Sabtu, 21 April 2012

Dahsyatnya Sabar


By: Muhamad Agus Syafii

Ditengah usia perkawinannya terbilang muda, baru berusia tiga tahun dan memiliki bayi mungil, dirinya sudah merasakan kesulitan dalam berkomunikasi dengan sang istri. Seorang teman di Rumah Amalia, dia mengatakan bahwa setiap kali berbincang dengan istri selalu saja berakhir dengan pertengkaran. Kesulitan itu terjadi sejak usia perkawinan menginjak enam bulan pertama, disaat istri sedang hamil muda. Pada bersamaan dia juga mendapatkan promosi jabatan di kantornya.  Konsekwensi dari promosi jabatan menyebabkan banyak hal harus dikerjakan, pulang larut malam, perjalanan tugas kantor secara rutin. Semua itu menyebabkan pertengkaran sering karena istri merasa tidak lagi mendapatkan perhatiannya.  Bahkan pernah sang istri mencoba untuk bunuh diri, sejak peristiwa itu dia selalu mengalah & khawatir bila istri melakukan perbuatan nekad yang dilarang oleh agama. Sampai dia harus meminta izin kepada atasannya untuk mengurangi tugas keluar kota dan lebih
mengutamakan untuk mengantar istri atau menjemput dari kantornya. Namun upaya yang dilakukan menjadi terasa sia-sia, ternyata istri semakin menunjukkan sikap yang berlebihan, takut ditinggal bahkan istrinya menjadi mudah sekali untuk mengungkit kembali permasalahan yang telah lalu. Pertengkaran inilah yang membuat dirinya menjadi marah. Sampai tidak tahu apa yang harus dilakukan. 'Mas Agus Syafii, saya sudah lelah dengan kehidupan. Apa yang harus saya lakukan agar istri merubah sikapnya & komunikasi bisa menjadi lebih baik? Tuturnya sore itu pada saya di Rumah Amalia.

Saya kemudian menjelaskan padanya bahwa tekanan hidup seperti di kota Jakarta, dari pagi ketika di jalan raya sudah berhadapan dengan kemacetan, tentunya sangat melelahkan, juga pekerjaan dengan berbagai tekanan sekaligus tanggungjawab di dalam rumah tangga. Tekanan seperti ini yang terjadi terus menerus bukan hanya melelahkan juga sekaligus kita tidak mampu untuk berpikir jernih. dalam melihat persoalan. Suatu keadaan kita seperti berputar-putar di gang buntu. Proses transisi dari cuman berdua, kemudian memiliki bayi mungil ditambah dengan karier yang cemerlang dibutuhkan penyesuaian. Bukan hanya suami yang harus menyesuaikan namun juga istri mesti menyesuaikan diri. Dalam masa transmisi inilah terjadilah kesulitan komunikasi. Kesulitan komunikasi semakin membesar karena memang tidak pernah mempersiapkan diri untuk melewati perubahan ini. 

Perkawinan pada dasarnya ada tiga fase, fase pairing, parenting & partnering. Fase pairing tantangannya mengenal pasangan yang dihadapkan dengan mengejar karier. Dalam rumah tangganya fase pairing belum berlalu tapi sudah memasuki Fase parenting yaitu menjadi orang tua karena sudah memiliki sang buah hati. Seiring waktu pertumbuhan anak, dirinya dan istri dibutuhkan kondisi partnering dalam pengasuhan. Jadi, saya menyarankan padanya sebaiknya yang dilakukan adalah memantapkan pasa awal sebuah perkawinan yaitu pairing dengan mengenal istrinya, jangan pernah bosan untuk juga mengajak istri untuk lebih mengenal dirinya. Melakukan aktifitas ibadah dengan sholat berjamaah di dalam keluarga menjadi upaya untuk mencairkan komunikasi yang beku. Selesai sholat berjamaah kemudian belajar membaca al-quran bersama menjadi keluarga indah & bahagia. Lakukanlah dengan sabar, bahwa dirinya juga harus memahami istri yang juga sedang dalam kondisi tertekan sama seperti
dia. Dalam perannya sebagai istri sekaligus ibu tentunya sangatlah tidaklah mudah. Perkawinan merupakan proses belajar yang tidak pernah berhenti. Sebuah perkawinan kita diberikan kesempatan untuk belajar menjadi matang & mendewasakan, pasangan hidup kita merupakan cermin yang terbaik dalam membantu kita untuk tumbuh & berkembang. "Hai orang2 yang beriman, mintalah pertolongan (kpd Allah) dengan sabar dan sholat, sesungguhnya Allah bersama orang2 yang sabar.' (QS. al- Baqarah : 153).

---
Sahabatku, yuk..aminkan doa ini agar keluarga kita menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah. "Rabbana hab lanâ min azwâjinâ wa dzurriyyatinâ qurrata a’yunin waj-’alnâ lil-muttaqîna imâmâ." Artinya, Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqan: 74).

Wassalam,
Muhamad Agus Syafii

Tidak ada komentar:

Posting Komentar