Saudara-saudariku, Allah SWT berfirman, “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah [2] : 195)
Jelas bagi kita bahwa hidup ini harus kita jalani semata-mata untuk mengabdi kepadaNYA, salah satunya terwujud dalam bentuk melakukan segala amalan kebaikan. Dan masing-masing orang harus berusaha melakukan kebaikan sebanyak mungkin sebagai bekal timbangan di yaumil hisab. Namun menjaga “rewards” dari Allah SWT ini ada dua syarat:
Kesatu, ikhlas dalam beramal, yakni melakukan suatu amal dengan niat semata-mata karena Allah SWT, atau tidak riya dalam arti mengharap pujian dari selain Allah SWT. Karena itu, dalam hadits arbain yang terkenal, Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Sesungguhnya amal itu sangat tergantung pada niatnya.”
Kedua, melakukan kebaikan itu secara benar, karena meskipun niat seseorang sudah baik, bila ia melakukan amal dengan cara yang tidak benar, maka hal itu tetap tidak bisa diterima oleh Allah SWT, misalnya mencampuradukkan harta halal dengan korupsi (yang haram).
Tidak ada seorang pun yang berhak menilai “pantas atau tidak pantasnya” pemberian seseorang, malah prilaku ini dapat berbuah buruk sangka, dengki dan berdampak buruk lainnya, antara lain :
1. Dengki menggusur hati yang bersih, “Di dalam hati mereka ada penyakit maka Allah tambahkan kepada mereka penyakit (lainnya).” (QS. Al-Baqarah [2] : 10)
2. Buruk sangka menyebabkan renggangnya tali persaudaraan, salah satu sifat terbaik dalam ukhuwah islamiyah adalah husnuzhon (berbaik sangka). Berburuk sangka akan membuat kita menjadi rugi lahir bathin, perkara ini disabdakan oleh Rasulullah SAW, "Jauhilah prasangka itu, sebab prasangka itu pembicaraan yang paling dusta." (HR. Muttafaqun alaihi)
Bahkan Allah SWT berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kamu merasa jijik kepadanya." (QS. Al-Hujurat [49] : 12)
3. Memancing amarah dan menyebut-nyebut pemberian, misalkan terjadi pada salah seorang ibu yang juga disindir oleh ibu Sishy dalam wacana tsb. Sang ibu menjadi emosi dengan pembanding-bandingan donasi, “eh, bu Sishy... gue bukan cuma infak di RT ini, anak yatim asuhan gue banyak, ngurusin persatuan ibu-ibu RT sebelah juga, sedekah gue kemana-mana, sampe’ ikutan dana bantuan Palestine...” uppps...! Kita yang mendengarnya pasti miris.
Padahal Allah SWT berfirman, “Wahai orang yang beriman, janganlah kamu membatalkan (pahala) sedekahmu itu dengan mengungkit-ungkit dan menyakitkan hati (penerimanya).” (QS Al-Baqarah [2] : 264)
Serta peringatanNya dalam surah An-Najm agar tidak meremehkan orang lain, ayat 32 : “(Oleh karena itu), janganlah kamu memuji dirimu sendiri. Dia (Allah) Maha Mengetahui siapa yang sebenarnya takut.” (QS. An-Najm [53] : 32)
4. Membuat saudara bersedih hati atau malah menyakiti hatinya. Padahal saling memberi hadiah dan kegiatan tolong-menolong adalah suatu kebiasaan yang bertujuan untuk saling berbagi kebahagiaan,dll. Semoga kita makin pandai meresapi makna ayatNya, berlomba-lomba dalam kebaikan dengan tetap mengutamakan keikhlasan hati, senantiasa istighfar, Astaghfirullahal 'adzim... kala “mulai men-judge” amalan orang lain
Cukup hanya Allah yang paling berhak menilai dan menghitung amal kita!
Allah SWT mengingatkan, "Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar." (QS. An-Nisa [4] : 146)
Wallohu'alam bisshowab.
Rabu, 27 April 2011
Ketika Cinta Menyapa...
Waktu itu memang begitu cepat berlalu serta melenakan tentunya, tapi bagaimana dengan cinta...??? Ia seakan menembus batas waktu tak kenal perbedaan yang ada hanya kebersamaan. Dan itulah cinta... ketika mahadayanya menembus relung hati yang terdalam. Cinta yang tertinggi kepada Allah SWT semakin memberikan kekuatan batin bahwasanya kita memiliki cinta dan cinta itu... kita curahkan pada tempat yang halal.
Tak ada manusia atau seorang pun di dunia ini yang tak mengenal kata cinta, dan ketika cinta itu datang... maka keindahan lah yang dirasakan oleh kita semua. Cinta itu sungguh melenakan sehingga membuat siapa saja yang tidak mampu menjaganya akan hilang ditelan kebutaan karena cinta yang tak semestinya. Aku pun selalu merasakan cinta dan itulah memoar perjalanan seorang aktivis yang kini dirundung duka karena sulitnya mencapai berbagai visi dan misi untuk cinta... dan cinta itu ia curahkan segalanya hanya untuk Allah semata...
Dan aku cinta dia... dan hanya Allah yang tahu dan mengerti pilihanku... yakni seorang bidadari yang mengisi hari-hari dengan penuh keimanan ketika gejolak cinta itu ditempatkan pada tempat yang halal. Aku pun menanti masa 2013 itu untuk hidup bersamanya dan hanya karena Allah... sekali lagi aku mencintainya karena Allah semata yang memberikanku pemahaman tentang arti cinta yang sesungguhnya... Dan aku memilih... DIA...!!!
Selasa, 26 April 2011
Hati-hati Skenario Adu Domba Terorisme
Pasca teror bom di masjid Mapolresta Cirebon, muncul isu susulan yang sangat tak terkendali di kalangan umat Islam. Ketidakbecusan pihak keamanan menangani teror pun membuat akar masalah dari maraknya teror bom di negeri ini menjadi bias tak tentu arah. Saling curiga antar sesama umat dan ormas Islam pun mulai muncul.
Kita prihatin dengan reaksi berlebihan dari tokoh Islam, apalagi ditujukan untuk sesama ormas Islam. Mungkin, ada hal yang melatarbelakangi munculnya pernyataan Ketua PBNU, Said Aqil Siradj di beberapa media massa yang meminta umat Islam mewaspadai yayasan-yayasan yang mendapat dana dari Arab. Karena menurutnya ada penyebaran teologi kekerasan dari kelompok-kelompok di Arab melalui yayasan tersebut.
Sayangnya, Said Aqil tidak menyebut contoh yayasan yang biasa didanai Arab dan memang terbukti melakukan transformasi teologi kekerasan di Indonesia. Di sinilah akhirnya, tafsiran liar yang boleh jadi mengarah pada saling curiga antar sesama ormas Islam menjadi sulit dielakkan. Karena ucapan tersebut bersumber dari seorang ketua umum ormas besar di negeri ini dan mempunyai jaringan kepengurusan di seluruh Indonesia.
Mestinya yang menjadi perhatian dan kajian tokoh Islam dan ormas Islam saat ini adalah pada akar masalah: kenapa terorisme tumbuh subur di Indonesia dan tidak demikian di negeri lain seperti Malaysia, Brunei, dan Arab serta Mesir sekalipun. Terorisme yang terjadi di belahan negeri muslim lebih karena kondisi perang di negara tersebut, seperti Irak, Afghanistan, dan Palestina.
Di antara akar masalah tumbuh suburnya terorisme di negeri ini, antara lain, persoalan kemiskinan rakyat Indonesia yang mayoritas muslim, mahalnya biaya pendidikan, kecenderungan tokoh Islam yang ingin menjadi politisi sehingga mengabaikan pendidikan umat, dan pendekatan keamanan negeri ini yang kacau balau.
Bantuan pendanaan Arab ke yayasan-yayasan Islam di negeri ini bukan hal baru dan sama sekali tidak menjurus hal yang negatif. Bahkan mungkin sebagian yayasan Islam yang berafiliasi ke NU di daerah juga pernah mendapat bantuan pendanaan dari Arab. Dan hal ini sebagai sebuah kewajaran karena Islam tidak mengenal sekat negara, saling bantu antara sesama umat Islam dunia sudah menjadi ciri khas positif.
Sekali lagi, terorisme adalah momok di negeri ini, dan akhirnya mencoreng wajah Islam. Menjadi tugas besar para tokoh dan ormas Islam untuk memperbaiki akar masalah yang kian rusak itu. Dan bukan menghembuskan hawa saling curiga.
Kita prihatin dengan reaksi berlebihan dari tokoh Islam, apalagi ditujukan untuk sesama ormas Islam. Mungkin, ada hal yang melatarbelakangi munculnya pernyataan Ketua PBNU, Said Aqil Siradj di beberapa media massa yang meminta umat Islam mewaspadai yayasan-yayasan yang mendapat dana dari Arab. Karena menurutnya ada penyebaran teologi kekerasan dari kelompok-kelompok di Arab melalui yayasan tersebut.
Sayangnya, Said Aqil tidak menyebut contoh yayasan yang biasa didanai Arab dan memang terbukti melakukan transformasi teologi kekerasan di Indonesia. Di sinilah akhirnya, tafsiran liar yang boleh jadi mengarah pada saling curiga antar sesama ormas Islam menjadi sulit dielakkan. Karena ucapan tersebut bersumber dari seorang ketua umum ormas besar di negeri ini dan mempunyai jaringan kepengurusan di seluruh Indonesia.
Mestinya yang menjadi perhatian dan kajian tokoh Islam dan ormas Islam saat ini adalah pada akar masalah: kenapa terorisme tumbuh subur di Indonesia dan tidak demikian di negeri lain seperti Malaysia, Brunei, dan Arab serta Mesir sekalipun. Terorisme yang terjadi di belahan negeri muslim lebih karena kondisi perang di negara tersebut, seperti Irak, Afghanistan, dan Palestina.
Di antara akar masalah tumbuh suburnya terorisme di negeri ini, antara lain, persoalan kemiskinan rakyat Indonesia yang mayoritas muslim, mahalnya biaya pendidikan, kecenderungan tokoh Islam yang ingin menjadi politisi sehingga mengabaikan pendidikan umat, dan pendekatan keamanan negeri ini yang kacau balau.
Bantuan pendanaan Arab ke yayasan-yayasan Islam di negeri ini bukan hal baru dan sama sekali tidak menjurus hal yang negatif. Bahkan mungkin sebagian yayasan Islam yang berafiliasi ke NU di daerah juga pernah mendapat bantuan pendanaan dari Arab. Dan hal ini sebagai sebuah kewajaran karena Islam tidak mengenal sekat negara, saling bantu antara sesama umat Islam dunia sudah menjadi ciri khas positif.
Sekali lagi, terorisme adalah momok di negeri ini, dan akhirnya mencoreng wajah Islam. Menjadi tugas besar para tokoh dan ormas Islam untuk memperbaiki akar masalah yang kian rusak itu. Dan bukan menghembuskan hawa saling curiga.
Lagi-lagi, Islam Jadi Objek Pengalihan Isu
Setelah gelapnya kasus teror bom buku yang beberapa waktu lalu telah membuat heboh masyarakat Indonesia, kini muncul isu baru soal bahaya gerakan NII atau Negara Islam Indonesia. Baik bom buku maupun NII, dua-duanya mempunyai satu benang merah: Islam.
Isu teror bom buku menjadikan orang-orang yang dianggap anti Islam sebagai sasaran utama. Dan Ulil Absar Abdallah yang identik sebagai Jaringan Islam Liberal atau JIL di Indonesia diposisikan sebagai simbol utama. Judul buku yang dijadikan alat bom pun ikut-ikutan berwarna sama: Islam.
Saat itu, sempat ada kekhawatiran dari Tim Pembela Muslim bahwa orang-orang yang pernah terlibat dalam konflik Poso akan dijadikan ‘kambing hitam’. Walau konflik itu sudah berlalu sebelas tahun, kekhawatiran itu muncul karena beberapa pejabat keamanan mulai mensinyalir keterlibatan mereka.
Kini, setelah isu teror bom buku berlalu tanpa publik tahu siapa penjahat dan jagoannya, teror berikutnya sudah beredar. Pasca misteri penculikan Laila Febriani atau Lian, publik terus tergiring untuk menyorot sosok menakutkan yang bernama NII.
Padahal, sosok NII boleh jadi sudah menjadi barang usang yang sudah berganti ‘majikan’. Bukan rahasia lagi kalau sejak masa Orde Baru, NII kerap dijadikan alat oleh pihak intelijen yang ditokohi Ali Murtopo dan Beni Murdani untuk pengalihan isu atau sebagai anak tangga kenaikan jabatan.
Di sisi lain, kemunculan sosok menakutkan bernama NII setelah teror bom buku yang sudah membosankan, lebih efektif untuk meredam kalau tidak disebut menyetop laju Islamisasi generasi muda Islam. Kini, para orang tua dihantui sosok seram NII ketika anak-anak mereka mengikuti kajian keislaman di sekolah, kampus, atau tempat kerja mereka.
Sebagai pengalihan isu, kemunculan teror NII hampir bersamaan dengan beberapa isu nasional yang lumayan besar. Dan itu menyangkut pertaruhan kredibilitas pemerintahan saat ini.
Setidaknya, ada tiga isu nasional yang mestinya menjadi sorotan rakyat negeri ini. Pertama, kelambanan pemerintah dalam menyelamatkan dua puluhan warganya dalam penyanderaan perompak Somalia. Negara tidak berdaya menyelamatkan warganya dalam penyanderaan selama hampir satu bulan. Sekali lagi, satu bulan! Padahal di kasus yang sama, negara tetangga Malaysia mampu menyelamatkan warganya hanya dalam waktu hitungan jam saja.
Isu kedua adalah penolakan rakyat terhadap gedung baru DPR. Saat ini, isu tersebut akhirnya mempertanyakan kredibilitas pimpinan DPR yang dinakhodai Demokrat. Anehnya, Presiden Sby yang juga pembina Demokrat seperti tak berdaya menghadapi itu.
Dan isu ketiga adalah temuan Komisi Yudisial atau KY tentang kejanggalan putusan hakim dalam perkara mantan ketua KPK, Antasari Azhar. Di antara kejanggalan itu disebutkan bahwa majelis hakim mengabaikan kesaksian para ahli seputar kasus pembunuhan yang dituduhkan Antasari.
Tak lama lagi, tim kuasa hukum Antasari akan mengajukan PK ke Mahkamah Agung. Dan peristiwa ini akan menjadi sorotan menarik tentang siapa sebenarnya di balik kasus Antasari Azhar. Karena publik sudah terlanjur curiga kalau Antasari dijerat kasus lantaran menangkap besan Presiden Sby, Aulia Pohan, dalam kasus tindak pidana korupsi di Bank Indonesia.
Isu teror bom buku menjadikan orang-orang yang dianggap anti Islam sebagai sasaran utama. Dan Ulil Absar Abdallah yang identik sebagai Jaringan Islam Liberal atau JIL di Indonesia diposisikan sebagai simbol utama. Judul buku yang dijadikan alat bom pun ikut-ikutan berwarna sama: Islam.
Saat itu, sempat ada kekhawatiran dari Tim Pembela Muslim bahwa orang-orang yang pernah terlibat dalam konflik Poso akan dijadikan ‘kambing hitam’. Walau konflik itu sudah berlalu sebelas tahun, kekhawatiran itu muncul karena beberapa pejabat keamanan mulai mensinyalir keterlibatan mereka.
Kini, setelah isu teror bom buku berlalu tanpa publik tahu siapa penjahat dan jagoannya, teror berikutnya sudah beredar. Pasca misteri penculikan Laila Febriani atau Lian, publik terus tergiring untuk menyorot sosok menakutkan yang bernama NII.
Padahal, sosok NII boleh jadi sudah menjadi barang usang yang sudah berganti ‘majikan’. Bukan rahasia lagi kalau sejak masa Orde Baru, NII kerap dijadikan alat oleh pihak intelijen yang ditokohi Ali Murtopo dan Beni Murdani untuk pengalihan isu atau sebagai anak tangga kenaikan jabatan.
Di sisi lain, kemunculan sosok menakutkan bernama NII setelah teror bom buku yang sudah membosankan, lebih efektif untuk meredam kalau tidak disebut menyetop laju Islamisasi generasi muda Islam. Kini, para orang tua dihantui sosok seram NII ketika anak-anak mereka mengikuti kajian keislaman di sekolah, kampus, atau tempat kerja mereka.
Sebagai pengalihan isu, kemunculan teror NII hampir bersamaan dengan beberapa isu nasional yang lumayan besar. Dan itu menyangkut pertaruhan kredibilitas pemerintahan saat ini.
Setidaknya, ada tiga isu nasional yang mestinya menjadi sorotan rakyat negeri ini. Pertama, kelambanan pemerintah dalam menyelamatkan dua puluhan warganya dalam penyanderaan perompak Somalia. Negara tidak berdaya menyelamatkan warganya dalam penyanderaan selama hampir satu bulan. Sekali lagi, satu bulan! Padahal di kasus yang sama, negara tetangga Malaysia mampu menyelamatkan warganya hanya dalam waktu hitungan jam saja.
Isu kedua adalah penolakan rakyat terhadap gedung baru DPR. Saat ini, isu tersebut akhirnya mempertanyakan kredibilitas pimpinan DPR yang dinakhodai Demokrat. Anehnya, Presiden Sby yang juga pembina Demokrat seperti tak berdaya menghadapi itu.
Dan isu ketiga adalah temuan Komisi Yudisial atau KY tentang kejanggalan putusan hakim dalam perkara mantan ketua KPK, Antasari Azhar. Di antara kejanggalan itu disebutkan bahwa majelis hakim mengabaikan kesaksian para ahli seputar kasus pembunuhan yang dituduhkan Antasari.
Tak lama lagi, tim kuasa hukum Antasari akan mengajukan PK ke Mahkamah Agung. Dan peristiwa ini akan menjadi sorotan menarik tentang siapa sebenarnya di balik kasus Antasari Azhar. Karena publik sudah terlanjur curiga kalau Antasari dijerat kasus lantaran menangkap besan Presiden Sby, Aulia Pohan, dalam kasus tindak pidana korupsi di Bank Indonesia.
Senin, 25 April 2011
Langkah Mengerdilkan Lembaga KPK?
Tidak ada yang lebih ditakuti di negeri ini, kecuali lembaga KPK. Karena, lembaga KPK telah membuat orang-orang yang terhormati dan dihormati, di sanjung-sanjung, dipuja oleh rakyat, kemudian menjadi dina-hina. Mereka yang selalu menggunakan jas, dasi, sepatu mengkilat, dibantu dengan seorang sekretaris, dan mendapat segala fasilitas, tiba-tiba harus hidup dalam 'bui' bersama para maling, perampok, penipu, pembunuh, bandar narkoba, dan para penjahat lainnya.
Karena itu, sekarang orang-orang yang terhormat dan mulia, dan sudah menjadi pesakitan di 'bui', melalui kolega-kolega mereka ingin menjadi KPK seperti macan ompong. Tak lagi bergigi. Tidak lagi dapat memiliki kewenangan yang sifatnya "ekstra ordinary". Mereka akan berusaha bagaimana menjadi KPK ini, sebagai barang pajangan di etalese, yang indah dilihat, tetapi tak ada gunanya. Mungkin menjadi eksesoris yang menarik di era reformasi.
KPK dillahirkan di zaman reformasi, di tengah-tengah keputusaaan rakyat yang melihat makhluk yang lebih jahat dibandingkan dengan 'predator', yang melahap apa saja dan siapa saja. KPK merupakan produk tuntutan rakyat yang menginginkan terwujudnya sebuah 'good governance', yang sampai sekarang masih sebuah mimpi.
Langganan:
Postingan (Atom)