*Oleh: Ustaz M Arifin Ilham *
Kami mengenalnya sebagai seorang juru dakwah. Sering dia diminta untuk
memberi wejangan agama.
Namun, beberapa tahun terakhir ia meninggalkan gelanggang dakwah dan
bergabung dengan partai politik lalu masuk di parlemen.
Kesehariannya kini lebih sering menenteng *gadget*, seperti iPad dan HP di
tas mininya. Mungkin sebagai pengganti tasbih yang dulu biasa diputar
sambil berzikir.
Biasanya, sebelum azan, wajahnya selalu tampak basah oleh air wudhu dan
sudah bersiap di belakang mihrab. Kini, walau azan sudah berkumandang,
beliau terlihat masih sibuk menyalami relasi dan kolega politik.
Majelis-majelis ilmu dan mimbar-mimbar dakwah yang dulu membesarkan
namanya, kini terlihat hanya seperti hiasan.
Kita pasti mengelus dada. Sangat disayangkan jika akhirnya beliau
benar-benar meninggalkan harakah dakwah. Semoga saja, sahabat kita ini
kembali berjuang menegakkan kebenaran dan Islam.
Tulisan ini tentu bukan ajakan untuk meninggalkan gedung parlemen atau
melepas kursi kementerian. Tidak sama sekali. Ini hanya sekadar seruan
moral untuk istiqamah dalam dakwah.
Masih terekam dalam ingatan kami, ketika beliau berpamitan. “Semoga posisi
ini memudahkan langkah dakwah kita, narju bidu'aikum (mohon doa) ya ustaz,”
ucapnya.
Sejujurnya ingatan ini hanya menambah gerusan hati saja karena kenyataan
justru lebih tampak bukan sebagai batu loncatan dakwah yang memudahkan tapi
menjatuhkan.
Peran juru dakwah yang “berubah” ini pastinya bukan hanya pada diri beliau,
tapi telah membiak di negeri ini. Dulu kita mengenalnya sebagai ustaz, guru
agama, penceramah, dai, punya pondok pesantren, dan sebagainya. Akan tapi,
setelah masuk wilayah kekuasaan, peran itu berubah.
Kita sudah sering mendengar banyaknya pejabat yang masuk 'hotel prodeo'.
Tak hanya politisi, tapi juga sosok yang selama ini dikenal alim. Sering
juga kita dengar, ada banyak sekali pesantren tutup, karena para santrinya
tidak lagi terurus. Karena pengasuhnya jarang pulang dan tak sempat
mengajar. Majelis-majelis taklim berhenti, karena ustaz atau ustazahnya
sedang ke luar kota.
Atas keadaan inilah, rasanya penting melihat lagi risalah istiqamah dalam
dakwah. Tidak mengapa berganti “baju”. Dengan lebih “bergaya”, seharusnya
daya jelajah dakwah lebih kuat dan menghunjam.
Rasanya menjadi luar biasa jika manusia-manusia Muslim parlemen atau para
petinggi kekuasaan, sesaat sebelum terdengar suara azan, pimpinan sidang
meminta penghentian sidang untuk bersama melaksanakan shalat berjamaah.
Indahnya pemandangan itu.
Jika sudah demikian, benarlah keadaan mereka. Silakan rebut dunia, raih
kedudukan, tapi jangan tinggalkan umat dan akhirat. Jadikan kursi dan meja
sidang sebagai mushala. Jadikan persidangan dan lobi-lobi sebagai mimbar
dakwah.
Saudaraku, tetaplah bersahaja, apa adanya. Amalan kebaikan yang sebelumnya
hidup, hidupkan kembali. Sungguh, buah istiqamah itu akan menanti kita.
Orang yang istiqamah dalam dakwah sebenarnya sedang meniti jalan surga.
Mereka akan selalu dikawal dan dihibur para malaikat. Dan Allah beserta
para makhluk-Nya, akan turut membantu setiap urusan mereka, baik dunia
maupun akhirat. (QS Fushilat [41]: 30). *Wallahu a'lam.*
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/11/15/mdj9sc-istiqamah-berdakwah
Sabtu, 24 November 2012
Dirikan Shalat, Makmurkan Masjid: Rumus Muslim yang Selamat!
*MENJADI *seorang Muslim di abad modern memang tidak mudah. Apalagi jika
punya niat untuk benar-benar menjadi Muslim yang serius dan sungguh-sungguh
secara menyeluruh dalam sebua sikap dan tindakan (*kaffah*). Ada banyak
sekali tantangan, rintangan, dan hambatan yang menghadang. Namun demikian,
bagaimanapun situasi dan kondisinya, kita tetap harus berusaha menjadi
Muslim yang *kaffah.
*
Banyak tantangan nyata di era yang sering disebut *global village *ini,
khususnya yang datang dari dunia informasi. Bagaimana hari ini media massa
banyak yang salah dalam mengabarkan Islam dan umat Islam. Di sisi lain,
dengan berbagai macam produk film, sinetron, dan *talk-show *--entah
sengaja atau tidak—seolah menggiring kita yang menontonnya untuk cinta
dunia lupa akhirat!
Tidak cukup disitu, lewat isu terorisme, Islam dan umat Islam serasa
terus-menerut disudutkan. Seolah tidak rela melihat Islam tumbuh di negeri
ini (bahkan belahan dunia lain). Kelompok Kerohanian Islam (Rohis) di
sekolah-sekolah pun sempat dituduh sebagai sarang tumbuhnya terorisme.
Setelah beberapa tahun sebelumnya konspirasi buruk itu gagal meyakinkan
publik bahwa pesantren adalah sarang terorisme.
Meski demikian, sikap sejati orang Mukmin adalah harus tetap konsisten
dengan pilihan keyakinan kita. Pepatah mengatakan, “Biarkan anjing
menggonggong, kafilah tetap berlalu”.
Sikap seperti itulah yang semestinya kita miliki dalam menghadapi kaum yang
berusaha melakukan makar dari berbagai sisi, agar akidah dan keimanan kita
menjadi goyah, sehingga lunturlah komitmen kemusliman dan kemukminan kita.
*Teguhkan Iman*
Derasnya gelombang fitnah yang melanda kaum Muslimin saat ini ikut membuat
sekian banyak kebingungan di tengah umat dan bahkan terbawa oleh arus
fitnah tersebut. Fitnah datang dalam bentun manusia, jin dan syetan.
Di era modern ini, fitnah bahkan datang dalam bentuk penyajian informasi,
kekuasaan dan kekuatan politik dan negara adidaya.
Banyak orang tergila-gila dengan dunia informasi dan media, tetapi,
pastikan, berita satu-satunya yang benar adalah khabar shodiq, yakni
Al-Qur’an yang datangnya dari Allah Subhanahu Wata’ala.
Jangan seperti kebanyakan orang saat ini, setiap hari sempat dan
bersemangat membaca koran, melihat debat di TV, namun tak pernah sekalipun
membaca Al-Qur’an.
Hadits Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda,
*“Saya tinggalkan pada kalian dua perkara, yang kalian tidak akan sesat di
belakang keduanya, (yaitu) kitab Allah dan Sunnahku.” *(HR. Malik dan
Al-Hakim)
Gencarnya fitnah, dan nilai-nilai yang sengaja merusak kaum Muslim –sedikit
atau banyak—ikut mempengaruhi umat Islam.
Sekedar contoh; jika seorang Muslim yang semestinya melihat dunia sebagai
sarana menuju Allah Subhanahu Wata’ala, yang banyak justru menjadikannya
sebagai tujuan. Harta yang semestinya diinfakkan, malah ditahan dan
ditumpuk-tumpuk. Persaudaraan yang semestinya dijaga dan dikokohkan, malah
dihancurkan. Bahkan, semestinya beribadah kepada Allah, malah mengabdikan
diri pada kekuasaan. Fitnah dan informasi yang menyesatkan inilah yang
banyak menggelincirkan kaum Muslim.
Maka tidak heran, jika hari ini orang banyak yang sudah tidak begitu peduli
terhadap agama. Jika di dalam Al-Qur’an Allah memerintahkan kita untuk
mencari akhirat dengan tidak lupa dunia (QS/ 28 : 77), sekarang kondisinya
sudah berbalik. Orang sibuk mengejar dunia tapi lupa akhirat.
Di sinilah tugas kita sebagai Muslim mendapatkan momentumnya untuk semakin
dikuatkan, dikokohkan, dan dipatenkan, agar kita bisa mendapat ridha Allah
Subhanahu Wata’ala.
*“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara
orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Tuhanmu sampai datang
kepadamu yang diyakini (ajal).” *(QS: Al Hijr [15]: 98, 99).
Artinya, kita harus terus-menerus mempertajam keimanan dan meneguhkannya.
Dan, tidak ada cara terbaik untuk melakukan hal tersebut selain dengan
menyempurnakan kesabaran dan kesungguhan dalam beribadah kepada Allah
Subhanahu Wata’ala.
*“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan
pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran)
mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu
dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan
orang-orang yang berbuat kebaikan.” *(QS: An-Nahl [16]: 127, 128).
*Hanya Tunduk kepada Allah
*
*“Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang- orang
munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah
kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pelindung.”* (QS: Al-Ahzab [33]:
48).
Menurut Ibnu Katsir ayat di atas merupakan suatu peringatan penting agar
kita janggan mentaati (tunduk, takut, khawatir) orang-orang kafir dan
munafik. Kita hanya boleh mendengarkan apa ucapan-ucapan mereka tetapi
jangan pernah menghiraukannya sedikitpun.
Orang-orang kafir dan munafik tidak lebih laksanan seekor lalat yang suka
kepada hal-hal yang kotor, jorok, bau busuk, dan menjijikkan. Mereka sama
sekali tidak tahu mana bersih mana kotor. Bahkan karena kejahilannya,
mereka sangat suka kepada yang kotor lagi menjijikkan.
Hal itu bisa dilihat dari cara berpikirnya, ucapannya, dan perbuatannya,
yang jauh dari kebenaran dan kesucian. Lihat saja produk film-film Barat
yang selalu menampilkan aurat, pemilihan ratu kecantikan yang mengumbar
aurat, pergaulan bebas, dan materialistis.
Kemudian, terhadap umat Islam, mereka selalu curiga, dan benci, sehingga
tidak mengherankan jika ulah orang kafir dan munafik senantiasa
bertentangan dengan aturan Allah.
Dengan demikian, sangat terang bagi kita, mengapa kita harus tunduk kepada
Allah semata. Karena bagaimanapun canggihnya upaya orang kafir dan munafik
untuk menjerumuskan umat Islam, semua itu tidak akan berpengaruh apa-apa
bagi Muslim sejati. Karena semua sudah jelas. Antara hak dan bathil sangat
jelas, antara baik dan buruk juga sangat terang.
Oleh karena itu, mari kita semua bersama-sama untuk tetap berusaha menjadi
Muslim kaffah, yang hanya tunduk kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Sebab,
hanya dengan menjadi Muslim kaffah saja kita akan mendapat petunjuk dari
Allah sekaligus dapat benar-benar merasakan indahnya Islam ini secara nyata.
Bagaimana kita melakukan itu semua? Jawabnya sangat sederhana. Yakni dengan
memakmurkan masjid Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berkumpul
dengan orang-orang sholeh dan tidak takut kepada siapapun selain Allah.
Itulah jalan satu-satunya, untuk menjadi Muslim yang cerdas. Muslim yang
tidak terpengaruh oleh serbuan dunia informasi yang menyesatkan, merugikan
dan penuh fitnah.
*“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman
kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan
zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah
orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat
petunjuk.”* (QS: At-Taubah [9]: 18).
Dengan melakukan itu semua, dijamin kita tidak akan terpengaruh, apalagi
tunduk, atau salah jalan dalam menjalani kehidupan dunia yang fana ini.
Karena Allah memberikan kesempatan, bagi siapa yang melakukan tiga langkah
di atas pasti akan mendapat petunjuk.*/*Imam Nawawi*
Rep: Imam Nawawi
Red: Cholis Akbar
sumber:
http://www.hidayatullah.com/read/25847/14/11/2012/dirikan-shalat,-makmurkan-masjid:-rumus-muslim-yang-selamat!.html
punya niat untuk benar-benar menjadi Muslim yang serius dan sungguh-sungguh
secara menyeluruh dalam sebua sikap dan tindakan (*kaffah*). Ada banyak
sekali tantangan, rintangan, dan hambatan yang menghadang. Namun demikian,
bagaimanapun situasi dan kondisinya, kita tetap harus berusaha menjadi
Muslim yang *kaffah.
*
Banyak tantangan nyata di era yang sering disebut *global village *ini,
khususnya yang datang dari dunia informasi. Bagaimana hari ini media massa
banyak yang salah dalam mengabarkan Islam dan umat Islam. Di sisi lain,
dengan berbagai macam produk film, sinetron, dan *talk-show *--entah
sengaja atau tidak—seolah menggiring kita yang menontonnya untuk cinta
dunia lupa akhirat!
Tidak cukup disitu, lewat isu terorisme, Islam dan umat Islam serasa
terus-menerut disudutkan. Seolah tidak rela melihat Islam tumbuh di negeri
ini (bahkan belahan dunia lain). Kelompok Kerohanian Islam (Rohis) di
sekolah-sekolah pun sempat dituduh sebagai sarang tumbuhnya terorisme.
Setelah beberapa tahun sebelumnya konspirasi buruk itu gagal meyakinkan
publik bahwa pesantren adalah sarang terorisme.
Meski demikian, sikap sejati orang Mukmin adalah harus tetap konsisten
dengan pilihan keyakinan kita. Pepatah mengatakan, “Biarkan anjing
menggonggong, kafilah tetap berlalu”.
Sikap seperti itulah yang semestinya kita miliki dalam menghadapi kaum yang
berusaha melakukan makar dari berbagai sisi, agar akidah dan keimanan kita
menjadi goyah, sehingga lunturlah komitmen kemusliman dan kemukminan kita.
*Teguhkan Iman*
Derasnya gelombang fitnah yang melanda kaum Muslimin saat ini ikut membuat
sekian banyak kebingungan di tengah umat dan bahkan terbawa oleh arus
fitnah tersebut. Fitnah datang dalam bentun manusia, jin dan syetan.
Di era modern ini, fitnah bahkan datang dalam bentuk penyajian informasi,
kekuasaan dan kekuatan politik dan negara adidaya.
Banyak orang tergila-gila dengan dunia informasi dan media, tetapi,
pastikan, berita satu-satunya yang benar adalah khabar shodiq, yakni
Al-Qur’an yang datangnya dari Allah Subhanahu Wata’ala.
Jangan seperti kebanyakan orang saat ini, setiap hari sempat dan
bersemangat membaca koran, melihat debat di TV, namun tak pernah sekalipun
membaca Al-Qur’an.
Hadits Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda,
*“Saya tinggalkan pada kalian dua perkara, yang kalian tidak akan sesat di
belakang keduanya, (yaitu) kitab Allah dan Sunnahku.” *(HR. Malik dan
Al-Hakim)
Gencarnya fitnah, dan nilai-nilai yang sengaja merusak kaum Muslim –sedikit
atau banyak—ikut mempengaruhi umat Islam.
Sekedar contoh; jika seorang Muslim yang semestinya melihat dunia sebagai
sarana menuju Allah Subhanahu Wata’ala, yang banyak justru menjadikannya
sebagai tujuan. Harta yang semestinya diinfakkan, malah ditahan dan
ditumpuk-tumpuk. Persaudaraan yang semestinya dijaga dan dikokohkan, malah
dihancurkan. Bahkan, semestinya beribadah kepada Allah, malah mengabdikan
diri pada kekuasaan. Fitnah dan informasi yang menyesatkan inilah yang
banyak menggelincirkan kaum Muslim.
Maka tidak heran, jika hari ini orang banyak yang sudah tidak begitu peduli
terhadap agama. Jika di dalam Al-Qur’an Allah memerintahkan kita untuk
mencari akhirat dengan tidak lupa dunia (QS/ 28 : 77), sekarang kondisinya
sudah berbalik. Orang sibuk mengejar dunia tapi lupa akhirat.
Di sinilah tugas kita sebagai Muslim mendapatkan momentumnya untuk semakin
dikuatkan, dikokohkan, dan dipatenkan, agar kita bisa mendapat ridha Allah
Subhanahu Wata’ala.
*“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara
orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Tuhanmu sampai datang
kepadamu yang diyakini (ajal).” *(QS: Al Hijr [15]: 98, 99).
Artinya, kita harus terus-menerus mempertajam keimanan dan meneguhkannya.
Dan, tidak ada cara terbaik untuk melakukan hal tersebut selain dengan
menyempurnakan kesabaran dan kesungguhan dalam beribadah kepada Allah
Subhanahu Wata’ala.
*“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan
pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran)
mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu
dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan
orang-orang yang berbuat kebaikan.” *(QS: An-Nahl [16]: 127, 128).
*Hanya Tunduk kepada Allah
*
*“Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang- orang
munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah
kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pelindung.”* (QS: Al-Ahzab [33]:
48).
Menurut Ibnu Katsir ayat di atas merupakan suatu peringatan penting agar
kita janggan mentaati (tunduk, takut, khawatir) orang-orang kafir dan
munafik. Kita hanya boleh mendengarkan apa ucapan-ucapan mereka tetapi
jangan pernah menghiraukannya sedikitpun.
Orang-orang kafir dan munafik tidak lebih laksanan seekor lalat yang suka
kepada hal-hal yang kotor, jorok, bau busuk, dan menjijikkan. Mereka sama
sekali tidak tahu mana bersih mana kotor. Bahkan karena kejahilannya,
mereka sangat suka kepada yang kotor lagi menjijikkan.
Hal itu bisa dilihat dari cara berpikirnya, ucapannya, dan perbuatannya,
yang jauh dari kebenaran dan kesucian. Lihat saja produk film-film Barat
yang selalu menampilkan aurat, pemilihan ratu kecantikan yang mengumbar
aurat, pergaulan bebas, dan materialistis.
Kemudian, terhadap umat Islam, mereka selalu curiga, dan benci, sehingga
tidak mengherankan jika ulah orang kafir dan munafik senantiasa
bertentangan dengan aturan Allah.
Dengan demikian, sangat terang bagi kita, mengapa kita harus tunduk kepada
Allah semata. Karena bagaimanapun canggihnya upaya orang kafir dan munafik
untuk menjerumuskan umat Islam, semua itu tidak akan berpengaruh apa-apa
bagi Muslim sejati. Karena semua sudah jelas. Antara hak dan bathil sangat
jelas, antara baik dan buruk juga sangat terang.
Oleh karena itu, mari kita semua bersama-sama untuk tetap berusaha menjadi
Muslim kaffah, yang hanya tunduk kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Sebab,
hanya dengan menjadi Muslim kaffah saja kita akan mendapat petunjuk dari
Allah sekaligus dapat benar-benar merasakan indahnya Islam ini secara nyata.
Bagaimana kita melakukan itu semua? Jawabnya sangat sederhana. Yakni dengan
memakmurkan masjid Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berkumpul
dengan orang-orang sholeh dan tidak takut kepada siapapun selain Allah.
Itulah jalan satu-satunya, untuk menjadi Muslim yang cerdas. Muslim yang
tidak terpengaruh oleh serbuan dunia informasi yang menyesatkan, merugikan
dan penuh fitnah.
*“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman
kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan
zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah
orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat
petunjuk.”* (QS: At-Taubah [9]: 18).
Dengan melakukan itu semua, dijamin kita tidak akan terpengaruh, apalagi
tunduk, atau salah jalan dalam menjalani kehidupan dunia yang fana ini.
Karena Allah memberikan kesempatan, bagi siapa yang melakukan tiga langkah
di atas pasti akan mendapat petunjuk.*/*Imam Nawawi*
Rep: Imam Nawawi
Red: Cholis Akbar
sumber:
http://www.hidayatullah.com/read/25847/14/11/2012/dirikan-shalat,-makmurkan-masjid:-rumus-muslim-yang-selamat!.html
Mumpung Sehat, Perbanyak Amal Shalih
*HAMPIR *tidak pernah kita temukan ayat-ayat dalam al-Quran yang berbicara
tentang iman, kecuali di sertakan kata “amal shalih” bersamanya. Amal
shalih, berupa perbuatan baik yang menjadi bukti sahnya iman lewat
pengakuan lisan dan pembenaran hati.
Boleh kita punya segudang ilmu, dengan membaca, menelaah, mengamati ribuan
persoalan ilmiah. Begitu juga telah menulis, mengarang jutaan buku, serta
sudah terbiasa berdiri tegap di ratusan mimbar’ yang berbeda-beda. Namun
semua itu tidak akan berguna tanpa pengamalan.
Seperti peringatan yang Rasul sampaikan;*“Sesungguhnya manusia yang paling
berat siksaannya di hari kiamat, adalah seorang ilmunya tidak membawa
kemanfaatan baginya,”* (HR. Al-Baihaqi).
Karena ilmu yang bermanfaat akan mengantarkan kita kehadirat Ilahi, seperti
pesa Ibn ‘Athaillah as-Sakandari. Tentunya dengan memperbanyak ibadah,
memperkuat ketaatan, serta meningkatkan takwa dan keikhlasan. Dengan
memperkokoh kewajiban vertikal kepada sang Pencipta, juga menjalankan
kewajiban horizontal kepada sesama, adalah bukti kalau bibit keimanan
sudah mulai tumbuh dalam diri kita.
Memang iman seberat *dzarrah *saja, sudah cukup untuk membuat kita berhak
masuk surga. Dan amal shalih juga bukan segalanya, karena kita masih harus
menunggu rahmat Allah untuk dapat hidup bahagia di sana. Tapi, berapa lama
kita dapat bertahan dan menunggu siksa atas dosa-dosa, dan bukankah Rahmat
Allah sangat dekat dengan orang-orang yang melakukan kebaikan.
*“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah)
memperbaikinya dan berdo'alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan
diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat
dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”* (QS; Al-A’raf [7]: 56).
Sudah menjadi sunnatullah, bahwa upah akan di bayarkan ketika pekerjaan
sudah di selesaikan. Keberhasilan tidak di dapat hanya dengan merenung dan
mengahayal. Sedangkan harga surga sangatlah mahal untuk di bayar hanya
dengan ilmu dan buku-buku yang tidak diamalkan. Karena langit tidak akan
pernah hujan emas dan perak, seperti juga perahu yang tidak akan pernah
terapung di tanah kering.
Dalam hal ini Rasul pernah bersabda; “*Orang cerdas adalah yang menundukan
nafsunya dan beramal untuk bekal setelah matinya, sedangkan yang bodoh
adalah yang memperturutkan hawa nafsunya.” *[HR. at-Turmudzi, Ahmad, Ibn
Majah, dan Hakim].
Al-Ghazali dalam kitab *“Ayyuhal Walad" *pernah menasehati, “*Ilmu tanpa
amal gila, dan amal tanpa ilmu tidak akan ada.”
*
Yang diperlukan ketika dilanda maksiat dan di kejar gejolak api panas
adalah menghindar dan lari, tidak cukup hanya “tahu” bahwa keduanya tidak
baik untuk diri. Sebab ilmu saja tidak mampu bergerak dan berbicara, dia
membutuhkan amal perbuatan untuk mendampinginya.
Jangan sampai ilmu malah akan membuat kita celaka. Karena tidak sedikit
yang telah mengalaminya. Karena alasan ilmu, banyak orang yang mengingkari
Tuhan, tidak menerima kebenaran Islam. Karena alasan ilmu, banyak golongan
yang saling tikam untuk memperebutkan kebenaran.
Dan karena alasan ilmu, banyak manusia yang menghalalkan yang haram dan
mengharamkan yang halal. Keberadaan Tuhan sudah tidak penting karena alasan
kebebasan dan keyakinan. Keikhlasan dan ketawaduan sudah tidak menjadi
ukuran dalam menjalankan ibadah.
Kebusukan dan kehancuran akhlak sudah di anggap biasa dalam kehidupan.
Tanpa sadar, selangkah demi selangkah, manusia terjerat oleh “ilmu” yang di
banggakannya. Karena cahaya matahari yang sangat terang benderang di siang
hari, hanya dapat terlihat oleh mata yang tidak terhalangi penyakit maupun
kabut tebal yang menyelimuti.
Jauh hari Rasul sudah mengingatkan; “*Barangsiapa yang bertambah ilmunya,
namun berkurang hidayahnya, maka hanya akan semakin jauh dari Tuhannya.” *(HR.
Ibn Hibban di kitab Raudlatul Uqala’).
Hidayah adalah amal shalih, dia harus di usahakan dan perjuangkan untuk
menyatu dengan ilmu.
Maka sekaranglah saatnya kita mulai mengamalkan apa yang kita tahu, bukan
hanya terus-menerus berputar di bawah naungan “ilmu” yang nantinya hanya
akan membuat letih dan lesu. Saatnya kita beramal shalih dalam setiap kata,
dan lafadz yang telah kita hafal dan pahami. Sebelum semuanya terlambat.
Seperti ungkapan orang-orang yang celaka di neraka;
*“Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa
itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): "Ya Tuhan
Kami, Kami telah melihat dan mendengar, Maka kembalikanlah Kami (ke dunia),
Kami akan mengerjakan amal saleh, Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang
yakin." *(QS; As-Sajadah [32], ayat [12]).Wallahu A’lam.*/*Abdul Mukit
Ridwan; **Mahasiswa Pasca Sarjana, jurusan Pendidikan dan Pemikiran Islam,
Universitas Ibn Khaldun Bogor*
Red: Cholis Akbar
sumber:
http://www.hidayatullah.com/read/25776/08/11/2012/mumpung-sehat,-perbanyak-amal-shalih!.html
tentang iman, kecuali di sertakan kata “amal shalih” bersamanya. Amal
shalih, berupa perbuatan baik yang menjadi bukti sahnya iman lewat
pengakuan lisan dan pembenaran hati.
Boleh kita punya segudang ilmu, dengan membaca, menelaah, mengamati ribuan
persoalan ilmiah. Begitu juga telah menulis, mengarang jutaan buku, serta
sudah terbiasa berdiri tegap di ratusan mimbar’ yang berbeda-beda. Namun
semua itu tidak akan berguna tanpa pengamalan.
Seperti peringatan yang Rasul sampaikan;*“Sesungguhnya manusia yang paling
berat siksaannya di hari kiamat, adalah seorang ilmunya tidak membawa
kemanfaatan baginya,”* (HR. Al-Baihaqi).
Karena ilmu yang bermanfaat akan mengantarkan kita kehadirat Ilahi, seperti
pesa Ibn ‘Athaillah as-Sakandari. Tentunya dengan memperbanyak ibadah,
memperkuat ketaatan, serta meningkatkan takwa dan keikhlasan. Dengan
memperkokoh kewajiban vertikal kepada sang Pencipta, juga menjalankan
kewajiban horizontal kepada sesama, adalah bukti kalau bibit keimanan
sudah mulai tumbuh dalam diri kita.
Memang iman seberat *dzarrah *saja, sudah cukup untuk membuat kita berhak
masuk surga. Dan amal shalih juga bukan segalanya, karena kita masih harus
menunggu rahmat Allah untuk dapat hidup bahagia di sana. Tapi, berapa lama
kita dapat bertahan dan menunggu siksa atas dosa-dosa, dan bukankah Rahmat
Allah sangat dekat dengan orang-orang yang melakukan kebaikan.
*“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah)
memperbaikinya dan berdo'alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan
diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat
dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”* (QS; Al-A’raf [7]: 56).
Sudah menjadi sunnatullah, bahwa upah akan di bayarkan ketika pekerjaan
sudah di selesaikan. Keberhasilan tidak di dapat hanya dengan merenung dan
mengahayal. Sedangkan harga surga sangatlah mahal untuk di bayar hanya
dengan ilmu dan buku-buku yang tidak diamalkan. Karena langit tidak akan
pernah hujan emas dan perak, seperti juga perahu yang tidak akan pernah
terapung di tanah kering.
Dalam hal ini Rasul pernah bersabda; “*Orang cerdas adalah yang menundukan
nafsunya dan beramal untuk bekal setelah matinya, sedangkan yang bodoh
adalah yang memperturutkan hawa nafsunya.” *[HR. at-Turmudzi, Ahmad, Ibn
Majah, dan Hakim].
Al-Ghazali dalam kitab *“Ayyuhal Walad" *pernah menasehati, “*Ilmu tanpa
amal gila, dan amal tanpa ilmu tidak akan ada.”
*
Yang diperlukan ketika dilanda maksiat dan di kejar gejolak api panas
adalah menghindar dan lari, tidak cukup hanya “tahu” bahwa keduanya tidak
baik untuk diri. Sebab ilmu saja tidak mampu bergerak dan berbicara, dia
membutuhkan amal perbuatan untuk mendampinginya.
Jangan sampai ilmu malah akan membuat kita celaka. Karena tidak sedikit
yang telah mengalaminya. Karena alasan ilmu, banyak orang yang mengingkari
Tuhan, tidak menerima kebenaran Islam. Karena alasan ilmu, banyak golongan
yang saling tikam untuk memperebutkan kebenaran.
Dan karena alasan ilmu, banyak manusia yang menghalalkan yang haram dan
mengharamkan yang halal. Keberadaan Tuhan sudah tidak penting karena alasan
kebebasan dan keyakinan. Keikhlasan dan ketawaduan sudah tidak menjadi
ukuran dalam menjalankan ibadah.
Kebusukan dan kehancuran akhlak sudah di anggap biasa dalam kehidupan.
Tanpa sadar, selangkah demi selangkah, manusia terjerat oleh “ilmu” yang di
banggakannya. Karena cahaya matahari yang sangat terang benderang di siang
hari, hanya dapat terlihat oleh mata yang tidak terhalangi penyakit maupun
kabut tebal yang menyelimuti.
Jauh hari Rasul sudah mengingatkan; “*Barangsiapa yang bertambah ilmunya,
namun berkurang hidayahnya, maka hanya akan semakin jauh dari Tuhannya.” *(HR.
Ibn Hibban di kitab Raudlatul Uqala’).
Hidayah adalah amal shalih, dia harus di usahakan dan perjuangkan untuk
menyatu dengan ilmu.
Maka sekaranglah saatnya kita mulai mengamalkan apa yang kita tahu, bukan
hanya terus-menerus berputar di bawah naungan “ilmu” yang nantinya hanya
akan membuat letih dan lesu. Saatnya kita beramal shalih dalam setiap kata,
dan lafadz yang telah kita hafal dan pahami. Sebelum semuanya terlambat.
Seperti ungkapan orang-orang yang celaka di neraka;
*“Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa
itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): "Ya Tuhan
Kami, Kami telah melihat dan mendengar, Maka kembalikanlah Kami (ke dunia),
Kami akan mengerjakan amal saleh, Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang
yakin." *(QS; As-Sajadah [32], ayat [12]).Wallahu A’lam.*/*Abdul Mukit
Ridwan; **Mahasiswa Pasca Sarjana, jurusan Pendidikan dan Pemikiran Islam,
Universitas Ibn Khaldun Bogor*
Red: Cholis Akbar
sumber:
http://www.hidayatullah.com/read/25776/08/11/2012/mumpung-sehat,-perbanyak-amal-shalih!.html
Berlalu satu hari, maka berlalu pula kesempatan dalam hidupmu
Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan
salam terlimpah kepada Rasulullah -*Shallallahu 'Alaihi Wasallam*-*, *keluarga
dan para sahabatnya.
Waktu adalah kehidupan. Umur manusia terdiri dari kumpulan hari. Jika
berlalu satu hari berarti telah berlalu pula bagian dari umurnya. Al-Hasan
al-Bashri *rahimahullah* berkata*,*
"*Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah (kumpulan) hari-hari, apabila
berlalu satu hari maka berlalu pula bagian darimu.*" (Al Hilyah: 2/148 dan
dalam Siyar A'lam Nubala: 4/585).
Al-Hasan juga pernah berkata, "Tidaklah ada satu hari dari hari-hari dunia
kecuali ia berbicara dan berkata: Wahai manusia, sesungguhnya aku ini hari
baru. Aku menjadi saksi atas apa yang engkau kerjakann padaku. Sesungguhnya
jika matahariku telah terbenam, maka aku tidak akan kembali lagi kepadamu
sampai hari kiamat." (dikeluarkan Imam Ahmad)
Ibnu Mas'ud *radliyallah 'anhu* berkata, "Sesuatu yang aku sesali adalah
jika dari pagi hari sampai matahari tenggelam amalku tidak bertambah
sedikitpun padahal aku tahu saat itu umurku berkurang."
Hari terdiri dari jam dan menit. Setiap orang haruslah memikirkan, untuk
apa waktunya dihabiskan?
Islam sangat memperhatikan perputaran waktu dan pergantian hari, khususnya
untuk* *beramal shalih. Islam sangat menganjurkan untuk memanfaatkan waktu
dan tidak menyia-nyiakannya. Di akhirat manusia akan ditanya tentangnya.
Dari Abu Barzah al-Aslami* Radhiyallahu 'Anhu* berkata, Rasulullah *Shallallahu
'Alaihi Wasallam* bersabda, "*Tidak akan bergeser telapak kaki seorang
hamba pada hari kiamat sehingga ditanya empat perkara: tentang umurnya
dihabiskan untuk apa, usia mudanya digunakan untuk apa, hartanya darimana
didapatkan dan kemana ia peruntukkan, dan tentang ilmunya apa yang sudah ia
amalkan.*" (HR. Al-Tirmidzi)
Islam telah mengatur waktu seorang muslim. Kapan ia tidur dan bangun,
mengerjakan syi'ar-syi'ar Islam, pergi ke tempat kerja, dan sebagainya.
Terlebih dari itu, Islam mengarahkan agar ia menjadikan semua itu sebagai
ibadah kepada Allah *'Azza wa Jalla*. Ia tidak melanggar batasan-batasan
Allah dan menerjang larangan-Nya. Ia senantiasa mengisinya dengan
kebaikan-kebaikan dan mengirinya dengan dzikrullah (mengingat Allah) *Subhanahu
wa Ta'ala*.
Memperhatikan waktu berarti tidak menyia-nyiakan kesempatan beramal, saat
ia datang. Karena menunda-nunda kebaikan yang sudah ada di depan mata akan
menyebabkan penyesalan di kemudian hari.
Allah *Subhanahu wa Ta'ala* berfirman,
"*Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu
sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia
berkata: Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai
waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk
orang-orang yang saleh?"*." (QS. Al-Munafikun: 10)
Imam Ibnu Katsir *rahimahullah* berkata, "Setiap yang menyia-nyiakan
kesempatan beramal shalih akan menyesal ketika datang kematian. Ia meminta
dipanjangkan waktu walau sebentar untuk bertaubat dan mendapatkan kembali
apa yang telah luput darinya. Tidak mungkin bisa, yang lalu telah berlalu,
telah datang apa yang harus datang. Dan setiap orang menyesal sesuai dengan
penyia-nyiannya."
Diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi, dari Ibnu Abbas rahimahullah,
"barangsiapa yang memiliki harta yang sudah bisa menyampaikannya untuk
berhaji ke Baitullah atau mewajibkannya zakat, tapi tidak melaksanakannya,
ia akan minta raj'ah (dikembalikan lagi ke dunia) ketika sudah mati." Ada
seorang berkata, "wahai Ibnu Abbas bertakwalah kepada Allah! sesungguhnya
yang minta dikembalikan lagi ke dunia adalah orang kafir." Ibnu Abbas
berkata, "aku akan bacakan kepadamu ayat Al Qur'an tentang hal itu."
Kemudian beliau membaca ayat di atas.
. . . Hari terdiri dari jam dan menit. Setiap orang haruslah memikirkan,
untuk apa waktunya dihabiskan? . . .
*Penutup*
Baru saja kita berpisah dengan Tahun 1433 Hijriyah. Bahkan sekarang sudah
berlalu beberapa hari dari tahun yang baru, 1434 Hijriyah. Semua hari-hari
pada tahun yang telah lalu sudah ada catatannya dan kelak kita akan ditanya
tentangnya. Sedangkan hari-hari yang akan datang -dari tahun yang baru-
kita tidak tahu apakah bisa melampuinya. Maka manfaatkan hari yang kita ada
padanya. Jangan disia-siakan. Karena kepergiannya tidak akan pernah
kembali. Sementara catatan amal pada hari tersebut tersimpan baik dalam
catatan yang tak akan lapuk.
Rabi'ah pernah berkata kepada Sufyan, "Sesungguhnya kamu adalah kumpulan
dari beberapa hari. Maka jika berlalu satu harimu berarti telah berlalu
sebagian dari dirimu. Aku merasa, jika berlalu sabagiannya maka akan pergi
pula keseluruhannya. Maka kapan saja engkau mengetahui (hakikat) ini maka
beramalah."
Sekali lagi, jangan sia-siakan waktu dengan berleha-leha karena kaki kita
belumlah menapak di surga. Setiap detik yang berlalu dari kehidupan kita
akan dilakukan perhitungan terhadapnya di sisi Allah.
"*Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara
main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka
Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) Arasy yang mulia.*" (QS. Al
Mukminun: 115-116) [PurWD/voa-islam.com]
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan
salam terlimpah kepada Rasulullah -*Shallallahu 'Alaihi Wasallam*-*, *keluarga
dan para sahabatnya.
Waktu adalah kehidupan. Umur manusia terdiri dari kumpulan hari. Jika
berlalu satu hari berarti telah berlalu pula bagian dari umurnya. Al-Hasan
al-Bashri *rahimahullah* berkata*,*
"*Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah (kumpulan) hari-hari, apabila
berlalu satu hari maka berlalu pula bagian darimu.*" (Al Hilyah: 2/148 dan
dalam Siyar A'lam Nubala: 4/585).
Al-Hasan juga pernah berkata, "Tidaklah ada satu hari dari hari-hari dunia
kecuali ia berbicara dan berkata: Wahai manusia, sesungguhnya aku ini hari
baru. Aku menjadi saksi atas apa yang engkau kerjakann padaku. Sesungguhnya
jika matahariku telah terbenam, maka aku tidak akan kembali lagi kepadamu
sampai hari kiamat." (dikeluarkan Imam Ahmad)
Ibnu Mas'ud *radliyallah 'anhu* berkata, "Sesuatu yang aku sesali adalah
jika dari pagi hari sampai matahari tenggelam amalku tidak bertambah
sedikitpun padahal aku tahu saat itu umurku berkurang."
Hari terdiri dari jam dan menit. Setiap orang haruslah memikirkan, untuk
apa waktunya dihabiskan?
Islam sangat memperhatikan perputaran waktu dan pergantian hari, khususnya
untuk* *beramal shalih. Islam sangat menganjurkan untuk memanfaatkan waktu
dan tidak menyia-nyiakannya. Di akhirat manusia akan ditanya tentangnya.
Dari Abu Barzah al-Aslami* Radhiyallahu 'Anhu* berkata, Rasulullah *Shallallahu
'Alaihi Wasallam* bersabda, "*Tidak akan bergeser telapak kaki seorang
hamba pada hari kiamat sehingga ditanya empat perkara: tentang umurnya
dihabiskan untuk apa, usia mudanya digunakan untuk apa, hartanya darimana
didapatkan dan kemana ia peruntukkan, dan tentang ilmunya apa yang sudah ia
amalkan.*" (HR. Al-Tirmidzi)
Islam telah mengatur waktu seorang muslim. Kapan ia tidur dan bangun,
mengerjakan syi'ar-syi'ar Islam, pergi ke tempat kerja, dan sebagainya.
Terlebih dari itu, Islam mengarahkan agar ia menjadikan semua itu sebagai
ibadah kepada Allah *'Azza wa Jalla*. Ia tidak melanggar batasan-batasan
Allah dan menerjang larangan-Nya. Ia senantiasa mengisinya dengan
kebaikan-kebaikan dan mengirinya dengan dzikrullah (mengingat Allah) *Subhanahu
wa Ta'ala*.
Memperhatikan waktu berarti tidak menyia-nyiakan kesempatan beramal, saat
ia datang. Karena menunda-nunda kebaikan yang sudah ada di depan mata akan
menyebabkan penyesalan di kemudian hari.
Allah *Subhanahu wa Ta'ala* berfirman,
"*Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu
sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia
berkata: Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai
waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk
orang-orang yang saleh?"*." (QS. Al-Munafikun: 10)
Imam Ibnu Katsir *rahimahullah* berkata, "Setiap yang menyia-nyiakan
kesempatan beramal shalih akan menyesal ketika datang kematian. Ia meminta
dipanjangkan waktu walau sebentar untuk bertaubat dan mendapatkan kembali
apa yang telah luput darinya. Tidak mungkin bisa, yang lalu telah berlalu,
telah datang apa yang harus datang. Dan setiap orang menyesal sesuai dengan
penyia-nyiannya."
Diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi, dari Ibnu Abbas rahimahullah,
"barangsiapa yang memiliki harta yang sudah bisa menyampaikannya untuk
berhaji ke Baitullah atau mewajibkannya zakat, tapi tidak melaksanakannya,
ia akan minta raj'ah (dikembalikan lagi ke dunia) ketika sudah mati." Ada
seorang berkata, "wahai Ibnu Abbas bertakwalah kepada Allah! sesungguhnya
yang minta dikembalikan lagi ke dunia adalah orang kafir." Ibnu Abbas
berkata, "aku akan bacakan kepadamu ayat Al Qur'an tentang hal itu."
Kemudian beliau membaca ayat di atas.
. . . Hari terdiri dari jam dan menit. Setiap orang haruslah memikirkan,
untuk apa waktunya dihabiskan? . . .
*Penutup*
Baru saja kita berpisah dengan Tahun 1433 Hijriyah. Bahkan sekarang sudah
berlalu beberapa hari dari tahun yang baru, 1434 Hijriyah. Semua hari-hari
pada tahun yang telah lalu sudah ada catatannya dan kelak kita akan ditanya
tentangnya. Sedangkan hari-hari yang akan datang -dari tahun yang baru-
kita tidak tahu apakah bisa melampuinya. Maka manfaatkan hari yang kita ada
padanya. Jangan disia-siakan. Karena kepergiannya tidak akan pernah
kembali. Sementara catatan amal pada hari tersebut tersimpan baik dalam
catatan yang tak akan lapuk.
Rabi'ah pernah berkata kepada Sufyan, "Sesungguhnya kamu adalah kumpulan
dari beberapa hari. Maka jika berlalu satu harimu berarti telah berlalu
sebagian dari dirimu. Aku merasa, jika berlalu sabagiannya maka akan pergi
pula keseluruhannya. Maka kapan saja engkau mengetahui (hakikat) ini maka
beramalah."
Sekali lagi, jangan sia-siakan waktu dengan berleha-leha karena kaki kita
belumlah menapak di surga. Setiap detik yang berlalu dari kehidupan kita
akan dilakukan perhitungan terhadapnya di sisi Allah.
"*Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara
main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka
Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) Arasy yang mulia.*" (QS. Al
Mukminun: 115-116) [PurWD/voa-islam.com]
Demokrasi Dan Otoritarianisme Kapital
*Oleh, Zaim Saidi*
*Direktur Wakala Induk Nusantara *
TEKNIK dari kapitalisme adalah konstruksi negara fiskal. Dalam sistem ini
negara memberikan hak monopoli kepada para bankir untuk mencetak uang
kertas. Untuk keperluan itu mereka diberi izin untuk membentuk Bank
Sentral. Sebagai imbalan mereka menyediakan kredit (utang) untuk keperluan
‘pembiayaan negara’ (tepatnya: proyek-proyek). Kita semua, tiap-tiap
individu warga negara, kemudian dipaksakan menjadi jaminan atas
pengembalian utang-ribawi tersebut, melalui pemajakan.
Pajak itu sendiri, sebagaimana akan dibahas lagi di bawah nanti, terdiri
atas dua jenis yaitu pajak langsung yang ditarik secara tunai dari harta
warga negara dan pajak tidak langsung (inflasi dan *seignorage*) yang
secara riel dirasakan sebagai terus-menerus turunnya nilai tukar mata uang
kertas. Ini berarti naiknya harga-harga komoditas dari waktu ke waktu.
Tiap-tiap tahun birokrasi negara-artinya orang-orang yang Anda pilih
melalui Pemilu – menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),
untuk pelayanan publik (pendidikan, kesehatan, perumahan, pertahanan, dan
sebagainya), dengan sejumlah tertentu untuk dibayarkan kepada ‘kekuatan
penyandang dana’. Negara menjamin kepada para bankir atas (pengembalian)
utang ini dari pembebanan pajak kepada warga negara. Para bankir, tentu
saja, dengan sangat mudah memenuhi kebutuhan biaya tersebut, berapa pun
nilainya, dengan cara mencetak kredit *ex nihilo*: mencetak angka-angka
dalam buku atau sebagai byte dalam layar komputer. Dari sinilah kita
disodori suatu trick yang dikenal sebagai ‘Utang Negara’ (Public Debt).
Kalau bukan Bank Sentral negara nasional besangkutan sendiri maka jaringan
perbankan internasional akan mengambilalih perannya sebagai financier
tersebut.
Utang negara memberikan legitimasi bagi pemerintah yang berkuasa untuk
memajaki rakyat. Mekanisme ini merupakan modus yang inherent di dalam
negara konstitusional, demokrasi ataupun bukan. Fungsi utama konstitusi
adalah memastikan tiap-tiap individu warga negara ini sebagai pembayar
pajak. Dengan kata lain, lewat konstitusi inilah, warga negara dijaminkan
dalam utang-piutang yang dilakukan oleh para pengelola negara, kepada pihak
perbankan. Di sanalah bercokol kepentingan-kepentingan oligarki bankir yang
mengendalikan keberlangsungan sistem ini. Negara fiskal dunia mencerminkan
kapitalisme lanjut dan nihilisme, yakni terceraikannya otoritas dan lokasi,
yang berimplikasi pada irelevannya negara bangsa dan kedaulatan nasional.
APBN semata-mata menjadi wadah bagi penyaluran investasi para bankir ini.
Dalam konstruksi struktural (konstitusionalisme) semacam itu kapitalisme
telah menjadi ortodoksi dalam kehidupan semua umat manusia saat ini,
termasuk di kalangan Muslimin. Kapitalisme, di tengah ideologi ‘kebebasan
dan persamaan agama-agama’, sesungguhnya telah menggantikan agama-agama
tersebut. Kapitalisme telah menjadi agama itu sendiri, dan menunjukkan
dirinya sebagai agama yang paling dogmatis, intoleran, dan otoriter.
Agama-agama yang sebenarnya justru dipandang sebagai penghambat utama
kapitalisme. Mereka harus ditundukkan demi kapitalisme. Di kalangan Islam
tujuan ini hendak dicapai melalui gerakan pembaruan Islam.
Dalam konteks ini ada slogan eufemistik yang acap disebut oleh para
pengamat sebagai ‘fundamentalisme pasar’. Ini menggambarkan watak
ortodoksinya di satu sisi, tapi juga sebuah abstraksi yang samar-samar di
lain sisi. Siapa sesungguhnya yang dimaksud dengan ‘pasar’ yang
fundamentalistik tersebut? Kita tentu memerlukan jawaban yang jelas
mengenai sosok ini.
*Fundamentalisme Kekuatan Uang*
Jean-Christophe Rufin menyebut suatu kekuatan baru ini sebagai *invisible
political hand* (tangan-tangan politik tersembunyi). Rufin, seorang dokter
aktivis Perancis, mantan Direktur LSM Medecins sans Frontiers
(Dokter-tanpa-Batas), mengatakan hal ini dalam bukunya *La Dictature
Liberal (Diktator Liberal)*. Kekuatan tersembunyi tersebut, dalam kultur
liberal yang kini dominan, telah berhasil memastikan terceraikannya
masyarakat dari sistem. Rufin menjelaskan bahwa sistem tersebut, dengan
mekanisme politik dan ekonominya, dibuat sesedikit mungkin menganggu
aktivitas manusia dan setiap peristiwa sosial. Sementara
aktivitas-aktivitas tersebut, di lain sisi, seberapa pun bebasnya, harus
tidak boleh mengancam perangkat yang memungkinkan sistem tersebut untuk
dapat terus bekerja. Selanjutnya Rufin, sebagaimana dikutip oleh Rieger
(2005), mengatakan bahwa sistem ini dicirikan oleh ketidakpeduliannya yang
dingin atas umat manusia. Ia mengatakan:
Pada pengertian tertentu budaya demokrasi dibangun atas ketidakacuhan
ganda. Yang pertama adalah ketidakacuhan sistem liberal ini atas umat
manusia di dalamnya. Sistem ini, terutama aspek ekonominya, menjadi semakin
meng-internasional dan supra-nasional, dan karenanya semakin sulit
dikontrol. Manusianya, sebaliknya, hanya dapat mengekspresikan pilihan
politiknya pada tingkat nasional atau lokal-yaitu, tanpa dapat menyentuh
sumber kekuatan sebenarnya dari sistem ini.
Pemisahan antara realitas nasional-yang, suka atau tidak, adalah ranah
tempat kontrol secara demokratis dapat dilakukan-dan realitas
supra-nasional tempat keputusan-keputusan penting sebenarnya dibuat, adalah
pilar utama otonomi kultur liberal. Hal ini memberikan beberapa keuntungan.
Misalnya, hal ini membuat sistem ekonomi bebas dari kontrol demokratis. Ini
juga memungkinkan protes politik dapat terus dikekang, dengan dibatasinya
hanya pada wilayah nasional.
Lepasnya kekuatan ekonomi (baca: kapitalisme) dari kemungkinan pengontrolan
oleh kekuatan politik ini, paralel dengan terminologi nihilisme dari Carl
Schmitt, seorang pemikir hukum dari Jerman. Nihilisme ia beri makna
‘pemisahan pemerintahan dari lokasi’ (*separation of order from location*).
Wujud dari nihilisme ini adalah ‘Negara Dunia’, yang tak lain adalah sistem
Kapitalisme Global. Oleh filosof lain dari Italia, Antonio Negri, negara
dunia didefinisikan sebagai ‘kekaisaran dengan pusat yang tak dapat
dikenali’. Selanjutnya Negri dan Hardt (2003) juga mengatakan bahwa
‘kekaisaran global’ ini berwatak monarkis dan aristokratik: ada di tangan
segelintir elit, yakni ‘*the invisible political hand’* dalam istilah Rufin
di atas.
Walapun harus diberi catatan di sini istilah ‘monarkis dan airtokratis’ ini
berbeda dari pengertian klasiknya, yang bermakna kelas aristokrat berbasis
aset (tanah). Sebab justru kelas bangsawan inilah yang semula memegang
kekuasaan politik yang kemudian digusur oleh kelas politik baru, yang oleh
Helairie Beloc, sejarahwan Inggris, disebut sebagai *‘Money-Power’
*(Kekuatan-Uang)
itu. *Money Power* adalah istilah yang lebih tepat untuk menggambarkan
kekuatan tersembunyi ini, sebagai sebuah Oligarki (oligos = sedikit, archy
= kekuasaan).
Pertanyaan yang masih harus dijawab adalah: siapakah sang ‘oligark’ pemilik
‘tangan-tangan politik tersembunyi’ ini? Tidak satu pun buku teks ilmu
politik maupun para profesor yang mengajarkannya di
universitas-universitas, termasuk Negri, serta Rufin, yang memberikan titik
terang tentang hal ini. Tapi di tangan ulama asal Skotlandia, Syekh
Abdalqadir As-Sufi, pertanyaan tersebut dijawab dengan gamblang. Dalam
bukunya *Technique of the Coup de Banque* ia mengatakan dengan gamblang
bahwa dunia saat ini berada di bawah kendali ‘*the invisible hand’* yang
terbentuk dalam sejarah panjang Eropa, yakni para para pemakan riba:
Oligarki Bankir.
Bukti awal dari konstatasi tersebut adalah bahwa dalam konstruksi negara
fiskal Bank Sentral dipisahkan dari (kewenangan) politik pemerintah.
‘Independensi Otoritas Moneter’ adalah mantra yang digunakan untuk hal ini.
Di Indonesia, misalnya, atas tekanan IMF, telah diterbitkan Undang-undang
Bank Sentral baru pada Mei 1999, yang mengatur bahwa Gubernur BI tidak lagi
menjadi bagian dari pemerintah dan tidak duduk dalam Kabinet. Maka,
terpetiklah berita-berita dengan kepala berita semacam ini, Pemerintah
Ikuti Aturan Perbankan, yang membuktikan bahwa kapital telah mengendalikan
politik, dan bukan sebaliknya.
Hal ini persis seperti yang diindikasikan oleh Rufin di atas, bahwa
keputusan penting yang sebenarnya-yang terjadi pada tingkat supra-nasional
– tidak lagi dapat dikontrol pada tingkat nasional oleh pemerintah.
Demokrasi, di sini, memperlihatkan karakteristiknya sebagai ‘politik tanpa
otoritas’. Gambaran skematis mesin kekuasaan negara fiskal dapat dilihat
pada Diagram di bawah.
Kita lihat institusi paling penting dalam negara fiskal, Bank Sentral, ini
secara lebih jauh. Bila dibedah lebih dalam, di sejumlah negara utama,
seperti AS (*Federal Reserve of America*) atau Inggris (*Bank of England*),
dan berbagai negara lainnya, kita akan mengetahui bahwa bank-bank sentral
bahkan sejak awal berdirinya sepenuhnya dimiliki oleh pribadi-pribadi
(perusahaan swasta)! Kebanyakan warga negara AS atau Inggris sendiri bahkan
tidak memahami fakta ini.
Politik demokratis dalam zaman modern ini telah diredusir dari suatu
pemerintahan (*governance*) menjadi semata-mata front politik para bankir.
Demokrasi menjadi sistem politik tanpa kekuasaan. Pemerintahan demokratis,
seperti halnya Raja Louis XIV dan penerusnya, sebagaimana akan
diperlihatkan di bagian lain [buku Ilusi Demorkasi] nanti, tak lebih dari
sekadar ‘pemerintahan boneka’. Dalam versi dan konteks yang berbeda, kita
dapat mengambil contoh keputusan Federal Reserve AS atas tingkat suku bunga
di negeri tersebut, selalu membrikan pengaruh sangat besar bukan saja pada
situasi ekonomi dunia, tapi juga kebijakan nasional suatu negara.
Penting untuk dipahami bahwa yang menjadi persoalan di sini bukan pada
orang, atau kelompok orang, baik yang telah disebutkan nama-namanya di sini
maupun yang belum, tetapi sistem yang beroperasi ini sendiri. Kapitalisme,
dalam perspektif Islam maupun dari nilai-nilai kemanusiaan, adalah suatu
Kriminalitas (dengan K besar). Yang kita nilai di sini adalah inti
persoalannya ini, yakni prosedur dan metodologi sistem ini, yang
menghasilkan penderitaan bagi sebagian besar umat manusia di dunia.
Pada jantung sistem ini kita temukan riba yang didukung oleh sistem pajak
yang dipaksakan kepada rakyat oleh negara. Kritik Islam terhadapnya adalah:
keduanya, riba dan pajak, dilarang oleh hukum syariah. Siapa pun yang
berada di dalam puncak piramida sistem ini-kaum Yahudikah, Kristen, atau
bahkan Muslim sekalipun-tidak relevan. Faktanya adalah Kejahatan ini terus
dilestarikan, maka Kejahatan inilah dan bukan penjahatnya, yang menjadi
perhatian kita. Kejahatan itu sistemik dan struktural, yang berwujud dalam
negara fiskal, yakni integrasi kapitalisme dan demokrasi yang didasarkan
kepada konstitusionalisme.
Syekh Abdalqadir (2000:81) mengungkapkan esensi fungsi negara modern ini,
sebagai berikut:
Di bawah hegemoni kekuatan finansial baru ini dapat dikenali fungsi Negara
Nasional, dan dokumen-penentu kewarganegaraan, Konstitusi, yang sebenarnya.
Kewarganegaraan dalam negara demokrasi menjamin, sebagaimana ditunjukkan
oleh Anatole France lebih dari seratus tahun lalu dalam novelnya ‘*Penguin
Island’*, bahwa demi kehormatan [status kewarganegaraan] ini Anda masuk
daftar Sensus Nasional.
Tujuan Sensus adalah untuk memastikan ketaatan Anda dalam sistem pajak
Negara. Ini merupakan catatan tentang kerja keras Anda sebagai jatah untuk
menanggung beban Utang Nasional Negara. Dalam tiap tahap kehidupan Anda
membawa di atas pundak Anda bukan saja beban utang yang Anda punyai, dalam
keadaan baik atau buruk, yang Anda ambil sendiri, tetapi juga menanggung
beban sejumlah besar utang hasil kesepakatan, belanja, program, dan bahkan
perang, yang tak satupun Anda ikut menyetujuinya.
Dari sejak sangat awal, ketika pertama kali dimulai, terutama menjelang dan
beberapa saat setelah Revolusi Perancis, sampai detik ini utang negara atau
utang nasional menjadi sumber hilangnya kebebasan individu warga negara.
Pada saat yang sama, bagi para kapitalis, ia merupakan instrumen pemupuk
kekayaan yang tiada terbatas.
*) Dinukil dari buku *Ilusi Demokrasi* (Republika, 2007), dapat diperoleh
di kios WIN atau DinarShop.com.
http://islampos.com/2012/demokrasi-dan-otoritarianisme-kapital/
*Direktur Wakala Induk Nusantara *
TEKNIK dari kapitalisme adalah konstruksi negara fiskal. Dalam sistem ini
negara memberikan hak monopoli kepada para bankir untuk mencetak uang
kertas. Untuk keperluan itu mereka diberi izin untuk membentuk Bank
Sentral. Sebagai imbalan mereka menyediakan kredit (utang) untuk keperluan
‘pembiayaan negara’ (tepatnya: proyek-proyek). Kita semua, tiap-tiap
individu warga negara, kemudian dipaksakan menjadi jaminan atas
pengembalian utang-ribawi tersebut, melalui pemajakan.
Pajak itu sendiri, sebagaimana akan dibahas lagi di bawah nanti, terdiri
atas dua jenis yaitu pajak langsung yang ditarik secara tunai dari harta
warga negara dan pajak tidak langsung (inflasi dan *seignorage*) yang
secara riel dirasakan sebagai terus-menerus turunnya nilai tukar mata uang
kertas. Ini berarti naiknya harga-harga komoditas dari waktu ke waktu.
Tiap-tiap tahun birokrasi negara-artinya orang-orang yang Anda pilih
melalui Pemilu – menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),
untuk pelayanan publik (pendidikan, kesehatan, perumahan, pertahanan, dan
sebagainya), dengan sejumlah tertentu untuk dibayarkan kepada ‘kekuatan
penyandang dana’. Negara menjamin kepada para bankir atas (pengembalian)
utang ini dari pembebanan pajak kepada warga negara. Para bankir, tentu
saja, dengan sangat mudah memenuhi kebutuhan biaya tersebut, berapa pun
nilainya, dengan cara mencetak kredit *ex nihilo*: mencetak angka-angka
dalam buku atau sebagai byte dalam layar komputer. Dari sinilah kita
disodori suatu trick yang dikenal sebagai ‘Utang Negara’ (Public Debt).
Kalau bukan Bank Sentral negara nasional besangkutan sendiri maka jaringan
perbankan internasional akan mengambilalih perannya sebagai financier
tersebut.
Utang negara memberikan legitimasi bagi pemerintah yang berkuasa untuk
memajaki rakyat. Mekanisme ini merupakan modus yang inherent di dalam
negara konstitusional, demokrasi ataupun bukan. Fungsi utama konstitusi
adalah memastikan tiap-tiap individu warga negara ini sebagai pembayar
pajak. Dengan kata lain, lewat konstitusi inilah, warga negara dijaminkan
dalam utang-piutang yang dilakukan oleh para pengelola negara, kepada pihak
perbankan. Di sanalah bercokol kepentingan-kepentingan oligarki bankir yang
mengendalikan keberlangsungan sistem ini. Negara fiskal dunia mencerminkan
kapitalisme lanjut dan nihilisme, yakni terceraikannya otoritas dan lokasi,
yang berimplikasi pada irelevannya negara bangsa dan kedaulatan nasional.
APBN semata-mata menjadi wadah bagi penyaluran investasi para bankir ini.
Dalam konstruksi struktural (konstitusionalisme) semacam itu kapitalisme
telah menjadi ortodoksi dalam kehidupan semua umat manusia saat ini,
termasuk di kalangan Muslimin. Kapitalisme, di tengah ideologi ‘kebebasan
dan persamaan agama-agama’, sesungguhnya telah menggantikan agama-agama
tersebut. Kapitalisme telah menjadi agama itu sendiri, dan menunjukkan
dirinya sebagai agama yang paling dogmatis, intoleran, dan otoriter.
Agama-agama yang sebenarnya justru dipandang sebagai penghambat utama
kapitalisme. Mereka harus ditundukkan demi kapitalisme. Di kalangan Islam
tujuan ini hendak dicapai melalui gerakan pembaruan Islam.
Dalam konteks ini ada slogan eufemistik yang acap disebut oleh para
pengamat sebagai ‘fundamentalisme pasar’. Ini menggambarkan watak
ortodoksinya di satu sisi, tapi juga sebuah abstraksi yang samar-samar di
lain sisi. Siapa sesungguhnya yang dimaksud dengan ‘pasar’ yang
fundamentalistik tersebut? Kita tentu memerlukan jawaban yang jelas
mengenai sosok ini.
*Fundamentalisme Kekuatan Uang*
Jean-Christophe Rufin menyebut suatu kekuatan baru ini sebagai *invisible
political hand* (tangan-tangan politik tersembunyi). Rufin, seorang dokter
aktivis Perancis, mantan Direktur LSM Medecins sans Frontiers
(Dokter-tanpa-Batas), mengatakan hal ini dalam bukunya *La Dictature
Liberal (Diktator Liberal)*. Kekuatan tersembunyi tersebut, dalam kultur
liberal yang kini dominan, telah berhasil memastikan terceraikannya
masyarakat dari sistem. Rufin menjelaskan bahwa sistem tersebut, dengan
mekanisme politik dan ekonominya, dibuat sesedikit mungkin menganggu
aktivitas manusia dan setiap peristiwa sosial. Sementara
aktivitas-aktivitas tersebut, di lain sisi, seberapa pun bebasnya, harus
tidak boleh mengancam perangkat yang memungkinkan sistem tersebut untuk
dapat terus bekerja. Selanjutnya Rufin, sebagaimana dikutip oleh Rieger
(2005), mengatakan bahwa sistem ini dicirikan oleh ketidakpeduliannya yang
dingin atas umat manusia. Ia mengatakan:
Pada pengertian tertentu budaya demokrasi dibangun atas ketidakacuhan
ganda. Yang pertama adalah ketidakacuhan sistem liberal ini atas umat
manusia di dalamnya. Sistem ini, terutama aspek ekonominya, menjadi semakin
meng-internasional dan supra-nasional, dan karenanya semakin sulit
dikontrol. Manusianya, sebaliknya, hanya dapat mengekspresikan pilihan
politiknya pada tingkat nasional atau lokal-yaitu, tanpa dapat menyentuh
sumber kekuatan sebenarnya dari sistem ini.
Pemisahan antara realitas nasional-yang, suka atau tidak, adalah ranah
tempat kontrol secara demokratis dapat dilakukan-dan realitas
supra-nasional tempat keputusan-keputusan penting sebenarnya dibuat, adalah
pilar utama otonomi kultur liberal. Hal ini memberikan beberapa keuntungan.
Misalnya, hal ini membuat sistem ekonomi bebas dari kontrol demokratis. Ini
juga memungkinkan protes politik dapat terus dikekang, dengan dibatasinya
hanya pada wilayah nasional.
Lepasnya kekuatan ekonomi (baca: kapitalisme) dari kemungkinan pengontrolan
oleh kekuatan politik ini, paralel dengan terminologi nihilisme dari Carl
Schmitt, seorang pemikir hukum dari Jerman. Nihilisme ia beri makna
‘pemisahan pemerintahan dari lokasi’ (*separation of order from location*).
Wujud dari nihilisme ini adalah ‘Negara Dunia’, yang tak lain adalah sistem
Kapitalisme Global. Oleh filosof lain dari Italia, Antonio Negri, negara
dunia didefinisikan sebagai ‘kekaisaran dengan pusat yang tak dapat
dikenali’. Selanjutnya Negri dan Hardt (2003) juga mengatakan bahwa
‘kekaisaran global’ ini berwatak monarkis dan aristokratik: ada di tangan
segelintir elit, yakni ‘*the invisible political hand’* dalam istilah Rufin
di atas.
Walapun harus diberi catatan di sini istilah ‘monarkis dan airtokratis’ ini
berbeda dari pengertian klasiknya, yang bermakna kelas aristokrat berbasis
aset (tanah). Sebab justru kelas bangsawan inilah yang semula memegang
kekuasaan politik yang kemudian digusur oleh kelas politik baru, yang oleh
Helairie Beloc, sejarahwan Inggris, disebut sebagai *‘Money-Power’
*(Kekuatan-Uang)
itu. *Money Power* adalah istilah yang lebih tepat untuk menggambarkan
kekuatan tersembunyi ini, sebagai sebuah Oligarki (oligos = sedikit, archy
= kekuasaan).
Pertanyaan yang masih harus dijawab adalah: siapakah sang ‘oligark’ pemilik
‘tangan-tangan politik tersembunyi’ ini? Tidak satu pun buku teks ilmu
politik maupun para profesor yang mengajarkannya di
universitas-universitas, termasuk Negri, serta Rufin, yang memberikan titik
terang tentang hal ini. Tapi di tangan ulama asal Skotlandia, Syekh
Abdalqadir As-Sufi, pertanyaan tersebut dijawab dengan gamblang. Dalam
bukunya *Technique of the Coup de Banque* ia mengatakan dengan gamblang
bahwa dunia saat ini berada di bawah kendali ‘*the invisible hand’* yang
terbentuk dalam sejarah panjang Eropa, yakni para para pemakan riba:
Oligarki Bankir.
Bukti awal dari konstatasi tersebut adalah bahwa dalam konstruksi negara
fiskal Bank Sentral dipisahkan dari (kewenangan) politik pemerintah.
‘Independensi Otoritas Moneter’ adalah mantra yang digunakan untuk hal ini.
Di Indonesia, misalnya, atas tekanan IMF, telah diterbitkan Undang-undang
Bank Sentral baru pada Mei 1999, yang mengatur bahwa Gubernur BI tidak lagi
menjadi bagian dari pemerintah dan tidak duduk dalam Kabinet. Maka,
terpetiklah berita-berita dengan kepala berita semacam ini, Pemerintah
Ikuti Aturan Perbankan, yang membuktikan bahwa kapital telah mengendalikan
politik, dan bukan sebaliknya.
Hal ini persis seperti yang diindikasikan oleh Rufin di atas, bahwa
keputusan penting yang sebenarnya-yang terjadi pada tingkat supra-nasional
– tidak lagi dapat dikontrol pada tingkat nasional oleh pemerintah.
Demokrasi, di sini, memperlihatkan karakteristiknya sebagai ‘politik tanpa
otoritas’. Gambaran skematis mesin kekuasaan negara fiskal dapat dilihat
pada Diagram di bawah.
Kita lihat institusi paling penting dalam negara fiskal, Bank Sentral, ini
secara lebih jauh. Bila dibedah lebih dalam, di sejumlah negara utama,
seperti AS (*Federal Reserve of America*) atau Inggris (*Bank of England*),
dan berbagai negara lainnya, kita akan mengetahui bahwa bank-bank sentral
bahkan sejak awal berdirinya sepenuhnya dimiliki oleh pribadi-pribadi
(perusahaan swasta)! Kebanyakan warga negara AS atau Inggris sendiri bahkan
tidak memahami fakta ini.
Politik demokratis dalam zaman modern ini telah diredusir dari suatu
pemerintahan (*governance*) menjadi semata-mata front politik para bankir.
Demokrasi menjadi sistem politik tanpa kekuasaan. Pemerintahan demokratis,
seperti halnya Raja Louis XIV dan penerusnya, sebagaimana akan
diperlihatkan di bagian lain [buku Ilusi Demorkasi] nanti, tak lebih dari
sekadar ‘pemerintahan boneka’. Dalam versi dan konteks yang berbeda, kita
dapat mengambil contoh keputusan Federal Reserve AS atas tingkat suku bunga
di negeri tersebut, selalu membrikan pengaruh sangat besar bukan saja pada
situasi ekonomi dunia, tapi juga kebijakan nasional suatu negara.
Penting untuk dipahami bahwa yang menjadi persoalan di sini bukan pada
orang, atau kelompok orang, baik yang telah disebutkan nama-namanya di sini
maupun yang belum, tetapi sistem yang beroperasi ini sendiri. Kapitalisme,
dalam perspektif Islam maupun dari nilai-nilai kemanusiaan, adalah suatu
Kriminalitas (dengan K besar). Yang kita nilai di sini adalah inti
persoalannya ini, yakni prosedur dan metodologi sistem ini, yang
menghasilkan penderitaan bagi sebagian besar umat manusia di dunia.
Pada jantung sistem ini kita temukan riba yang didukung oleh sistem pajak
yang dipaksakan kepada rakyat oleh negara. Kritik Islam terhadapnya adalah:
keduanya, riba dan pajak, dilarang oleh hukum syariah. Siapa pun yang
berada di dalam puncak piramida sistem ini-kaum Yahudikah, Kristen, atau
bahkan Muslim sekalipun-tidak relevan. Faktanya adalah Kejahatan ini terus
dilestarikan, maka Kejahatan inilah dan bukan penjahatnya, yang menjadi
perhatian kita. Kejahatan itu sistemik dan struktural, yang berwujud dalam
negara fiskal, yakni integrasi kapitalisme dan demokrasi yang didasarkan
kepada konstitusionalisme.
Syekh Abdalqadir (2000:81) mengungkapkan esensi fungsi negara modern ini,
sebagai berikut:
Di bawah hegemoni kekuatan finansial baru ini dapat dikenali fungsi Negara
Nasional, dan dokumen-penentu kewarganegaraan, Konstitusi, yang sebenarnya.
Kewarganegaraan dalam negara demokrasi menjamin, sebagaimana ditunjukkan
oleh Anatole France lebih dari seratus tahun lalu dalam novelnya ‘*Penguin
Island’*, bahwa demi kehormatan [status kewarganegaraan] ini Anda masuk
daftar Sensus Nasional.
Tujuan Sensus adalah untuk memastikan ketaatan Anda dalam sistem pajak
Negara. Ini merupakan catatan tentang kerja keras Anda sebagai jatah untuk
menanggung beban Utang Nasional Negara. Dalam tiap tahap kehidupan Anda
membawa di atas pundak Anda bukan saja beban utang yang Anda punyai, dalam
keadaan baik atau buruk, yang Anda ambil sendiri, tetapi juga menanggung
beban sejumlah besar utang hasil kesepakatan, belanja, program, dan bahkan
perang, yang tak satupun Anda ikut menyetujuinya.
Dari sejak sangat awal, ketika pertama kali dimulai, terutama menjelang dan
beberapa saat setelah Revolusi Perancis, sampai detik ini utang negara atau
utang nasional menjadi sumber hilangnya kebebasan individu warga negara.
Pada saat yang sama, bagi para kapitalis, ia merupakan instrumen pemupuk
kekayaan yang tiada terbatas.
*) Dinukil dari buku *Ilusi Demokrasi* (Republika, 2007), dapat diperoleh
di kios WIN atau DinarShop.com.
http://islampos.com/2012/demokrasi-dan-otoritarianisme-kapital/
Langganan:
Postingan (Atom)