Jumat, 19 Oktober 2012

Hidup Sederhana

Islam mengajarkan kita agar hidup sederhana. Dengan hidup sederhana, kita selalu akan merasa cukup, bahagia, dan bersyukur kepada Allah. Sebaliknya Allah melarang kita untuk hidup mewah dan boros.

”Bermegah-megahan telah melalaikan kamu” [At Takatsuur:1]

”Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” [Al Israa’:26-27]

Allah menyebut orang-orang yang mewah sebagai lalai dan masuk neraka. Allah menyebut orang-orang yang boros dan menghamburkan harta untuk kepentingan pribadi secara berlebihan sebagai “SAUDARA SETAN”. Mengapa? Ini karena orang yang boros biasanya akan berlaku zalim. Meski pendapatan besar, karena boros, dia akan selalu merasa kurang. Dia akan mencuri, merampok, korupsi dan sebagainya untuk membiayai gaya hidupnya yang boros itu.

Tak heran jika ada satu pejabat yang lembaganya dikenal sebagai satu lembaga terkorup berkata: “Siapa sih yang gajinya cukup untuk hidup?” Begitu katanya. Padahal selain punya rumah dan mobil mewah, pejabat itu juga punya sepeda motor Harley Davidson yang amat mahal.

Sebaliknya, seorang poisi yang jujur, pak Bibit berkata: “Besar kecil gaji itu relatif. Kalau kita makan di restoran hotel, seminggu juga sudah habis. Tapi kalau sekedar makan nasi kecap dengan lauk tempe, 2 bulan juga masih cukup”. Jadi hiduplah sederhana. Belajar bersikap Zuhud (tidak tamak pada dunia) dan Qana’ah (merasa cukup atas apa yang ada).

Inilah kesederhanaan Nabi. Jika mau, beliau bisa hidup mewah seperti Kaisar Romawi dan Kisra Persia. Tapi beliau tidak mau melakukan itu. Sebagian besar hartanya diberikan untuk ummatnya. Ulama sbg Pewaris Nabi harusnya mewarisi sikap Nabi seperti ini:

Dari Abu Musaal-Asy’ari r.a., katanya: “Aisyah ra mengeluarkan untuk kita -maksudnya agar kita dapat melihatnya- sebuah baju dan sarung kasar, lalu ia berkata: “Rasulullah s.a.w. dicabut ruhnya sewaktu mengenakan kedua pakaian ini.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ya Allah, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad ini makanan sekadar menutup kelaparan.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari Anas r.a., katanya: “Nabi s.a.w. itu tidak pernah makan di atas meja sehingga beliau wafat, juga tidak pernah makan roti yang diperhaluskan buatannya sehingga beliau wafat.” (Riwayat Bukhari)

Dari Aisyah ra, katanya: “Tidak pernah kenyang keluarga Muhammad s.a.w. itu dari roti gandum selama dua hari terus menerus, keadaan sedemikian ini sampai beliau s.a.w. dicabut ruhnya.” (Muttafaq ‘alaih)

Selama 2 bulan dapur keluarga Nabi Muhammad tidak “ngebul”. Cuma makan kurma dan air belaka…

Dari Urwah dari Aisyah ra, bahwasanya Aisyah pernah berkata: “Demi Allah, hai anak saudaraku, sesungguhnya kita melihat ke bulan sabit, kemudian timbul pula bulan sabit, kemudian timbul pula bulan sabit. Jadi tiga bulan sabit yang berarti dalam dua bulan lamanya, sedang di rumah-rumah keluarga Rasulullah s.a.w. tidak pernah ada nyala api.” Saya -yakni Urwah- berkata: “Hai bibi, maka apakah yang dapat menghidupkan Anda sekalian?” Aisyah ra menjawab: “Dua benda hitam, yaitu kurma dan air belaka, hanya saja Rasulullah s.a.w. mempunyai beberapa tetangga dari kaum Anshar, mereka itu mempunyai beberapa ekor unta manihah, lalu mereka kirimkanlah air susunya itu kepada Rasulullah s.a.w. kemudian memberikan minuman itu kepada kita.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari Said al-Maqburi dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ia berjalan melalui kaum yang di hadapan mereka itu ada seekor kambing yang sedang dipanggang. Mereka memanggilnya, tetapi ia enggan untuk ikut memakannya dan ia berkata: “Rasulullah s.a.w. keluar dari dunia -yakni wafat- dan tidak pernah kenyang dari roti gandum.” (Riwayat Bukhari)

Dari an-Nu’man bin Basyir ra, katanya: “Sungguh-sungguh saya pernah melihat Nabimu s.a.w. dan beliau tidak mendapatkan kurma bermutu rendahpun yang dapat digunakan untuk mengisi perutnya.” (Riwayat Muslim) Daqal adalah kurma yang bermutu rendah.

Dari Sahal bin Sa’ad r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. tidak pernah melihat roti putih sama sekali sejak beliau di utus oleh Allah Ta’ala sehingga dicabut ruhnya oleh Allah Ta’ala. Kepada Sahal ini ditanyakan: “Apakah di zaman Rasulullah s.a.w. itu engkau semua tidak mempunyai alat pengayak?” Ia menjawab: “Rasulullah s.a.w. tidak pernah melihat alat pengayak itu sejak beliau diutus oleh Allah Ta’ala sehingga dicabut ruhnya oleh Allah Ta’ala.” Kepadanya ditanyakan lagi: “Bagaimana caranya engkau semua makan gandum kalau tidak diayak?” Ia menjawab: “Kita semua menumbuknya dan meniupkannya, kemudian beterbanganlah benda-benda yang dapat terbang daripadanya itu lalu mana yang tertinggal, maka itulah yang kami basahi untuk dijadikan adukan tepung -untuk membuat roti.” (Riwayat Bukhari) Ucapannya Annaqi dengan fathahnya nun dan kasrahnya qaf serta syaddahnya ya’ yaitu roti yang berwarna putih dan itulah yang disebut darmak.
Tsarrainahu dengan tsa’ mutsallatsah kemudian ra’ musyaddadah lalu ya’ mutsannat di bawahnya, lalu nun, artinya kita basahi dan kita jadikan adukan tepung -guna membuat roti.

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. pada suatu hari atau suatu malam keluar, kemudian tiba-tiba bertemu dengan Abu Bakar dan Umar ra, lalu beliau bertanya: “Apakah yang menyebabkan engkau berdua keluar ini?” Keduanya menjawab: “Karena lapar ya Rasulullah.” Beliau lalu bersabda: “Adapun saya, demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggaman kekuasaanNya, sesungguhnya yang menyebabkan saya keluar ini adalah sesuatu yang juga menyebabkan engkau berdua keluar itu -yakni sama-sama lapar-, Ayolah pergi.” Keduanya pergi bersama beliau s.a.w., lalu mendatangi seorang lelaki dari kaum Anshar, tiba-tiba lelaki itu tidak sedang di rumahnya. Ketika istrinya melihat Nabi s.a.w., lalu berkata: Marhaban wa ahlan. Selamat datang di rumah ini dan harap mendapatkan keluarga yang baik. Rasulullah s.a.w. lalu bertanya: “Di mana Fulan -suamimu?” Istrinya menjawab: “Ia pergi mencari air tawar untuk kita.” Tiba-tiba di saat itu orang Anshar
-suaminya itu- datang. Ia melihat kepada Rasulullah s.a.w. dan kedua orang sahabatnya, kemudian berkata: “Alhamdulillah. Tiada seorangpun yang pada hari ini mempunyai tamu-tamu yang lebih mulia daripada saya sendiri. Orang itu lalu pergi kemudian datang lagi menemui tamu-tamunya itu dengan membawa sebuah batang kurma -berlobang- berisikan kurma berwarna, kurma kering dan kurma basah. Iapun berkata: “Silahkanlah makan.” Selanjutnya ia mengambil pisau, lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jangan menyembelih yang mengandung air susu.” Orang Anshar itu lalu menyembelih untuk tamu-tamunya itu, kemudian mereka makan kambing itu, juga kurma dari batang kurma tadi serta minum pulalah mereka. Setelah semuanya itu kenyang dan segar -tidak kehausan- lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: “Demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggaman kekuasaanNya, sesungguhnya engkau semua akan ditanya dari kenikmatan yang engkau semua rasakan ini pada hari kiamat. Engkau semua
dikeluarkan dari rumahmu oleh kelaparan. Kemudian engkau semua tidak kembali sehingga engkau semua memperoleh kenikmatan ini.” (Riwayat Muslim) Ucapannya yasta’dzibu artinya mencari air tawar dan itulah air yang bagus. Al-’izdqu dengan kasrahnya ‘ain dan sukunnya dzal mu’jamah, yaitu batang atau dahan -kurma dan lain-lain. Almudyatu dengan dhammahnya mim atau boleh pula dikasrahkan, yaitu pisau. Alhalub ialah binatang yang berisikan susu dalam teteknya. Pertanyaan mengenai kenikmatan ini adalah pertanyaan tentang banyak jumlahnya kenikmatan, bukan pertanyaan sebagai olok-olok dan penyiksaan. Wallahu a’lam. Adapun orang Anshar yang didatangi oleh Rasulullah s.a.w. serta kedua orang sahabatnya itu ialah Abul Haitsam bin at-Taihan. Demikianlah dalam sebuah Hadis yang dijelaskan menurut riwayat Tirmidzi dan lain-lain.

Dari Sa’ad bin Abu Waqqash r.a., katanya: “Sesungguhnya saya itu pertama-tama orang Arab yang melempar dengan panahnya -untuk- fisabilillah. Kita semua waktu itu berperang beserta Rasulullah s.a.w. dan kita tidak mempunyai makanan sedikitpun melainkan daun pohon hublah dan daun pohon samurini, sehingga seorang dari kita itu sesungguhnya mengeluarkan kotoran besar sebagaimana keadaan kambing kalau mengeluarkan kotoran besarnya dan tidak dapat bercampur dengan lainnya -yakni bulat-bulat serta kering, karena tidak ada yang dimakan.” (Muttafaq ‘alaih) Alhublah dengan dhammahnya ha’ dan sukunnya ba’ muwah-hadah, juga samur adalah dua macam pohon-pohonan yang terkenal di daerah badiah yakni tanah Arab bagian pedalaman.

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Demi Zat yang tiada Tuhan melainkan Dia, sesungguhnya bahwa saya menyandarkan hatiku ke bumi karena kelaparan dan sesungguhnya pula bahwa saya mengikatkan batu pada perut saya karena kelaparan. Sebenarnya saya pernah duduk-duduk pada suatu hari di jalanan orang-orang yang sama keluar melalui jalanan itu -untuk mencari nafkahnya masing-masing. Kemudian Nabi s.a.w. berjalan melalui tempat saya dan beliau tersenyum ketika melihat saya, karena mengetahui keadaan dan hal ihwal yang ada dalam wajahku dan diriku, kemudian beliau bersabda: “Abu Hir.” Saya menjawab: “Labbaik ya Rasulullah.” Beliau bersabda lagi: “Mari ikut,” dan beliau terus berlalu dan saya mengikutinya. Selanjutnya beliau masuklah di rumah keluarganya, saya mohon izin lalu beliau mengizinkan masuk untukku. Sayapun masuklah, di situ beliau menemukan susu dalam gelas. Beliau bertanya: “Dari manakah susu ini?” Keluarganya berkata: “Fulan atau
Fulanah itu menghadiahkan untuk Tuan.” Beliau bersabda: “Abu Hir.” Saya menjawab: “Labbaik ya Rasulullah.” Beliau bersabda pula: “Susullah para ahlush shuffah, lalu panggillah mereka untuk datang padaku.” Abu Hurairah berkata: “Ahlush shuffah itu adalah merupakan tamu-tamu Islam, karena tidak bertempat pada sesuatu keluarga, tidak pula berharta dan tidak berkerabat pada seorangpun. Jikalau ada sedekah -zakat- yang datang pada Nabi s.a.w. lalu sedekah -atau zakat- itu dikirimkan semuanya oleh beliau kepada mereka itu dan beliau sendiri tidak mengambil sedikitpun daripadanya, tetapi kalau beliau menerima hadiah, maka dikirimkanlah kepada orang-orang itu dan beliau sendiri mengambil sebagian daripadanya. Jadi beliau bersama-sama dengan para ahlush shuffah itu untuk menggunakannya.” Perintah Nabi s.a.w. memanggil ahlush shuffah itu tidak mengenakkan hati saya dan oleh sebab itu saya berkata: “Apa hubungannya susu ini untuk diberikan
-kepada- ahlush shuffah. Saya adalah lebih berhak untuk memperoleh susu ini dengan sekali minuman saja, agar saya dapat merasa kuat tubuhku.” Kemudian, jikalau orang-orang itu datang, Nabi s.a.w. tentu menyuruh saya agar saya memberikan itu kepada mereka. Barangkali tidak akan dapat sampai padaku -yakni bahwa saya tidak memperoleh bagian- susu itu, tetapi juga tidak ada jalan lain kecuali mentaati Allah dan mentaati RasulNya s.a.w. Oleh karena itu mereka saya datangi dan saya panggillah semuanya. Mereka menghadap dan meminta izin, lalu Nabi s.a.w. mengizinkan mereka masuk, juga sama mengambil tempat duduk sendiri-sendiri dalam rumah. Beliau lalu bersabda: “Abu Hir.” Saya menjawab: “Labbaik ya Rasulullah.” Beliau bersabda lagi: “Ambillah susu itu dan berikanlah kepada mereka.” Abu Hurairah berkata: “Saya lalu mengambil gelas, kemudian saya berikan pada seorang dulu. Ia minum sampai kenyang minumnya lalu gelas dikembalikan. Seterusnya saya
berikan kepada yang lain, ia pun minumlah sampai kenyang pula minumnya, lalu dikembalikanlah gelasnya, sehingga akhirnya sampai giliran saya memberikan itu kepada Nabi s.a.w., sedang orang-orang ahlush shuffah itu sudah puas minum semuanya. Beliau s.a.w. mengambil gelas lalu diletakkan di tangannya, kemudian beliau melihat saya dan tersenyum, kemudian bersabda: “Abu Hir.” Saya menjawab: “Labbaik ya Rasulullah.” Beliau bersabda pula: “Sekarang tinggallah saya dan engkau -yang belum minum.” Saya menjawab: “Benar Tuan, ya Rasulullah.” Beliau bersabda: “Duduklah dan minumlah.” Saya pun duduklah lalu saya minum. Beliau bersabda lagi: “Minumlah lagi.” Sayapun minumlah. Beliau tidak henti-hentinya bersabda: “Minumlah lagi,” sehingga saya berkata: “Tidak, demi Allah yang mengutus Tuan dengan benar, saya sudah tidak mendapatkan jalan lagi untuk minum itu -artinya sudah amat kenyang minumnya itu. Setelah itu beliau bersabda: “Kalau
begitu, berikanlah saya gelas itu.” Gelaspun saya berikan, kemudian beliau memuji kepada Allah Ta’ala dan membaca bismillah di permulaan minumnya lalu beliau minumlah sisanya itu.” (Riwayat Bukhari)

Dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Sesungguhnya saya pernah mengalami diriku bahwa saya jatuh tersungkur antara mimbarnya Rasulullah s.a.w. dengan biliknya Aisyah ra sampai tidak sadarkan diri. Kemudian datanglah padaku seorang yang datang, lalu ia meletakkan kakinya di atas leher saya dan ia menyangka bahwa sesungguhnya saya adalah orang gila, padahal saya tidaklah kejangkitan penyakit gila, tetapi jatuh saya tadi hanyalah karena kelaparan.” (Riwayat Bukhari)

Dari Aisyah ra, katanya: “Rasulullah s.a.w. wafat sedang baju besinya sedang digadaikan pada seorang Yahudi dengan nilai tiga puluh sha’ -gantang- dari gandum.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari Anas r.a., katanya: “Nabi s.a.w. menggadaikan baju besinya dengan gandum dan saya berjalan ke tempat Nabi s.a.w. dengan membawa roti gandum dan lemak cair yang sudah berubah keadaannya. Sungguh-sungguh saya mendengar beliau s.a.w. bersabda: “Tiada sesuatupun pada pagi-pagi ini melainkan hanya segantang untuk para keluarga Muhammad dan tidak ada untuk sore harinya nanti kecuali segantang pula.” Padahal seluruh keluarganya itu adalah sembilan rumah.” (Riwayat Bukhari)

Dari Aisyah ra, katanya: “Hamparan Rasulullah s.a.w. itu terbuat dari kulit dan isinya adalah sabut.” (Riwayat Bukhari)

Dari Imran bin al-Hushain ra dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Sebaik-baik engkau sekalian adalah orang-orang yang sekurun -semasa- denganku, kemudian yang mengikutinya -yang datang sesudahnya- kemudian orang-orang yang mengikutnya.” Imran berkata: “Saya tidak tahu, adakah Nabi s.a.w. mengucapkannya itu dua atau tiga kali.” Nabi s.a.w. selanjutnya menyabdakan: “Kemudian akan datanglah sesudah mereka itu sesuatu kaum yang menjadi saksi, tetapi tidak dapat dipercaya kesaksiannya. Mereka juga berkhianat dan tidak dapat dipercaya amanatnya, demikian pula mereka bernazar, tetapi tidak suka memenuhi nazarnya dan tampaklah kegemukan dalam tubuh mereka. -yakni gemuk yang disebabkan karena terlampau banyak makan, minum dan bersenang-senang dan bukan gemuk karena kejadiannya memang gemuk.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari Abu Umamah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Hai anak Adam, sesungguhnya jikalau engkau memberikan apa-apa yang kelebihan padamu, sebenarnya hal itu adalah lebih baik untukmu dan jikalau engkau tahan -tidak engkau berikan kepada siapapun, maka hal itu adalah menjadikan keburukan untukmu. Engkau tidak akan tercela karena adanya kecukupan -maksudnya menurut syariat engkau tidak akan dianggap salah, jikalau kehidupanmu itu dalam keadaan yang cukup dan tidak berlebih-lebihan. Lagi pula mulailah -dalam membelanjakan nafkah- kepada orang yang wajib engkau nafkahi.” Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

Dari Ubaidullah bin Mihshan al-Anshari al-Khathmi r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa diantara engkau semua telah merasa aman -dari musuhnya- dalam dirinya, sehat dalam tubuhnya, memiliki keperluan hidup -makan, minum, obat dan apa-apa yang dibutuhkan dalam kehidupannya- pada hari itu, maka ia telah dikaruniai dunia dengan keseluruhan isinya.” Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan.

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash ra bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sungguh berbahagialah orang yang masuk Agama Islam serta diberi rezeki cukup dan diberi sifat qana’ah -suka menerima- dengan apa-apa yang telah dikaruniakan oleh Allah.” (Riwayat Muslim)

Dari Abu Muhammad yaitu Fadhalah bin Ubaid al-Anshari r.a. bahwasanya ia mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Untung besarlah kehidupan seorang yang telah dikarunia petunjuk untuk memasuki Agama Islam, sedang hidupnya itu adalah dalam keadaan cukup dan pula ia bersifat qana’ah -suka menerima.” Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih.

Dari Ibnu Abbas ra, katanya: “Rasulullah s.a.w. dalam beberapa malam yang berturut-turut itu bermalam dalam keadaan terlipat -maksudnya terlipat perutnya karena lapar, sedang para keluarganya tidak mendapatkan sesuatu untuk makan malam, juga sebagian banyak roti yang dimakan itu adalah roti terbuat dari gandum.” Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

Dari Abu Karimah, yaitu al-Miqdad bin Ma’dikariba r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidaklah seorang memenuhi sesuatu wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah sebenarnya seorang itu makan beberapa suapan yang dapat mendirikan -menguatkan- tulang rusuknya. Maka jikalau makanan itu harus diisikannya, maka sepertiga hendaklah untuk makanannya dan sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk pernafasannya.” Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih.

Senin, 17 September 2012

Menghalangi Cahaya

Kadang kebenaran tak sampai pada kita meski kita sangat mengingini karena kita sendiri yang menghalanginya. Adakalanya kita membutuhkan nasihat untuk meringankan beban jiwa yang penat, tetapi kita merintangi jalannya. Kita tak mampu mencapai kearifan karena hati kita keras dan ucapan kita pedas, setiap kali mendengar saran dari kawan. Kita bereaksi dengan keras hanya karena mendengar nasihat yang disampaikan dengan lugas.

Teringat saya pada Imam al-Ghazali. Ketika berbicara tentang penyakit hati, penulis Ihya 'Ulumuddin ini berkata, "Akan tetapi, biasanya kita justru menyibukkan diri dengan mencari-cari jawaban untuk menunjukkan kepada orang lain itu bahwa ia sendiri juga menyandang cacat-cacat seperti itu. Lalu kita akan berkata kepadanya ,'Anda sendiri juga melakukan begini... dan begitu...,'. Dan sikap permusuhan seperti itu pasti menghalangi kita dari memanfaatkan nasihatnya."

Apa yang telah diperingatkan Imam al-Ghazali, rasanya sering sekali kita lakukan saat menghadapi kritikan, atau bahkan 'sekadar' saran. Ucapan ini terlahir karena kita ingin melindungi diri sendiri dari kesalahan, justru karena kita merasa tidak aman dengan kesalahan yang kita lakukan. Mengakui kesalahan sendiri memang sangat sulit, terlebih ketika kita ingin tampak sempurna di hadapan orang lain, tak terkecuali 'istri', anak, sahabat, atau tetangga. Begitu besar keinginan kita untuk tampak sempurna atau dianggap sempurna sehingga kita lupa bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Kita juga lupa bahwa orang-orang besar; orang-orang yang tercatat dalam sejarah sebagai manusia bijak, justru dikenang karena kesediaannya menerima nasihat dan teguran. Buaknkah Umar bin Khattab r.a. sering dikenang kebesarannya justru karena menerima teguran seorang perempuan tua saat Umar berbicara di depan kaumnya?

Kesediaan untuk menerima nasihat dari orang yang kedudukan sosialnya lebih rendah dari kita, justru menunjukkan kelapangan dada kita. Kelapangan dada berkait erat dengan kematangan emosi, kejernihan hati, kedalaman ilmu, dan keluasan wawasan. Sebaliknya, sikap hiperkritis terhadap orang lain --- meminjam catatan penting William D. Brooks dan Philip Emmert, keduanya pakar komunikasi --- justru menunjukkan bahwa mereka memliki citra diri yang negatif. Mereka bermasalah secara psikis sehingga sulit menanggapi saran, nasihat atau --- apalagi --- kritik dengan matang dan dewasa.

Orang yang memiliki citra diri negatif (negative self image) sangat tidak tahan kritik yang diterimanya, dan mudah marah atau naik pitam. Bagi orang ini, begitu buku Psikologi Komunikasi menjelaskan, koreksi sering kali dipersepsi sebagai usaha untuk menjatuhkan harga dirinya. Dalam komunikasi, orang yang memiliki konsep diri negatif cenderung menghindari dialog yang terbuka, dan bersikeras mempertahankan pendapatnya dengan berbagai justifikasi atau logika yang keliru.

Sikap semacam ini pada akhirnya menyebabkan kita kehilangan kredibilitas di hadapan orang lain. Bahkan bisa lebih jauh lagi, orang lain menganggap kita tidak punya itikad baik. Padahal, kedua hal inilah, yakni kredibilitas dan itikad baik (good wiiling), yang akan sangat menentukan efektif atau tidaknya komunikasi kita. Begitu orang lain melihat kita tidak memiliki kredibilitas --- moral, intelektual, maupun spiritual --- dan merasa kita tidak mempunyai itikad baik, maka sulit bagi kita membangun komunikasi efektif. Kata-kata menjadi kehilangan makna.

Nah, apa yang akan terjadi kalau komunikasi efektif itu justru 'hilang' di rumah sendiri?

Agaknya, ada yang perlu kita benahi. Tentang niat kita, tentang hati kita, tentang sikap kita, dan juga tentang jiwa kita. Bukan semata demi mempertahankan kredibilitas. Tetapi, terutama untuk membuka pintu-pintu kebenaran dan kebaikan agar tidak terhalang masuk ke dalam hati kita.

Semoga Allah menolong kita.

*****

Masa pun melintas batas, teringat akan berbagai kisah nyata dalam pentas kehidupan. Ya Rabb, maafkanlah kami yang belum mengerti arti ikatan iman karena-Mu, jangan jadikan kami hamba yang mendzalimi diri sendiri atas sesuatu yang tidak mampu kami pahami. Ya Rabb, Engkaulah yang mampu membolak-balikkan hati, semoga... cahaya iman itu semakin berpendar dari lisan dan sikap kami.

Sudah lewat dari sebulan, tinggal 11 bulan lagi. Ya Allah... sampaikanlah.

Minggu, 16 September 2012

When Someone Tell His Story part 1

Mentari sangat sejuk meskipun membakar kulit para pekerja yang menjadikan lingkungan kampus asri dan berseri. Tak hijau namun cukup memberikan suplai oksigen bagi ribuan manusia yang masuk kedalamnya dalam rentang jam 7 pagi hingga berakhir pada 5 sore untuk aktivitas akademik. Ya, kehidupan kampus tak ubahnya miniatur masyarakat sebuah negara.

Aku dihadapkan pada seorang pemuda, sebut saja Hamdan. Usia beliau sama denganku, 23 tahun, bahkan beliau lebih dulu lahir sekitar lima bulan. Ya, kami cukup baik mengenal ide dan gagasan. Kami tidak banyak interaksi dalam hal dunia pendidikan yang digeluti, kecuali ada hal-hal yang bisa kami kaitkan dalam mata kuliah yang disajikan setiap dosen dalam satu semester.

'Gluk... gluk... sruput...!' Aku sudah menghabiskan minuman kotak bermerk yang digemari mahasiswa, "Hmm... ada agenda lagi?" sorot mataku cukup sayu, seperti biasanya setelah semalam aktivitas akademik mahasiswa tingkat akhir membuatku mengeluarkan sejumlah energi tambahan.

Ia hanya menggeleng, "Belum ada bang, aku bingung...," spontan aliran senyum itu menyejukkan pikiranku saat kutatap wajah diamnya menyimpan permasalahan. Dia memang memendam masalahnya, dan aku selalu berusaha membuka keran untuk membuatnya nyaman setiap kali bercerita.

"Bang...,"

Aku kembali menatap wajah Hamdan yang kali ini berbinar. Tampaknya ia sudah siap untuk berbicara panjang lebar.

"Aku lelah dengan aktivitas selama ini... aku bingung... abang yang selalu tampak ceria meskipun ada masalah tetap saja kan merasa lelah dengan keadaan yang selalu datang tanpa ada akhirnya?"

'Heh...,' Jantungku berdegup lebih dari normal, hanya kelu yang kurasa dibibir, tak banyak gerak badan meskipun berusaha untuk menggerakkan segenap tangan untuk meraih pundaknya.

"Kapan pikiran itu menghantuimu akhi...?" aku berlagak senyum tipis, meskipun sebenarnya dia tahu karena mempelajari bahasa tubuh manusia lebih banyak di bangku kuliah.

Masjid ini membuat kami berdua terdiam dalam keramaian, lalu-lalang mahasiswa yang menjabat tangan kami lalu tersenyum sudah lebih dari lima orang. Pun juga para mahasiswi berjilbab lebar-panjang maupun ketat mengucapkan salam seraya tersenyum untuk salah satu diantara kami.

"Amanah ini adalah masalah komunikasi, mungkin abang masih ingat masalahku dengannya beberapa minggu yang lalu?" Ia mendesah sesaat, kemudian menunduk sebelum akhirnya kedua bola mata kami berhadapan indah.

Aku berusaha menepuk pelan bahu kanannya, "Akhi... masalah antum hanya dirimu yang bisa menyelesaikannya. Masalah komunikasi adalah kemampuan antum untuk membuka keran permasalahan yang timbul. Ana... cukup sering mengalaminya dan tidak banyak berhasil. Antum tahu mengapa...? Karena diantara kita tidak banyak belajar untuk mendengarkan kemauan dan penjelasan. Hikmah yang Allah berikan dengan memberikan dua telinga dan satu mulut adalah agar kita... lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Antum pastinya sudah belajar mengenai ini dalam dunia kuliah antum...," Aku tersenyum tipis, termasuk dirinya yang kini berusaha membalas lebar senyumku dari kelu bibirnya.

"Allah memang hebat bang... Dia memberikan kita ujian atas apa yang kita pahami dan kuasai ataupun sesuatu yang nantinya akan dikuasai atau dipahami kita."

"Alhamdulillah...," Aku melepaskan tumpuan tangan kananku pada bahu kirinya, "Jadi... tersenyum dan ceria dalam segala hal agaknya harus jadi bagian dalam hidup kita... Laa yukallifullahu nafsan illa wush'aha... ana mencoba untuk mengamalkan salah satu penggalan ayat dalam firman-Nya. Berat... namun ana yakin bisa melaluinya," Aku menghela nafas panjang, sesekali kujawab salam dari beberapa mahasiswi berjilbab panjang-lebar yang menyapaku.

"Oh iya... tentang rencana setahun ini...?"

'Ups...,' aku buru-buru menghentikan kalimatnya, dan bukan waktunya sekarang untuk membahas masalah itu dengannya. Hari ini ia berhasil mengungkap masalahnya, dan lagi-lagi aku menemukan fenomena yang terjadi di kalangan aktivis yang memiliki 'sedikit beban' untuk memperbaiki kondisi yang ada.

*****

Kita hidup dalam takdir-Nya, sesulit apapun ujian yang dialami... akan selalu ada jalan keluar. Musibah apapun yang terjadi... selalu ada hikamh dibaliknya. Allah Maha Adil, hanya saja... kita belum menjadi hamba-Nya yang bersyukur... Fabiayyi aalaa irabbikumaa tukadzibaan...

Jumat, 14 September 2012

Forgive Me

Alhamdulillah aktivitas selama kuliah banyak mempertemukanku dengan Allah... menjadi seorang aktivis banyak sekali perjuangan dan juga kenangan yang tak mungkin terlupa. Halaqah... syuro... aksi, rapat-rapat, membida dan dibina, ta'lim, khutbah, ceramah ilmiah, orasi, kuliah... ah... rasanya sudah sangat banyakn perjalanan 'cinta' yang sudah Allah tunjukkan.

Menjadi mahasiswa sarat akan perubahan, perbaikan, mengejawantahkan beban moral dipundak mereka yang berusia diantara 18 sampai dengan 23 tahun. 5 tahun masa kuliah adalah benar apabila dipergunakan sebagai sara perbaikan, serta merancangkan garis masa depan yang semoga keberkahan menyertainya. Allah menunjukkan banyak hal tak terduga yang sama sekali diluar perhitungan. Kecerdasan berpikir, keakuratan memahami masalah, stabilitas emosi, kemampuan merangkul dan mempengaruhi. Ah... rasa masih kurang dan jauh dari harapanku sebagai Insan Pembelajar.

Aku lebih mengenal makna 'jatuh cinta', Ya... jatuh cinta yang semakin membuatku dekat dengan-Nya, dekat karena kuyakin Allah yang memberikan secara cuma-cuma fitrah itu. Kutahu... cinta itu pula yang berujung pada kesalahpahaman, agaknya... itu yang membuat hubungan ataupun ukhuwah diantara kita membeku sesaat. Ah... maafkan abangmu ini yang tidak pernah memahami adik-adiknya yang baik. Maafkan abang dik... kamu adalah pelita yang Allah ciptakan untuk dijaga kesuciannya. Subhanallah... kesalahpahaman itu semakin membuatku memahami Islam dan jalannya, hingga berkali-kali kuterasing dalam keramaian.

Do'aku lagi-lagi dikabulkan... subhanallah ditengah keterasingan... terkadang oase ukhuwah itu hadir dalam ketidak sengajaan diskusi dan tatap muka. Alhamdulillah... benar rupanya cahaya ukhuwah itu berpendar indah agar kita mencintai, saling rindu untuk bersua karena Allah SWT.

Alhamdulillah, menjadi aktivis adalah pilihan dalam hidupku. Aku banyak berjumpa dengan mereka yang berusaha istiqomah melakukan perbaikan dan kebaikan. Subhanallah... aku berada diantara kumpulan orang-orang shaleh yang saling menasihati dalam kebaikan, kesabaran, ilmu, amal serta semakin membuatku mencintai Allah, Rasul-Nya serta berjuang dijalan-Nya. Subhanallah...

Ah... aku lagi-lagi masih belum memahaminya. Maafkan aku yang mencintaimu ukhti... lagi-lagi kesalahanku yang terbesar padamu adalah kesalahpahaman atas caraku mempelajari kaum hawa. Aku tidak terlalu banyak memahami bahasa sikap, ucapan dan perasaan kalian. Maafkan aku yang pernah menyakitimu yang juga seorang aktivis. Hanya Allah dan aku saja yang mengetahuinya... aku tak pernah menyampaikan kebenaran hati ini kepada orang lain. Kecuali kebohongan yang pernah kuutarakan pada salah seorang aktivis, yang sama sepertimu. Maafkan aku ukhti... aku saat ini hanya mampu menatapmu dari jarak jauh, aku hanya mampu bergetar kala canda-tawa itu menelisik, tatap senyummu saat beberapa pertemuan itu membuatku semakin tertunduk karena iman. Maafkan aku ukhti... aku lebih tenang ketika ada pemuda yang siap menikahimu, agar hatiku yang rapuh ini terluka dengan ketenangan... maafkan kesalahpahamanku... aku tidak mungkin memilikimu karena kesalahpahaman ini, melainkan karena iman... kuharap pemuda itu adalah orang yang jauh lebih baik dariku yang tumbuh rapuh ditengah keyakinan iman. Tolong... maafkan aku...

#Jeritan hati... Alhamdulillah Engkau selalu memberikan penawar pada jiwa-jiwa yang telah memulai perjalanan menuju 'Taman-Taman Orang Yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu.'

Jatinangor, 14 September 2012.

Senin, 03 September 2012

Jimat - Jimat yang Terlarang

Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Pertanyaan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa yang dimaksud dengan Tamimah (jimat) yang mengandung unsur syirik? Dan apakah orang yang menggantungkan jimat tersebut berarti dia orang musyrik yang jenazahnya tidak boleh dishalati? Jawaban Tamimah (jimat) yang dilarang adalah jimat-jimat yang digantungkan di leher anak kecil dan orang yang sedang sakit atau selain mereka yang berupa mutiara atau merjan atau tali (rantai) atau paku atau tulang dan lain-lain. Perbuatan ini biasaa dilakukan di zaman jahiliyah. Menurut pendapat yang shahih dari para ulama, menggantungkan ayat-ayat Al-Qur'an atau do'a-do'a yang syar'i adalah termasuk jimat yang dilarang, berdasarkan keumuman hadits-hadits yang menunjukkan bahwa hal itu haram dan terlarang. Diantara hadits-hadits tersebut adalah sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam "Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat dan pengasihan adalah syirik' Dan sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam "Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka Allah tidak akan menolongnya dan barangsiapa yang menggantungkan pengasihan maka Allah akan menggagalkannya" [HR Ahmad] Dalam riwayat lain beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda. "Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka dia telah berbuat syirik" [HR Ahmad] Dan beliau juga pernah melihat seorang laki-laki yang memakai gelang dari kuningan di tangannya lalu beliau bertanya kepada orang itu. "Apa ini?" Orang itu menjawab : "Sesuatu yang bisa menundukkan (melemahkan) orang lain". Lalu beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Lepaskan gelang-gelang itu! Sesungguhnya itu hanya akan menambah kelemahanmu. Jika engkau mati dan engkau masih memakai gelang itu maka engkau tidak akan bahagia selama-lamanya". Dan hadits-hadits lain yang semakna dengan hadits di atas, semuanya menunjukkan tentang haramnya menggantungkan jimat-jimat yang terbuat dari apapun. Semua itu termasuk perkara yang haram dan syirik. Tapi bukan termasuk syirik besar apabila dia tidak meyakini bahwa jimat-jimat tersebut bisa menolak bahaya tanpa kehendak Allah. Apabila dia meyakini bahwa jimat-jimat tersebut bisa menolak bahaya tanpa kehendak Allah, maka dia telah jatuh ke dalam syirik besar (keluar dari Islam). Adapun orang yang menggantungkan jimat-jimat dan dia hanya meyakini bahwa jimat-jimat tersebut hanya sebagai sebab untuk menolak penyakit atau mengusir jin dan lain-lain maka keyakinan seperti ini adalah haram dan syirik, tapi tidak termasuk syirik besar. Yang dimaksud dengan ruqyah (jampi-jampi) yang dilarang adalah ruqyah yang memakai bahasa yang tidak diketahui maksudnya atau kalimat yang mengandung perkataan haram. Adapun jika ruqyah tersebut memakai kalimat-kalimat yang bisa dipahami dan tidak bertentangan dengan syari'at Islam, seperti dengan memakai ayat-ayat Al-Qur'an dan do'a-do'a dari Nabi atau do'a-do'a yang tidak diharamkan syari'at, maka ini dibolehkan. Dengan syarat orang yang meruqyah dan orang yang diruqyah tidak menggantungkan dirinya dengan ruqyah tersebut, tetapi hendaknya menyandarkan dan memasrahkan hasilnya hanya kepada Allah. Sebab ruqyah-ruqyah tersebut hanya sebagai perantara. Adapun hasil dan kesembuhannya hanyalah ada di tangan Allah. Sebab tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari Allah. Sedangkan yang dimaksud dengan tilawah (pengasihan) adalah satu jenis diantara jenis-jenis sihir yang bisa membikin seseorang cinta kepada lawan jenisnya dan sebaliknya. Dan semua jenis sihir hukumnya haram, bahkan bisa jatuh kedalam syirik hal ini berdasarkan ayat-ayat dan hadits-hadits yang menunjukkan tentang haramnya sihir dan bahwa sihir-sihir tersebut bisa menyebabkan syirik besar. Dan Allah-lah yang berhak memberi taufik. [Disalin dari kitab Al-Fatawa Juz Tsani, Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Eidisi Indonesia Fatawa bin Baaz, Penerjemah Abu Umar Abdillah, Penerbit At-Tibyan - Solo]