Kamis, 31 Januari 2013

Liar or Truth

Alhamdulillah, akhirnya kembali ke Sumatera Utara setelah lebih dari dua minggu berada di kota kembang (bandung), hmm... rasa-rasanya akan semakin cukup banyak agenda kegiatan yang harus dirampungkan secara profesional. Pemboran geoteknik, mapping dan lain sebagainya. Okay, report and report... amazing isn't it?

Yapz... 2013, ini adalah tahun dimana target walimah kuusung sejak Oktober 2012 silam, menuju masa wisuda sarjana November 2012. Yapz... aku hanya mengusahakan sesuatu yang belum cukup dipahami sebagai suatu perubahan terbesar dalam kehidupan keluarga yang belum terbiasa dengan alur pemikiranku yang sistematis dan juga visioner. Sama seperti kebanyakan sahabat yang kukenal, berusaha menanamkan bagaimana seorang muslim berucap dan bertindak, dan... inilah aku apa adanya. Mau tidak mau, harus kujelaskan dan kuusahakan banyak hal di tahun ini, setelah target kerja di Bandung akhirnya terealisasikan dengan baik, tinggal bagaimana aku bekerja secara profesional.

Lagi-lagi ini tentang bagaimana seorang manusia menjalani hidup, dan tidak ada yang banyak mengetahui tentang yang kukerjakan. Tentang berpikir, berucap dan bertindak. Tidak banyak yang tampak dariku kecuali keceriaan... ya... ini adalah salah satu sisi kekuatanku untuk membangkitkan semangat orang lain dalam mencapai apa yang dikehendaki meskipun aku sendiri ada dalam duka. Yapz, ini adalah tentang seorang manusia menjalani kehidupannya, dan aku memilih untuk tidak banyak menampakkan permasalahan yang dihadapi. Aku lebih memilih untuk menyelesaikannya sendiri, dan hanya melibatkan orang-orang tertentu yang kuyakini mampu membaca arah dan juga menyelesaikan target atau misi yang telah direncanakan dengan sebaik-baiknya. Dan sekali lagi... tidak banyak yang mengetahui dan memahami bagaimana aku memandang suatu episode kehidupan.

Aku hanya melakukan apa yang bisa kuselesaikan... sekeras apapun itu... sebahaya apapun itu... dan... hanya memastikan bahwa tidak banyak yang terlibat ketika masalah itu datang, biarlah tim kecil itu yang mengusahakan banyak hal agar tim besar fokus dengan tugas-tugas yang harus dikerjakan. Ya... mungkin terdengar sebuah lelucon... tapi sekali lagi... aku terlalu banyak memiliki kemampuan untuk membaca situasi dan juga kebenaran/kebohongan dari setiap mimik wajah yang nampak... aku terlalu banyak tahu sehingga banyak menghabiskan waktu sendiri... aku terlalu banyak tahu sehingga menyukai waktu dimana kukerjakan banyak hal sendiri... ya... aku terlalu banyak tahu... dan entah siapa yang membisikkan, tapi... semua yang kurasakan berbuah kebenaran yang nampak... entahlah... aku terlalu banyak tahu.

Tentang visi... ah... rasanya terlalu berat dan besar apa yang kurancang dalam kehidupan... dan cukup banyak manusia visioner yang kukenal. Ah... mereka yang membantuku memutar otak untuk terus berpikir positif dan mengerjakan banyak hal yang menimbulkan manfaat. Yapz, aku terlalu keras... bahkan terlampau memaksakan... tapi pada akhirnya... lag-lagi aku salah langkah dengan meninggalkan banyak ide yang terbuang percuma dan mereka tak pernah mau mengenalku jauh lebih dalam. Biarlah... mereka yang tak pernah memahami bagaimana nuansa kesendirian itu mengekang akan merasakan bagaimana keramaian hanya membawa kehampaan. Mereka yang tak dididik secara terpadu dalam hal agama ternyata jauh memahami bagaimana diriku seperti apa adanya. Yapz... mereka yang tergabung dalam tim ataupun rekan kerja yang kini menghiasi hari-hariku selanjutnya. Entahlah, aku... menikmati banyak hal ketika jauh dari nuansa kebersamaan ruhiyah. Aku menikmati banyak hal yang membuatku otakku mampu berpikir lebih jernih dan lebih cerdas... saat jauh dari mereka yang terbiasa dalam lingkungan penguatan ruhiyah. Dan... hanya pada saat ini saja, akhirnya aku pahami... ini sifatnya temporal dan tidak akan selamanya. Yapz... Allah itu Maha Adil, alhamdulillah.

Tentang cinta... ya, aku bercerita banyak hal dengan dua orang... ikhwan dan juga akhwat... ikhwan yang selama ini membantuku memuat ide dan juga gebrakan-gebrakan via tulisan maupun tindakan... pun juga akhwat yang mengajariku makna perjuangan dengan kesabaran dan istiqomah. Yapz... hanya mereka berdua saja, tidak ada yang tahu kecuali Allah SWT. Tentang cinta, dan bagaimana kurasakan tekanan itu menyeruak ulu hati dan terkadang mematikan kreativitas, aku pahami itu... cinta itu terkadang banyak membuatku banyak menghabiskan waktu untuk sendiri dan merenung. Karena dia... karena orang itu... tidak jauh dari bagaimana aku tapaki bumi. Orang itu... ya... orang itu... beruntung Allah membuatku merasakan cinta... beruntung sekali... dan menjadikan kemampuan, ilmu dan kreativitas menjadi semakin bertambah. Cinta yang membuat tumbuh dan berkembang, cinta yang menguatkan iman dan kembali mengasah terus kemampuan menulisku. Inilah cinta... hingga pada akhirnya membuatku banyak tersenyum meskipun banyak masalah mendera... membuatku tertawa bahagia meskipun tantangan banyak menghadang di depan mata... mampu berpikir cerdas disaat-saat genting... tak pernah mematikan kreativitasku untuk tumbuh dan berkembang. Inilah hasil cintaku padanya... inilah sesuatu yang akhirnya tak pernah dipahami banyak orang... mereka mengira aku sedang 'galau', tapi sebenarnya aku berhasil menipu dan mengeluarkan 'penyakit hati' yang akhirnya kuketahui. Mereka mengira aku bermasalah, dan memang aku selalu punya masalah untuk diselesaikan, padahal akhirnya aku memahami 'maksud tersembunyi' yang membuat mereka tercengang. Yapz... aku berhasil meunculkan banyak hal dalam kebohongan... karena terlalu banyak tahu dan entah siapa yang membisikkan itu... dzan kah? Mungkin... tapi aku tak yakin... dan yang pasti... aku terlalu banyak tahu dan jangan pernah menyembunyikan banyak hal... AKU BISA MEMBACA MIMIK DAN SIKAP KALIAN DIHADAPANKU.

Sabtu, 26 Januari 2013

Tajuk Rencana (Menghadirkan Tuhan)


Selamat siang siang sahabat, assalamu'alaykum warahmatullah, hmm... lagi-lagi mau berbagi sesuatu. Eits... Ini kembali menghadirkan sebuah artikel yang kemudian saya kembangkan bersama ide/pemikiran tentang bagaimana menyampaikan sesuatu. Yapz, saya hanya membuka kerangka berpikir sahabat tentang tulisan di salah satu koran yang memang 'menarik' untuk kita pahami secara kontekstual maupun realita yang ada. Dan... ini adalah fakta yang terjadi, dimana kita, dan mungkin juga saya, belum bisa banyak belajar darinya.

Kita awali dengan lafadz basmallah... Bismillahirrahmanirrahim


Menghadirkan Tuhan

“Kita, kata Wallace, berusaha mencari pengganti kegalauan tersebut dengan mencari hiburan, kecanduan, kompetisi untuk untuk mencapai tujuan-tujuan pengganti.”

Menyusul tragedi penembakan di sekolah dan kampus di Amerika Serikat beberapa waktu lalu, senator dan mantan gubernuer Arkansas, Mike Huckabee menyatakan kejadian ini merupakan konsekuensi dari upaya sistematis menghapus Tuhan dari sekolah. “Dan karena kita memerintahkan Tuhan keluar dari sekolah, dari masyarakat, dari militer, dan perbincangan publik, kita tidak perlu terlalu terkejut... ketika segala bentuk kejahatan bisa terjadi dengan leluasa,” katanya.

Pendapat Huckabee termasuk sedikit aneh dalam konteks sistem sekuler yang dibangun di negara barat. Ada tesis menyebutkan bahwa pengalaman keber-agama-an Barat memang tidak terlalu kompatibel untuk menerima agama dalam sistem sosial, dan Tuhan sebagai tujuan utama. Dalam sistem seperti ini, seperti diakui Huckabee, Tuhan dan agama dipisahkan dari sistem kemasyarakatan, termasuk pendidikan.

Huckabee bukan orang pertama yang mengakui ketidakhadiran Tuhan dalam sistem sosial dan konsekuensi yang muncul. Dalam kutipan terkenalnya, Filsuf Jerman, Friedrich Wilhelm Nietszhe membuat metafora bahwa kita telah ‘membunuh’ Tuhan. Namun, setelah itu muncul kegalauan. “Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri...? pesta-pesta penebusan apakah, permainan-permainan suci apakah yang perlu kita ciptakan?” Tanya Nietszhe.

Eksistensi manusia yang meniadakan Tuhan dalam kehidupannya mengarah pada nihilisme, hidup yang tanpa tujuan untuk mengganti kekosongan. Sastrawan David Foster Wallace menyebut fenomena ini sebagai ‘stomach level sadness’ atau ‘kegalauan setingkat perut’. Kita, kata Wallace, berusaha mencari pengganti kegalauan tersebut dengan mencari hiburan, kecanduan, kompetisi untuk mencapai tujuan-tujuan pengganti. Tujuan pengganti tersebut sebenarnya hanya bersifat sementara-dan hanya selevel perut-hingga pada akhirnya hanya membuat kekosongan-kekosongan baru.

‘Mematikan’ Tuhan secara (tidak) sadar telah kita lakukan dengan menganggap agama adalah sesuatu yang hanya diperlukan untuk kebutuhan privat. Tidak meyakini bahwa Tuhan tidak pantas hadir dalam sistem kehidupan yang lebih besar dari kehidupan privat bisa berarti dua hal. Pertama, kita menilai Sang Pencipta memiliki kelemahan, atau, kedua, pemahaman kita sendiri yang terlalu dangkal untuk memahami kebesaran Sang Pencipta.

Kita sepakat untuk tidak menerima pilihan pertama. Namun pada pilihan kedua pun, konsekuensi akibat ‘ketiadaan’ Tuhan dalam kehidupan kita saat ini tetap sama. Segala bentuk kejahatan leluasa terjadi-yang paling terasa saat ini-antara lain korupsi merasuki di semua bidang, bahkan di instistusi pendidikan dan keagamaan. Kekosongan spiritual juga terasa dari begitu gempitanya panggung hiburan, kecanduan, dan kompetisi sebagai jawaban ‘stomach level sadness’.

Pada titik inilah, kita perlu menerima Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai momentum untuk menghadirkan kembali Tuhan dalam kehidupan kita. Nabi Muhammad SAW sendiri tidak pernah merayakan kelahiran hingga akhir hayatnya. Baru 600 tahun kemudian, Maulid dirayakan. Pesannya jelas, bukan soal kelahiran-apalagi perdebatan soal waktu kelahiran- tetapi melahirkan kembali nilai-nilai yang kerasulan itu yang utama.

Kerasulan terakhir adalah upaya menghadirkan Sang Maha Pencipta Allah SWT, dalam kehidupan manusia. Alquran dan Sunnah yang disampaikan Nabi Muhammad SAW bukan sekadar gagasan dan renungan tetapi juga aksi, baik untuk kehidupan privat maupun sosial. Oleh karena itu, Allah SWT seharusnya dihadirkan kembali di dalam hati setiap individu dan tindakannya, dalam interksi sosial, dan sistem yang dibangun. Melalui Maulid Nabi Muhammad SAW, Islam seharusnya ‘dilahirkan’ kembali dari sekadar formalitas menjadi essensi yang mendasari kehidupan, privat maupun sosial. Maulid adalah momentum untuk menghadirkan kembali Allah SWT dalam dalam kehidupan kita.

*****
‘Menghadirkan Tuhan (Allah)’ setiap saat dan setiap waktu. Termaktub dalam Qur’an dan Hadist, dan bahkan film-film pun menunjukkan yang demikian hingga kehidupan sehari-hari kita. Coba sejenak kita bayangkan bagaimana ‘indahnya’ kehidupan zaman Rasul SAW, menyenangkan bukan? Setiap waktu kita disejukkan dengan untaian kalimat dan sikap nan lembut beliau, para sahabat dan juga lingkungan yang sangat mendukung nuansa kedamaian. Tanpa benci, dengki, hasad, kecuali yang ada pada diri orang munafik maupun mereka ‘yang cari aman’ dari golongan Yahudi. Orang-orang Nasrani merasakan kedamaian dan ketentraman, begitu pula Yahudi yang kini dengan para ‘Zionis’ terus merongrong bumi Palestina. Kehidupan nan tentram yang didambakan seluruh umat manusia dan diajarkan seluruh agama di bumi ini bukan? Semua manusia merasa selalu diawasi oleh Tuhan, dan bukankah seluruh kitab agama-agama dunia yang dianut mengajarkan demikian? Apalagi Al-Qur’an yang berkali-kali mengingatkan manusia (khususnya Muslim) agar senantiasa menjaga hubungan dengan Allah setiap waktu.

Minggu, 20 Januari 2013

Kenapa harus kekurangan...? (Positive Thinking)

Semangat pagi menjelang siang sahabat, hari Senin memang padat dan sangat melelahkan, benar... atau salah??? Ya, ada pada diri pribadi masing-masing. Yapz, saya mau ngasih sedikit oleh-oleh dari perjalanan kaki Cileunyi menuju Cibiru karena macet total pada pagi hari ini, Senin 21 Januari 2013. Hups... Ya... memang menjadi kebiasaan yang mungkin 'dibiasakan'. Okay... Enough for it... :)

Bismillahirrahmanirrahim

Sahabat, dalam diri kita memang tersimpan kekurangan, dalam setiap aktivitas kita terkadang ada kekurangan, kalimat yang tertutur pun membawa beberapa kekurangan. Namun di sisi lain, kelebihan itu hadir beriringan mengisi setiap sendi dalam kehidupan anak manusia. Tapi bukan untuk itu tulisan ini dibuat, saya hanya membuka keran berpikir positif yang seharusnya menjadi tren berpikir masyarakat Indonesia saat ini di tengah krisis multidimensi.

Di satu sisi kita akan melihat banyaknya orang yang meminta-minta, terlunta di jalanan ataupun mengais rejeki dari tumpukan sampah. Namun saat itu pula banyak hati-hati yang tergerak, tangan-tangan yang terulur, berita-berita bertayangan, ya... inilah sisi dimana setiap anak manusia yang diberi kelebihan akan memberi kepada mereka yang mengalami kekurangan dari segi finansial. Ada pula yang tidak mampu menyerap mata pelajaran/kuliah/materi, namun di sisi lain ada mereka yang diberikan kecerdasan untuk membantu mengajarkan sehingga menimbulkan kekuatan ukhuwah nan berlapis karena ikatan iman yang saling membantu. Ada juga saat dimana kita merasa keletihan karena ketidakmampuan kita melanjutkan perjalanan, namun di sisi lain ada tangan-tangan yang siap membantu untuk menggendong ataupun memapah untuk kembali melanjutkan perjalanan. Ada suatu saat dimana kita kekurangan bahan makanan, baik dalam perjalanan maupun ketika terjadi bencana (contoh saat ini adalah Banjir ataupun Gempa Bumi). Namun kembali... ada tangan-tangan yang siap membantu memasakkan makanan padahal mereka tinggal beratus-ratus kilometer dari tempat kejadian, ataupun mengantarkan makanan melalui perahu karet, ataupun menjadi paramedis bagi korban yang mengalami sakit hingga menenangkan kondisi karena trauma. Ya, selalu ada mereka yang diberi kelebihan untuk membantu menyelesaikan perkara 'kekurangan' yang ada pada diri kita. Mengajarkan kita bagaimana kita pun bisa berbagi banyak hal meskipun memiliki kekurangan, karena... sisi kelebihan kita mungkin terlalu banyak di ekspos sehingga menutup kemungkinan diri untuk berbuat lebih di tengah kondisi masyarakat saat ini.

Bekerja... berusaha... terus luruskan ikhtiar setelah niat mulia itu terusung. Karena Allah memerintahkan kita untuk berusaha, bekerja (At-Taubah 105) dan biarlah tangan-Nya yang bekerja untuk menyelesaikan ataupun memberikan tantangan atas segala jenis pekerjaan yang kita lakukan. Merutuk segala jenis kekurangan hanya akan membuat diri semakin terpendam pada kondisi 'diam tanpa hasil', kita hanya akan terus terjerembab kedalam lumpur yang menenggelamkan visi dan misi hidup kita. Oh iya... nah ini dia... kemampuan berpikir positif kita akan semakin tumbuh dan berkembang manakala visi dan misi hidup kita sudah terancang dengan baik. Tentunya semakin bertambah usia, maka seharusnya kita mampu semakin dewasa dalam menyikapi setiap aktivitas dalam kehidupan yang telah berlalu. Dan visi dan misi hidup yang kita rancang itulah, kita bisa berkaca pada diri tentang kelebihan serta kekurangan yang ada pada diri kita.

Persis kepada seorang tunanetra yang pernah diceritakan oleh seseorang setelah acara walimathul 'ursy hari Minggu kemarin (20-01-2013). Kekurangan penglihatan malah membuat beliau mampu berkeliling dunia dan kini berada di Jepang untuk unjuk kebolehan memainkan piano, subhanallah... Nah ini dia salah satu contohnya dari sekian banyak anak manusia di muka bumi. Ada pula Syaikh Ahmad Yasin di Palestina. Bertemankan kursi roda karena 'lumpuh' ternyata mampu membuat beliau 'mengobarkan api jihad' anak-anak dan pemuda Palestina untuk mengusir 'zionis laknatullah' serta menjaga wilayah yang sudah jelas-jelas menjadi hak milik umat muslim disana. Ada pula salah seorang senior yang saya kenal saat masih SMA, dengan kondisi orang tua sebagai buruh tani dengan penghasilan tak menentu ternyata membuat beliau mampu menembus perguruan tinggi nomor satu di Indonesia dan kini berada satu kursi dengan salah satu perusahaan perminyakan. Berbekal kecerdasan mumpuni dan kemauan untuk terus belajar serta memberikan motivasi, di tengah himpitan ekonomi selama menjalani masa SMA.

Sahabat mungkin masih ingat kan pertempuran Ambarawa yang dimenangkan oleh para pejuang di bawah arahan Panglima Besar Jenderal Soedirman? (Kalo salah mangga dikoreksi ^_^) Bisa dipastikan pasokan senjata tentara 'kita' jauh lebih sederhana dan kekurangan dibandingkan tentara Belanda yang melancarkan agresi, tapi... Allah memberikan kemenangan nan gemilang sekaligus memberikan pelajaran bahwa tentara 'kita' masih sangat kuat untuk mempertahankan bumi pertiwi sekaligus mengusir para penjajah. Jenderal Soedirman, sosok laki-laki sholeh, pejuang sejati, yang tak pernah lupa shalat tahajjud semasa perang melindungi bumi pertiwi (Tanah Jawa) bersama para pasukan setianya yang tak pernah lelah dan penuh semangat. Ya... itulah kekuatan terbesar bernama 'bekerja dan terus berusaha', diiringi do'a dan tawakkal menjadi kunci segala macam kesuksesan yang bisa direngkuh meskipun dalam diri ditemukan berbagai macam kekurangan.

Nah, sahabat... saatnya kita memancangkan visi dan misi dalam hidup kita serta banyak belajar dari segala jenis kekurangan agar ditemukan penawar atau formula terbaik yang bisa kita pakai untuk mengarungi samudera kehidupan yang terus berputar hingga ajal menjelang. Tak perlu risau dengan kekurangan yang ada, gaji yang diterima, nilai ujian atau raport yang tak bagus... karena kesempatan kita untuk menjadi lebih baik selalu terbuka lebar selama masih ada kehidupan yang dijalani. Serahkan semuanya kepada Allah, tugas kita adalah ikhtiar dan terus berusaha menyempurnakan ikhtiar... dan jangan lupa... niat yang mulia, tentunya karena Allah semata (biarlah hati yang merasakannya, agar Allah semakin menguatkan jalan ikhtiar kita)... oh iya... do'a juga jangan lupa, jadi kita bisa bertawakkal sambil hati semakin lapang dengan berbagai hasil yang akan terjadi nantinya.

Semangat berusaha... semoga Allah memudahkan langkah-langkah kita... kekurangan kita adalah nilai lebih kita untuk belajar dan belajar :)

Alhamdulillah

#Jalan kaki dari Cileunyi ampe Cibiru memang asyik... bisa menemukan banyak ide di tengah kemacetan yang melanda Ibukota Jawa Barat, hari Senin yang selalu padat... tapi... tak ada gunanya kita merutuk... dan inilah yang bisa saya sajikan pada kesempatan hari ini... (Semoga besok tidak terlambat lagi masuk kantor plus... kembali sehat seperti sedia kala... aamiin)

Rabu, 02 Januari 2013

Dua Ilham

Kekuatan kita adalah diri kita sendiri, kelemahan kita pun sama. Keberanian kita ada pada diri kita sendiri, begitu pula dengan ketakutan. Dalam diri kita terhimpun dua kekuatan utama, yang meninggikan pun juga membenamkan. Faalhamahaa fujuraha wataqwaha... penggalan surat Asy-Syams di juz 30 menjadi dua kekuatan besar yang sampai saat ini membangun peradaban hingga meluluh-lantahkan bumi Allah yang sedemikian luasnya.

Berbuat Fujur dan taqwa, dua kehendak bathin yang senantiasa merongrong anak manusia. Dua hal ini, potensi manusia yang apabila dipahami kelak akan membawanya menjadi manusia terbaik yang pernah ada di muka bumi. Dengan mengharap Ridha Allah, saya berupaya menuliskan kalimat demi kalimat yang Insya Allah bermanfaat.

Kita mulai dari Fujur, dalam keseharian kita terkadang satu, dua hal yang terjadi mampu mengantarkan anak manusia berbuat fasik atas segala hal yang nampak dalam pandangan matanya. Untuk masalah ibadah, masalah khilafiyah memang terkadang menusuk bagai hujaman pedang dalam tubuh. Inilah jalan keburukan yang syaithan selalu isi dalam kalbu hamba-Nya yang beriman, kita menganggap perbedaan adalah keburukan, padahal memiliki dalil atau argumen yang kuat, sementara yang jelas-jelas hal berbau kekufuran dianggap tidak layak diperdebatkan. Sementara Rasul SAW melalui riwayat Abu Dawud, bahwasanya ada jaminan rumah di surga... bagi siapakah...? Bagi mereka yang meninggalkan perdebatan meskipun berada dalam kebenaran. Ada hal yang memang kita harus tinggalkan dalam perdebatan, kecuali kepada kalangan yang menistakan agama, Dienul Islam, maka wajib bagi setiap muslim menggunakan berbagai argumen yang baik nan penuh hikmah itu agar keburukan demi keburukan terus menjalar diantara kehidupan.

Allah mengilhamkan dalam diri anak cucu Adam, sesuatu yang mengarah pada keburukan, namun ternyata Allah masih membuka pintu taubat yang begitu luasnya, kecuali untuk dosa syirik. Ini yang terkadang banyak kita temukan pencampur-adukan antara ibadah dengan perangkat-perangkat yang terkadang berbau bid'ah sehingga menjerumuskan kita pada nosa kesyirikan. Saya tidak memberanikan diri untuk menjelaskan seperti apa gerangan, karena pastinya sahabat pun akan sering menemukan dalam kehidupan yang seolah-olah ibadah, ternyata mengembalikan tradisi kufur ala kafir Quraisy yang mengatakan "Kami persembahkan ini untuk Allah dan berhala-berhala kami...,". Nah... Cukuplah kiranya kita memahami hakikat ibadah itu adalah serta-merta ditujukan hanya kepada Allah, mengikuti sunnah nabi SAW, ijma', kesepakatan ulama, serta kondisi kekinian dan kedisinian. Fujur, berbuat kefasikan, keburukan memang banyak contohnya, tapi terkadang perbuatan baik pun yang memang berada dalam ruang lingkup ibadah malah mendekatkan kita pada neraka-Nya yang begitu panas. Berhaji dari hasil korupsi, zakat hasil mencatut dana amal, mengurusi masyarakat (aktif di pemerintahan) hanya untuk memupuk kekayaan, dll... Ini hanya secuil kisah perjalanan ibadah anak manusia era sekarang, yang terkadang mengembalikan kepada tradisi jahiliyah. Ziarah kubur memang baik, namun memberikan sesaji dan ritual-ritual apa bedanya dengan perbuatan 'zaman jahiliyah'...? Nah...

Yang kedua, Taqwa, saya tak perlu kembali memberikan definisi tentang arti itu, karena saya yakin sahabat punya pemahaman. Aamiin, Insya Allah. Taqwa yang mengarah pada kebaikan dan juga perbaikan, inilah yang dinamakan hasil dari sebaik-baik ibadah kepada Allah. Segenap aktivitas amal ibadah sejatinya adalah semakin mendekatkan diri kita kepada Allah, mengingat-Nya baik dalam keadaan berbaring, duduk, berdiri... memperhatikan pergantian siang dan malam dan tanda-tanda ciptaan-Nya Yang Maha Besar nan indah. Banyaknya jalan kebaikan, ya... inilah mengapa Allah memberikan manusia akal untuk memilih, serta hati guna merasakan. Taqwa tidak serta merta menganggap bahwa aktivitas ibadah kita adalah bekal menuju kampung akhirat, karena taqwa akan membimbing diri dan juga manusia lainnya untuk sama-sama masuk surga. Itulah mengapa dalam surat Ar-Rum, Allah mengisyaratkan bahwa Konstantinopel akan takluk oleh umat muslim, bersama Muhammad Al-Fatih, tak lain agar penduduk disana yang selama ini dilanda tekanan serta kegelaan bangsa romawi terbebaskan dan melangkah menuju cahaya dibawah naungan Islam. Taqwa adalah perbuatan, karena ia senada dengan aktivitas luar biasa seorang muslim selama hidup di dunia. Ia yang senantiasa membimbing dalam cahaya sebelum kembali kehadirat-Nya, ia adalah kekuatan bathin yang terpancarkan dari raga seorang mukmin.

Dua kata, Fujur dan Taqwa, adalah pilihan anak Adam dalam mengarungi samudera kehidupan. dan terkadang perkara syubhat membawa mereka dari yang awalnya Taqwa mengarah ke Fujur. Dan seperti itulah Allah mengilhamkan kepada anak manusia tentang dua jalan ini yang terkadang terlewatkan begitu saja. Kemampuan memilih menjadi seorang yang ahli dalam agama terkadang membawa pada perbuatan fasik. Dan betapa banyaknya Qur'an hanya menjadi mantra-mantra kering tanpa amal, padahal bukan untuk itu Al-Qur'an Allah turunkan. Aktivitas menuju Taqwa terkadang mengarah kepada yang Fasik, entah mengapa dunia saat ini mengembalikan kepada masa di Kejahiliyahan merajalela.

Perbuatan buruk memang akan selalu ada, begitu pula dengan yang baik. Namun bukan itu masalahnya... terkadang perbuatan buruk membawa kita pada pintu taubat dan menjadikan kita hamba-Nya yang shaleh... pun juga perbuatan baik yang malah menghujamkan tubuh kita dalam genangan lumpur maksiat karena perkara syubhat hingga aktivitas ibadah yang berburu kesyirikan. Atau barangkali kemunafikan, yang sudah Allah terangkan dalam Qur'an bahwa Dia melarang kita untuk menshalatkan 'bahkan', namun saat ini cukup sulit untuk merealisasikannya, tapi... tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Semoga Allah menjaga kita dari Fujur dan senantiasa membimbing kita dalam Taqwa...

Kebenaran datangnya dari Allah, jika yang saya sampaikan adalah kebenaran maka itu dari Allah, jika salah... maka itu dari saya pribadi, dan perkara dosa atas ini adalah tanggungan saya. Semoga Allah membimbing kita, serta memberikan pertolongan berupa teguran saat kita melakukan kesalahan. Aamiin...