubahnya racun mematikan yang tidak hanya menghadiahi banjir di musim penghujan.
Pak Sitompul menatap tajam kedua prajuritnya, sesaat beliau tersenyum.
“Dari Sijunjung kah kalian?”
Akbar dan Fauzan mengangguk pelan.
“Bawalah ini, besok... kau kosongkan kamar 3 x 4 itu. Kemarin baru saja kudapat dua orang pengganti.” Sebuah amplop berwarna coklat menghampiri kedua prajurit yang masih memanggul keranjang coklat berkuman itu.
“Ini...,”
“Sudahlah... pulanglah kalian sana dan jadi orang yang benar!”
“Siap komandan!!!” kaki keduanya berlalu. Sementara sang komandan tua, pak Sitompul hanya mampu menahan tangis bahagianya.
*****
          Bus HZN berwarna biru muda itu berhasil membawa kedua prajurit pulang. Awan tersenyum setelah sebelumnya patahan dan liukan jalan bukit mencoba menahan rasa ingin tertawa. Perjalanan tiga hari dua malam itu sedikit membuat ambeien Akbar kambuh. Ya, ini adalah perjalanan kedua setelah tujuh tahun yang lalu. Jakarta telah berlalu, lima tahun bersama pak Sitompul yang membekas indah.
‘Bruk... bruk...!!!’
‘Ah...!!!’
Tas keduanya tak mampu menahan gravitasi. Keramaian kaki-kaki di Pasar Sijunjung menghiasi mata keduanya yang telah ditinggalkan selama tujuh tahun. Kedua telapak tangan mereka bersiap membentuk TOA, menarik nafas sejenak untuk memekikkan teriakan dari suara dada.
            “Sijunjung... kami datang!!!”