Kamis, 17 November 2011

Battle in Kumogakure


            Sebagai seorang jinchuriiki, Naruto menjadi bagian terpenting untuk menjaga kestabilan Desa Konohagakure dari ancaman musuh-musuh terutama dari kalangan Akatsuki. Pagi ini ia berlatih seperti biasanya untuk menguasai elemen angin, sebagai latihan tingkat tinggi dari teknik Rasengan yang sudah ia kuasai sebelumnya. Pertarungan melawan Hidan serta Kakuzu membuatnya harus merelakan teknik Rasengan-Shuuriken yang menjadi teknik terkuat Rasengan miliknya untuk tidak kembali digunakan.
            Kalau sampai kau menggunakan teknik itu lagi... tidak ada jaminan kecepatan penyembuhan dari Kyuubi. Atau bahkan... kamu tidak akan pernah bisa menggunakan tanganmu untuk selama-lamanya,’ terang Tsunade yang tak lain adalah Hokage kelima, sesaat setelah operasi yang dilakukannya kepada Naruto berhasil sebulan yang lalu.
            Naruto masih terdiam, ia berkali-kali mengeluarkan cakra angin namun kembali ia hentikan aliran cakranya. Antara keraguan dan juga harapan, artinya ia harus menemukan teknik baru sebagai penggunaan elemen angin yang selama ini menjadi bagian latihan yang dilakukan oleh Kakashi dan juga Jiraiya yang kini entah ada dimana.
            Guru pertamanya, yakni Jiraiya, tidak begitu banyak mengajarkan pengembangan teknik Rasengan. Bahkan Naruto lebih banyak mengembangkan metode latihan dengan menggunakan teknik Kagebunshin, yang tak lain agar ia bisa mencari metode yang tepat untuk mengalirkan elemen angin sebelum mengembangkan teknik Rasengan.
             “Hei, Naruto...,”
            Kakashi sudah nampak dihadapannya, seperti biasa sambil membaca buku Icha-Icha Paradise. Pandangan hampa Naruto sempat ia tangkap beberapa saat sebelum sapaan hangat itu menyapa murid kesayangannya. Dan pagi ini ia akan kembali menemani latihan Naruto, meskipun ia masih belum mampu menemukan kombinasi elemen yang cocok. Penggunaan elemen air seperti saran dari Jiraiya beberapa waktu sebelumnya masih belum menemukan titik temu, apalagi Naruto bukanlah pengguna elemen angin.
             “Hei... apa yang sedang kau pikirkan... Naruto?”
             “Aku... masih belum memahami kata-kata Sanin Mesum,” jawab Naruto datar-datar saja, ia masih menunduk.
            Kakashi menepuk perlahan bahu kanan Naruto, ia pun mulai menggerakkan tangannya untuk membuka Kunci Segel.
             Kuchiyose no Jutsu...!
            Tangan kanan Kakashi menapak tanah, bersamaan dengan keluarnya asap. Seperti biasa ia memanggil keenam anjing yang menjadi senjata saat bertarung maupun mencari lokasi persembunyian dari musuh.
             “Wraf...!”
            Anjing-anjing milik Kakashi terus menggonggong, dan untuk kali ini ia akan mengajari Naruto teknik kombinasi antara Kuchiyose no Jutsu dengan elemen yang dikuasai. Sebagai pengguna elemen petir, Kakashi menggabungkan teknik bola api yang dikeluarkan oleh keenam anjingnya yang kemudian dialiri cakra elemen petirnya sehingga menghasilkan badai api-petir yang menghasilkan kekuatan dahsyat.
            Naruto terus memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan oleh Kakashi. Teknik penggabungan elemen sebenarnya sudah diminta oleh Jiraiya agar Naruto mampu menguasainya, namun hingga dua minggu berjalan ia masih belum bisa melakukannya. Gamakichi dan Gamachan yang selama ini menjadi teman berlatih Naruto masih belum mampu berbuat banyak. Teknik penggabungan elemen air dan angin memang teknik yang cukup sulit untuk dikuasai oleh Naruto. Kendati demikian, ia harus segera menguasai teknik ini agar dapat menggunakan metode pertarungan jarak jauh yang lebih kuat.
             “Baiklah... huft.. Kuchiyose no Jutsu!
            Naruto mengeluarkan cakra pembuka segelnya, sesaat kemudian muncullah dua ekor katak besar yang tak lain adalah Gamakichi dan Gamachan.
            “Yo... Naruto... apa kau siap untuk berlatih lagi?!” tanya Gamakichi.
             “Kakak, apakah nanti kita dapat cemilan?” tanya Gamachan pada Gamakichi.
             “Tenang saja... kalau latihan ini berhasil, nanti Gamachan akan dapat hadiah cemilan yang banyak.” Terang Naruto.
            Naruto pun kembali memulai latihannya, dengan jurus seribu bayangan atau Tajuu Kagebunshin no Jutsu ia mulai mengeluarkan cakra angin untuk mengelurkan jurus Rasengan. Kakashi hanya melihat sambil duduk tenang diatas cabang pohon, tentunya dengan membaca buku yang ia bawa.
             “Naruto... sebagai Jinchuriiki, kau sudah berkembang sangat pesat. Tapi... untuk menjadi ninja yang hebat, kau harus lebih banyak berlatih untuk menguasai kekuatan yang ada di dalam tubuhmu.” Gumam Kakashi yang kali ini memikirkan sosok Kyuubi yang disegel dalam tubuh Naruto.
             “Jurus elemen air.. tembakan bola air!” teriak Gamakichi.
            ‘Poof... poof... poof...’
            Satu per satu bayangan Naruto menghilang, bersamaan dengan cakra angin yang kini berkumpul di telapak tangan kanannya. Gamakichi sudah siap dengan kuda-kudanya, begitu pula dengan Naruto.
             Hea...!!!
             “Putaran angin topan...!”
             “Tembakan bola air...!”
            Dua jurus pun berpadu, elemen air milik Gamakichi berpadu dengan elemen angin milik Naruto. Menghasilkan putaran angin topan yang cukup besar, hingga menghantam sebuah gundukan batu besar yang akhirnya hancur berkeping-keping.
             ‘Hos... hos... hos...’
            Naruto pun terengah, begitu pula dengan Gamakichi. Banyaknya cakra yang dikeluarkan cukup membuat keduanya harus menghela nafas sebelum kembali mengeluarkan cakra baru selama latihan hari ini.
            “Bagus... Naruto,” puji Kakashi setelah melakukan gerak pindah cepat dari cabang pohon kemudian mendekat ke arah Naruto.
             “Tapi... cakra yang keluar tidak dalam bentuk memotong obyek, malah menghancurkannya. Sementara... Sannin Mesum mengajarkan teknik untuk memotong aliran cakra lawan dengan kombinasi dua elemen air dan angin...,”
             “Naruto... teknik ini memang sulit untuk dikuasi. Tapi, gunakanlah cara yang memang kau mudah untuk dikuasai... seperti teknik Rasengan dengan jurus bayanganmu.” Potong Kakashi.
             “Baiklah... Gamakichi ayo kita mulai lagi!”
             “Yo...!!!” teriak Gamakichi.
            Tiba-tiba seekor burung merpati hingga di bahu Kakashi, tampaknya ada pesan yang ingin disampaikan dari Tsunade selaku Hokage. Kakashi terdiam sejenak, ia pun akhirnya meninggalkan Naruto yang masih berlatih bersama Gamakichi dan juga Gamachan. Kedua ekor katak ini secara bergantian mengalirkan cakra airnya untuk dipadukan dengan cakra angin milik Naruto. Hari yang cukup panjang untuk Naruto, dan mungkin ada perjalanan hebat yang akan dilaluinya untuk menguji keberhasilan dan kehebatan penggabungan jurus yang kini coba dikuasainya.
*****
             “Baiklah... Hokage meminta kita untuk menyelesaikan misi ke Desa Kumogakure,” terang Kakashi kepada Naruto, Sai dan Sakura.
             “Guru Kakashi... apakah Naruto berhasil menyelesaikan jurusnya? Bukankah nona Tsunade meminta Naruto untuk menguasai jurusnya sebelum melaksanakan misi...?” tanya Sakura.
            Kakashi mulai teringat akan percakapan dengan Tsunade kemarin sebelum mengumpulkan timnya. Misi kali ini untuk mengetahui siapa orang yang mencoba untuk membunuh Tsucikage atau pemimpin Desa Kumogakure. Dan juga mengetahui perkembangan jurus yang sedang dipelajari oleh Naruto.
            ‘Kakashi... misi kali ini cukup berat, terlebih kondisi tim Konoha yang lain sedang menjalankan misi. Tapi, apakah Naruto sudah siap dengan jurus barunya?’
             ‘Hmm... kalau boleh dibilang, dia sudah mampu menguasai tekniknya. Tinggal bagaimana dia bisa melakukan kombinasi dengan cepat sebelum musuh tiba-tiba menyerang. Jurus kombinasi antara dua elemen memang cukup sulit, tapi... Naruto bukan orang yang sembarangan.’
             ‘Aku mengerti... baiklah, laksanakan misi ini! Nanti akan kukirim bantuan dari tim Shikamaru yang sedang menuju kemari setelah bertemu dengan Kazekage.’
             “Guru Kakashi...?”
            Tampaknya kali ini Kakashi melamun,
             “Hokage sudah memberikan persetujuan untuk mengajak Naruto dalam misi ini... dan juga menguji sejauh mana keberhasilan jurus baru yang ia pelajari.”
            Sai mulai memperhatikan wajah Naruto yang terdiam, termasuk Sakura.
             “Baiklah... ayo kita selesaikan misi ini!” kata Naruto dengan penuh semangat setelah sebelumnya hanya mampu tertunduk.
            Tim Kakashi pun akhirnya berangkat cepat menuju Kumogakure, sebuah desa yang memang sangat jauh dari Konoha. Menurut kabar, Akatsuki pernah menggunakan desa ini sebagai markas atau tempat persembunyian yang kemudian pindah entah kemana. Dan musuh yang akan dihadapi kali ini pun bisa saja dari kelompok Akatsuki, karena hanya merekalah yang mampu menembus barisan pertahanan pasukan khusus Kumogakure. Tapi menurut laporan, tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa tiga orang yang menyerang dan mencoba membunuh Tsucikage adalah kelompok Akatsuki. Karena mereka tidak menggunakan jubah layaknya Akatsuki.
            Perjalanan yang panjang membuat tim Kakashi bermukim di sebuah hutan, mereka beristirahat malam sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
             “Guru Kakashi... apakah yang akan kita hadapi adalah kelompok Akatsuki?” tanya Sai.
             “Entahlah, tapi... menurut laporan memang tidak ada tanda-tanda dari mereka. Dan... orang yang akan kita hadapi mungkin sama hebatnya dengan Akatsuki.” Jawab Kakashi sambil memasukkan kayu untuk dibakar.
            Sakura dan Naruto sudah terlelap, tinggal Kakashi dan Sai yang kebagian untuk berjaga. Keduanya banyak berbincang mengenai jurus baru Naruto, dan lebih dari itu, mempelajari lebih dalam kekuatan musuh yang akan dihadapi dari laporan ninja desa Kumogakure.
             “Tiga orang musuh... pengguna tiga elemen berbeda dengan tiga buah pedang sebagai senjata. Hmm... mirip dengan orang-orang dari Kirigakure yang pernah kita temui sebelumnya,” tutur Sai sambil mengamati tulisan yang dibuat oleh Kakashi di lembaran kertas.
             “Ya, seperti itulah... tapi ada yang aneh dalam aliran cakra mereka. Tapi memang orang-orang dari Kumogakure tidak ada yang mengenal jurus-jurus mereka... karena sudah cukup lama jurus yang mereka gunakan tidak lagi dipakai.”
             “Apakah jurus terlarang...?” tanya Sai kemudian.
            Kakashi hanya menggelengkan kepala, ia kembali memasukkan kayu kedalam kobaran api untuk menghangatkan badan. Tim dari Konoha ini memang berada dalam kondisi yang kurang memahami kondisi lawan serta mode pertarungan yang akan dipakai. Namun lebih dari itu, kondisi Naruto lebih dikhawatirkan baik oleh Tsunade maupun Kakashi, dan juga Jiraiya yang masih belum diketahui keberadaannya.
*****
             “Baiklah... kita berangkat...!” seru Naruto dengan semangatnya.
            Tim Kakashi akhirnya kembali berangkat, keempat orang ini melaju harmoni menuju desa Kumogakure sekaligus mengatur aliran cakra selama perjalanan menuju kesana. Naruto sendiri melemparkan beberapa bola angin untuk menguji kestabilan aliran cakra pengendali elemen angin yang dimilikinya.
            Perjalanan yang cukup panjang pun akhirnya selesai juga, dan tim Kakashi sudah tiba di desa Kumogakure lengkap dengan kerusakan-kerusakan yang ada didalamnya. Namun agaknya cukup aneh, mengingat ada kerusakan baru yang muncul di beberapa bangunan serta beberapa ninja desa ini yang terluka.
             “Oh... tim dari Konoha, mereka... sudah kembali menyerang... Tsucikage... Tsucikage...,” kata salah seorang ninja dari Kumogakure sambil menahan rasa sakit.
             “Kita terlambat...,” tutur Kakashi.
            Mereka berempat pun berpencar, Kakashi bersama Sakura dan Sai bersama Naruto. Bersamaan dengan itu Tsucikage dan keempat ninja yang selalu bersamanya, yakni Tetsuo, Yujin, Go dan Ima bertarung bersama dengan dua orang musuh. Pengendali elemen petir dan juga elemen tanah yang kali ini mereka hadapi, sementara yang satu lagi sebagai pengendali elemen api masih bertarung dengan beberapa ninja dari Kumogakure yang sudah banyak dikalahkan olehnya.
             Goukakyo no Jutsu...!
            Bola api besar kembali membakar bangunan-bangunan yang ada di desa Kumogakure, dan sepertinya tiga orang ini sengaja dikirimkan entah oleh siapa untuk menghancurkan desa ini. Kakashi dan Sakura akhirnya menemukan orang ini, keduanya segera membantu.
             ‘Trang... trang... trang...!’
            Kakashi mengayunkan shuuriken yang beradu denga pedang milik musuh yang belum diketahui dari mana asalnya.
             “Jurus api naga...!”
            Musuh yang satu ini kembali membuka segel dan akhirnya mengeluarkan kobaran api berbentuk naga dari kedua telapak tangannya, namun masih belum bisa mengenai baik Kakashi maupun Sakura. Sesaat kemudian,
             ‘Dug...!!!’
             ‘Zum...!!!’
             ‘Gubrak...!!!’
            Sebuah pukulan dari Sakura yang tidak disadari tepat mengenai bagian punggung musuh, dan tak pelak membuatnya menghujam dan membentur bangunan yang sudah rusak.
             “Cih... serang dari belakang,”
            Orang ini akhirnya kembali berdiri sambil menghela nafasnya, Sakura masih memperhatikan kondisi musuh dari atap gedung dan juga Kakashi yang mulai menggunakan mata Saringhannya untuk mengetahui aliran cakra milik musuh yang ada di hadapannya.
             “Oh tidak... ini Kekkai... Orochimaru...,”
            Tampaknya musuh yang kali ini dihadapi bukanlah musuh yang sebenarnya, atau dengan kata lain orang ada dihadapannya yang juga musuh sebenarnya sudah mati dan dibangkitkan dengan jurus terlarang.
             “Baiklah...,”
             ‘Zum...!!!’
            Musuh ini kembali menyerang, Kakashi kembali menangkis dengan shuuriken.
             “Hmm... rambut putihmu mengingatkanku pada seorang ninja... Konoha no Shiroi Kiba,”
            Kakashi tersentak, tak lain karena kalimat terakhir yang diucapkan oleh musuh ini. Ia mengetahui sosok ayahnya yang juga seorang ninja hebat yang pernah dimiliki oleh Konoha.
             “Ha... ha... ha... ha...! akhirnya aku kembali bisa menyerang desa ini setelah sekian lamanya terbenam dalam kegelapan... kau... kau!!!”
             Konoha no Shiroi Kiba adalah ayahku... kalau kau sudah pernah mati karena perbuatan ayahku, maka aku akan membuatmu merasakan kematian sebanyak dua kali. Bersiaplah...,”
            Kakashi membuka segel Raikiri, jurus favoritnya untuk menjatuhkan lawan pun juga jurus bayangan untuk mengecoh pergerakan lawan.
             “Anak Shiroi Kiba... ha... ha... ha... ha...!!! kau akan jadi mangsa pedangku,”
            Pertarungan kembali dimulai, salah satu bayangan Kakashi mulai membuka segel bersamaan dengan musuh ini yang masih belum diketahui namanya.
             ‘Crat...!’
            Ayunan pedang musuh ini melukai tubuh Kakashi, kecepatan gerak yang tak mampu dibaca olehnya. Tampaknya pengalaman melawan ayah Kakashi sebelumnya cukup untuk membaca gerakan Kakashi yang memang punya gerakan yang hampir sama.
             “Guru Kakashi...!!!” teriak Sakura.
*****
            Naruto dan Sai akhirnya bertarung bersama Tsucikage.
             “Jurus ninja... Chouju Giga...,”
            Sai mulai bergerak, bersamaan dengan jurus lukisannya yang membentuk hewan-hewan untuk menyerang musuh.
             ‘Goarrr...!’
             “Elemen tanah... jurus seribu tombak tanah,”
            Salah seorang musuh akhirnya kembali memulai pertarungan, bersamaan dengan serangan tanah runcing berbentuk tombak yang muncul dari tanah. Empat orang yang bersama Tsucikage langsung membuat perisai untuk melindungi Tsucikage dan juga Naruto yang mulai mengumpulkan cakranya.
             Kuchiyose no Jutsu!
             ‘Poof...!’
            Gamakichi dan Gamachan akhirnya muncul, mereka pun diminta Naruto untuk kembali menggunakan jurus elemen airnya.
             “Kau yang bernama Naruto kan...?” tanya Tsucikage.
             “Iya benar...,”
             “Hmm... elemen petir lemah terhadap elemen angin, dan kau adalah pengendali elemen angin... gunakanlah untuk mengalahkan dia,” kata Tsucikage sambil menunjuk kearah seorang musuh yang memegang pedang besar.
             “Hiya...!”
            Sang pemilik pedang besar itu kembali bergerak, dan kali ini sangat cepat serta hampir melukai Naruto yang masih mengumpulkan cakra anginnya. Sai sendiri bersama jurus lukisannya masih bertarung sengit, dibantu Go dan Ima yang memiliki elemen air untuk menutup pergerakan pengguna elemen tanah dengan dua pedangnya.
             “Tiger...!”
            Sai kembali membuka segel serta melukiskan sesuatu diatas kanvasnya, hingga kembali muncul bayangan besar menyerupai seekor harimau besar. Ia pun kembali mengumpulkan cakra di kedua telapak tangannya.
             Tsuginomai Hakuren...!
            Go melepaskan gumpalan es melalui telapak tangan kanannya, dibantu Ima dengan pusaran air. Orang dengan dua pedang itu masih mencoba menahan dengan kedua pedang dan jurus elemen tanahnya.
             “Jurus ninja... teknik pembangkit kehidupan...,”
            Secara tiba-tiba pohon demi pohon besar bermunculan dari dalam tanah, mirip dengan jurus yang dimiliki oleh Hokage pertama, Senju Hashirama. Sai melihat ada celah ketika orang dengan dua pedang ini mengeluarkan teknik pembangkit kehidupan, ia pun bergerak dengan mengayunkan pedang yang sudah dialiri cakra.
             ‘Syat...!’
             ‘Crat...!!!’
            Ayunan pedang milik Sai mengenai punggung orang dengan dua pedang ini, sontak membuat musuh tersebut agak terhuyung. Meskipun demikian, ia kembali mencoba untuk menebas tubuh Sai dengan kedua pedangnya. Pertarungan sengit pemilik pedang ini diakhiri dengan jurus kuncian air milik Go.
            Musuh pun terperangkap dalam air yang sudah dialiri cakra sehingga tidak mempu keluar, dan ‘Bom Air’ yang dikeluarkan oleh Ima menghujam keras ke arah musuh. Tak pelak orang dengan dua pedang ini terpental, menubruk sebuah pohon besar dan kedua pedangnya pun terpental jauh.
             ‘Pof...!’
            Tiba-tiba orang pemilik dua pedang ini berubah wujud menjadi seorang laki-laki dengan lambang desa Ottogakure pada pelindung kepalanya. Mirip dengan prediksi Kakashi bahwa mereka bertiga adalah orang yang sudah mati dan dibangkitkan kembali dengan jurus terlarang.
            Ditempat Naruto pertarungan sengit masih berlangsung, semburan air Gamakichi masih belum mengenai sasaran, begitu pula dengan Naruto yang masih belum berhasil menemui sasaran tembak dengan elemen anginnya.
             ‘Pof...!!!’
             Rasengan...!!!
             “Pusaran air Gamakichi...!!!”
            Kombinasi gerak tipu Kagebunshin Naruto membuat orang dengan pedang besar yang juga pengendali elemen petir tak mampu menghindar. Serangan dari elemen angin yang menjadi kelemahannya begitu telak, terlebih pusaran air yang dibuat oleh Gamakichi mengenai tubuhnya. Ia pun terpental dan kembali berubah wujud menjadi ninja Ottogakure, sama dengan yang terjadi pada pertarungan Sai, Ima dan Go.
             “Orochimaru...,” kata Naruto sambil mengepalkan kedua telapak tangannya.
*****
            Kakashi masih bertarung sengit, ia agak kesulitan menghadapi musuh pengendali elemen api meskipun sudah menggunakan Saringhan pemberian temannya.
             “Guru Kakashi, apa yang harus kita lakukan...?” tanya Sakura sambil terus memperhatikan gerakan serangan bola api dari musuh.
             “Baiklah...,”
            Kakashi mulai kembali menggunakan teknik Kuchiyose no Jutsu, memanggil anjing-anjing yang menjadi senjata ampuhnya untuk melumpuhkan lawan dari jarak jauh.
             “Pakun... pandu teman-temanmu untuk mengecoh pergerakan lawan,” kata Kakashi pada salah satu anjingnya yang bernama Pakun.
            Enam ekor anjing bergerak cepat untuk mengecoh pergerakan musuh, seperti instruksi dari Kakashi yang kini terluka akibat sabetan pedang beberapa saat yang lalu.
             “Jurus anjingmu tidak akan mampu mengalahkanku...!”
            Gerakan musuh sangat cepat, dan ia mampu mengelak setiap terkaman maupun cakaran anjing-anjing milik Kakashi. Sementara itu, Kakashi mulai mengumpulkan cakra ke telapak tangan kanannya.
             Raikiri... Rasengan...,”
            Pusaran angin kecil berpadu dengan cakra petir, perpaduan antara elemen angin dan petir. Kakashi pun bersiap untuk menerjang musuh. Diawali dengan gerak cepat Sakura yang menghujamkan pukulan telak ke arah punggung, Kakashi langsung menerjang dengan jurusnya.
             ‘Zum...!’
             ‘Crat...!’
            Tangan kanan Kakashi menembus dada kiri musuh dan melumpuhkannya, musuh pun tak mampu melancarkan serangan balik.
             “Hmm... Konoha no Shiroi Kiba, ternyata anakmu sama hebatnya. Hei kau... siapa namamu?”
             “Aku Kakashi... Hatake Kakashi...,” jawab Kakashi tenang.
             “Hatake Kakashi... nama yang bagus... baiklah... rasanya aku kembali pada masa perang dunia ninja kedua... hahahaha...,”
            Tubuh orang ini pun kembali berubah menjadi sosok ninja Ottogakure. Sama halnya dengan dua orang yang dilumpuhkan oleh Sai dan Naruto beserta ninja desa Kumogakure.
             “Guru Kakashi... apakah ini ulah Orochimaru?”
             “Mungkin... tapi orang itu tidak muncul, ada apa ini sebenarnya...?”
            Seseorang yang tak dikenal berjalan tenang di atas reruntuhan bangunan desa Kumogakure. Ia seperti tersenyum dengan hal yang ada dihadapannya, dan orang ini mirip dengan sosok Kabuto yang merupakan anak buah dari Orochimaru, orang yang memang memiliki teknik untuk membangkitkan kembali orang yang sudah mati atau Kekkai.
             “Hmm... sepertinya kau berhasil Kakashi... hahahaha... Naruto... Jinchuriiki... apa kau sudah lebih hebat dari Sasuke... baiklah...,”
            Orang dengan jubah ini pun segera menghilang untuk keluar dari desa Kumogakure, melesat jauh meninggalkan Naruto yang mencari Kakashi dan juga Sakura di tempat pertarungan yang lainnya. Tim Shikamaru pun tiba, mereka membawa banyak perlengkapan medis untuk mengobati tim Kakashi dan juga membantu ninja medis desa Kumogakure.
            Pertarungan di desa ini masih menyimpan misteri, terlebih dengan semakin tidak diketahuinya pergerakan Akatsuki. Entah apa yang terjadi kali ini, yang pasti tim Kakashi harus memberikan informasi yang lengkap kepada Hokage setelah sampai di Konoha.

The Great Reza


Reza, sebutlah namanya demikian. Anak pertama dari lima bersaudara, dan menjadi satu-satunya anak laki-laki dalam keluarganya. Umurnya baru menginjak dua puluh tahun, dan sudah cukup mapan dengan pekerjaannya sebagai mandor kebun teh milik pamannya. Ia sengaja tidak memutuskan untuk melanjutkan sekolah atau kuliah demi membiayai sekolah keempat adik perempuannya yang ternyata tidak sepintar dirinya. Kehidupan kedua orang tuanya pun tidak terlalu baik, keduanya hanya menjadi petani sayuran di kebun warisan almarhum kakek. Kendati demikian, keduanya malah menjadi orang yang disegani masyarakat karena kebaikannya. Terlebih seorang Reza, pemuda yang kini hidup tenang dengan pekerjaannya. Tentang masa depannya berupa pernikahan pun tidak terlalu dipikirkan, bukan karena ia tidak mampu untuk membiayai kehidupan rumah tangganya kelak. Namun lebih dari itu, keempat adik perempuannya jauh lebih ia pikirkan daripada kehidupannya. Permintaan dari kedua orang tuanya pun tidak terlalu dihiraukan, dan lagi-lagi dengan alasan keempat adik perempuannya.
 “Aku ingin Rana, Syifa, Tiara dan Nining... jadi orang pinter! Itu sudah cukup...,” kalimat terakhir yang diucapkan kepada kedua orang tuanya delapan tahun yang lalu. Ya, dua bulan yang lalu hingga akhirnya kini ia terbaring lemah di rumah sakit. Sudah seminggu lamanya ia tidak siuman, pun bergantian Rana, Syifa, Tiara dan Nining menemani sang kakak. Keempatnya pun kini menjadi seorang mahasiswi perguruan tinggi negeri di Bandung, dan lagi-lagi karena pengorbanan tiada henti dari sang kakak yang menjadi mandor kebun teh. Keempatnya tidak lagi masuk rangking di bawah sepuluh besar, Rana lulus dengan predikat sebagai peringkat ketiga terbaik, dua tahun kemudian si kembar Syifa dan Tiara yang menjadi peringkat keempat dan kelima, dan terakhir Nining yang baru saja masuk kuliah, lulus sebagai yang terbaik.
Rana punya kelemahan di bidang matematika, namun Reza menyisihkan dua jam setiap hari untuk menemaninya belajar. Si kembar sulit belajar bahasa inggris, dan Reza pun meminta keduanya agar ikut les bersama teman-teman yang lainnya. Nining memang pelupa, tapi Reza selalu menemani setiap keluhan yang diungkapkan adik bungsunya ini. Dan seperti itulah kondisi keempat adiknya, yang kini menjadi mahasiswi. Rana kuliah di jurusan pendidikan matematika, Syifa di jurusan psikologi, Tiara di jurusan keperawatan dan Nining di jurusan farmasi.
 “Kak Reza... bangun... kakak kan sudah janji mau nemenin Rana wisuda bulan depan. Syifa dapet beasiswa ke Jerman lho kak... terus... proposal PKM Wirausaha Tiara lolos PIMNAS. Terakhir... Nining baru saja dikabarin dapet beasiswa. Kakak pasti bangga sama kita semua, sama halnya dengan kami. Tapi... kakak harus cepet bangun,” kata Rana sambil memegang lengan kanan kakaknya yang masih belum siuman.
Sebuah kejadian di pagi hari seminggu yang lalu, membuat tubuh Reza kini terbaring di rumah sakit. Secara tiba-tiba ia terjatuh di depan pintu sesaat setelah ia memakai separu bootnya untuk pergi ke kebun teh milik pamannya. Dokter memvonisnya terkena serangan jantung, padahal Reza selama ini sehat-sehat saja. Ternyata Tuhan punya rencana lain dalam kehidupannya. Kehidupan yang membawanya pada sebuah pesan, bahwa ‘Pengorbanan kita tidak akan sia-sia apabila dikerjakan dengan sepenuh hati, berkorban bukan berarti tidak memikirkan diri kita... namun lebih dari itu, pengorbanan itu adalah indah pada waktunya.
*****
             “Kakak berangkat dulu ya... assalamu’alaikum!”
            Reza segera menuju kebun teh milik pamannya, seperti biasa dengan pekerjaan sebagai mandor. Keempat adik perempuannya masik asyik menyantap sarapan yang disiapkan oleh ibu, dan sang ayah sudah pergi ke kebun sayuran seperti biasanya. Untuk pagi ini saja ibu tidak menemani beliau karena ada kegiatan dengan ibu-ibu PKK di kantor kepala desa jam delapan pagi nanti.
            Syifa tampak membuka-buka buku pelajarannya, semalam ia bersama Tiara ditemani kakaknya belajar. Pun juga dengan Rana dan Nining, keduanya tampak bahagia tadi malam karena sang kakak membawakan martabak manis sambil menemani mereka belajar. Ya, kegiatan sehari-hari Reza setiap malamnya adalah menemani keempat adik perempuannya belajar.
             “Bu... Rana duluan berangkatnya,” Rana segera menyiapkan tempat makan untuk membawa nasi dan lauk sebagai makan siang, pun juga dengan ketiga adik perempuannya. Mereka memang terbiasa membawa kotak atau tempat makan, sama seperti kebiasaan Reza kakaknya selama sekolah. Rana mulai mengeluarkan sepedanya, jarak sekolah yang cukup jauh membuatnya harus segera berangkat lebih pagi. Ia menitipkan sepedanya di warung mang Tatang yang ada di perempatan jalan sebelum akhirnya naik kendaraan umum. Sama halnya dengan si kembar Syifa dan Tiara, dan Nining sendiri hanya berjalan kaki. Rana duduk di bangku kelas 1 SMA, Syifa dan Tiara duduk di kelas 2 SMP dan terakhir Nining masih kelas 6 SD.
            Perlahan dan pasti, waktu demi waktu yang dilalui Reza bersama keempat adik perempuannya semakin membuatnya merasakan kenyamanan. Mereka menjadi semakin mudah memahami pelajaran, bukan karena Reza sebagai pembimbing atau guru belajar selama di rumah. Selama menemani keempat adiknya belajar, ia tidak terlalu mengajari banyak hal. Sudah cukup banyak pula mata pelajaran yang ia lupa karena kesibukan dengan pekerjaan. Meminum segelas teh atau secangkir kopi, ditambah dengan beberapa buku bacaan yang ia pinjam di perpustakaan desa menjadi benda yang menemani waktunya bersama keempat adik perempuannya selama belajar di waktu malam.
            Reza sudah tiba di kebun teh milik pamannya, dan seperti biasanya ia menuju gedung pengolahan daun teh yang menjadi gedung terbesar di kawasan kompleks pengolahan teh milik pamannya.
             “Reza...,”
            Sebuah panggilan dari pamannya sejenak menghentikan langkah kakinya, ia segera menuju sumber suara sambil memberikan senyuman hangat untuk sang paman.
             “Paman Teguh...,” kata Reza sambil mencium lengan kanan pamannya.
             “Reza... Reza... kamu memang mandor paling rajin disini. Jam setengah delapan sudah mulai mengontrol pekerjaan karyawan bagian kerja malam.”
            Reza kembali tersenyum, “Supaya mereka semangat kerjanya paman... kan waktu malam harusnya digunakan untuk istirahat...?! terlebih juga... sudah cukup lama Reza tidak ngobrol bareng mereka karena harus menemani keempat adik perempuan saya belajar di rumah.”
             “Wah... wah... wah... kamu memang orang hebat Za, lebih banyak memikirkan orang lain... itu adalah ciri-ciri orang hebat. Dan... kamu adalah salah satu diantara jutaan orang hebat,”
             “Paman terlalu berlebihan...,”
            Pamannya menepuk bahu kanan Reza sambil tersenyum, beliau pun segera berlalu dari hadapan Reza dan menuju kantor tempat beliau merekap semua data yang ada di kebun teh. Beberapa karyawan yang bertugas di kebun sudah selesai memetik daun teh yang selanjutnya akan dibawa dengan truk, sebelum akhirnya disimpan di tempat pengolahan. Waktu untuk memetik daun teh dibagi menjadi dua, yakni pagi hari antara jam 5 sampai jam delapan pagi. Kemudian waktu sore hari, antara jam empat sampai enam sore. Dan pastinya, Reza selalu berada diantara para pemetik daun teh di dua waktu tersebut. Meskipun pekerjaan yang sebenarnya harus dilakukan olehnya adalah mengawasi bagian pengolahan di gedung C-1 dan D-2. Gedung C merupakan tempat penyimpanan awal daun teh yang sudah dipetik, dengan 2 gedung dimana C-1 adalah gedung penyimpanan daun teh di pagi hari dan C-2 adalah tempat penyimpanan daun teh yang dipetik di waktu sore hari. Sementara gedung D adalah tempat pengolahan, dibagi menjadi 3 yakni D-1 sebagai tempat pengolahan daun teh, D-2 yang menjadi tempat pengemasan, pengatur suhu dan kualitas daun teh yang sudah diolah sebelum akhirnya masuk gedung D-3 yang merupakan tempat penyimpanan teh yang siap dipasarkan.
            Reza bekerja dengan baik, bahkan sangat baik. Sebagai pengawas karyawan, ia terus memperhatikan setiap pekerjaan dan juga kondisi karyawan yang bekerja di perkebunan teh milik pamannya. Suatu hari ia pernah melihat seorang karyawan yang tampak lemas, dan memang orang tersebut sedang sakit serta memaksakan diri untuk bekerja agar memperoleh upah harian untuk biaya makan sehari-hari. Reza pun segera memulangkan orang tersebut, dengan memberikan upah dan juga tambahan waktu  istirahat serta uang untuk berobat tentunya agar orang tersebut kembali bekerja dalam kondisi tubuh yang prima. Kalaulah ada pekerja kebun atau karyawan gedung yang bekerja kurang baik karena ada masalah dengan keluarga atau bahkan rekan kerja, ia mencoba untuk mengkomunikasikan dan menyelesaikan masalah tersebut dengan jalan dialog. Tak ayal sang paman pun bangga dan semakin semangat untuk menjaga kualitas hasil kerja dan kondisi karyawan beliau yang akan menambah omset laba dari perkebunan yang dimiliki beliau.
             “Reza... Reza... kalau saja semua orang seperti kamu kerjanya...,” kata pamannya berandai-andai.
*****
            Sudah genap 28 tahun kini usia Reza, sudah semakin mapan pula pekerjaannya di kebun teh atau lebih tepatnya perkebunan yang dimiliki oleh pamannya. Sang ayah pun ternyata sudah menghadap Sang Khalik di usianya yang ke 25 tahun, berikut sebuah pesan dengan isi yang sama selama delapan kali ia bertambah usia.
            Kapan kamu nikah Za... umurmu sudah bertambah... punya pekerjaan yang mapan... adik-adikmu juga sudah tidak perlu dibiayai sekolahnya karena dapat beasiswa... kamu... sudah tidak punya alasan lagi buat menunda waktu menikah. Ayah serahkan pilihan gadis manapun yang kamu mau untuk dinikahi... ayah... sama ibu... sudah kangen mau menimang cucu... cucu dari seorang Reza...,
            Jawaban Reza tetaplah sama, ‘Aku pasti menikah kok... ayah... ibu... tapi belum saatnya... suatu saat nanti, Insya Allah...
            Entah apa yang ada dipikiran dan hati Reza setiap kali ia memperoleh pertanyaan seputar pernikahan, karena baginya masih belum banyak yang diberikan bagi keluarganya. Kesedihan dan penyesalan karena tidak bisa memenuhi permintaan sang ayah yang kini telah tiada, menjadi bayangan yang cukup kuat menerawang setiap kali ia terbangun di pagi hari. Dan entah apa yang kembali ia pikirkan, karena baginya keempat adik perempuannya pun juga sang ibu kini harus ia rawat dengan penuh cinta serta kasih sayang. Terlebih ibunya kini sudah tidak mampu lagi bekerja di kebun sayuran karena sering sakit-sakitan semenjak sang ayah tiada. Kendati keempat adik perempuannya sudah tidak perlu biaya sekolah, namun tetap untuk kebutuhan sehari-hari dirinyalah yang menanggung semuanya.
            Rana, Syifa dan Tiara kini sudah kuliah tanpa biaya, kemudian Nining pun menyusul setahun yang lalu. Dan kini keempat adiknya menjadi bukti bahwa kesungguhan serta kerja keras yang ia lakukan selama ini membuahkan hasil. Rana sudah bersiap diri untuk menghadapi sidang sarjana, dan sebentar lagi ia akan menjadi seorang guru sesuai dengan cita-citanya. Syifa semakin rajin mengikuti berbagai lomba dan kejuaraan antar mahasiswa, dan gelar juara demi juara ia raih. Tiara pun tak kalah dengan program wirausaha yang ia kerjakan bersama teman-teman sefakultasnya. Dan praktis hanya Nining saja yang masih dibiayai oleh Reza, karena ketiga adik perempuannya sudah mampu mandiri dalam membiayai kuliah serta biaya hidup meskipun terkadang Reza masih memberikan uang tambahan yang bisa digunakan mereka untuk hal yang tidak terduga.
            Reza yang sekarang tetaplah Reza yang dahulu, tetap sama rajinnya, ulet, tekun, perhatian dan menjadi sosok yang dibanggakan. Namun lagi-lagi ia masih merasa banyak sekali hal yang belum ia kerjakan, masih belum cukup baginya untuk membuat sang ibu dan keempat adiknya bangga. Ia masih tetap bekerja lebih lama, teliti lebih mendalam serta perhatiannya kepada seluruh karyawan yang ada dibawah komandonya. Kini ia pun menjadi manager bagian pemasaran, dan tentu dengan gaji yang jauh lebih besar daripada ketika dirinya masih menjadi seorang mandor. Ia hanya mengambil sedikit saja bagian untuknya, sisanya ia berikan untuk memberikan biaya kuliah serta hidup keempat adiknya pun juga diberikan kepada sang ibu untuk makan serta berobat ke dokter ketika kondisi beliau semakin parah. Tak lupa ia sisihkan untuk menolong karyawan yang mengalami kesulitan, apakah karena hutang, kekurangan biaya untuk berobat dan lain sebagainya.
            Dan seperti itulah Reza, tidak banyak berubah kendati kekayaannya semakin bertambah seiring kenaikan pangkat dan gajinya. Namun ia tetaplah seperti Reza yang biasanya. Sosok rendah hati, baik hati serta memperhatikan kondisi sekelilingnya dan ringan tangan untuk membentu menyelesaikan kesulitan yang dialami oleh orang lain. Ia dermakan seluruh kehidupannya untuk memberikan manfaat bagi orang lain, karena baginya orang lain adalah pihak yang selama ini membuatnya merasakan kebahagiaan dalam kebersamaan.
             “Reza... makan dulu,” kata ibunya.
             “Iya bu... sebentar...,”
            Reza segera menuju ruang makan untuk menyantap menu makan malam yang sudah disiapkan oleh ibunya. Waktu kerjanya agak sedikit berkurang karena ia harus menjaga ibunya yang kini tinggal sendirian di rumah, dan hal tersebut sudah dimaklumi oleh pamannya. Terlebih beliau sendiri yang meminta agar Reza tidak terlalu banyak melakukan pekerjaan yang bukan menjadi pekerjaannya meskipun ia menyukai pekerjaan tersebut.
             “Bu... Reza istirahat dulu ya... pagi-pagi sekali Reza harus ada di kantor karena mau ketemu calon rekan kerja yang mau menanamkan modal untuk pembuatan gedung pengolahan minuman kemasan.”
             “Wah... bagus itu Za... berarti... kualitas teh yang ada di perkebunan pamanmu memang sangat bagus.” Kata ibunya menimpali.
             “Do’akan saja supaya besok ada kesepakatan...,”
            Reza tersenyum manis untuk ibunya, ia pun segera menuju kamar dan terlelap. Bayangan putih mulai muncul menemani tidurnya malam ini, seakan hendak menyampaikan sesuatu padanya yang sudah cukup lelah bekerja dengan baik pada hari ini.
*****
            Reza sudah bersiap untuk kembali bekerja setengah hari karena seperti biasanya ia harus menjaga sang ibu yang masih sakit. Bukan sepatu boot lagi yang digunakannya, melainkan sepatu kulit warna hitam. Ia pun tidak lagi berjalan kaki untuk menuju areal perkebunan milik pamannya, sebuah sepeda motor kini menemani perjalanannya menuju kesana.
             “Za... nanti jangan lupa ngambil obat yang dititipin dokter di Puskesmas ya, ibu lupa ngambil pas kemarin.”
             “Iya bu... Insya Allah,”
            Setelah mengucapkan salam Reza pun segera beranjak untuk memanaskan mesin sepeda motornya. Tiba-tiba ia merasakan sesak di ulu hati, ia pun terengah sambil menahan rasa sakit yang seakan menusuk jantungnya.
             “Masya Allah... ada apa ini ya Rabb,”
            Reza pun tersungkur sambil memegang dada kirinya, menitikkan air mata sambil beristigfar. Ibunya yang melihat kondisi sang putra tercinta tergeletak di atas tanah segera berteriak meminta tolong warga sekitar yang memang sudah bersiap menuju kebun atau tempat bekerja.
             “Ya Allah... Za... kenapa kamu nak?!” kata ibunya sambil menangis.
            Reza masih menahan rasa sakit yang dialami olehnya pagi ini, rasa sakit yang entah membuat kedua bola matanya mulai menatap sesosok bayangan putih yang tersenyum untuknya.
             “Ibu... cepat kita bawa ke Puskesmas!” kata salah seorang warga.
            Suasana ramai menyelimuti halaman rumah Reza, ditemani tangis sang ibu yang tak ingin kembali kehilangan serta beberapa warga laki-laki yang membawa tubuh lemah Reza menuju Puskesmas. Pagi ini pun menjadi pertanda awal baginya, yang entah Tuhan sedang merencanakan hal apa untuknya.
*****
            Rana terus menangis disamping kakaknya yang masih belum tersadar, ia terus menggenggam erat tangan kanan kakaknya yang entah akan tersadar kapan.
             “Kak Rana...,”
            Syifa, Tiara dan Nining mulai masuk kedalam ruangan, tak lupa ibu yang terus memandangi wajah sang putra yang tercinta.
             “Reza... kamu kenapa nak? Ibu masih belum siap kehilangan kamu...,”
             “Bu, sudahlah... Insya Allah kak Reza pasti sembuh,” kata Syifa yang mencoba menghibur ibu.
             “Tapi Syifa... penyakit yang diderita kakakmu itu parah... Tiara pasti cukup ngerti dengan penyakit yang dialami kakakmu.” Papar ibu.
            Tiara hanya mampu terdiam, ia kebingungan untuk membalas ucapan yang keluar dari mulut ibunya. Nining sendiri mulai mengusap kening Reza, dan selama ini dirinyalah yang selalu menemani ibu di rumah sakit. Bahkan laporan dokter mengenai penyakit yang dialami oleh kakaknya, ia dan ibulah yang pertama kali mengetahuinya.
            Jari-jari Reza mulai bergerak, ia pun mulai membuka kedua matanya secara perlahan. Namun masih tak kuasanya baginya membuka kedua mulutnya yang seakan terkunci.
             “Bu... ibu... kak Reza udah sadar,” kata Nining.
            Rana, Syifa, Tiara dan ibu akhirnya tersenyum manis, mereka yang berada di ruangan ini. Mereka merasakan kebahagiaan yang luar biasa atas hal yang Tuhan tunjukkan kepada mereka. Hanya saja bayangan putih itu kembali menghampiri Reza yang terdiam sambil mencoba tersenyum untuk ibu dan keempat adik perempuannya.
             “Kak... alhamdulillah kakak sudah siuman,” kata Rana.
             “Kakak kenapa... ini dimana?” Reza mulai bertanya sambil mengamati selang infus yang berkelit berikut peralatan medis yang ada di sekelilingnya.
             “Kamu di rumah sakit nak...,” kata ibunya.
             “Kenapa... kenapa bu... kenapa Syifa, Tiara, Nining dan Rana juga ada disini? Bukannya kalian itu seharusnya ada di kampus...?!”
            Ibu dan keempat adiknya terdiam, mereka tidak berani menyampaikan sesuatu terlebih penyakit yang kini dialami oleh Reza. Seisi ruangan ini membisu, kecuali sosok bayangan putih yang hendak menyampaikan sesuatu kepada Reza sambil tersenyum manis untuknya.
             “Kak... Rana minggu depan mau wisuda... Rana harap, kakak sembuh dan datang pas wisuda Rana. Terus... Syifa dapet beasiswa ke Jerman, Tiara... proposal PKMnya lolos Pimnas. Dan terakhir, Nining... baru saja dapet beasiswa untuk biaya kuliah sama bulanan sampai lulus. Alhamdulillah... didikan, arahan dan juga perhatian yang kakak berikan kepada kami membuahkan hasil yang luar biasa. Sekarang... kakak tidak usah pusing memikirkan biaya kuliah kami, Insya Allah... kita bisa hidup mandiri.” Kata Rana.
             “Sekarang... yang penting kakak cepet sembuh aja,” imbuh Syifa kemudian.
            Reza mulai tersenyum, ia pun mulai kembali berkata.
             “Rana, Tiara, Syifa, Nining... kakak bangga dengan kalian, tapi... tugas kakak masih belum selesai untuk terus menjaga kalian, ini adalah tugas kakak seumur hidup dan kakak akan tetap pegang janji ini meskipun kalian sudah jauh lebih baik, sudah bisa membiayai kuliah sendiri, dapet beasiswa dan lain sebagainya... tapi kakak tetaplah kakak kalian, kakak akan terus memiliki kewajiban untuk menjaga kalian. Bahkan sampai kalian berumah tangga pun, tanggung jawab kakak terhadap kalian tidak akan berakhir meskipun kalian punya suami yang menjaga kalian kelak. Kakak... hanya ingin hidup kakak jauh lebih berarti untuk semuanya, tidak hanya untuk kalian, untuk ibu... tapi untuk semuanya. Kakak memilih kerja di perkebunan milik paman pun untuk kalian dan juga semuanya, kakak... hanya ingin hidup kakak jauh lebih berarti meskipun kakak bukanlah orang yang ahli di bidang agama. Tidak seperti Rana, Tiara, Syifa dan Nining... kakak bangga dengan meningkatnya pemahaman kalian dalam bidang agama, disamping ilmu pengetahuan yang harus kalian pelajari.”
             “Kakak nggak boleh bilang gitu... kami tetap menganggap kakaklah orang paling hebat diantara kami,” kata Syifa.
             “Kak... dulu kakak pernah bilang bahwasanya Allah akan mengangkat orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat... itu adalah kalimat yang Allah terangkan dalam Al-Qur’an kak... dan kakak juga adalah orang yang punya pemahaman mengenai Islam yang baik juga. Islam mengajarkan kita untuk melaksanakan kewajiban dengan sepenuh hati, penuh keikhlasan, dan kakak... sudah melakukannya.” Timpal Rana.
            Tiara dan Nining mengangguk sambil tersenyum, begitu pula dengan ibu.
             “Kakak tidak pernah menyangka akan seperti ini... tapi, ya sudahlah...,”
            Bayangan putih itu mulai meghampiri Reza dan memegang ubun-ubunnya, dan gerakannya terhenti sesaat. Bayangan tersebut tersenyum sesaat, melihat keempat adik perempuan Reza dan juga ibunya.
             “Sepertinya... kakak harus pergi...,”
             “Reza... kamu nggak boleh ngomong kaya gitu,” kata ibunya.
             “Rana, Syifa, Tiara, Nining... tolong bimbing kakak... ibu... maafin Reza ya, sepertinya... Reza mau bertemu dengan ayah sebentar lagi,”
             “Reza... kamu ngomong apa sih?”
            Keempat adik perempuannya menangis, mereka tidak siap apabila harus kehilangan sosok kakak yang selama ini menjadi pelita dalam kehidupan mereka.
             “Rana...,” kata Reza.
             “Iya kak... hiks... asyhaduallailahaillah wa asyhaduanna muhammadarrasulullah...,” kata Rana sambil memegang lengan kanan kakaknya.
            Reza perlahan mengucapkan kalimat yang sama seperti diucapkan oleh Rana. Bayangan putih itu kembali melakukan tugasnya, memegang ubun-ubun Reza sambil tersenyum. Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Reza menjadi pertanda bahwa bayangan putih itu selesai menunaikan tugasnya, mengantarkan ruh Reza menuju tempat peristirahatan. Suara isak tangis ibu dan keempat adiknya menemani jenazah Reza yang kini terbaring di atas tempat tidur Rumah Sakit. Sang ibu pun akhirnya terjatuh pingsan, tak kuasa menahan kesedihan ditinggalkan seorang putra yang selama ini membuat beliau bangga dan tersenyum dalam rasa sakit yang diderita serta kehilangan sosok ayah.





SINOPSIS
            Cerita yang saya ambil adalah dari kisah salah seorang sahabat terdekat Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash –Shiddiq ra. Sosok yang menemani beliau dalam perjalanan menerima wahyu dari Allah, hijrah, peperangan, dakwah, dan lain sebagainya. Suatu ketika beliau berbincang dengan Rasulullah,
             “Wahai Rasulullah, aku akan mendermakan seluruh hartaku untuk Allah dan Rasul-Nya...,”
             “Wahai Abu Bakar... apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?” tanya Rasul.
             “Aku hanya meninggalkan Qur’an dan Sunnahmu...,” jawab Abu Bakar tegas.
            Itulah kisah inspirasi dari sosok Abu Bakar yang mendermakan seluruh hartanya di jalan Allah, seluruh peperangan ia biayai dari hartanya, ia merdekakan budak yang dianiaya oleh kaum kafir Quraisy hanya karena beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah sosok Abu Bakar yang lebih memikirkan Islam, kemenangannya, dakwah di jalan-Nya bersama Rasulullah SAW daripada dirinya serta keluarganya. Sosok yang setia menemani Rasulullah SAW kemanapun beliau pergi. Abu Bakar adalah muslim pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan demi imannya itu pula beliau lebih banyak berkorban demi Islam.

Menulis...?


            Judul diatas kok ada tanda tanya ya...? ya seperti itulah, ada apa sih sebenarnya dengan dunia kepenulisan yang selama ini saya alami dan ada motivasi apa bagi saya untuk menjadikan kegiatan ini sebagai hobi? Rasanya tidak ada, dan memang seperti itulah adanya. Ada pepatah bijak yang menyatakan bahwa kita mungkin tidak akan pernah dikenal sebagai orang yang hebat sebelum kita mampu menuliskan sesuatu atau menciptakan karya. Rasulullah SAW menggambarkan penulis yang dalam hal ini adalah para ulama, bahwasanya tinta para ulama sebanding dengan darah syuhada, subhanallah. Dan tak lupa, Allah SWT menurunkan surat Al-Alaq pada permulaan yang dipadu dengan surat Al-Qalam yang turun setelahnya. Ada membaca dan dilanjutkan dengan menulis. Dan memang seperti itulah adanya, karena tidak mungkin orang mampu menuliskan banyak hal sebelum ia banyak membaca. Apakah dalam bentuk teks, perilaku orang-orang sekitar, kondisi alam, dan lain sebagainya. Banyak hal yang  bisa kita tuliskan dalam setiap helaan nafas yang dijalani setiap harinya, namun lagi-lagi menulis bukanlah hal yang indah bagi sebagian besar orang. Padahal orang-orang besar adalah mereka yang mampu menelurkan karya tulisnya yang bermanfaat sepanjang masa.
            Al-Gazhali, Ibnu Sina, Ibnu ‘Athaillah, Muslim, Bukhari serta beberapa ulama muslim yang lainnya. Einstein, Darwin, Kuntowijoyo, Soekarno, Hatta, Buya Hamka, Alfred Wagner serta beberapa ilmuwan, sejarahwan, politikus dan lain sebagainya. Mereka adalah orang-orang yang tidak hanya menjadi ‘emas’ semasa hidupnya, namun karya-karya fenomenal mereka seakan-akan menjadikan mereka seakan hidup di tengah-tengah kita. Itulah barangkali motivasi para penulis, yang akhirnya mengilhami saya yang terbiasa terbenam dalam kehebatan banyak orang, muncul dengan secercah cahaya tulisan demi tulisan yang barangkali membuat hidup saya terasa jauh lebih nyaman dalam kesendirian. Dan memang seperti itulah adanya, hidup sebagai penulis ‘kecil’ membuat saya jauh lebih nyaman ketika sendiri atau kesepian melanda. Pun juga sudah terlalu banyak fenomena kehidupan yang belum sempat saya tuliskan maupun gambarkan, karena memang kehidupan sekitar kita mampu mengilhami manusia untuk membuat tulisan.
            Menulis adalah kehidupan, karena dengan itu akan ada banyak hal yang Insya Allah memberikan manfaat bagi kehidupan kita. Semakin banyak buku yang kita baca, semakin bertambah kualitas pengetahuan dari apa yang kita baca. Karena dengan menjadi penulis, seakan-akan kita berada dalam lingkungan yang dipenuhi pengetahuan akan kehidupan, kematian, permainan, strategi dan lain sebagainya. Itulah sebagian seni yang mengantarkan seseorang menjadi penulis yang hebat, dan memang begitulah adanya.
            Banyak sekali kalimat ‘memang begitulah adanya’ yang saya tuliskan dalam kesempatan kali ini, dan itulah yang menjadi tantangan bagi saya bagaimana mampu menuliskan sesuatu secara lebih rapih, teratur, sesuai dengan kebutuhan. Karena tidak semua tulisan kita mampu mencerahkan orang lain maupun membuat orang lain bahagia dengan kehadiran kita. Meskipun menulis menjadi bagian terpenting dalam hidup yang saya jalani, bukanlah hal mudah untuk banyak merangkai kata demi kata. Karena menulis membutuhkan energi positif yang mutlak, keyakinan yang kokoh, istiqomah yang tak tergantikan, dan bukan hanya semangat melainkan tindakan. Karena menulis adalah tindakan, bukan sekedar retorika bahwa ‘saya adalah penulis’. Wallahu’alam.

Senin, 03 Oktober 2011

Menikmati Kebersamaan

Oleh Tri Asmoro <http://www.arrisalah.net/author/tri-asmoro/>



      Apa yang diingat oleh manusia dewasa tentang orang tua mereka, saat kanak-kanak dahulu, yang membahagiakan? Banyak studi menunjukkan, betapa mereka merekam saat-saat kebersamaan sebagai kenangan tak terlupakan, bukan uang atau barang yang pernah mereka terima. Kalaupun nama barang atau uang disebutkan, itu lebih sebagai simbol perhatian, sebagai pelengkap saat-saat kebersamaan yang mereka nikmati.

      Kini, kita telah menjadi orang tua, para ayah tepatnya. Dan seharusnya kita mengerti, bahwa kenangan terbaik dari masa kanak-kanak kita, hampir tidak pernah berhubungan dengan uang atau barang. Namun member perhatian dengan kebersamaan menjalani aktivitas bersama orang-orang terkasih. Dan sayangnya, banyak di antara kita yang tidak menyadari pentingnya menyediakan waktu untuk keluarga, kemudian menikmati kebersamaan bersama mereka.

      Masyarakat materialis di sekitar kita, membawa pesan belanja yang akut. Menimbulkan kesan bahwa membeli barang adalah simbol kesuksesan hidup. Kemudian, banyak orangtua yang kehilangan rasa percaya diri saat mendapati diri mereka tidak bisa mengikuti pola itu. Merasa bersalah karena tidak bisa memenuhi permintaan salah satu anggota keluarga tentang barang atau uang. Padahal mereka memiliki hal yang, insyaallah, jauh lebih berharga daripada pemberian barang-barang kepada anak dan istri; yaitu diri dan waktu mereka!

      Maka siapkah kita, memberikan perjalanan yang akan selalu dikenang, dari kebersamaan yang kita jalani bersama anggota keluarga? Atau, kita malah tidak bisa menikmati saat-saat seperti itu? Padahal, ialah kunci kenyamanan itu, lebih dari sekedar menghujani anggota keluarga dengan hadiah barang dan uang. Yakinlah, keduanya tidak bisa membeli kebahagiaan, jika tanpa ketulusan, perhatian, dan kebersamaan.