Senin, 21 Februari 2011

7 Perangkap Setan



Mengutip salah satu ulama terkenal, Ibnu Qayyim al-Jauzi, di sini ingin saya berbagi tentang sebuah nasihat baik yang semoga bermanfaat bagi kita semua. Dalam kutipannya tersebut, setidaknya ada 7 (tujuh) tingkatan godaan setan terhadap manusia.
Pertama, setan mengajak manusia kepada kemusyrikan. Pada level ini, setan mencoba mengecoh asas keimanan manusia untuk mengingkari Allah SWT sebagai Tuhan yang harus disembah. Seruan kepada kemusryikan ini terus mengalami perkembangan dan penyesuaian di setiap masa. Namun, pada hakikatnya, seruan kemusyrikan ini mengajak manusia untuk mengingkari Allah SWT, Tuhan Yang Esa, dan membelokkan keimanan manusia kepada tuhan-tuhan lain (thagut), yang bisa berbentuk uang, kekayaan, dan sebagainya.
Jika seorang manusia berhasil lepas dari jeratan setan yang pertama, maka setan terus menggoda manusia dengan tipuan yang kedua, yakni seruan kepada khurafat dan bid’ah. Esensi amal yang masuk dalam kategori khurafat dan bid’ah adalah ketika amalan tersebut tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Banyak orang yang merasa telah menghimpun banyak amal-amal saleh, niatnya sudah benar dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. Namun, karena ilmu yang sedikit dan tidak mau bertanya kepada alim-ulama, maka terjebaklah manusia-manusia itu kepada seruan setan, dengan menjalankan khurafat dan bid’ah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasul.
Lepas dari dua muslihat tersebut, setan tidak berputus asa menjebak manusia. Maka pada tingkat ketiga ini, setan menipu manusia yang telah beriman dan beramal shaleh, untuk melakukan dosa-dosa besar. Tidak masalah bagi setan, jika ada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, selama mereka melakukan dosa-dosa besar. Karena, bisa jadi, keimanan dan amal saleh seseorang akan rusak ketika mereka terbiasa melakukan dosa-dosa besar.
Keempat, ketika orang-orang yang beriman dan mengamalkan amal saleh berhasil lepas dari tipuan dosa-dosa besar, maka setan terus membujuk manusia untuk terkecoh melakukan dosa-dosa kecil. Dosa-dosa kecil memang tidak seberat dosa-dosa besar, apa lagi amal yang bernuansa khurafat, bid’ah, dan kemusyrikan. Namun, dosa-dosa kecil yang dilakukan secara rutin dipastikan akan menutupi mata hati manusia (nurani). Sehingga, manusia yang terbiasa melakukan dosa-dosa kecil akan kehilangan nurani-nya, hingga kemudian hidayah Allah SWT, tidak akan pernah menyentuh hati manusia tersebut. Di sinilah, sudah sepatutnya kita menghindari dosa-dosa kecil, sekecil apapun.
Di level kelima, di mana setan telah gagal menyeru manusia kepada kemusyrikan, khurafat dan bid’ah, dosa-dosa besar, hingga dosa-dosa kecil, maka setan terus mencoba menjerumuskan manusia untuk terkecoh dengan amal-amal yang melalaikan secara berkelanjutan. Amal-amal ini tidak menimbulkan dosa bila diamalkan, namun tidak juga memberikan pahala dan manfaat bagi yang melakukannya. Dalam tingkatan ini, setan terus mencoba mempengaruhi manusia agar tidak berbuat kebaikan, tapi terhenti amalnya pada perbuatan yang sama sekali tidak memberi manfaat, sia-sia.
Di tingkat yang lebih tinggi (keenam), setan terus mencoba memperdayai manusia. Ketika seseorang sudah memiliki akidah yang lurus, amal yang benar, menjauhkan diri dari perbuatan dosa-dosa besar, dosa-dosa kecil, bahkan dari sekedar amal yang sia-sia, maka setan terus menggoda manusia tersebut untuk gagal dalam memberikan prioritas amal. Ketika dihadapan manusia yang beriman tersebut hadir pilihan-pilihan amal kebajikan yang bervariasi nilai-nilai kebaikan dan kebermanfaatannya, maka setan mencoba menggelincirkan manusia tersebut kepada amal yang nilai kebaikan dan kebermanfaatannya paling rendah dari semua pilihan amal yang tersedia. Pada level ini, seharusnya kita bisa mengukur kadar amal yang hendak dilakukan berdasarkan kebermanfaatannya.
Di level tertinggi (ketujuh), merupakan level di mana para nabi, rasul, dan para ulama penerus nabi dan rasul berada. Pada level ini, setan tidak lagi menampakkan godaan-godaan yang bersifat metafisik. Namun, setan yang telah frustasi ini dengan usaha yang keras mencoba mengecoh manusia melalui serangan yang bersifat psikologis, bahkan serangan fisik, sebagaimana dahulu telah dirasakan oleh para nabi, rasul, dan para ulama penerus para nabi dan rasul. Setan di level ini menyamar menjadi manusia yang menyebarkan fitnah-fitnah kepada orang-orang yang beriman untuk menghentikan ibadah dan amal kebaikannya. Bahkan, tidak segan, setan-setan tersebut menampakkan diri baik dalam wujud jin dan manusia, untuk mencelakakan orang-orang yang beriman.
Barangkali, sulit bagi kita yang notabene manusia-manusia biasa yang tak pernah luput dari kelalaian untuk menyamai ‘kelas’ kita sebagaimana para Nabi, Rasul, dan ulama warasatul anbiyaa. Namun, tidak semestinya juga kita berputus asa dalam amal kebaikan. Tidak ada salahnya bagi kita untuk mengup-grade diri dari perangkap-perangkap setan. Idealnya, kita berada di level keenam, persis di bawah tingkatan para Nabi, Rasul, dan ulama penerusnya. Adalah ketika kita senantiasa lurus dalam aqidah, benar dalam amal, selalu terjaga dari dosa-dosa kecil apalagi dosa-dosa besar, serta sangat menjaga diri dari perbuatan yang sia-sia.
Karena, kita selalu menyibukkan diri dengan amal-amal kebaikan. Yang bahkan dengannya, kita diharuskan untuk membuat prioritas amal yang memiliki kandungan kebermanfaatan terbanyak. Ketika itu, kita menjadi insan yang gemar menabur kebajikan kepada setiap orang di sekeliling kita, bahkan lingkungan alam tempat kita menetap, menjadi rahmatan lil ‘alamiin.

Dalam Menulis, Pentingkah Mengusai Tata Bahasa?

Oleh: Jonru

http://www.jonru.net/dalam-menulis-pentingkah-menguasai-tata-bahasa

Ketika pertama kali mendirikan Sekolah-Menulis Online (SMO) tahun 2007
lalu, saya merasa surprise luar biasa, karena salah seorang
pendaftarnya adalah Oma Ning Harmanto. Dia seorang pengusaha sukses
dan sudah menerbitkan 18 buku, yang semuanya best seller! Saya tak
habis pikir, “Mengapa penulis sehebat dia masih mau belajar menulis
bersama saya?”

Dalam sebuah kesempatan, saya pun bertanya pada beliau. Dan inilah
jawaban dia (saya tulis ulang, insya Allah tanpa mengurangi maknanya):

“Saya sering heran terhadap kerja editor. Begitu menerima naskah saya,
langsung mereka edit, dan setelah itu diterbitkan. Memang tulisan saya
menjadi lebih bagus. Tapi saya tidak tahu di mana kekurangannya. Saya
sudah menerbitkan banyak buku, tapi cara kerja editor yang seperti itu
membuat saya tidak tahu bagaimana cara meningkatkan kualitas
tulisan-tulisan saya. Nah, saya bergabung dengan SMO dengan tujuan
untuk belajar tentang cara memperbaiki tulisan-tulisan saya.”

Saya pun manggut-manggut, dan rasa penasaran itu pun hilang. Saya jadi
ingat salah satu fenomena di dunia penulisan kita: Banyak sekali
penulis yang belum menguasai tata bahasa. Tragisnya, mereka pun tidak
termotivasi untuk mempelajari keahlian yang satu ini. Kenapa? Mungkin
salah satu sebabnya adalah cara kerja editor seperti yang diceritakan
Oma Ning Harmanto di atas.

Tapi kita juga tidak mungkin menyalahkan editor/redaktur. Memang cara
kerja mereka seperti itu. Mereka sangat sibuk dan tentu tak punya
waktu untuk memberitahu para penulis tentang cara memperbaiki kualitas
naskah. Lagipula, itu bukan bagian dari tugas mereka :)

* * *
“Oh, jadi belajar tata bahasa itu memang penting, ya? Seberapa pentingkah itu?”

Coba simak jawaban dan uraian selengkapnya di
http://www.jonru.net/dalam-menulis-pentingkah-menguasai-tata-bahasa


--
Terima Kasih dan Salam Sukses!

Sholat Mengobati Kegelisahan Hati

By: M. Agus Syafii

Awalnya dari kegelisahan yang begitu dahsyat. Hidupnya terasa kosong meskipun bergelimang harta. Hatinya selalu gelisah dan tidak menikmati apapun yang selama ini dijalani dalam hidup ini. Sore itu di Rumah Amalia saya kedatangan tamu seorang bapak. Bapak itu bertutur. 'Allah telah memberikan rizki begitu banyak kepada saya, apakah yang saya lakukan dengan harta yang berlimpah? sudahkah saya bersyukur? sepertinya semakin berlimpahnya rizki malah membuat saya semakin jauh dari Sang Pencipta. Entah kenapa?'

Beliau bertutur pada saya, banyak hal membuat dirinya semakin gelisah dan ketakutan. Semakin menghentak-hentak hatinya yang paling dalam. Bermula dari rasa takut dan gelisah itu, beliau mencoba untuk mencari jawaban dalam dirinya sendiri. Lalu bertanya kesana-kemari. Tanpa rasa malu, dulu seringkali beliau selalu mencibir orang lain yang taat menjalankan ibadahnya sebagai orang yang 'sok suci' namun sekarang tidak segan bagi dirinya bertanya pada sesama rekan kerjanya untuk bertanya masalah-masalah kecil tentang agama. Lalu terjadi dialog panjang, rasa ingin tahunya semakin besar. Apa yang didapatkan dari penjelasan teman-temannya sekantor semakin membuatnya berpikir keras. Uraiannya yang sederhana tapi padat membuat dirinya semakin ingin mendalami spiritualitas.

Pada suatu hari dirinya sedang membersihkan rumahnya, disaat sedang membersihkan rumah menemukan sebuah buku yang ternyata al-Quran dan ada terjemahannya. Sepintas dibukanya buku itu dan dibacalah isinya. Surat Ar-Rahman yang artinya, 'Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?' Ayat ini membuat hatinya bergetar. Rasanya ada yang menohok hatinya, terasa perih tak tertahankan. 'Ya Allah, Ya Rabb..' ucapnya lirih. Air matanya menetes mengalir. Ayat ini begitu luar biasa maknanya. Tubuhnya bergetar. Seolah Allah Subhanahu Wa Ta'ala sedang menegur dirinya dengan membaca ayat itu.

Pengalaman itu membuat hatinya bertekad untuk belajar sholat dengan baik dan benar. Secara diam-diam beliau membeli buku tuntunan sholat. Dipelajari buku itu dan sekaligus dipraktekkan dalam kamar di setiap malam. hal itu dijalaninya hampir satu tahun. 'Saya mulai bisa merasakan sholat membawa pengaruh dalam menentramkan hati saya..Mas Agus..' tuturnya. Kegelisahan terasa diobati dengan menjalankan ibadah sholat yang dilaksanakannya secara diam-diam.  Akhirnya tanpa disengaja anak-anak dan istrinya memperhatikan perubahan perilaku beliau sebagai kepala rumah tangga. Lebih sabar dan lebih sayang kepada keluarga. 'Anak-anak dan istri saya sampai menangis mendengar cerita saya tentang bagaimana saya menjalankan sholat secara diam-diam selama setahun lalu. Mereka tidak menyangka saya akan berubah,' lanjut beliau. Sejak beliau menjalankan ibadah sholat lima waktu dengan tertib hanya telah menjadi tentram dan keluarganya menjadi bahagia. 'Saya menyakini
dengan sepenuh hati, sesungguhnya sholat adalah obat hati yang sedang gelisah.' Ucap beliau dipenghujung pertemuannya dengan kami. Subhanallah..

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar Ra'ad: 28).

Untuk Apa Menikah?

Oleh Mukti Amini



pernikahan

adalah simbiosis mutualisma

dua insan berbeda

tuk merenda bahagia

pernikahan

adalah sebuah bahtera

berlayar di samudera luas

menuju pulanu cinta-Nya

pernikahan

bukanlah impian bunga semusim

semata memuja romantisme dan keindahan

melupakan perjuangan

pernikahan

adalah sebuah terminal

melewati jalan panjang

menuju rumah keabadian

Puisi di atas aku tulis sehari setelah aku dikhitbah calon suami, 11
Oktober 1998, atau kurang sebulan dari pernikahan kami. Puisi yang lahir
dari kegelisahan dan kegamangan, akankah setelah menikah nanti aku akan
tetap isiqomah dalam jalan perjuangan yang sejak lama ditekuni? Atau
justru tergerus dengan kesibukan rumah tangga tiada henti seperti yang
kulihat pada beberapa ummahat di sekitarku, waktu itu?

Puisi yang kutulis untuk terus memotivasi diri, agar setelah menikah
pun semangat berjuang dan berdakwah tetap membara. Puisi itu kutulis di
halaman pertama buku Fauzil Azhim yang belum lama kubeli waktu itu, Kupinang Engkau dengan Hamdalah.
Semata agar aku teringat dan teringat terus akan makna asasi
pernikahan. Apalagi saat-saat menjelang pernikahan, masa yang rawan dan
sangat disukai syetan, mengelabui hati dari cara yang paling canggih
sampai amatiran. Huh!

Kini, setelah hampir 13 tahun berlalu, sungguh malu hati membaca
puisi sendiri. Kemana semangat menggelora untuk terus berdakwah itu,
kini? Rasanya waktu 24 jam lebih banyak untuk hal-hal rutinitas tiada
henti. Robotic. Meski itu juga diniatkan untuk dakwah. Tapi rasanya..
banyak target dakwah secara pribadi yang terlepas.

Bukan berarti aku menolak tugas utama sebagai istri dan ibu rumah
tangga. Justru itu hal lain dari dakwah juga, tarbiyah ‘ailiyah. Tapi,
apakah sudah merasa cukup puas asal anak2 dan suami sehat sejahtera tak
kurang suatu apa? Seperti kata salah seorang sahabat:

Jika kita mencukupkan diri untuk kebahagiaan dalam keluarga kita
saja, tanpa terpanggil untuk membantu orang2 lain di sekitar mencapai
bahagianya dunia akherat (atau berdakwah), maka tunggulah! Suatu hari
nanti, keluarga kita yang akan digerogoti oleh orang2 yang tidak tahu
bagaimana caranya dia mencapai bahagia.Mungkin suami kita yang akan
digoda oleh perempuan2 yang tak tahu bagaimana menjaga cinta, atau anak3
perempuan kita yg ternoda oleh laki2 yang tidak tahu menjaga
martabatnya...

Lalu, saat membaca kutipan Syaikh Hasan Al Bana, dalam Hadits Tsulasa, halaman 629…

“Kehidupan rumah tangga adalah ‘hayatul amal’. Ia diwarnai oleh
beban-beban dan kewajiban. Landasan kehidupan rumah tangga bukan semata
kesenangan dan romantika, melainkan tolong- menolong dalam memikul beban
kehidupan dan beban dakwah…”

Kembali aku malu hati.

Maka, Alhamdulillah aku diberikan suami yang penuh pengertian dan
mampu saling bersinergi. Meski tentu belum ideal, tapi setidaknya kami
berusaha. Meski dulu awalnya tak cinta, mengapa mesti resah? Bukankah Love is Verb,
kata Stephen Covey? Cinta itu kata kerja aktif yang bisa diupayakan.
Yang penting standar minimal sebagai seorang calon suami (dan istri)
terpenuhi. Bukankah jika dia beriman dan berakhlaq baik, maka itulah
modal utamanya?

Ketika engkau mencintaiku, engkau menghormatiku.

Dan ketika engkau tak mencintaiku, engkau tidak mendzalimiku.

(Dr. Ramdhan Hafidz)

Justru kurasa, yang peru ditekankan dalam agenda ta'aruf, selain
masalah kepribadian dan tanggung jawab maliyah berikut serialnya, adalah
prototipe seperti apa yang dicita-citakan nanti pasca menikah. Mau
dibawa ke mana keluarga ini sesungguhnya?

(Bagi yang belum nikah, ingat2 ya, itu tuh salah satu agenda taarufnya..)

Dan, saatnya cita-cita tetap berdakwah setelah menikah itu
diejawantahkan dan dibuktikan! Memang tak mudah. Sering kali
tersandung-sandung dan menguras sair mata.

Awalnya jelas tambal sulam,
karena menyatukan ritme 2 orang yang sama sekali berbeda dalam
pembiasaan sekian puluh tahun, tentu saja butuh usaha extra dibarengi
hati legawa.

Mencoba dan terus mencoba. Berkomunikasi dan bersinergi,
saling membaca hati, saling mengingatkan, tak marah saat dikritisi.
Sebisanya. Prinsipnya asal sama2 paham bahwa tujuannya sama2 mulia.

Hmm, jadi ingat juga ucapan salah seorang sahabat, “Jangan
bayangkan kalau menikah dengan ikhwah itu terus jadi serba indah dalam
beribadah. Bisa Qiyamul lail berjamaah setiap waktu, bisa saling
menyimak hafalan Quran…. Halah, boro2 dah! Kalau tidak ada azzam yang
kuat, haduuuh, subuh pun bisa sama2 kesiangan bangun!"

Jadi, memang quwwatul azam yang diperlukan. Semoga dengan
quwwatul azam salah satu pasangan, jika yang lainnya sedang lemah akan
segera terkuatkan. Syukur2 kalau quwwatul azamnya sama2 kuat. Itu yang
diharapkan.

Dilanjutkan dengan ibda’ binafsika, mulai dari dirimu sendiri. Tak berhenti sekedar wacana, tapi terwujud dalam amal nyata yang akan ditiru pasangannya.

Maka, sungguh Alhamdulillah, saat tak lama kemudian, aku merasa
begitu didukung dalam tiap gerak langkahku, sekaligus mendapatkan contoh
yang baik dari seorang qawwam. Suami yang bersedia mengantar kemana pun
aku pergi selagi bisa dan ada waktu. Suami yang tidak canggung bermain
dengan anak2 saat dengan terpaksa kutinggalkan mereka sementara waktu
untuk mengisi kajian atau rapat organisasi. Suami yang jarang bicara,
tapi memberi banyak contoh dalam perilaku sehari-hari. Aku yang ingin
rehat barang sebentar, melihat dia tilawah jadi ikut tergerak tilawah.
Aku yang kadang ingin mengungkapkan emosi dengan nada agak tinggi,
melihatnya senyum2 jadi gak sampai hati.

(jazakallahu ya maas, telah menjadi Qawwam dan membimbingku)

Ya! Tak cukup mencita-citakan terbentuknya keluarga yang samara,
sakinah mawaddah wa rahmah, Tetapi, DASAMARA. Keluarga DA-kwah yang
samara. Dakwahnya dulu diperjuangkan, maka samara itu yang akan
mengikuti sebagai imbalannya. Bismillah. Mari melangkah :)

~Pondok Cabe, Retropeksi Menjelang Berkurangnya Usia Esok Hari, 16 Pebruari 2011

sumber : eramuslim.com