Senin, 17 September 2012

Menghalangi Cahaya

Kadang kebenaran tak sampai pada kita meski kita sangat mengingini karena kita sendiri yang menghalanginya. Adakalanya kita membutuhkan nasihat untuk meringankan beban jiwa yang penat, tetapi kita merintangi jalannya. Kita tak mampu mencapai kearifan karena hati kita keras dan ucapan kita pedas, setiap kali mendengar saran dari kawan. Kita bereaksi dengan keras hanya karena mendengar nasihat yang disampaikan dengan lugas.

Teringat saya pada Imam al-Ghazali. Ketika berbicara tentang penyakit hati, penulis Ihya 'Ulumuddin ini berkata, "Akan tetapi, biasanya kita justru menyibukkan diri dengan mencari-cari jawaban untuk menunjukkan kepada orang lain itu bahwa ia sendiri juga menyandang cacat-cacat seperti itu. Lalu kita akan berkata kepadanya ,'Anda sendiri juga melakukan begini... dan begitu...,'. Dan sikap permusuhan seperti itu pasti menghalangi kita dari memanfaatkan nasihatnya."

Apa yang telah diperingatkan Imam al-Ghazali, rasanya sering sekali kita lakukan saat menghadapi kritikan, atau bahkan 'sekadar' saran. Ucapan ini terlahir karena kita ingin melindungi diri sendiri dari kesalahan, justru karena kita merasa tidak aman dengan kesalahan yang kita lakukan. Mengakui kesalahan sendiri memang sangat sulit, terlebih ketika kita ingin tampak sempurna di hadapan orang lain, tak terkecuali 'istri', anak, sahabat, atau tetangga. Begitu besar keinginan kita untuk tampak sempurna atau dianggap sempurna sehingga kita lupa bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Kita juga lupa bahwa orang-orang besar; orang-orang yang tercatat dalam sejarah sebagai manusia bijak, justru dikenang karena kesediaannya menerima nasihat dan teguran. Buaknkah Umar bin Khattab r.a. sering dikenang kebesarannya justru karena menerima teguran seorang perempuan tua saat Umar berbicara di depan kaumnya?

Kesediaan untuk menerima nasihat dari orang yang kedudukan sosialnya lebih rendah dari kita, justru menunjukkan kelapangan dada kita. Kelapangan dada berkait erat dengan kematangan emosi, kejernihan hati, kedalaman ilmu, dan keluasan wawasan. Sebaliknya, sikap hiperkritis terhadap orang lain --- meminjam catatan penting William D. Brooks dan Philip Emmert, keduanya pakar komunikasi --- justru menunjukkan bahwa mereka memliki citra diri yang negatif. Mereka bermasalah secara psikis sehingga sulit menanggapi saran, nasihat atau --- apalagi --- kritik dengan matang dan dewasa.

Orang yang memiliki citra diri negatif (negative self image) sangat tidak tahan kritik yang diterimanya, dan mudah marah atau naik pitam. Bagi orang ini, begitu buku Psikologi Komunikasi menjelaskan, koreksi sering kali dipersepsi sebagai usaha untuk menjatuhkan harga dirinya. Dalam komunikasi, orang yang memiliki konsep diri negatif cenderung menghindari dialog yang terbuka, dan bersikeras mempertahankan pendapatnya dengan berbagai justifikasi atau logika yang keliru.

Sikap semacam ini pada akhirnya menyebabkan kita kehilangan kredibilitas di hadapan orang lain. Bahkan bisa lebih jauh lagi, orang lain menganggap kita tidak punya itikad baik. Padahal, kedua hal inilah, yakni kredibilitas dan itikad baik (good wiiling), yang akan sangat menentukan efektif atau tidaknya komunikasi kita. Begitu orang lain melihat kita tidak memiliki kredibilitas --- moral, intelektual, maupun spiritual --- dan merasa kita tidak mempunyai itikad baik, maka sulit bagi kita membangun komunikasi efektif. Kata-kata menjadi kehilangan makna.

Nah, apa yang akan terjadi kalau komunikasi efektif itu justru 'hilang' di rumah sendiri?

Agaknya, ada yang perlu kita benahi. Tentang niat kita, tentang hati kita, tentang sikap kita, dan juga tentang jiwa kita. Bukan semata demi mempertahankan kredibilitas. Tetapi, terutama untuk membuka pintu-pintu kebenaran dan kebaikan agar tidak terhalang masuk ke dalam hati kita.

Semoga Allah menolong kita.

*****

Masa pun melintas batas, teringat akan berbagai kisah nyata dalam pentas kehidupan. Ya Rabb, maafkanlah kami yang belum mengerti arti ikatan iman karena-Mu, jangan jadikan kami hamba yang mendzalimi diri sendiri atas sesuatu yang tidak mampu kami pahami. Ya Rabb, Engkaulah yang mampu membolak-balikkan hati, semoga... cahaya iman itu semakin berpendar dari lisan dan sikap kami.

Sudah lewat dari sebulan, tinggal 11 bulan lagi. Ya Allah... sampaikanlah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar