Rabu, 07 Januari 2015

PULANGLAH KALIAN!!!

           Ah, rasanya ingin bertukar peran dengan mereka. Dengung kebisingan bantaran kali Ciliwung hanya mampu mencekik gila kami berdua.
‘Tak-tok... tak-tok... tak-tok...,’
‘Fuih... hmm...,’
Kau tahu, kami sebenarnya membenci pekerjaan berkuman ini. Bukan karena terpaksa, bukan pula karena tidak ada lagi pekerjaan. Kami dipecat. Hingga akhirnya kumpulan botol bekas air mineral mampu menghidupi kami yang mampu tinggal di bangunan super sederhana. Ruangan 3 x 4 meter. Huh, kami tak bisa pulang ke rumah. Bukan karena malu, karena tak berani menjadi maling agar bisa sampai ke Sijunjung yang jauh di mata.
Orang-orang di sekitar kami selalu tertawa. Entah sedang menertawakan nasib kami, ataukah tawa mereka hanya sekedar melepas penat kehidupan gila ‘para penjilat’ di gedung mewah sana. Jakarta semakin bobrok saja dari tahun ke tahun. Tak ada peubahan yang dijanjikan. Hanya omong kosong. Rasanya kami puas apabila melihat mereka terjun bebas ke neraka meskipun kami sendiri tak tahu apakah bergabung dengan mereka atau tidaknya nanti.
‘Ngung... ngung... nguuuuung...’
‘Ceplak... teplok... ceplak... teplak!!!’
Bisa-bisa darah kami yang kurus-kering ini habis disedot oleh mereka. Sementara lingkaran hijau tipis itu semakin membuat dada kami sesak. Fuh... tampaknya kami perlu berganti ke lotion anti nyamuk saja agar baunya ikut nimbrung menemani kegelapan dingin ini.
Tapi kami berdua beruntung. Setidaknya mampu bertahan selama lima tahun sebagai pengumpul botol bekas, kardus bekas, dan bekas-bekas lainnya, kecuali bekas manusia. Hiiyyy... pekerjaan ini meskipun tidak menguntungkan namun masih membuat kami sebagai penabung. Dan pada akhirnya celoteh-celoteh bandar yang selalu menakar hasil sehari-hari kami selalu menggiring telinga tipis kami ke alam kenestapaan hidup.
Orang tua yang menjadi bandar sekaligus pemimpin kami punya nasib yang sama. Meskipun lebih beruntung. Berteman para preman dan juga kedua putra jeniusnya berhasil menggiring ratusan PHK pabrik yang selalu mengepulkan asap hitam dan terkadang putih di posisi matahari terbit sana.
‘Huh... kalau saja aku menjadi petani. Pasti kulamar Ratih dan punya dua anak hari ini.’
‘Aku ingin pulang... aku ingin pulang,’
Ya, kalimat-kalimat penyesalan, ini dan itu terus menggerogoti malam bagi Akbar dan Fauzan. Bagaimana tidak...? tawaran kerja tujuh tahun yang lalu setelah lulus SMA membuat keduanya buta akan kemampuan sesungguhnya. Gelar sarjana pertanian yang bisa saja diembat sirna begitu saja. Si ‘banci’ itu berhasil mengotori masa depan keduanya. Perawakan tegap Akbar tetap saja menyimpan kedunguan. Kecerdasan Fauzan apalagi. Pundi-pundi uang dari pabrik di belahan matahari terbit sana memakan habis kejernihan otaknya. Nasib.
“Ah... makin lama kupikir tentang banci itu, kurapan juga aku nantinya.”
“Zan... mau kau sebut si Padlun itu banci... tetap saja tak mampu membuat kita pulang ke Sijunjung. Aku rindu amak dan adik-adik... apalagi pusaran ayah,”
Akbar tertunduk, “Hmm... tidurlah cepat-cepat, besok kita akan bertemu kembali pak tua Sitompul itu.”
“Ya... berdo’a dulu kita,”
“Tuhan... tak perlu kau buat aku kaya, tapi buatlah kami berdua bisa pulang ke gadang...,”
“Ah kau... masih sempat pula bercanda sama Tuhan,”
Hahaha...,
Sarung dengan motif garis-garis warna putih berhasil membuat Akbar terlelap. Kedua telapak tangan Fauzan masih belum mampu mengusir nyamuk-nyamuk genit dari kulit sawo matangnya. Malam ini indah. Ya, seindah aliran Sungai Ciliwung dengan sampah-sampahnya.
*****
“Akbar... Fauzan... nih!”
Tangan kanan orang tua bernama Sitompul itu memberikan segepok lembaran ribuan serta puluhan ribu untuk dibagikan kepada barisan prajurit setia di depannya. Ya, setiap pukul empat sore sudah menjadi kebiasaannya menagih hasil alam prajuritnya dari tumpukan barang usang ataupun gunungan sampah agar diolah menjadi barang jadi oleh kedua anaknya yang cerdas. Bergelar sarjanakah keduanya....? ya, setidaknya mampu untuk menciptakan kreasi dengan memakai nama palsu sesuai dengan KTP setelah mampu melunakkan sang pembuat dengan amplop warna coklat.
“Kau sepertinya bosan Zan, benar...?”
“Adalah pak... aku sudah lima tahun sejak kau bawa kesini. Dan tak mungkin jadi orang kaya. Aku ingin pulang...,”
‘Puk... puk... puk...,’
“Ah kau ini Zan... masih pula memikirkan yang semalam,” geleng-geleng kepala pula akhirnya si Akbar, sambil memperhatikan kedua tangan Fauzan yang menggeser-geser uang bergambar pattimura.
Pak Sitompul hanya mampu tersenyum sampai akhirnya berhasil membagikan ‘sedekah’ hasil keringat kepada para prajuritnya yang sudah bekerja keras dengan ikhlas.
“Sudah puluhan orang aku usir atau pulangkan dari tempat yang aku sebut benteng ini,” tangan kanan pak Sitompul meraih secangkir kopi, “Hmm... apa keputusan kau sudah bulat?”
Fauzan hanya mampu mengangguk, Akbar tak mau kalah dengan teman satu kontrakan kumuhnya.
“Pabrik di letak matahari terbit sana adalah surga sekaligus neraka dunia buatku,” kembali meraih secangkir kopi panas dan meneguknya tiga kali. Fauzan dan Akbar duduk tenang di atas kursi plastik berwarna hijau.
“Setidaknya selama sepuluh tahun setelah perceraian aku pasti jatuh miskin. Tapi... begitulah Tuhan membuatku miskin tetapi senang dengan tinggal bersama kalian disini.”
Secangkir kopi itu pun habis, pak Sitompul menatap dalam-dalam kedua prajuritnya.
“Tiga pantangan lelaki semua kulanggar... harta... tahta... wanita...,” memandang ke arah tumpukan kardus bekas yang dicatat oleh kedua anaknya, “segala jerih payah untuk membangun pabrik itu musnah begitu saja karena ketiganya. Tiga puluh tahun itu membuatku tersadar. Ya, aku pun membawa kedua anakku yang berhasil kuhindarkan dari tabi’at nista inu mereka.”
“Kelainan seksual,” setengah berbisik, memandang tumpukan kardus di sudut Timur, “Aku tertipu kawanku sendiri sehingga mereka mengudetaku dari pabrik... pabrik itu hanya mampu kutatap dari kejauhan. Aku pun tertipu oleh jabatan walikota yang berhasil kuraih dari segepok uang melalui partai. Dan terakhir... aku mendapati istriku tengah bermain mesra di atas ranjang dengan perempuan berambut panjang. Ah... kalau kuingat apa yang terjadi waktu itu rasanya aku mau muntah. Tak puas rasanya dia dengan servisku yang telah membuatnya dua kali bunting.
‘Bug...!!!’
Telapak tangan pak Sitompul tak mampu menahan emosi jiwa. Akbar dan Fauzan hanya mampu menatap dalam-dalam sang atasan. Dia pulalah yang akhirnya berhasil membawa keduanya berada disini untuk bertahan hidup. Dan ajaib, seluruh orang yang boleh dikatakan pemulung disini adalah para PHK dari pabrik di belahan matahari terbit sana. Pabrik yang seenaknya membuang limbah dan dibiarkan oleh pemerintah setempat karena segepok uang. Sungai Ciliwung tak ubahnya racun mematikan yang tidak hanya menghadiahi banjir di musim penghujan.
Pak Sitompul menatap tajam kedua prajuritnya, sesaat beliau tersenyum.
“Dari Sijunjung kah kalian?”
Akbar dan Fauzan mengangguk pelan.
“Bawalah ini, besok... kau kosongkan kamar 3 x 4 itu. Kemarin baru saja kudapat dua orang pengganti.” Sebuah amplop berwarna coklat menghampiri kedua prajurit yang masih memanggul keranjang coklat berkuman itu.
“Ini...,”
“Sudahlah... pulanglah kalian sana dan jadi orang yang benar!”
“Siap komandan!!!” kaki keduanya berlalu. Sementara sang komandan tua, pak Sitompul hanya mampu menahan tangis bahagianya.
*****
          Bus HZN berwarna biru muda itu berhasil membawa kedua prajurit pulang. Awan tersenyum setelah sebelumnya patahan dan liukan jalan bukit mencoba menahan rasa ingin tertawa. Perjalanan tiga hari dua malam itu sedikit membuat ambeien Akbar kambuh. Ya, ini adalah perjalanan kedua setelah tujuh tahun yang lalu. Jakarta telah berlalu, lima tahun bersama pak Sitompul yang membekas indah.
‘Bruk... bruk...!!!’
‘Ah...!!!’
Tas keduanya tak mampu menahan gravitasi. Keramaian kaki-kaki di Pasar Sijunjung menghiasi mata keduanya yang telah ditinggalkan selama tujuh tahun. Kedua telapak tangan mereka bersiap membentuk TOA, menarik nafas sejenak untuk memekikkan teriakan dari suara dada.
            “Sijunjung... kami datang!!!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar